Oleh: Rachem Siyaeza
(Diterbitkan Oktober 2010 Di Minggu Pagi)
Sudah tujuh puluh tahun lebih, tak bosan-bosan Kae Sahliman membangunkan kacong-kacong bila sudah selesai mengetuk pintu-pintu tetangga dengan bunyi beduk yang ditabuhnya, juga dengan suara adzannya yang udzur. Selama tujuh puluh tahun itu pula, kacong-kacong pergi meninggalkannya: merantau ke negeri seberang, beristri, menjadi petani dan melupakan langgar, dan datang lagi kacong-kacong baru yang kuranglebih sama dengan kacong-kacong yang telah pergi itu, menghuni langgar dengan jumlah tak seberapa.

Asshalaaaaatukhairumminannauuum....! Suaranya melengking berat memecah embun-embun di daun-daun nangka. Codot-codot segera meninggalkan buah nangka setengah matang yang sudah tinggal daging dalamnya itu, serta menjatuhkan ranting-ranting dan daun-daun nangka kuning kering. Tapi tetap saja bujang-bujang di sudut-sudut langgar bergeming, bergerak sedikit membenarkan sarung yang lepas menutup muka meraka. Kae Sahliman berdehem pelan, terdengar masuk ke toa di atas batang kelapa depan langgar. Lalu, lelaki yang sudah berusia senja itu melangkah dengan alas sembahyang di tangan kanan siap menyapu habis punggung-punggung para bujang yang masih mendengkur di sudut-sudut langgar.
***
Kami menyapu halaman langgar dengan jengkel karena daun-daun nangka begitu banyak berhamburan. Dasar codot-codot? Dan belum sepenuhnya tuntas pekerjaan kami, tiba-tiba dari sebelah selatan langgar menyeruak keributan dicampur tangis berhamburan. Cepat-cepat kami menuju ke tempat di mana keributan itu berasal. Kami kaget, betapa banyak tetangga memenuhi rumah Kae Sahliman. Beberapa saat kemudian, baru kami tahu, ternyata kami telah kehilangan seseorang penyanggah kehidupan. Kae Sahliman meninggal. Ah, secepat itukah? Padahal subuh tadi Kae Sahliman masih membangunkan tidur kami.
Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa sangka, Kae Sahliman berpulang secepat codot-codot menghabiskan buah nangka. Siapa yang akan memukul kulit sapi yang menutup satu lubang batang siwalan, yang telah melompang daging dalamnya itu?
Di samping kanan Kae Sahliman yang telah kaku tak bernyawa itu, Wulanti (duhh....., aku sedih sekali melihat air mata berhamburan dari matanya), cucu perempuan Kae Sahliman, terisak-isak sambil berkomat-kamit membaca doa. Hodri, teman kami, santri yang paling tua yang tadi membersihkan amper langgar, dengan menahan tangisnya mengambil Alquran dari lubang dinding kamar dan segera membacanya, lirih. Mardawi, Kurma, Fathor, dan aku hanya terpaku menyaksikan.
Sebagian orang berhamburan; mempersiapkan ini-itu. Tak ada yang diam. Teman-temanku juga mulai bergerak. Hanya aku kini masih diam, tak tahu dengan perasaanku. Jelas, aku kehilangan guru mengaji, guru yang membimbing kami untuk faham kitab-kitab gundul kuning itu. Terlebih lagi, beliau meninggalkan cucunya, Wulanti.
Aku merasa kasihan dari lubuk paling dalam pada gadis mulai matang itu. Ia kini sudah sempurna sebatangkara. Tak ada Eppak dan Embuk-nya. Mereka hilang tak ada kabar, sejak kepergiannya ke rantau waktu Wulanti masih kecil dulu (dengan terpaksa karena tidak diijinkan oleh Kae Saliman, tapi mereka tetap memaksa dengan harapan setelah pulang nanti mampu membuat rumah gaya Spanyolan). Sampai sekarang, kedua orang tua Wulanti tak ada kabar sedikit pun. Wulanti bisa bertahan karena ada Kae Sahliman.
Bagaimana Wulanti harus hidup tanpa kakeknya itu nantinya? Ah, Wulanti.

***
Hari-hari kesunyian kami tatap dengan getir kini; tak ada orang yang memperhatikan dan menegur kami jika bacaan Alquran kami salah, tak ada orang yang mengajari kitab kuning sehabis sholat Maghrib, tak ada subuh dengan beduk dipukul sekuat tenaga tapi bunyinya tak keras, dan tak ada orang yang membangunkan kami saat subuh dengan alas sembahyang menyapu punggung. Hanya tujuh hari tetangga-tetangga berkabung atas meninggalnya Kae Sahliman. Setelah itu seolah tak apa-apa. Mereka semua kembali ke tugas masing-masing; berladang, memberangkatkan anak-anaknya menyiram tanaman di lereng-lereng bukit dari pagi sampai petang. Malah ada sebagian orang mengirim anak perempuannya menjadi budak-budak dekil di negeri rantau seberang.
Sampai suatu hari kami bersepakat bahwa di antara kami harus ada yang menikahi Wulanti. Tepatnya usulan itu datang dari diriku sendiri dan kemudian teman-teman menyetujui Hodri (duh... kenapa mesti Hodri. Kenapa tidak aku saja terang-terangan menawarkan diri).
“Di antara kita harus ada yang menikah dengan Wulanti!” kataku pada teman-teman.
“Hodri saja! Bukankah ia paling tua di antara kita?” kata Mardawi.
“Betul!” kata Kurma dan Fathor hampir bersamaan. Hodri merasa terpojok. Ia diam membisu tak memberikan tanggapan apa pun.
“Kita suruh saja Wulanti memilih,” kataku.
“Tidak,” kata Mardawi keras. “Aku tahu Hodri diam-diam menyukai Wulanti. Dan Wulanti sepertinya juga demikian. Inilah kesempatan bagi Hodri berbalas budi.” Sesaat terasa hening. “Kami akan membatumu membangun langgar ini,” lanjut Mardawi tegas.
“Kita bangun tempat asrama, biar banyak orang mondhuk ke sini. Biar tidak hanya kita saja yang menjadi santre-santre yang jumlahnya tak sampai sepuluh ini,” kata Kurma menambahkan.
“:Betul! Banyak anak-anak yang sudah seharusnya mulai maju; tahu agama, dan tahu berbagai macam ilmu pengetahun.” Fathor juga menyumbang gagasan. “Kita bangun sekolah!” Fathor menambahkan.
Diam-diam dadaku terasa remuk redam tanpa bisa kucegah. Entah kenapa. Tanpa aku mau; terbayang di kepalaku secara tiba-tiba Wulanti dan Hodri melewati malam-malam berdua di dalam kamar penganti nan anggun dengan bunga-bunga bermacam-macam. Dan malam mereka akan begitu terasa nikmat dengan lampu temaram. Ah, aku semakin terpuruk!
***
Pagi-pagi seolah-olah kami dibangunkan Kae Sahliman dan langsung kami mengambil wudhu ke sumur di belakang langgar lalu sholat jama’ah dengan Hodri sebagai imam.
Aku sendiri mulai tak bergairah melakukan itu. Apalagi setiap kali melihat Wulanti dengan senyum mengembang mengantarkan kopi ke teras langgar pada hari Jum’at sehabis juma’atan. Atau kadang juga pada malam-malam tertentu ia bertandang ke langgar sekedar menyapa kami lalu kembali ke rumah sebelah selatan tak jauh dari langgar. Duh... setiap kumelihat Wulanti, seolah ada yang berdegup lebih kencang menghantam dadaku. Aku benar-benar tak kuat. Wulanti telah kami sepakati untuk dinikahkan dengan Hodri. Benar-benar membuatku tak nyaman dengan keadaan.
Sejak itu aku lebih banyak menyendiri di pondok samping utara langgar. Tak kepalang tanggung, harus kuakui aku benar-benar mencintai Wulanti. Benar-benar terasa pada tiap malam-malam di pondok samping langgar itu. Bahkan tak jarang, aku tidak bergabung dengan teman-teman yang tetap seperti biasa, mereka tidur di teras atau di pojok-pojok dalam langgar.
Tepat di awal bulan April, Wulanti dan Hodri benar-benar menikah! Dadaku remuk redam tapi dengan keras kusembunyikan. Kami mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan itu dengan bantuan tetangga. Sementara, dari pihak keluarga Hodri, mereka juga mengeluarkan biaya tidak sedikit. Sengaja mendatangkan beberapa kebutuhan; beras, daging sapi, gula dan kopi dari kampungnya, Aengmera. Dibuatnya pernikahan tampak memesona. Kursi pelaminan biru didatangkan dari kampung sebelah. Dan ranjang merah bludru didatangkan oleh keluarga Hodri (ah, warna merah memang kesukaan Wulanti tentunya sebagaimana ia selalu memakai gaun merah setiap kali kumelihat lewat di depan langgar yang setiap kali itu pula dadaku selalu berdesir dan berdegup kencang).
Halaman rumah disulap sedemikian rupa dengan bunga-bunga: mawar dalam pot, angrek, mawar dan melati mengelantung di sana-sini (juga di leher Wulan dan Hodri). Wulanti dirias sedemikian cantik oleh tukang rias terkemuka di kampung. Gaun putih (ia tidak memakai gaun merah sebagaimana warna kesukaannya) membalut tubuhnya yang jenjang. Kukunya dicat merah muda, rambutnya disanggul, bulu matanya dilentikkan, maskara di matanya membuatnya semakin elok nan anggun. Duhhh, cantik sekali Wulanti. Bibirnya bersolek dengan lipstik merah tak begitu menyala. Sementara Hodri, ia memakai sarung bermerek Lamiri, jas hitam, dan belangkon menutupi kepalanya serta sedikit tambahan kumis.
Pada malamnya, yang benar saja aku tak bisa tidur. Mardawi, Kurma, Fathor, sudah terlelap di sudut-sudut langgar setelah selesai beres-beres di halaman pernikahan. Sementara aku, gelisah tak menentu. Kadang membayangkan Wulanti sedang malu-malu memberikan tubuhnya pada Hodri (ah, selalu bayangan semacam itu menghantuiku). Perasaan berkecamuk tumpang tindih menyerangku. Aku merasa tak kuat hingga entah kenapa dalam kerisauanku muncul keinginan untuk pulang secara diam-diam ke kampungku di Topote, jauh di utara tempatku yang sedang risau ini.
Menjelang subuh, sebelum fajar benar-benar datang dan beduk subuh telah di tabuh oleh Fathor (sejak Kae Sahliman meninggal, Fathor selalu menabuh beduk), aku keluar dengan pelan membawa barang-barangku sebagian. Aku pulang dengan dada berdebar, perasaan kecamuk-risau mendera-deraku di setiap aku melangkahkan kaki. Rasanya rumahku yang jauh dan waktu masih belum subuh tak membuatku urung untuk menunda kepulangan. Di perjalan aku tak merasakan apa-apa. Meski malam gelap, kakiku seolah memiliki mata untuk terus berjalan mengikuti jalan yang menikung-menajam. Sampai kemudian, terasa dalam perasaanku ketika dari kejauhan kokok ayam jantan kudengar lamat-lamat, perasaanku bimbang; ingin kembali lagi ke teman-teman, tapi malu.

Yogyakarta, 2009-2010

Catatan:

Kae: sebutan untuk orang yang sudah sepuh. Kae, juga sering kali disandangkan untuk Kiai, keturuan darah biru
Kacong-kacong: anak-anak. Sebutan kacong-kacong atau anak-anak bukan serta merta untuk anak kecil, tetapi seringkali digunakan oleh orang-orang yang mendidik untuk didikannya (biasanya Kiai untuk santri-santrinya). Walaupun pada kenyataannya, orang yang dididik tersebut sudah dewasa
Langgar: surau atua musollah
Eppak: ayah/bapak
Embuk: ibu
Mondhuk: mondok
Santre-santre: santri-santri.

Rachem Siyaeza, lahir di Pajagungan, 02 September 1988, sebuah  kampung kecil di  ujung timur pulau Madura. Kini sedang melanjutkan Studi Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menjabat sebagai Koordinator Kajian Sastra di Lesehan Sastra Kutub di kota yang sama. Cerpennya terkumpul dalam antologi Jalan Menikung ke Bukit Timah (Temu Sastrawan Indonesia II di Bangka Belitung 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar