Oleh: Marsus
(Diterbitkan 06 Februari 2011 Di Suara Pembaruan )
Lambat laun, tangannya mendarat kesana kemari. Sorot pandangnya tajam menuju kedua jari jemarinya yang sedang sibuk. Sesekali orang-orang dihadapannya terus berdatangan membawa buku dan diulurkan. Lalu ditinggalkan kesibukan itu untuk sejenak menerima buku-buku yang diberikan oleh beberapa orang itu.

Tangannya terus bergerak, memainkan secarik gunting yang sibuk memotong beberapa ukuran sampul yang ada disampingnya. Disebelah kirinya lima gulungan sampul yang berukuran beda untuk ukuran buku yang beda pula. Di sebelah kanannya sebuah kipas angin sebagai penepis keringat yang mengucur deras disekujur tubuhnya.
Perempuan Sampul, begitu aku memberi julukannya. Dia seorang perempuan paruh baya yang bekerja sebagai tukang sampul di sebuah toko buku terkenal di Yogyakarta, Togamas nama toko bukunya. Pasti tak heran lagi dan tak perlu mengajukan pertanyaan jika mendengar nama toko buku itu, semuanya sudah pada mengenal dan tahu dimana tempat toko buku tersebut, apa lagi para mahasiswa.
Perempuan itu memang cukup lincah. Dari gerak-gerik jemari tangannya memegang sebuah gunting—memotong dan melipat sampul pada buku-buku yang hendak ia sampul. Dan keramah tamahan sikapnya melayani pelanggan yang sedang berkunjung ke toko buku itu, telah membuat beberapa orang terkagum-kagum dan memuji hasil pekerjaannya.
Ditambah lagi dengan corak kostum pakaiaannya yang selalu rapi: memakai baju warna biru mudah kombinasi warna ping yang senada dengan warna kerudungnya, membuatku semakin senang berlama-lama menunggu buku yang ia sampul yang kubeli di toko buku tersebut.
Dan bahkan sesekali waktu setiap jedah beberapa detik dari kesibukannya, dia lontarkan senyum tipis pada orang-orang yang sedang menunggu buku sampulannya. Termasuk aku yang tak pernah bosan menunggu dan melihat sembari membalas senyum sumringah.
Ada sekitar tujuh belas buku yang belum disampul yang masih menumpuk dihadapannya. Empat buku termasuk bukuku yang berada digiliran paling akhir untuk disampulnya. Namun, tak sedikitpun aku merasa risih atau kesal menunggu Perempuan Sampul itu, meski ada beberapa orang yang tidak tahan menunggu lama-lama dan kemudian pergi membawa bukunya tampa disampul. Namunm, tidak dengan diriku.
Malam diwarnai dengan beberapa gerimis yang mulai turun satu demi satu. Aku duduk tepat disamping kanan perempuan itu. Meski jaraknya agak jauh, tapi serasa dekat ketika mendengar bau parfumnya saat terbawa angin yang berhempas lembut ke hadapanku. Aku semakin ingin berlama-lama menunggu perempuan—selasai menyampul semua buku-buku, dan ketika sudah larut malam, akan aku buntuti kemana pulangnya perempuan itu, ingin kucari tahu dimana tempat tinggalnya.
***
“Sudah, Mas...” ujarnya mengagetkanku. Aku tersenyum bimbang, khawatir takut dia tahu kalau aku sedang memerhatikannya sejak tadi.
“I...iya, Mbak” aku berjingkat menghampirinya, mengambil buku-buku yang sudah selesai disampul dan dia julurkan kehadapanku.
“Terimakasih, Mbak.” ucapku sembari mengumbar senyum tipis.
Aku dilanda bingung dan salah tingkah. Ternyata, orang-orang yang sebelumnya berada disampingku—menunggu buku sampulannya, sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing. Entahlah, mungkin aku terlalu larut menikmati keanggunan Perempuan Sampul itu. Dan kekagumanku telah benar-benar bulat untuk memilikinya, ah, tak mungkin! Tapi paling tidak mengenalnya, mengetahui siapa namanya dan dimana rumahnya.
Sesampainya diparkiran toko buku, kulihat hanya ada satu motor selain motor dan mobil para kariawan yang bertugas di toko buku tersebut. Oh, ternyata hanya motorku. Ya, satu motorku yang tersisa diparkiran itu.
Lalu aku langsung menanjak gas motor. Menerobos jalan setapak yang masih basah dengan titk-titik gerimis hujan. Di jalan setapak, yang sepi itu, gelap pula, aku menyusuri beberapa gang-gang perumahan penduduk untuk menuju kontrakanku. Di daerah Demangan persis di belakang warung makam Bu Suyarti.
Dulunya aku dan dua orang temanku berbeda pendapat untuk memilih tempat kontrakan. Ada yang menginginkan ngontrak di daerah Sapen saja, biar dekat dengan kampus. Teman yang satunya memilih agak jauh di daerah Lempuyangan, agar harga kontrakannya tidak terlalu mahal. Persoalan jauh dari kampus, masing-masing kita sudah pada punya motor. Salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya aku memilih jalan tengah, di daerah Demangan saja, di utara Rel Kereta. Dan mereka pada menyetujuinya.
***
Udara pagi bangkit dari celah jendela. Dengan lembut mengurai seluruh badanku yang lelah. Beberapa ayunan dedaun pohon Kersen yang rindang jatuh gemeretak satu-satu ke tanah. Lalulalang para mahasiswa di gang belakang kontrakan mulai berjingkat yang menjanjikan berjuta pesona. Dari pesona-pesona itulah barangkali yang membius aku dan dua orang temanku: Alpan dan Ipung untuk merantau ke negri impian ini.
Alpan dan Ipung bersiap berangkat kampus. Lima menit berselang mereka melaju bersama motornya menuju kampus.
Aku menyeka pintu jendela belakang. Sudah pasti Bu Suyarti sibuk menyediakan hidangkan berbagai menu makanan dan lauk pauk diwarungnya. Dan setelah itu, Bu Suyarti hanya tinggal duduk-duduk menunggu pelanggan yang hendak mencicipi masakan hasnya: nasi sayur kacang, nasi remes, nasi uduk.
***
Ahaii! Hari Minggu matahari sudah tinggi seujung tumbak. Jelang pagi ini aku gagas untuk bersih-bersih kontrakan sebelum membuka jendela lebar-lebar sambil melihat Bu Suyarti sibuk menyiapkan berbagai makanan.
Usai bersih-bersih, kubuka pintu jendela belakang, kuperhatikan warung Bu Suyarti. Oh, ada yang beda dari ganjal penglihatanku. Seorang perempuan dengan baju warna biru mudah kombinasi warna ping yang senada dengan warna kerudungnya tiba-tiba muncul menyelinap di warung Bu Suyarti, kostum pakaian yang persis dengan Perempuan Sampul yang pernah kutemui di toko buku Togamas.
Hati penuh segudang tanya prihal perempuan itu. Tentu tak dapat dijawab akurat sebelum mendatangi langsung warung Bu Suyarti. Meski tak bermaksud untuk mencicipi makanan has Bu Suyarti, kudatangi saja dengan satu niatan untuk mengetahui perihal perempuan itu. Benarkah si perempuan tadi adalah si Perempuan Sampul? Atau si Perempuan Sampul itu adalah anak Bu Suyarti? Pemilik warung makan di belakang kontrakanku.
Aku masuk ke warung makan Bu Suyarti. Memesan secangkir kopi hangat dan mengambil sebatang rokok untuk kemudian kusulutnya. Kuhisap dan kukeluarkan kepulan asapa rokok tersebut, sesekali kuintip seorang perempuan yang sedang berdandan—dari celah jendela kamar Bu Suyarrti.
Ahaii! Benar-banar hari yang cukup menggembirakan. Ternyata Perempuan Sampul itu adalah anak gadis Bu Suyarti, sekaligus ibu yang punya rumah kontrakanku.***

Jagalan, Januari 2011

 *Marsus Banjarbarat, Alumni Al-In'am, kini menjadi penikmat Sejarah dan Kebudayaan Islam FAIB UIN SUKA Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar