Lembaran Sejarah Yang Terlupa
Saat sajak-sajak itu tak lagi ditulis
Di lembaran sejarah yang terukir di tepian takdir
Aku mulai tak yakin dengan kata-kata itu
Saat itu aku mulai berlari mencari warna dalam kelabu

Mencari senyum dalam tangis
Mencari arti dalam kata
Saat itu aku mulai sadar kalau mereka bukan mereka aku bukan aku
Dan dia bukan dia
Aku yang terdampar di pantai hayal
Membangun layar dengan huruf-huruf keyakinan
Mencari alas dari daun janji yang jatuh di pelabuhan takdir
Mencuci dosa dengan air mata
Membasuh dusta dengan gelisah,
Arus khilaf itu yang sering membawaku kedalam palung nafsu
Tak sempat aku menebusnya dengan do’a



JOgja, 25 Desember 2010

1 komentar:

  1. puisimu telah lebih bermakna. lanjutkan, dan pertahankan, lebih rajin lg membanca....!

    BalasHapus