Oleh: Marsus Banjarbarat
(Dimuat di Harian Jogja)

Akankah perjalanan separuh malam akan menciptakan rindu dalam bentuk warna yang lain, yang bertahun-tahun kini sudah terpendam. Ya, rasa rindu akan seseorang yang telah membuat hatinya cidera, luka. Lalu membiarkannya pergi dalam relung penderitaan.

Malam yang lirih, beserta sepoi angin yang berjalan lamban. Dengan detak jantung tak karuan, lelaki itu mulai menanjak gas motornya bersama seorang perempuan. Menatap, dan terus menatap pada seruas jalan, tak memperdulikan kepadatan batu-batu yang membentang di depannya. Dalam perjalanan, ia seperti menemukan sebuah warna, yang selama ini hanya bisa dirasa dengan kesia-siaan. Dingin tak ia rasakan. Meski gerimis beserta angin lembab menyerocos ke pori-pori tubuhnya.
Rasa dalam tubuhnya, mengalir bagai gerimis yang sedang turun dari lentik bulu alisnya. Tapi ia sembunyikan, sebab pada sebuah tempat, di mana luapan air laut mengalir tenang, dengan dingin desau angin yang berhempas lirih, lelaki itu berniat untuk mengungkapkan rasa kekagumannya akan perempuan itu.
Tak sampai satu jam, ia menghentikan motornya, tepat di pinggir pantai. Kakinya melangkah, berdampingan, tak tergesah, cukup pelan melawan kecepatan detak jantung yang semakin tak karuan. Tangan ia raih. Lalu ditatapnya sang lelaki, berjalan dengan senyum ranum. Terasa ada gemuruh dalam hati masing-masing. Bibir sang lelaki tatap tak bergerak, untuk mengungkap rasa kekagumannya. Ia seperti tak yakin, perjalan separuh malam itu akan membuat warna lain dalam kegalawan hatinya.
Keringat dingin bercucuran dari kening. Sejenak ia urungkan niatnya untuk berucap. Kebisuan antara keduanya membuat semakin jelas gemericik air yang mengalir ke dasar pantai. Hanya ada bisik semi dalam hati sang lelaki, benarkah perjalanan separuh malam telah membuat hatinya luluh, dan akan menerima rasa kekaguman terindah yang selama ini ia rasa? Ah, bukan hanya kekaguman saja. Tapi ada rasa cinta. Namun ia seperti tak percaya dan tak ada daya. Tiba-tiba mematung, diam bergeming.
Luapan air laut tumpah menyentuh kedua kakinya. Melangkah demi selangkah. Singgah dari kedalaman air yang semakin larut membuat kakinya tenggelam. Butiran-butiran pasir beterbanga, hinggap ke pelupuk matanya. Tapi tak merasa risih dengan kejanggalan itu. Ia malah senang bercanda gurau menikmati suasana malam yang semakin larut semakin indah. Lampu-lampu gemerlapan. Silau cahayanya semakin tampak menyinari wajah sang perempuan “tak hanya baik dan berakhlak mulia, cantik pula.” bersit dalam hatinya.
Setelah beberapa lama berjalan di pinggir pantai. Tampa sapa atau tanya. Hanya isayarat saling pandang dalam kesunyian. Bukan tak ingin bicara, atau bisu. Tetapi tak ada kata yang tepat untuk membuka pertemuan yang hanya separuh malam itu. Lagi pula pertemuan tersebut tak di duga sebelumnya. Maka, keyakinan semakin menipis bahwa sang perempuan akan begitu cepat memahami dan menerima kekaguman sang lelaki.
Kini rasa dalam tubuhnya semakin meluap. Bagai air laut yang sedang menguap. Apa lagi ketika duduk berdampingan, menghayati kehadirannya satu sama lain. “Mas” desis perempuan dengan nada dingin. Ada yang tersimpan dalam benaknya. Lalu ia kembali merunduk. Pepohon dibelakang tubuhnya memalingkan ujung-ujung reranting yang dibelai angin. “Mas...” ucapnya sekali lagi serak, tiba-tiba kedua belah matanya diam-diam mulai basah. Entah apa yang sebenarnya ia ingin ungkapkan?
Ia menyeka sedikit air mata yang tak sempat jatuh membasahi pipinya, lalu meneruskan kata-katanya "Mas, apa yang kau rasakan dalam perjalanan yang kita jalani dalam waktu sesingkat ini?” sang lelaki tak menjawab. Ia merasa ada sedikit harapan yang bisa dipegang. Kepalanya tertunduk, tatapan matanya tertuju pada ketenangan air laut. Bibirnya bergetar, tetapi getaran dari sebuah senyum yang sedang ia tahan.
Desau angin membawa suasana dingin. Gerimis yang turun telah menyelimutinya. Lalu, dengan pelan sang lelaki menghirup napas dalam-dalam, menghempaskannya mengusir ketakutan. Dengan perasaan tenang, akhirnya ia menjawab “aku merasa ada sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.” Ia kembali tertunduk, memalingkan wajahnya yang dilanda dengan berbagai kegetiran. Ya, getir karena takut kata-katanya akan membawa kekecewaan. “apa itu, Mas?” tanyanya. lagi lagi sang lelaki diam terasa bimbang menjawabnya.
Malam semakin larut, dilihatnya butiran bintang, silau menerpa wajahnya. Lalu, diam-diam ia membalikkan badan, tubuhnya terasa bergetar. Detak jantung tidak seperti biasanya. Hanya diam, kejujurannya tersumbat oleh ketakutan. Tapi tetap ia paksakan “aku mencintaimu” ucap sang lelaki sambil beranjak, menghampiri sang perempuan yang sedang berdiri rapuh. Lalu, dengan pelan perempuan itu membalikkan tubuhnya yang gemetar. Sesekali menyisakan air mata yang mengalir di pipinya, sembari berucap “aku juga mencintaimu, Mas, tapi... aku harus pergi meninggalkan dirimu.” Diam-diam sepasang matanya kini mulai basah “aku sudah punya tunangan, Mas” lanjutnya dengan nada terisak.
Bulan bundar berselimut kelabu, bintang gemintang bersinar empedu, kini ditatapnya oleh sang lelaki, di gambarkannya sebentuk hati yang sedang terpukul rapuh dengan kata-kata itu. Ternyata, perjalanan separuh malam telah memberi warna yang lain dalam bentuk hatinya. Namun tak seperti yang ia impikan sebelumnya. Sebab warna itu memjadikan luka dalam batinnya, yang akan terus membekas selamanya.
—kenang-kenangan buat Novita.
Purwodadi, 29 Juli 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar