Oleh: Rachem Siyaeza
(Diterbitkan No. 41 TH 63 Minggu II Januari 2011 di Minggu Pagi)
Seorang wanita dari arah sebuah gang sempit berlari sambil berusaha menutup kepalanya dari gerimis dengan tasnya yang tak terlalu besar. Bus yang kutumpangi mulai mengurangi kecepatannya. Beberapa meter sebelum halte, air menciprat akibat ban Bus menggilas air di jalan yang cekung. Dengan jarak cukup dekat antara Bus dan wanita tadi, dengan cekatan wanita itu menghindar dari hamburan air yang menciprat. Gerakannya begitu lentur sehingga membentuk semacam paduan serasi antara gerimis dan gerambaian rambut panjangnya yang hitam dan keseimbangan tubuhnya yang mungil namun tak kecil itu.

Dari balik kaca Bus, kumelihatnya dan seketika ingatanku merespons cepat meski dari tempatku memandang terhalang kaca Bus yang kusam. Dialah wanita itu, wanita dengan wajah Kim Su-jin itu*)—yang berjalan sendirian, harap-cemas memancar di wajahnya yang bundar. Dari tempatnya menghindari cipratan air, dengan gerakang yang lagi-lagi sama lenturnya dengan saat ia menghindar dari cipratan air karena ban Bus, ia menuju halte. Bersamaan dengan itu, Bus yang kutumpangi berhenti di depan halte. Orang-orang yang memang sudah berada di halte, masuk ke Bus.
Kulihat ia, yang tak salah lagi, wanita itu, menyilangkan tangannya di perut. Mungkin ia sedikit kedinginan karena gerimis. Air mukanya menunjukkan kecemasan dan dari caranya ia menghalau dingin dengan bersedekap tangan di badan, ia tampak tak sabar ingin segera sampai tujuan. Sesekali ia melirik pergelangan tangannya yang—karena kena gerimis—basah, bulu-bulu halusnya bagai juga kedinginan.
Wanita itu seperti diburu waktu. Mungkin punya janji dengan seseorang yang akan berakibat fatal kalau terlambat. Atau mungkin ia mau mendatangi pacarnya yang sedang marah sehingga kalau tidak segera didatangi pacarnya itu akan mencampakkannya, menduakaannya.
Entahlah, yang terakhir ini justru seperti menjawabnya. Hingga ia masuk ke Bus, dengan gerakan seperti meloncat, tampak ia masih gelisah.
***
Aku tak tahu hendak ke mana, tanpa tujuan. Tiba-tiba aku ingin naik Bus di halte tak jauh dari kosku dan entah sampai di mana, saat aku ingin aku akan turun dari Bus. Entah halte yang ke berapa sejak dari halte dekat kosku, saat aku bertemu dengan wanita itu—wanita yang kuamsal Kim Su-jin itu—hingga pada sebuah halte, aku turun bersamanya.
Ketika itu aku berfikir, andai saja aku tak gugup kukira kesempatan ini akan menjadi suatu kisah manis bagai Jessi dan Celine**). Mereke bertemu di atas kereta dan jalan-jalan sepanjang malam mengitari Wina sampai pagi. Aku dan wanita itu, bertemu di Bus, dan tak tahu apa kiranya yang akan terjadi ketika Bus melaju kencang menembus gubyur gerimis. Yang ada aku hanya duduk tanpa berkata-kata, begitu juga ia, dengan orang lain pun tidak. Kadang-kadang manusia memang tak perlu bicara dengan orang lain.
Apakah aku akan pindah tempat duduk yang di sebelahnya kosong? Tentu aku akan disergap canggung. Apakah aku akan diam saja sampai ia turun dan pada malam nanti atau malam berikutnya, seperti biasa, aku hanya akan menuruti mataku untuk membuntuti gerak-geriknya di warung kopi? Oh, tidak.
Wanita itu persis di seberang kursi kanan tempatku duduk. Kulihat ia menggeliat gelisah, tambah gelisah dan tiba-tiba berdiri sambil menatap ke luar kaca Bus yang dipenuhi air hujan sehingga semakin kusam.
“Kenapa kau gelisah begitu?” tanyaku. Lebih bertanya pada diri sendiri sebenarnya.
***
Tangannya sibuk memilin-milin rambutnya yang jatuh di depannya, mengikuti lekuk dada. Kursi tempat kami duduk berair seperti embun. Gerimis memang sudah tidak ada, tetapi karenanya malam bagai berkabut dan seolah mau membekukan siapa saja yang tidak menghalaunya dengan jaket tebal atau berdiam saja di kamar yang hangat.
Sehabis turun dari Bus tadi, kami berhenti di halte yang sama—tepatnya aku mengikutinya. Berjalan beberapa meter, dan lalu kami duduk di kursi panjang di pinggir jalan yang sepi karena malam sudah menuju kelam.
“Tak ada yang lebih indah dari pada malam dengan kabutnya yang dingin,” katanya.
“Justru mengerikan,” aku menimpali apa yang ia katakan.
Sejujurnya, tak ada keinginan bahkan rencana untuk bisa bertemu dengan wanita Kim Su-jin itu kecuali hanya di tempatnya bekerja. Itu pun tanpa ada pertemuan. Aku saja yang merasa bertemu dengannya. Sedang ia, tenggelam oleh sekian banyak cangkir dan gelas, dari bangku satu ke lesehan dan bangku lagi dan seterusnya, mengantar minuman dengan memasang senyum dipaksakan bila ternyata pengunjung—terutama pengunjung laki-laki—melarak-lirikinya dengan tatapan memburu.
Pertama kali kumelihat ia, di tempat kerjanya itu, sebuah tempat nongkrong semacam warung kopi di kotaku. Tempat yang menyediakan beragam macam minuman itu, tidak hanya kopi meski labelnya warung kopi, telah memperkenalkan aku dengannya walau mungkin ia tak pernah berfikir untuk mengenaliku. Begitulah, lelaki yang hanya berfikir tentang wanita—yang karena keindahannyaa sampai kapan pun akan diburu—aku pun kadang-kadang berfikir untuk memburunya. Ingin kumemilikinya bila mungkin.
Ya, lelaki mana yang tidak akan berfikir demikian kalau melihat wanita dengan mata hampir sipit ditambah alis melengkung tak tebal seperti memang untuk menambah kesan tusukan mematikan bila memandang mata itu. Dengan rambut hitam lebatnya ditalikan tepat di belakang kepala, yang karena itu kulit lehernya yang putih dengan urat-urat terlihat, siapa yang tidak suka. Kubayangkan ia kalau menehan ludah, dengan bibir basah, akan terlihat di lehernya ludah itu karena saking tipis kulitnya yang putih. Apalagi si lelaki, sepertiku, tak pernah disentuh wanita; lelaki yang selalu cemas karena diancam lajang lapuk seumur hidup, tak laku-laku semenjak dilahirkan.
Di tempat itu, kulihat ia dengan tangan terus-menerus seperti menadah air yang jatuh dari atap sambil berjalan membawa talam. Ke sepuluh jari tangannya menempel pada talam yang ia pegang dan sedikit menegakkan tubuh ia menjaga keseimbangan agar cangkir dan gelas—berikut isinya yang berupa kopi, susu, teh dan sekian macam minuman lain yang menjadi menu tempatnya berkerja dari sore hingga larut—tak meluber.
Selalu, ia akan menanyai beberapa orang di deretan bangku memanjang dan tidak ketinggalan ia juga melakukan hal serupa di lesehan sampai kadang-kadang harus membungkukkan tubuh bila ternyata kuintansi pembayaran mengharuskannya menurunkan minuman dari tangan. Pun segera ia akan menyibakkan sedikit bibir sambil menepis koaran para lelaki yang iseng mengerjainya dengan ucapan nakal dan konyol semacam kopi manis atau susu hangat dengan menambahkan “mu” pada kata kopi atau susu. Ia tak menanggapi koaran itu selain hanya senyum dipaksakan, mirip senyum kecut.
Para lelaki itu, sebagian merasa tak tega melihatnya: ia seharusnya tidak melakukan apa yang menjadi tugasnya tiap malam dari sore sampai larut itu.
“Kasihan, pantasnya ia di kafe mewah atau di hotel.” Begitu seorang pelanggan berkata.
“Hotel dan kafe produk kapitalis, neokolonial. Dia memang pantas di sini, di warung rakyat.” Kata yang lain.
Sebagian lagi tentu merasa senang dengannya, bahkan merayakan kehadirannya dengan cara yang justru keterlaluan; terus menerus menyebut apa yang ada di tangan wanita itu, padahal sebenarnya mereka hanya ingin menyapanya dan menikmati wajahnya yang bersemu merah seperti menahan sesuatu tetapi tak dilepaskan sesuatu itu karena mungkin ada batas. Seperti biasa setelah ia menanggapi dengan senyum disenyum-senyumkan maka keluarlah koaran itu dari sebagain mulut para lelaki.
Begitulah selalu, kadang aku juga ingin menyapanya tapi merasa malu dengan diri sendiri. Kadang mataku dan matanya berbenturan pandang lalu bergedebuk di hatiku, semacam perasaan senang, tak puas kenapa hanya bertatapan saja. Dan pastinya, tentu hal sama akan terjadi dengan banyak lelaki dengan perasaan yang selalu hampir sama: tidak puas hanya dengan beradu pandang, sebisa mungkin lebih dari itu dan terus lebih, lebih, dan lebih.
***
Kini aku bertemu dengannya, Oh Kim Su-jin. Mirip benar ia dengan wanita cantik yang harus malang karena diserang alzemir akut yang membuatnya hilang ingatan itu. Caranya ia meneguk sekaleng Coca-Cola dengan sekali teguk habis, dengan mendongakkan wajah sambil meminum Coca-Cola yang kebetulan pada suatu malam aku melihatnya, sungguh mirip dengan Kim Su-jin. Bahkan caranya menghapus bekas Coca-Cola di bibirnya yang basah dan setelah itu mengecap-ngecap minuman bersoda itu, sungguh-sungguh mirip dengan Kim Su-jin. Betapa manusia mirip itu benar-benar ada.
Waktu itu, ia sedang jeda di sebuah pojokan pemesanan. Menyandarkan tubuh pada dinding dan semua mata memandangnya. Aku duduk di kursi panjang, dan menghadapnya. Benar-benar Kim Su-jin yang tersesat di warung kopi.
“Kau sengaja mengikutiku?”
“Buat apa aku mengikutimu?”
“Kita tak bisa menghidari takdir. Betapa pun, hal semacam ini sangat mungkin direncakan.”
“Kau keberatan?”
“Jangan salah faham, aku melihatmu di antara banyak orang di tempakku kerja. Dan tak perlu lagi aku mencari alasan untuk tidak menerima takdirku malam ini.”
“Kau berlebihan.”
“Tidak.”
“Nama kau pun aku tak tahu.”
“Ana.”
“Kenapa kau gelisah di dalam Bus?”
“Karena terburu-buru.”
“Terburu-buru mau ke mana?”
“Ke tempat ini.”
“Kenapa ke tempat ini?”
“Tak semua hal ada alasan. Aku ingin keluar rumah, sedang libur kerja. Kau?”
“Sama.”
“Aku kesepian.”
“Sama.”
“Aku membutuhkan pendamping.”
“Sama.”
“Jangan sama-sama terus.”
“Kita kebetulan bertemu di dalam Bus. Kenapa kau tak mengusirku karena aku mengikutimu.”
“Aku benci harus menjawab dengan alasan.”
Ada Bus di ujung jalan sebatas pandang, seolah-olah datang dari balik kabut. Lewat di depan kami, dan kami mengikutkan pandangan pada buntut Bus. Dan kami, sama-sama, dengan berbarengan, membaca dengan keras tulisan di kaca belakang Bus,
“Mangsa aku dalam cakarmu!***)” Kami sama-sama tertawa membaca tulisan yang mengingatkanku pada sebuah sajak itu. Dan setelah Bus itu benar-benar hilang di tikungan yang berkabut, kami diam.
Kabut malam bagai menebal. Air yang seperti embun di kursi tempat kami duduk juga bagai menebal. Kami menggeser jarak, berbareng, dan bertambah dekat.
“Mangsa aku dalam cakarmu,” katanya mengulang kalimat di kaca belakang Bus yang tadi lewat. Sangat lirih kudengar di kupingku, bersama hembusan nafasnya yang hangat.
***
Kulihat ia larut oleh pekerjaannya. Dan saat menanyaiku, aku mengiyakannya, dan mata kami beradu pandang. Aku senang, puas tanpa harus berfikir aku ingin yang lebih dari hanya sebatas beradu pandang dengannya.
“Ana Kim Su-jin.”
Aku memanggilnya setelah ia beranjak menuju kursi panjang lain. Orang-orang melihatku, lalu melihatnya. Ia membelokkan wajah, memandangku sambil memasang senyum-sumringah di bibirnya yang selalu basah. Dan aku tak perlu khawatir lagi dikatakan dikutuk menjadi bujang lapuk seumur hidup oleh teman-teman.
Yogyakarta-Sumenep, September 2010
Catatan:
*) Kim Su-jin, tokoh utama dalam film A Moment to Remember, disutradarai oleh John H Lee
**) Jesse dan Celine, dua orang yang tanpa sengaja bertemu di kereta dan turun bersama di Wina. Kemudian, mereka jalan-jalan semalaman mengitari Wina sampai pagi (lihat film Before Sunrise)
***) Diambil dari sajak Padamu Jua, karya Amir Hamzah.
Rachem Siyaeza, lahir di Pajagungan, 02 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur pulau Madura. Alumnus Pondok Pesantren AL-IN’AM Sumenep Madura. Kini sedang melanjutkan Studi Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa lokal dan nasional. Saat ini, menjabat sebagai Koordinator Komunitas Lesehan Sastra Kutub di kota yang sama.
Cerpennya terkumpul dalam antologi Jalan menikung ke Bukit Timah (TSI-II Bangka Belitung) dan Tiga Peluru (Kumcer Pilihan Minggu pagi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar