Oleh: Juma Darmapoetra*
(Diterbitkan di Harian Kontan 14 Februari 2011)
Perjuangan rakyat Mesir menggulingkan rezim Husni Mubarak yang berkuasa selama 32 tahun memang telah berakhir. Mubarok telah secara resmi mengundurkan diri dari kursi kepresidenan pada Jum’at (11/02) Mesir. Pengunduran diri Mubarok dari kursi kepresidenan mesir diumumkan oleh wakil presidennya, Omar Suleiman di salah satu televisi nasional mesir dan pemerintahan diserahkan ke dewan agung militer.



Lalu, apakah kepuasan dan klimaks dari sebuah perjuangan hanya akan berakhir pasca digulingkannya pemerintahan atau mundurnya presiden? Pertanyaan yang akan muncul adalah bagaimanakan masyarakat mesir akan memformat ulang system pemerintahannya dan siapakah yang akan maju memerintah mesir?
Pertanyaa semacam itu akan berlesatan dalam pikiran masyarakat. Pengalaman reformasi atau revolusi Negara-negara tidaklah semulus apa yang kita pikirkan. Tidak sedikit reformasi dan revolusi itu berujung pada munculnya diktatorisme, ariktokrasi dan rezim baru yang lebih sadis dan kejam. Telah banyak reformasi digulingkan, akan berkiblat kemanakah kita sekarang dan rakyat mesir akan meletakkan pengharapannya?
Kegagalan reformasi akan semakin nyata ketika reformasi tidak dibarengi dengan konsep yang akan dilakukan setelah reformasi. Indonesia misalnya, sampai saat ini gelombang reformasi masih menggelembung di ranah pemerintahan. Gelembung reformasi yang terus bergejolak diakibatkan karena kaum reformis Indonesia tidak membawa konsep pemerintahan masa depan yang akan dilaksanakan ketika sebuah reformasi berhasil. Makanya kemudian, Indonesia hari ini tidaklah jauh berbeda dengan Indonesia di zaman pemerintahan Orde Baru, Soeharto. Kemiskinan, pengangguran dan KKN semakin meraja lela di tingkatan pemerintahan. Ironis memang.
Potret reformasi di Indonesia akan kontras dengan apa yang terlihat di Iran. Revolusi islam iran tidak hanya sebatas reformasi nir konsep. Orang-orang yang merancang dan mendesign telah siap dengan berbagai konsep yang akan ditawarkan ketika sebuah revolusi berhasil. Hasilnya, iran hari ini bisa dikatakan berhasil membuat system baru yang lebih baik dari rezim sebelumnya, Syah reza Pahlevi. Ayatollah Khomeini dan kawan-kawannya telah tersenyum lebar karena perjuangan mereka melakukan revolusi membawa efek positif bagi Negara, agama dan masyarakat. Lalu bagaimana dengan rakyat Mesir, akankah seperti Indonesia atau Iran?
Menjawab pertanyaan diatas memang tidak mudah. Butuh pemahaman geo-politik dan kondisi sosio-historis yang berkembang di mesir hari ini. Pengalaman reformasi atau revolusi negara lain patut dijadikan percontohan. Kegagalan atau keberhasilan sebuah reformasi akan sangat menentukan cita-cita masa depan sebuah Negara.
Kita pun bertanya, siapa yang akan menjadi pemimpin yang bisa menjadi tumpuan harapan masyarakat mesir sekarang? Memang ada banyak tokoh yang disebut-sebut laik menggantikan posisi Mubarok, namun perlua kualifikasi politik dan track record yang memadai untuk menilai kredibilitas, profesionalitas dan elektabilitas terhadap masyarakat umum.
Pengalaman Indonesia atau Iran adalah dua percontohan yang berbeda. Indonesia menampilkan BJ. Habibie, Gusdur, Mega dan SBY. Iran menampilkan Khomeini dan Ahmadinejad sekarang. Keduanya memiliki catatan politik yang berbeda. Indonesia masih berada dalam on going menuju perbaikan negara yang berperadaban dan berkebudayaan tinggi. Iran telah menghasilkan system pemerintahan politik yang nyata dan cukup ampuh mengontrol geo-politik, agama dan social budaya dalam masyarakat.
Dibutuhkan pemimpin yang bervisi maju, berpandangan terbuka, menjamin kebebasan dan mampu mengakomodasi kepentingan seluruh masyarakat public. Mesir membutuhkan sosok pemimpin yang mampu memperhatikan kondisi social-masyarakat dan menciptakan rasa damai dan aman dalam masyarakat serta menjamin terciptanya politik yang bersih dan kedewasaan demokrasi.
Kebebasan berpolitik, kedewasaan demokrasi dan bebas dari rezim ariktokrasi telah dinanti masyarakat mesir. Masyarakat menginginkan Negara yang menjamin kebebasan berpendapat. Kekejaman dan tekanan dari rezim Mubarok adalah pengalaman pahit masyarakat Mesir. Trauma sebuah rezim akan terus menggentayangi masyarakat di masa depan. Terlebih masyarakat mesir masih harus menunggu calon pemimpinnya.
Mesir akan berada di persimpangan yang menjanjikan sebuah harapan. Apakah mesir akan diperintah masyarakat sipil atau tentara militer? Mengingat ada dua kekuatan dominan yang sedang berkembang di mesir. Antonio Gramsci dalam kritik pembangunan dunia ketiga menyatakan bahwa ada tiga gerakan wilayah sebuah masyarakat, pertama war of position (perang posisi); kedua, war of opinion (perang wacana); dan ketiga, war of movement (perang gerakan).
Transisi yang dialami mesir akan menjadikan medan pertarungan kuasa. Berebut kuasa antar elemen yang berkepentingan guna merebut posisi di kursi kepresidenan mesir pasca Mubarok. Perang wacana, perang merebut posisi dan gerakan akan semakin marak dan nyata di mesir. Pemilu masih di bulan September dan hari ini pos pemerintahan masih dipegang dewan agung militer.
Di masa transisi semacam ini, masyarakat tentu menginginkan pemimpin yang lebih baik dari Mubarok. Masyarakat Mesir ingin hidup dengan sejahtera dan terjamin kebebasannya. Kriteria pemimpin harus benar dipikirkan secara matang dan sebaik mungkin, agar pemerintahan Mubarok tidak terulang lagi. Pemerintahan masa lalu, mulai Anwar Sadaat hingga Mubarok telah cukup menjadi cermin bagi masyarakat mesir untuk menentukan pemimpin.
Yang jelas, dalam pertarungan gerakan, pertarungan posisi atau wacana dalam menentukan pemimpin Mesir tidak sampai menghilangkan prinsip dan semangat awal par demontran, mesir lebih baik dan sejahtera. Jangan sampai pasca Mubarok justru muncul pemimpin dengan pemerintahan yang lebih aristocrat dan membentuk rezim baru yang kejam dan tidak pro rakyat.
Sejarah adalah cermin dan masa depan adalah dialektika dari masa lalu dan masa kini. Untuk menentukan criteria pemimpin di masa depan, masyarakat Mesir perlu bercermin dari pemerintahan di masa lalu. Gulingnya Mubarok diharapkan akan menjadi langkah awal untuk mesir yang lebih baik, lebih sejahteran dan terjamin kebebasannya serta mampu menemukan pemimpin yang adil, jujur dan amanat terhadap mandat yang ditanggungnya. Semoga!
* penulis adalah Alumnus Al-In’Am Gapura

Tidak ada komentar:

Posting Komentar