oleh: Marsus Banjarbarat
Sutriani berdiri dipekarangan rumahnya. Melihat sawah yang ditanami padi di sekelilingnya. Satu atau dua bulan lagi dia akan segera memaninnya. Menyemai padi yang sudah menguning. Menjemurnya di halaman rumahnya. Lalu, kalau padi itu sudah kering, dia akan membawanya ke mesin gilingan padi. Untuk kemudian, berasnya ia tanak dan dimakannya dengan lahab bersama suaminya.

Pagi itu, Sutriani benar-benar merasa senang. Apa yang ia inginkan, semuanya telah terkabulkan. Hanya saja, ada satu hal yang masih membuat hati dan pikirannya ganjil. Saat  dia berpikir, bagaimana nasib anak yang beberapa bulan ini baru dilahirkannya, dan kemudian harus ditinggalkan oleh ayahnya.
Ya, setelah Supat pamit pergi merantau. Padahal Sutriani masih baru beberapa hari melahirkan anak pertamanya. Tapi Sutriani tak bisa mencegahnya. Karna itulah memang yang harus mereka jalani untuk mempertahankan hidupnya. Apalagi sekarang sudah dikaruniahi anak, yang tidak boleh tidak memang harus mereka nafkahi.
Air mata Sutriani jatuh berlinang, saat Supat melangkah mengakhiri perjumpaannya dengan Sutriani. Begitupun Supat, sebenarnya dia merasa berat meninggalkan Sutriani. Apalagi ketika Supat melihat anaknya yang baru saja dilahirkan. Dia merasa tidak tega untuk meninggalkan anak sematawangnya itu.
Namun, harus bagaimana lagi. Itu memang sebuah pilihan yang harus mereka tempuh demi kelangsungan hidupnya.
***
Sebenarnya, sebelum Supat dikaruniahi anak pertamanya itu. Dia tak pernah memiliki beban hutang yang begitu besar seperti yang dialaminya sekarang. Namun, karena istri Supat sulit saat ingin melahirkan, terpaksa dia harus membawanya ke rumah sakit, dan dilahirkannya anak pertamanya itu dengan cara oprasi.
Supat benar-benar bingung ketika itu. Dari mana dia akan mendapatkan uang sebesar itu untuk biaya oprasi? Jangankan biaya oprasi yang nilainya berjuta-juta, untuk manafkahi istrinya saja dalam sehari-hari dia kesulitan.
Pontang panting Supat kesana kemari untuk mencari uang. Dan  disela-sela kesulitannya itu, Supat tetap tak pernah putus asa untuk mencari pinjaman uang untuk biaya oprasi istrinya. Dan akhirnya dia juga mendapatkan uang untuk biaya oprasi istrinya. Walau uang yang supat perolah itu harus mengembalikannya dengan bunga yang cukup besar.
***
Setelah Sutriani melahirkan anak pertamanya dengan melalui opresi. Dia baru sadar, bagaimana sebenarnya susahnya menjadi seorang wanita, mulai sejak mengandung, sampai dia melahirkan. Dan dia juga sadar, bagaimana pengurbanan Supat, suaminya yang selama ia mengandung hingga melahirkan, telah setia menemani. Bahkan saat Sutriani harus dioprasi dengan biaya yang cukup besar. Dan Supat-lah yang mengusahakannya. Dan Sutriani pun sampai saat ini tidak tahu, dari mana Supat memdapat uang pinjaman sebesar itu.
Baru setelah beberapa hari dari persalinan istrinya itu. Supat tiba-tiba pamit pergi merantau. Dan tentu Sutriani tak percaya dengan apa yang Supat katakan saat itu. Pasti hanya bercanda, desisnya ketika Supat memberi tahu kalu sebentar lagi Supat akan pergi merantau.
***
Satu tahun sudah Sutriani ditinggal Supat semenjak ia melahirkan anak pertamanya. Walau Sutriani hanya hidup berdua dengan anak sematawayangnya itu, tanpa ayah yang bisa mendampinginya, tapi hidup Sutriani masih bisa bahagia dengan keadaannya yang seperti itu. Kasih sayang dari suaminya serasa tidak berkurang sedikit pun sebab suaminya setiap hari, bahkan setiap waktu tidak pernah lupa untuk berkomonikasi dengan Sutriani. Menanyakan kabarnya, menanyakan keadaan anak tercintanya. Ketika saat itulah Sutriani dan Supat baru merasa, bagaimana sebenarnya arti dan manfaat adanya HP.
Bukan hanya itu, tapi Supat juga tak pernah lupa untuk mengirimkan uang setiap bulannya untuk membiayai kebutuhan Sutriani dan anak sematawangnya itu. Perhatian Supat pun juga tak pernah berkurang akan istri dan anaknya tersebut
Setelah beberapa bulan kini sutriani menjalani hidupnya. Ia tak pernah merasakan kekurangan apa pun dari Supat. Namun, sejalan dengan berjalannya waktu. Namanya saja manusia yang penuh kekurangan. Dan pada akhirnya Sutrini juga tak tahan dengan hidupnya yang hanya ia jalani dengan hidup yang begitu-begitu saja. Dia baru merasakan setelah sekian lamanya Supat tetap tidak kembali kepangkuannya. Sutriani hanya bisa mengubati rasa kangennya terhadap Supat hanya sebatas mendengar suaranya saja lewat telpon genggamnya. Sementara, keinginannya yang selelu mendambakan sebuah perjumpaan tak pernah dikabulkannya.
Hingga pada suatu waktu, saat Sutriani sedang menelpon Supat, dia menanyakan, kapan akan pulang ke kampung halamannya untuk menemui istri dan anknya? Tanya Sutriani. Tapi Supat tak menjawabnya dengan kepastian. Dia hanya menjawab, tenang saja, beberapa minggu lagi pasti juga akan pulang.
Tentu Sutriani sangat bahagia mendengar ucapan Supat, suaminya itu. Karena tak lama lagi dia akan berkumpul kembali bersama anak yang dicintainya.
***
Dua minggu berlalu Sutriani menunggu kedatangan Supat. Namun, Supat juga tak pernah datang menemui Sutriani. Dan ketika Sutriani menelpon Supat yang kesekian kalinya, ia kembali bertanya, kapan jadinya mau pulang ke kampung halaman. Aku dan anakmu selalu merindukanmu setiap waktu, ucap Sutriani dalam telpon memelas.
Spontan, suara telpon yang ada digenggaman tangan Sutriani putus seketika. Suara Supat tak terdengar lagi oleh Sutriani. Sutriani heran! Tak seperti biasanya ketika ia nelpon dengan Supat langsung mati begitu saja. Jika pun mati, sebentar kemuadian Supat pasti menelponnya kembali, atau kalau tidak Supat mengerim pesan untuk mengakhiri komonikasinya. Tapi kali itu tidak!
Sutriani hanya bertanya-tanya. Ada apa dengan Supat, suaminya? Sikap dan perkataannya seperti mulai berubah. Ah, paling hanya sibuk dengan pekerjaannya, pikir Sutriani menghapus dugaan-dugaan aneh yang muncul dalam benaknya.
Hidup tenpa suami tetap Sutriani jalani penuh rasa sabar. Meski sebenarnya dia ingin sekali hidup bersama Supat seperti layaknya tetangganya yang hidup harmonis dengan suami dan sanak keluarganya.
Tapi, ah...! harus bagaimana lagi orang suami Sutriani tak pulang-pulang sejak dia melahirkan anak pertamanya—mencari uang untuk melunasi hutang biaya oprasi istrinya.
***
Hidup memang tak pernah bisa di baca. Apa yanng kita inginkan tidak semuanya akan sejalan dengan usaha yang kita lakukan. Begitupun dengan Sutriani, yang selama bertahun-tahun mengharapkan kedatangan suaminya dari negri rantau. Akan tetapi harapan-harapan itu sekarang hanya tinggal angan-angan belaka. Semuanya berakhir ketika Sutriani mendapat kabar dari bapak kepala desa, kalau Supat telah meninggal dunia di negeri rantau sana.
Awalnya, Sutriani tak percaya dan tak bisa menerima langsung apa adanya mengenai kabar yang di sampaikan oleh kepala desa itu. Namun, setelah dia mendapat surat dari salah satu rekan kerjanya di negeri rantau. Dan isi surat itu mengabarkan tentang kematian Supat karena kecelakaan, barulah Sutriani dapat menerima dengan penuh rasa tabah tentang kematian suami tercintanya itu. Walau dalam hati Sutriani sangat terpukul mendengarkan kabar itu.
Hidup berdua dengan anak sematawayangnya sudah menjadi pilihan bagi Sutriani. Dan itu pun tak dijadikan sebuah beban baginya. Malah ia jadikan anaknya sebagai rahmat dan pelibur lara dalam hidupnya.
Namun, berselang beberapa bulan dari waktu yang ia jalaninya. Setelah Sutriani dapat menerima dengan sabar dan tabah tentang kematian suaminya itu. Dan dia pun juga hidup bahagia dengan anak sematawayangnya. Ternyata, masih ada beban berat yang ia pikul dalam hidupnya: hutang yang berjuta-juta yang pernah Supat pinjam untuk biaya oprasi saat melahirkan anaknya, yang tidak boleh tidak harus segera dilunasinya.
Sudah berkali-kali Sutriani didatangi orang asing yang menagih hutang ke rumahnya. Bahkan dia juga diancam kalau masih tidak segera melunasinya. Dan kalau tetap tidak bisa melunasi hutangnya tersebut, Sutriani harus singgah dari rumahnya. Dan rumah satu-satu itulah yang akan dijadikan jaminan hutang yang dipikulnya.
Dua tiga hari Sutriani mencoba mencari pinjaman uang ke tetangganya. Tapi tak satu pun tetangganya yang sudi meminjamkannya. Dan bahkan sebelum Sutriani mencari pinjaman uang, dia telah menjual semua perhiasan warisan dari orangtuanya. Tapi, setelah ia hitung-hitung, tetap tak cukup untuk melunasi semua beben hutang yang harus dilunasinya.
Tiga hari berselang setelah sutriani berusaha mencari pinjaman uang. Orang asing itu datang kembali ke rumahnya. Tak lain dan tak bukan hanya untuk menagih utang untuk yang terakhir kalinya. Dan pada hari itulah yang akan menentukan nasib Sutriani yang memang tidak boleh tidak harus menjadi sebuah pilihan: melunasi hutang, atau singgah dari rumahnya sebagai jaminan hutang tersebut?
Nasib baik masih berpihak pada sutriani. Ketika dia sudah hampir singgah dan diusir dengan paksa dari rumahnya.  Seorang lelaki datang ke rumah Sutriani. Tampa basa-basi dia mengeluarkan uang dan membayar semua hutang Sutriani pada orang asing yang sedari tadi menunggu kepastian dari Sutriani. Lalu setelah sejenak, orang-orang itu pulang tanpa harus disuru pulang oleh Sutriani.
***
Hidup telah menjadi pilihan Sutriani. Dua minggu setelahnya, Sutriani dilamar oleh lelaki yang melunasi utangnya itu. Dan dia pun tidak mungkin untuk menolak lamarannya. Kemudian, jadilah pasangan suami istri antara Sutriani dan Supit, lelaki yang telah melunasi utangnya itu.
Mereka jalani hidupnya penuh kebahagiaan. Segala kebutuhkan lahir maupun batin yang dibutuhkan oleh Sutriani, semuanya di penuhi oleh Supit. Begitupun dengan anak Sutriani yang masih berumur sembilan tahunan. Dia juga mendapat kasih sayang penuh dari Supit sebagai mana kasih sayang ayah pada anaknya sendiri.
Pagi sebelum supit berangkat kerja. Sabgaimana biasa, Sutriani siapakan berbagai menu makanan kesukaan Supit yang telah menunggunya di meja makan. Kemudian mereka memakannya dengan bersama-sama. Baru setelah itu, Supit  beranjak untuk menuju kantor tempat kerjanya.
Tepat didepan pintu rumahnya. Ketika Sutriani berjalan mengiringi Supit yang hendak berangkat ke tempat kerjanya. Tiba-tiba dari balik mobil Supit yang hendak dinaikinya. Seorang lelaki datang dan memeluk Sutriani dengan erat.
“Supat...??!!” Tanya Sutriani dalam pelukannya.
“Iya, aku Supat. Suamimu yang telah lama merantau. Dan kini aku datang kembali untuk dirimu dan anakmu. Juga akan kulunasi hutang yang pernah aku pinjam untuk biaya oprasimu.” Hening, kebisuan mengiringi tatapan tajam mereka bertiga.
***
Akhirnya, kebahagiaan Sutriani yang telah dirajut bersama Supit harus segera diakhirinya. Dan ternyata, Supat dan Supit adalah saudara kandung yang sama-sama ingin memiliki Sutriani. Dan bahkan, kabar kematian Supat dinegeri rantau beberapa tahun silam, hanya sebuah kelicikan Supit yang memang dia sengaja agar Sutriani bisa dimilikinya. Dimiliki Supit sebagai istrinya.***
Jogja, 07 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar