Judul : Psikologi Ibnu Sina
Karya :Ibnu Sina (yang diterjemahkan dari buku aslinya berbahasa arab: Akhwal an-Nafs Risalah fi an-Nafs wa Baqa’iha wa Ma’adiha)
Penyelaras Bahasa : M.S. Nasrulloh
Penerbit : Pustaka Hidayah, Bandung
Cetakan : 1, 2009
Tebal : 201 Halaman
Presensi : Marsus*

Setiap pemikir tidak akan pernah luput dari pembahasan tentang jiwa manusia, karena jiwa merupakan bagian paling dekat dengan diri kita dan sangat misterius. Tetapi, ketika para pemikir mengera bahwa dirinya sudah mengetahui lebih banyak tentang dirinya (jiwanya), menyelami hakekat hidupnya, menyengkap rahasianya, dan menggali esensinya dan ternyata mereka mendapatkan itu, maka semua dari yang mereka ketahui laksana fatamorgana dan esensi jiwanya sebagai fenomina yang cukup menarik untuk kita bahas.

Sebagaimana yang telah kita banyak ketahui, bahwa ilmu pengetahuan modern dewasa ini tidak mengkaji hakikat jiwa, tapi hanya cukup dengan menganalisis fenomina-fenomina kejiwaannya saja. Kemudian diarahkannya kepada para pemikir agar mereka yang mengkajinya. Nah, dengan demikian jika para pemikir tersebut tidak bisa memberi arah seperti apa yang kita inginkan, maka kehancuran lambat laun akan terus terjadi dalam hidup kita.
Berkaca terhadap Ibnu Sina sebagai pemikir ideal yang sangat berpengaruh besar pada abad pertengahan yang teori-teori pemikirannya telah tersebar luas di kalangan filsof Eropa. Dan ini dibuktikan dengan beberapa manuskrip Ibnu Sina yang masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa sampai sekarang yang berjumlah sekitar 45 manuskrip (hlm 12).
Pemikir Eropa juga masih sangat di pengaruhi oleh karya-kara Ibnu Sina yang banyak mengutip argumentasinya, dengan membuktiakan keberadaan jiwa. Sementara itu pengaruh psikologi Ibnu Sina juga banyak mempengaruhi terhadap para pemikir muslim. Hal ini dibuktikan bahwa para filsof muslim mutakhir menetapkan kepeminpinannya dan kepeloporan Ibnu Sina, sehingga mereka mengahirinya dengan gelar ar-Rais. Mereka meniru gaya Ibnu Sina dalam sebagian besar pembahasan tentang ilmu jiwa.
Konstribusi Ibnu Sina terhadap peradaban manusia ini tidak cukup hanya di kenang saja, tapi bagaimana kita bisa menirunya sepanjang pemerintahan di Negara kita, Indonesia. Dan jika itu sudah terbenahi, maka tidak mustahil kita pun akan bersama-sama menyaksikan kebangkitan Nasional dan kedemokratisan.
Harapan besar dengan menghidupkan warisan pemikiran Ibnu Sina bukan hanya akan menjadikan terbukanya kebangkitan dan kebanggaan di negri timur, lain dari itu kebangkitan dan kebanggaan baru pada khazana masa silam, serta kepercayaan dan kekuatan tersubut bisa membentuk negri kita sendiri.
Jika Ibnu Sina dulunya berhasil mempersatukan dunia Islam sejak seratus tahun silam, maka sesungghnya ia masih tetap sukses mempersatukan bagian-bagian dunia Islam hingga saat sekarang yaitu dengan melalui karya-karyanya. Dengan hadirnya kembali buku ‘Psikologi Ibnu Sina’ ini akan mengajarkan bagaimana kita mempertahankan tegaknya dunia Isalam tidak hanya dari satu aspek saja, melaikan dari semua aspek baik sosial, budaya, ekonomi, dan lain semacamnya. Dan Islam tidak hanya di tuntut untuk memperjuangkan keberhasilah pribadi, tapi juga memperjuangkan spirit ketuhanan agar bisa diwujudkan dalam ranah realitas saat ini. Dalam buku inilah Ibnu Sina menuangkan berbagai konsep-konsep yang berkaitan dengan masalah tersebut.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar