Judul : Teori Interpretasi Al-Qur’an Ibnu Rusyd: Kritik Ideologis-Hermeneutis
Penulis : Dr. Aksin Wijaya
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan : 1, 2009
Tebal : 340 Hlm
Peresensi : Marsus*

Al-Qur’an adalah sebagai sumber utama ajaran Islam bagi seluruh umatnya. Serta sebagai syari’at yang dapat memberi petunjuk arah hidup setiap manusia. Berdasarkan keyakinan tersebut, umat Islam senantiasa berlomba-lomba untuk mempelajari, memahami, dan mengamalkannya. Harapan mereka tidak hanya tertuang untuk keselamatan hidup di dunia, melainkan juga bisa meraih kebahagiaan di akhirat nanti. Meski demikian, timbulnya sebuah keyakinan saja tidaklah cukup. Diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai kitab petunjuk, bukanlah proaktif memberi petunjuk layaknya manusia. Namun dalam hal ini manusialah yang bertanggung jawab menjadikan Al-Qur’an supaya aktif berbicara sehingga bisa berfungsi sebagai petunjuk.

Agar supaya Al-Qur’an menjadi proaktif memberi petunjuk terhadap umat manusia ke arah jalan yang lebih benar, para kalangan pemikir muslim pun berusaha melakukan pembacaan dan penafsiran-penafsiran terhadapnya untuk menggali pesan serta petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut. Walaupun memiliki beberapa tujuan yang sama, pembacaan atau penafsiran tersebut tidak lantas dengan sendirinya melahirkan sebuah pemahaman yang sama pula dengan apa yang sebenarnya di kandung dalam Al-Qur’an itu. Ketidaksamaan pemahaman itulah lantas tidak saja disebabkan oleh perbedaan latar belakang sosial mereka, tetapi juga pendekatan yang dipakai dan ideologi yang mendasarinya.
Secara garis besar, proses sejarah telah melahirkan dua model pendekatan dalam memahami Al-Qur’an. Pertama, pendekatan yang menggunakan perangkat analisis yang berdasarkan disiplin Islam. Kedua, pendekatan yang menggunakan perangkat dari luar disiplin Islam yang dipakai dalam filsafat. Filsafat menurut asumsi mereka bukan bagian dari disiplin Islam bahkan merupakan perusak Islam. Hal itu terjadi terutama sejak al-Ghazali melakukan serangan terhadap filsafat dan mengungkap kerancuan para filsuf.
Tahafut al-Falasifah, merupakan karya al-Ghazali yang monumental. Pada saat yang sama, dia dipandang berhasil menghidupkan kembali ajaran Islam melalui kitabnya, Ihya Ulum ad-Din. Dan karena kedua karyanya tersebut, filsafat tersingkir dari kancah keilmuan Islam. Di lain sisi, al-Ghazali menjadi representasi model pemikiran Islam, bukan saja di daerah Masyriq (Timur), tempat al-Farabi dan Ibnu Sina hidup, tetapi juga di daerah Maghrib (Barat), tempat Ibnu Rusyd hidup. Atas keberhasilan itu, lantas dia dijuluki sebagai “penghidup ilmu-ilmu agama”.
Pada periode berikutnya, lahirlah Ibnu Rusyd, seorang filsuf yang dikenal sebagai komentator filsafat Aristoteles. Ada dua pemikiran yang dilahirkan oleh Ibnu Rusyd yaitu pemikiran filsafat dan pemikiran tentang keislaman. Pemikiran di bidang filsafat mulai mencuat ke permukaan karena dia dikenal sebagai komentator filsafat Aristoteles. Adapun dalam bidang keislaman, Ibnu Rusyd populer karena melakukan kritik tajam terhadap al-Ghazali, para teolog, sufi, dan filsuf pripatetik.
Ada dua katagori pemikiran Ibnu Rusyd di bidang keislaman. Pertama, sebagai alat (metode) dan yang kedua, sebagai wacana. Namun, dalam buku ini penulis lebih memfokuskan kajiannya pada pemikiran Ibnu Rusyd yang sebagai alat (metode). Hal ini di maksudkan untuk mengungkap pandangan-pandangan tentang relasi syari’at dan filsafat.
Teori interpretasi Al-Qur’an Ibnu Rusyd tertuang secara terpisah-pisah dalam ketiga bukunya, Fashl al-Maqal, al-Kasyf’an Manahij al-Adillah, dan Tahafut at-Tahafut, yang oleh berbagai kalangan dianggap sebagai sumber primer pemikiran keislaman selain Bidayah al-Mujtahid. Dari ketiga pembahasan buku tersebut bermuara pada problem relasi syari’at dan filsafat. Selain Ibnu Rusyd hendak membela filsafat, dia juga membela syari’at. Oleh karenanya pemikiran Ibnu Rusyd dikenal sebagai pemikir yang liberal.
Adapun antara syari’at dan filsafat menurut Ibnu Rusyd tidak ada yang membedakan. Sebab keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu sama-sama mencari kebenaran. Syari’at dan filsafat ibarat saudara yang menyusu pada susuan yang sama. Tetapi yang membedakan hanyalah pada sasarannya. Syari’at ditujukan untuk semua tingkatan masyarakat, sedangkan filsafat ditujukan untuk sebagian kecil masyarakat. Pembedaan metode dan potensi serta sasaran itulah yang membuat masyarakat terbagi menjadi dua kategori, yakni masyarakat terpelajar dan masyarakat awam.
Bertolak dari uraian diatas, kajian ini memfokuskan pada teori interpretasi Ibnu Rusyd terhadap Al-Qur’an yang menjadi pijakan dalam membangun pandangan tentang relasi syari’at dan filsafat. Nah, apakah itu merupakan interpretasi yang bersifat epistemologis atau bersifat ideologis, karena persoalan ini tidak terungkap secara eksplisit dalam ketiga karyanya.
Buku Teori Interpretasi Al-Qur’an Ibnu Rusyd ini akan menjawab dari berbagai persoalan tersebut: Pertama, bagaimana pandangan Ibnu Rusyd terhadap relasi syari’at dan filsafat. Kedua, model teori interpretasi seperti apa yang digunakan Ibnu Rusyd dalam memahami Al-Qur’an sebagai sumber asasi Syari’at. Ketiga, apa implikasi dari teori interpretasi Ibnu Rusyd terhadap Al-Qur’an. Untuk itu, penulis terlebih dulu menempatkan pemikiran Ibnu Rusyd pada sisi sosialnya, agar pemikirannya bisa dipahami secara objektif. Menurutnya, dengan memahami secara objektif, di sana akan ditemukan nilai-nilai epistemologis dan ideologisnya.

*Peresensi adalah Alumni Al-In,am, sekarang menjadi mahasiswa Fak. Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar