Oleh: Matroni el-Moezany*
Perkembangan sastra yang terangah-engah, dan tertatih-tatih membuat pikiran saya bertanya, di samping pemakaian bahasa Indonesia yang kurang baik, juga kurangnya apresiasi kita terhadap sastra Indonesia. Tak dapat dipungkiri perkembangan sastra sampai saat ini masih jauh dari jangkauan cita-cita masyarakat sastra khususnya, bukan saja sastra, tapi seni dan tradisi lokal yang kini mulai tergusur, tergeser bahkan jatuh ke jurang yang dalam kelam, sehingga tak menemukan sinar cahaya apa-apa untuk dijadikan bahan apresiasi.

Kenyataannya banyak para pelajar atau mahasiswa yang kurang benar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Entahlah? Apakah budaya memang terlalu rumit untuk dibahasakan atau mereka memiliki bahasa lain, selain bahasa Indonesia. Sumpah pemuda yang dicetuskan tanggal 28 Oktober 1928 yang merupakan dasar peletak bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, kini “mati” di mata pemuda masa kekinian.
Sastra Indonesia sebagai “induk” bahasa kita tak mampu menahan laju para pemuda untuk terus memperjuangkan dirinya sebagai orang tua bahasa. Kekinian memang menjadikan pemuda beragam tanpa batas. Keberagaman inilah yang seharusnya menyadarkan kita untuk merefleksikan bahasa Indonesia ke depan. Apakah bahasa Indonesia tetap kita pakai, atau kita mencari bahasa lain?  
Dalam hal ini, sastra memiliki peran penting untuk konsisten menjaga kesucian bahasa Indonesia, dengan estetika, dan kelembutannya, karena kalau bukan sastra, kekinian tak mungkin, sebab sangat sulit melahirkan kekinian yang lebih baik. Kekinian selalu membuat kita lengah, jadi hati-hatilah kalau kita ingin memasuki ruang kekinian. Merekalah yang menjadi asal muasal keberagaman sastra dan bahasa Indonesia.
Kenyataan itu, barangkali bisa dijadikan refleksi kita untuk meneruskan sejarah perjalanan sastra Indonesia ke depan. Namun, kita jangan lupa melihat kenyataan kekinian itu? Apakah bahasa Indonesia telah ditempatkan sesuai dengan cita-cita-nya? Belum!. Harus berapa lama lagi kita menunggu keberadaan bahasa Indonesia selalu dipermasalahkan, mengingat banyaknya wacana disintegrasi sebagian daerah yang ingin berpisah dari kita. Bahasa Indonsia terkadang pula dianggap sebagai penghalang gerakan sastra yang memang pada umumnya ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia. Apakah kita membiarkan segalanya hampa balaka? Ketika sudah demikian, saya rasa percuma para pemuda negeri ini yang menyatakan "perjanjian" bersama, yakni: mengaku berbangsa satu, berbahasa satu, dan bertanah air satu. Indonesia. Kehampaan teks Sumpah Pemuda yang begitu "dashyat" kini mulai di”kucil”kan sebagai sastra yang tidak pernah sampai cita-citanya untuk kita kembali bersama di rumah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan sastra persatuan.
Sungguh ironis ketika sampai saat ini masih belum kita renungkan keberadaan bahasa kita. Bahasa yang penuh dengan darah dan perjuangan, sampai saat masih memberi peluang untuk kita ekspresikan di mana dan kapan saja. Anehnya bahasa itu digunakan dengan tidak baik oleh masyarakat sendiri. Berbicara mengenai minimnya pemakaian bahasa Indonesia di setiap karya sastra atau dalam bentuk wacana lainnya di tengah kehidupan masyarakat memang sangat mengkhawatirkan.
Nampaknya kita merasa "minder" atau tidak PD untuk menggunakan bahasa Indonesia. Kayaknya kalau kita menggunakan bahasa asing lebih gaya dan cerdas. Padahal kalau kita telaah dengan sistematis, kritis dan radikal, ini sebuah “penjajahan bahasa“ sehingga ketika bahasa kita mati, mereka tinggal tertawa, karena hanya dengan bahasa, kita tak mampu melawan. Luar biasa bukan. Kalau dulu kita dijajah dengan kekerasan, kini penjajahan lebih dingin dan lembut, hanya orang-orang tertentu saja yang mampu merasakan dan melihat perubahan itu. Disinilah pentingnya merenungkan atau merefleksikan kembali bahasa dan sastra kita ke depan.
Bukanya saya mengharamkan bahasa asing, setidaknya bahasa asing jangan dijadikan keseharian kita. Kasus-kasus ini selalu terlihat di pakai oleh intelektual dan para pejabat kita. Jadi tidak heran kalau bahasa Indonesia tidak berkembang bahkan dilupakan. Mestinya dalam sebuah karya sastra bahasa Indonesia suci untuk dicampuradukan dengan bahasa asing. Sastra lebih nasionalis ketimbang wacana keilmuan dan para pejabat Negara yang sok pintar menggunakan bahasa asing. Walau pun dalam sastra juga mewabah bahasa asing digunakan. Entahlah, apakah ini sudah mentradisi di khazanah sastra Indonesia atau memang sastrawan ikut-ikutan, yang jelas bagaimana seharusnya kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dalam sastra.
Terutama istilah bahasa asing yang kebanyakan bahasa Inggris seakan-akan telah mematikan bahasa Indonesia. Keutuhan bahasa Indonesia yang dicetuskan sejak Sumpah pemuda 74 tahun yang lalu telah tergusur dan selamkan dilautan bahasa asing. Suasana yang timbul di tengah masyarakat kita ialah terjadinya bahasa campuran, rujak, pecel, dan tidak lagi berdiri sendiri.
Gejala ini memang banyak faktor, dunia pers dan jurnalistik juga ikut andil dalam “mamatikan” bahasa Indonesia, dan keadaan ini sangat sulit untuk dihindari. Sastra Indonesia saat ini juga tidak terlepas dari peran bahasa asing. Dominannya unsur-unsur daerah dan unsur-unsur asing yang ditulis oleh para sastrawan, novelis, penyair, cerpenis, budayawan dan esais menambah kelamnya bahasa kita. Bahkan menurut Alexander Robert, beberapa novel yang meledak, antara lain "Supernova" karya Dee dan "Saman" karya Ayu Utami tidak bisa menanggalkan jubah pemakaian kata-kata asing. Entah itu penulis menunjukkan kalau dirinya memang fasih berbasa atau bagaimana, saya tidak tahu.
Dengan demikian, saya hanya bisa bertanya seperti apa sastra bahasa Indoesia yang sebenarnya? Apakah yang bercampur dengan bahasa daerah dan bahasa asing yang layak di sebut sastra Indonesia? Kalau bukan, dimanakah sastra kita sebenarnya? Adakah sastra Indonessia? Mengapa harus seperti itu sastra kita? Bila sikap tak kunjung berubah jangan harap bahasa kita menjadi bahasa pemersatu seperti yang dicita-citakan sumpah pemuda. Sumpah pemudah tinggal sumpah, tapi tak memiliki roh ke-Indonesia-an. Dan sebagian dari kita, termasuk juga penulis,  barangkali lebih menyukai, mengenal dan memahami dalam hal penggunaan bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia sendiri. Apakah ini merupakan efek kelalaian kita dalam menyikapi budaya baru?



*Penyair, tinggal di Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar