(Terbit 13 Maret 2011 Di Media Suara Pembaruan)


Dewa Malam
Malam semakin larut
Sunyi semakin mencengkram
Hampa semakin mendesakku untuk bermimpi
Mata ini memaksaku untuk terpejam
Bintang itu telah tiada
Bulan telah kembali istirahat
Tapi wajahmu masih terlintas di hayalku
Rahasiamu belum juga terbongkar
Kerinduanku belum juga terobati
Malam ini akan kuundang para dewa
Untuk hadir dalam dialog tentang sepi
Sekarang khayangan tak berpenghuni
Aku ingin menyusup masuk kesana
Aku ingin menjadi dewa meski sementara.



28 Januari 2011

Jeglek
Matahari mulai Nampak di ujung timur mataku
Suasanapun berubah keruh
Malam yang biasanya penuh dengan canda, tawa
Kini berubah menjadi saling menyalahkan
Jeglek…
Kau bukan masalah tapi membawa malapetaka
Bukan kau yang salah, juga bukan aku, lalu siapa?
Tak perlu kujawab, tak perlu kautanya kau diam saja
Aku diam bukan aku mengalah
Tapi aku mencari siapa yang salah
Aku tak ingin disalahkan,
Aku juga tak ingin menyalahkan
Kau beri aku cahaya tapi kau selimuti dengan gulita
Kau beri aku makan lalu kau akhiri dengan lapar
Aku harus berterimakasih, atau aku harus bagaimana?
Tak ada jawab sampai semua kembali
Lalu kau siapa?

30 Januari 2011


Fatamorgana
Sebaris lirik yang kuberikan untukmu
Tapi kau masih anggap aku fatamorgana
Seuntai maaf yang kuminta kau anggap aku gerhana
Aku benci, ingin kulupakan tapi kau makin Nampak
Ingin kuhancurkan kau makin dikdaya
Ingin kuhapuskan tapi kau makin nyata
Melupakanmu adalah mengingatmu
Mengusirmu adalah mengundangmu
Menjauhimu adalah mendekatimu
Membuangmu adalah mencarimu
Mengapa aku tak bisa lepas darimu
Kau bukan waktu
Kau bukan angaka
Kau bukan udara
Tapi mengapa kau selalu ada
Lumpuh aku karenamu
Tak berdaya aku karenamu

1 Februari 2011

Mual…
Aku berfikir tapi aku tak pandai
Aku anggap apa yang kau beri itu racun
Ternyata obat bagi sesak kedengkian
Aku berkelana tapi aku bukan musafir
Aku meminta tapi aku tak pernah memberi
Aku mencari tapi tak pernah menemukan
Mual… Mual… Mual…
Ingin kumuntahkan segalanya
Tapi cangkir itu sekarang hancur menjadi beling
Pisau itu telah berkarat
Cermin itu telah tak bisa untuk berhias
Lalu dengan apa akan kugores topengmu
Dengan sajak, tapi sajakku bukan belati
Rawa rontek menyatukan tubuh yang terpisah
Panca sona menghidupakan jasad yang mati
Tapi tiada guna nadiku telah diputus
Oleh waktu, nyawaku telah diambil oleh masa
Seluas mata memandang
Sebebas telingan mendengar
Setinggih jiwa menghayal
Seperti itulah sajakku, membaca semesta.

1 Februari 2011

Mengenang dengan luka
Satu kata mampu merubah sejarah
Satu aksara mampu membuka rahasia
Mudah bagimu sulit bagiku
Putih bagimu hitam bagiku
Kau simpan beribu misteri
Tapi bagiku tiada arti
Duri itu kau tusukkan lagi di lukaku
Obat itu telah habis kau ganti dengan serbuk derita
Sekarang aku tak mampu lagi berucap
Aku tak punya lagi kata-kata
Biar saja sejarah yang bercerita
Biar luka yang tersisah
Dan aku tetap ada

4 Februari 2011
*Yasir penyair kelahiran Sumenep 18 september 1991 sekarang kuliah di UIN SUKA Yogyakarta dan sekarang aktif di kajian IKA AL-IN”AM Yogyakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar