Oleh: Marsus
(Joglosemar, Oktober 2010)
Malam yang lirih. Butiran bintang bersinar redup. Gumpalan awan berarakan. Meggantung memalingkan sinar rembulan, yang kini malu-malu memancarkan sinarnya ketepian dedaun pepohonan.

Lalu, tepat di bawah temaram bayang-bayang dedaun yang terpancar oleh sinar rembulan. Seorang perempuan tiba-tiba mengajakku berjalan. Langkah tergesa saat malam masih berkabut embun yang kian dingin. Sesekali langkahnya sulit kujajarkan dengan langkah kakiku. Tapi tangannya tetap aku genggam. Seakan dipaksa untuk tidak menulak ajakannya.
“Kita mau ke mana?” Tanyaku.
“Sudah, naiki saja motornya,” jawab perempuan itu singkat. Diulurkannya kunci motor ke hadapanku. Setelah beberapa detik, seusai isyarat saling pandang. Aku mulai menanjak gas motornya. Melaju kencang ke arah jalan yang ia tunjukkan—yang entah ke mana arah dan tujuannya?
“Kita mau pergi ke mana?” Tanyaku sekali lagi.
“Aku di ajak Mbak Juju,” jelasnya sedikit.
“Ke mana?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu?”
Hening. Desau angin terus mengejar sepanjang perjalanan.
“Lha, Mbak Juju mana?” Tanyaku lagi.
“Dia sudah menunggu aku di samping Pos Rel Kereta Api. Dia menelponku tadi. Aku di suru cepat ke sana bersamamu.”
Angin berhempas lirih. Aku dan perempuan itu berlalu menuju suatu tempat yang aku tak tahu: ke mana dan mau apa?
Tak sampai sepuluh menit. Sebelum aku menumui Mbak Juju. Aku merasakan seberkas air bening yang jatuh kepundakku. Aku menghentikan laju motorku. Menoleh memerhatikan perempuan yang sedang berada di belakangku. Tak dinyana, ternyata kulihat ada butiran-butiran air bening mengalir dari ujung pelupuk mata perempuan itu.
“Kenapa kamu menangis?” Tanyaku.
“Nggak, aku nggak menangis.” Jawabnya. Ada yang di sembunyikan dalam benaknya.
“Aku cuma kelilipan.” Lanjutnya beserta senyum ranum yang tak mampu kuterjemahkan.
“Kita nggak usah pergi saja,” ucapku pelan. Sesekali mendekati perempuan itu.
“Kenapa?” Tanyanya dengan nada lirih.
“Aku khawatir terjadi apa-apa dengan dirimu.” Aku meraih tangannya.
“Kasian Mbak Juju. Dia sudah menunggu sejak tadi.”
“Aku akan telpon dia.”
“Jangan!”
“Kenapa?”
“Kita berangkat saja sekarang.” Perempuan itu mendesah dengan kening berkerut. Aku tak bisa menulak permintaannya.
Aku melangkah menanjak gas motor. Dia pun tanpa sungkan memegang erat tubuhku. Bahkan seperti memelukku. Aku membiarkannya. Aku tak ingin perempuan itu kecewa. Apa lagi membuat hatinya terluka. Tidak! Aku tak akan lakukan itu. Aku tak ingin menambah sakit hatinya sebab kejadian yang baru ia alami beberapa hari ini.
***
Ya, dua hari yang lalu, perempuan itu sempat bermaksud untuk mengakhiri hidupnya. Di sebuah rel kereta. Yang tak jauh dari tempat kostku. Ia berdiri tegap. Membiarkan tubuhnya terkulai. Memandang laju kereta yang ia tunggu-tunggu. Tapat di tengah-tengah rel kereta. Perempuan itu menutupi sepasang mata dengan kedua telapak tangannya.
Sontak, setelah tak seberapa dari jedah suara lengking kereta, perempuan itu menjerit. Meronta-ronta. Meminta agar dirinya dibiarkan mati tertabrak kereta. Dan untung saja, aku berhasil menyelamatkan perempuan itu dari laju kencang sebuah kereta.
“Kenapa kau lakukan semua ini?” Tanyaku. Dia tak menjawab. Tetap diam bergeming dengan tubuh gemetar. Lalu, aku mengajaknya pulang. Tapi sanyang, dia tak mau pulang.
Hari sudah menampakkan senja. Segaris cahanya rebah. Terpancar ketepian pucuk daun ilalang kering yang berjatuhan. Sementara itu keringat hangat terus mengucur dari keningnya. Entah karena sebab takut, atau karena panas tertampar sinar matahari?
Aku bangkit dari tempat duduk. Kegelapan saat itu terasa semakin menggiring dengan hadirnya gumpalan awan yang menyelimuti sinar matahari. Hening. Saat aku mengajaknya lagi agar segera pulang. Namun, keinginannya tetap berbalik, dari keinginan yang aku inginkan. Perempuan itu resah. Dadanya seperti bergemuruh. Sementara keinginannya kembali berlanjut untuk mengakhiri hidupnya.
Perempuan itu memejamkan mata. Di kepalanya tergambar keadaan yang mendebarkan. Ya, seperti saat ia berdiri tegap di tengah rel. menutupi sepasang mata dengan kedua belah telapak tangannya. Ah, tapi niat buruk—mengakhiri hidupnya hanya jadi sia-sia saja.
Pada sebuah senja menjelang malam itu, aku tak membiarkan sang perempuan sendiri. Aku menemaninya hingga larut malam. Meski dingin juga tak jarang aku rasakan, sesekali membuat bibir dan tubuhku gemetar, tapi aku tetap berusaha bertahan. Aku tak ingin perempuan itu hancur bahkan mati mengakhiri hidupnya sebab kegalawan hatinya. Namun, aku pun juga tidak tahu. Entah sebab apa dia berniat buruk seperti itu?
“Dia telah membuat hatiku hancur,” ucapnya setelah kupaksa untuk bercerita—perihal apa yang membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya dengan cara begitu.
“Dia? Siapa dia?” Tanyaku, tapi tak terlalu memaksa.
“Tunanganku, yang selama bertahun-tahun aku menjalin cinta dengannya,” jawab perempuan itu dengan nada terluka.
Hening. Bibirku tertutup. Tak sepatah kata pun yang aku lontarkan. Aku tak begitu yakin, kalau Suhri, tunangannya yang ia cinta sampai hati telah menyakiti perempuan sebaik Vita. Ya, perempuan yang sejak tadi kini hanya diam di pinggir rel kereta. Dengan mata merah merona. Serta tubuh terkulai oleh derita.
“Kamu tahu, di mana sekarang tunanganmu berada?” Tanyaku dengan hati sedikit getir takut menambah hatinya terluka.
Sontak, tak dinyana air mata kembali lengan mengiris pipinya. Ternyata, ucapan yang aku lontarkan benar-benar telah membuat hatinya luka. Tersakiti. Dalam diam, dia berusaha menyembunyikan keperihan hatinya. Tapi, mungkin perih itu benar-benar tak mampu untuk ia tahan, hingga perempuan itu kembali terisak senik disertai banjir air mata yang jatuh ke pipinya.
“Dia benar-benar kejam! Kejam!” Teriak perempuan itu sambil berlari.
Spontan aku mengejarnya. Lalu kuraih tangannya, kupegang erat jemarinya,
“Vi, mau ke mana? Ayo kita pulang!” Pintaku, tapi dia tetap saja berusaha lari dari hadapanku.
“Ini sudah malam, pulanglah...!” Lanjutku.
Ia terdiam sejenak. Dalam jiwanya seperti ada perasaan mengganjal yang baru ia sadari dari niat buruknya. Baru setelah beberapa menit, dia membalikkan tubuhnya. Berjalan pelan menuju rumah kontrakannya.
***
Keesokan harinya. Tanpa sengaja ketika aku sedang melintas di rel kereta, kulihat Vita duduk dengan wajah beku. Matannya merah. Sedikit kulihat ada sisa air mata yang hampir megering yang aru saja ia tuangkan dari kesedihannya. Entahlah, kekhawatiranku tiba-tiba kembali melonjak saat melihatnya.
Lalu, aku menghampirinya. Menyapanya. Dengan manis ia melempar senyum tipis yang hanya ia paksakan.
“Kenapa diam di sini sendiri?” Sapaku.
“Aku lagi ingin sendiri,” jawabnya. Sesekali desau angin menyebak rambut lurusnya.
Entah, aku jadi khawatir teringat akan peristiwa yang ia alami beberapa hari kemaren. Waktu Vita berdiri tegap di tengah rel kerera. Memejamkan kedua matanya. Menutup raut wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu subuah kereta melaju kencang lurus dengan tubuhnya. Namun, untung saja sempat kuselamatkan.
***
Malam itu, ketika aku dan Vita menumui Mbak Juju, serasa ada sesuatu hal yang aneh yang tak kumengerti. Namun aku memilih diam saja. Kubiarkan mereka berdebat habis-habisan hingga larut malam. Meski sebenarnya aku sudah tak tahan menahan kantuk yang berlarut-larut mengajakku rebah menghapus rasa lelah. Tapi tetap aku tahan.
“Aku tak menyangka, kamu bisa berbuat seperti itu, Ju.”
Kudengar suara Vita agak sedikit serak. Dan tiba-tiba saja tangis pecah di antara mereka berdua.
“Maafkan aku, Vi..., ini semua bukanlah kehendakku. Tapi aku dipaksa orang tuaku untuk menikah dengan Suhri, tunanganmu.”
“Aku harap, persahabatan kita tidak hancur gara-gara persoalan ini” lanjut mbak Juju. Sesekali ia raih tangan Vita. Namun wajah Vita menyimpan beribu kekecewaan yang tak mampu ia tutupi.
Baru setelah beberapa menit, mereka saling berpelukan. Memaafkan, merajut kembali tali persahabatan.
Jogja, September-Oktober 2010

*)Marsus Banjarbarat, Alumni SMA Al-In’am, Banjar Timur Gapura. Menulis cerpen dan puisi, yang sering dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional.
Cerpennya terkumpul dalam buku Bukan Perempuan (Obsesi, Grafindo 2010). Dan Puisinya tergabung dalam Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, 2010).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar