Oleh: Saifullah Syah
      A.    Pendahuluan
Islam adalah agama rahmat bagi alam semesta. Ia menuntun kepada pemeluknya untuk memiliki kepekaan terhadap lingkungannya. Bukankah Rasulullah saw menerima Islam ini tidak dengan duduk bersimpuh? Tugas beliau adalah membawa missi ke dalam realitas kehidupan. Ke tengah-tengah kencah kehidupan manusia dengan 1001 macam persoalannya. Kehadiran Islam justru untuk memecahkan persoalan-persoalan hidup yang riil itu, dalam berbagai aspeknya. Oleh karenanya seorang muslim yang ideal adalah seorang yang shalih (ritual) sekaligus shalih sosial.

Dengan demikian, merupakan perbuatan yang keji ketika membedakan manusia berdasarkan perannya dalam status sosial masyarakat, karena dia kaya, konglomerat, pemilik modal, miskin, kaum pekerja dan sebagainya. Allah memandang keduanya sama lewat firman-Nya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.[1]
Jelaslah dari apa yang diuraikan di atas, bahwa ketaqwaan ukuran tertinggi  dari hidup manusia. Dalam arti lain, berharta atau tidak bukanlah ukuran untuk membagi manusia dalam kelas-kelas sosial dan tidak juga untuk menjaga jarak antara yang punya dan tak punya. Akan tetapi, kebanyakan orang-orang kaya menganggap orang miskin adalah kaum marginal yang tak perluh diperhatikan haknya. Mereka hanya akan menghabiskan harta yang dengan susah didapatkan. Bahkan ada yang menganggap mereka adalah tenaga untuk memperbanyak serta menumpuk harta.  
Situasi sosial seperti di atas merupakan potret kesenjangan dalam interaksi sosial masyarakat sekarang yang cenderung individualistik dan pragmatis. Dalam kondisi tersebut, orang kaya (pemilik modal) tampil dalam  gaya sok tuan yang mencibirkan si miskin, atau para buruh yang selalu diperas tenaganya untuk menumpuk harta.
Islam tidak memperbolehkan penganutnya bersifat seperti demikian. Maka diperintahkanlah orang muslim oleh Allah untuk bersedekah dengan cara memberikan sedikit dari hartanya kepada mereka yang miskin atau yang membutuhkan pertolongan.
Disinilah fungsi sedekah yang seutuhnya. Sedekah tidak hanya merupakan ibadah vertikal yang berkaitan dengan hubungan kita dengan Zat Yang Mahatinggi, yakni Allah. Tetapi juga ibadah horizontal yang berkaitan dengan bentuk dan pola intraksi antar manusia. Ibadah hirizontal adalah ibadah yang mempunyai efek langsung dengan konteks kehidupan masyarakat sekitar.  
Tulisan ini bermaksud untuk menganalisa fungsi sedekah dalam menghapus kesenjangan sosial dalam masyarakat, antara si kaya dengan si miskin, antara si tuan dengan pekerjanya, antara yang meminta-minta dengan yang tidak. Sehingga nantinya sedekah akan mampu menciptakan keakraban antar sesama dan egalitarianisme sosial.

      B.     Penggertian Sedekah
Secara bahasa, sedekah berasal dari kata shadaqah yang berarti benar, orang yang gemar bersedekah bisa diartikan sebagaiorang yang benar pengkuan imannya. Sementara secara istilah atau terminologi syariat, sedekah sama dengan infak, yakni mengeluarkan sebagain harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh agama. Begitu juga sedekah merupakan pemberian yang dikeluarkan adanya aturan waktu yang menngikat. Hanya saja, infak lebih pada pemberian yang sifatnya material, sedangkan sedekah mempunyai makna lebih luas, baik dalam bentuk pemberian materi maupun yang nonmateri. Hadits riwayat Iman Bukhari dari Jabir r.a. menyebutkan bahwa segala perbuatan baik adalah termasuk amalan sedekah:
كل معرف صدقة  (رواه البخاري)
Segala perbuatan baik adalah sedekah. (H.R. Bukhari)[2]

الصدقة هي عطية يراد بها المثو لاالكرامة
Sedekah yaitu suatu pemberian yang dimaksudkan untuk mendapatkan pahala bukan untuk suatu kehormatan atau kemulyaan. Sedekah merupakan bentuk kepedulian seseorang teradaporang lain untuk turut meringankan beban yang sedang dideritanya.[3]
Shadaqah dapat diartikan suatu pemberian apapun yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi waktu dan jumlah tertentu; suatu pemberian sesuatu apapun yang diberikan oleh seseorang sebagai suatu kebajikan yang mengharap ridha Allah swt dan pahala semata. Shadaqah dalam pengertian ini tidak hanya berbentuk materi melainkan juga nonmateri, baik dalam bentuk pemberian benda atau uang, tenaga atau jasa, menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan, mengucapkan takbir, tahmid, tahlil, bahkan yang paling sederhana adalah tersenyum pada orang lain.
Dari Abu Dzar, Rasulullah saw bersabda:
عن ابي ذر رضي الله عنه : ان ناسا من اصحاب النبي صلي الله عليه وسلم قلوا لنبي صلي الله عليه وسلم: يا رسو الله، ذهب اهل الدثور بالاجوار، يصلوان كما نصلي ويصومون كما نصوم ويتصدقون بفضل اموالهمز قل : اوليس قد جعل الله لكم ما تصدقون؟ ان بكل تسبيحة صدقة وكل تكبيرت صدقة وكل تحميد صدقة وكل تهليلة صدقة  وأمر بالمعروف صدقة ونهي عن المنكر صدقة وفي بضع احد كم صدقة [4]
Jika tidak mampu bersedekah dengan harta maka membcara tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlis, berhubungan suami istri, dan melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah (H.R. Muslim)
Dengan demikian dapat dipahami bahwa sedekah adalah keseluruhan amal kebaikan yang dilakukan setiap muslim untuk menciptkan kesejahteraan sesama umat manusia, termasuk untuk kelestarian lingkungan hidup dan alam semesta ciptaan ilahi guna memperoleh hidayah dan ridha Allah swt.
Islam adalah agama rahmat bagi alam semesta. Ia menuntun kepada pemeluknya untuk memiliki kepekaan terhadap lingkungannya. Karena pada hakikatnya, setiap nikmat yang dimiliki merupakan amanah dari Allah untuk dibagi ke manusia yang lain melalui dirinya. Didalam harta yang dimiliki ada hak orang-orang miskin dan yatim piatu yang harus diberikan.
Setiap kepedulian seseoarng terhadap sesamanya merupakan perbuatan terpuji yang dihukumi shadaqah oleh Islam dan mempunyai ganjaran tinggi. Sikap kepedulian seperti ini  tidak tumbuh dalam setiap individu manusia. Hanya orang-orang yang memiliki iman kuat dan keterbukaan hati sehingga membuat ia peka terhadap penderitaan orang-orang miskin, anak yatim, dan orang-orang terlantar.
Orang-orang kaya /mampu yang menutup mata dari keterpurukan manusia disekitarnya disebut oleh Allah sebagai pendusta agama. Allah berfirman:
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3. dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin.[5]
Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa shadaqah merupakan ibadah yang mempunyai dimensi ganda, yaitu dimensi vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, manusia wajib untuk melaksanakan shadaqah untuk menjalin hubungan dengan Allah serta sebagai rasa syukur atas nikmatnya. Dimensi vertikal, merupakan ibadah transendental yang memiliki nilai ibadah itu sendiri.
Dimensi horizontal berkaitan dengan hubungan antar manusia. Dalam ayat di atas shadaqah diwujudkan dengan cara menyantuni anak yatim dan memberi makan pada orang-orang miskin. Dimensi ini merupakan ibadah sosial yang dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah sekaligus memberi pertolongan pada orang lain. Ibadah sosial adalah ibadah yang mempunyai efek langsung dengan konteks kehidupan masyarakat sekitar.[6]
Begitu agung dan mulia perbuatan menyantuni anak-anak yatim, terutama mereka para yatim yang miskin dan terlantar, mereka tidak tahu kemana harus menyadarkan hidupnya, sehingga Nabi bersabda:
عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: قا ل رسول الله عليه وسلم : انا وكافل اليتيم في الجنة. (رواه احمد والبخارى وابو داود والترمذى) حديث صحيح. [7]
Dari Sahal bin Said r.a berkata: Nabi saw, bersabda: Aku dan orang yang menyantuni anak yatim ada di Surga. (K.R. Arba’ah: Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Hadits di atas memberikan pengertian kepada kita, bahwa tempat Penitipan Anak Yatim yang ada di Inodesia merupakan dari perbuatan baik, dan dinilai shadaqah. Kerelaan mereka untuk mengangkis nasib anak-anak yatim, anak-anak terlantar merupakan kepekaan jiwa sosial yang dimilikinya. Mereka mengejawantahkan keimanannya tersebut tidak hanya dalam bentuk ibadah syar’iyah melainkan juga ibadah sosial.
      C.     Sesuatu yang Memiliki Nilai Sedekah dalam Kehidupan Sosial
1.      Harta
Sesuatu yang memiliki nilai paling penting yang bisa kita sedekahkan adalah harta. Sebag, harta merupakan salah satu penyangga kehidupan manusia di bumi supaya tetap survive (bertahan hidup). Harta disini mengandung pengertian benda atau materi yang mempunyai nilai guna secara ekonomi, yang menjadi kebtuhan setiap manusia. Materi ini begitu luas pemaknaanya, mulai barang yang menjadi kebutuhan primer seperti makanan, pakaian, dan rumah, hingga barang-barang di luar kebutuhan primer tersebut.[8]
Dalam perspektif ekonomi, benda atau barang semacam itu merupakan barang ekonomi yang tidak setiap orang bisa memilikinya. Setiap korang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan akan barang-barang ekonomi ini bersama orang lain, karena barang-barang ini mempunyai nilai tawar yang mensyaratkan adanya kompensasi untuk mendapatkannya. Artinya, tidak setiap orang bisa mendapatkan barang-barang ekonomi ini secara gratis.
Ketika seseorang ingin mendapatkannya, tentu saja oran gtersebut harus melakukan transaksi yang mengasilkan kesepakatan tentang perpindahan hak milik barang-barang ekonomi ini.  Transaksi in dikenal dengan jual beli dengan menggunakan uang atau secara barter, yaitu transaksi dengan menukarkan barang dengan barang.
Perjuangan untuk mendapatkan kebutuhan ekonomi merupakan kompetisi yang sangat akut, yang sering menelan korban karena tidak dapat memenangkan kompetisi tersebut. Bagi kelompok yang kalah mereka menjadi miskin dan terlantar bahkan terkadang mereka menjadi kaum pekerja yang upahnya lebih sedikit daripada peluh asin yang dikeluarkannya.
Maka disinilah sedekah harta kemudian menjadi amat penting, karena merupakan bagian dari suatu gerakan membantu kesenjangan sosial yang terjadi.[9] Dalam A-Qur’an Allah berfirman :
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.[10]
Ayat di atas merupakan perintah kepada seseorang yang mempunyai harta benda agar bersedekah atau berinfak menurut kemampuannya. Sedekah dengan harta, asalakan dilakukan dengan sasran yang tepat, tulus, dan istiqamah, sama artinya dengan menanam investasi untuk proyek masa depan di akhirat kelak.
2.      Pekerjaan
Memberikan orang pekerjaan termasuk sedekah. Kalau kita tidak mampu memberikan lapangan kerja kepada orang lain, minimal kita memberi informasi tentang suatu pekerjaan yang sekiranya bermanfaat. Apabila orang tersebut benar-benar menggunakan dan memanfaatkan inforamasi yang telah diberikan kepadanya, niscaya pahala besar akan menunggu si pemberi sedekah tersebut.
Menurut M. Thobroni dalam Mukjizat Sedekah (2007), ada dua solusi konkrit dalam sedekah jenis ini. Pertama, jika kita telah mamp, kita bisa memberikan lapangan kerja kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, utamanya masyarakat sekitar, tetangga, sanak famili terdekat. Apabila tidak mampu memberikan lapangan pekerjaan, maka dapat menggunakan solusi yang kedua, yakni memberikan atau mencarikan informasi kerja yang diharapkan mampu mengangkat taraf hidup orang lain.[11]
Niat baik untuk membantu orang lain lewat berbagai kerja ataupun sekedar informasi kerja kepada orang lain dinilai sebagai sedekah. Allah berfirman :
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.[12]
3.      Tenaga dan Pikiran
Tidak disangsikan bahwa memberi seseorang pengetahuan atau pemahamam adalah sedekah. Dalam hal ini sedekah ilmu, atau sedekah potensi pikiran. Dalam praktiknya, sedekah semacam ini mempunyai ruanga yang lebih luas serta lebih mudah untuk ditunaikan. Dalam kehidupan sosial, mencerdaskan orang yang masih belum paham tentang ilmu pengetahuan merupakan hal yang wajib kita kerjakan. Hal ini bertujuan unutuk menghentikan praktik dominasi dari kaum intelek  yang membodoh-bodohi rakyat jelata, anak tidak sekolah dan orang-orang yang putus impian.
Mengajarkan ilmu yang bermanfaat adalah sedeka, baik dengan menuliskannya dalam sebuah buku maupun menjelaskannya kepada orang lain. Oleh karena itu, seyogiyanya setiap muslim memilih untuk mempelajari ilmu yang paling bermanfaat dan mengajarkannya. Mengajarkan ilmu yang kita kuasai kepada orang adalah sedekah bagi kita yang pahalanya akan terus mengalir sesudah mati.[13]
Berkaitan dengan pahala mengajarkan ilmu pada orang lain, Mu’is mengutip sabda Rasulullah dalam salah satu haditnya.
ان مما يلحق المؤمن من عمله وحسناته بعد موته علما علمه ونشره[14]
Palah amalan dan kebaikan yang akan menghampiri seorang mukmin sepeninggalnya ialah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan... (H.R. Ibnu Majah dan Al-Albani Menghasankan)
4.      Senyum, Wajah Ceria dan Perbuatan Baik
            Selain bantuan tenaga dan pikiran, terdapat hal-hal lain yang bersifat inheren dalam manusia dan bisa bernilai sedekah, yakni senyuman dan wajah ceria. Hal ini memang sangat remeh, karena tidak mempunyai dampak langsung dalam kehidupan dan dianggap tidak menjadi solusi konkret terhadap segala permasalahan yang mungkin timbul. Tetapi, siapa sangka bahwa senuman justeru merupakan hal paling dasar dari segala bentuk interaksi sosial.
            Sebab senyuman kepada orang lain, baik yang dikenal atau yang tidak dikenal merupakan isyarat dari keramahtamahan yang perlu terus dipupuk. Dengan senyuman seseorang merasa dihargai meskipun ia tidak memliki apa-apa dalam hidupnya. Orang kaya yang menebar senyumnya kepada mereka yang miskin, tentu akan berdampak senang kepada mereka karena merasa dianggap dalam tatanan masyarakat.
            Senyum dan wajah ceria yang ditebarkan pada orang lain merupakan perbuatan baik yang bernilai sedekah. Dalam kehidupan sosial masyarakat perbuatan baik dapat diwujudkan dengan menjalin hubungan denga masyarakat secara sopan dan mengikuti aturan atau norma yang sudah ditetapkan.
Rasulullah bersabda sebagaimana yang dikutip oleh Sanusi :
كل معرف صدقة، ومن المعرف أن تلقى أخاك بوجه طاق وأنتفرغ من دلوك فى انائه. (رواه البخاري)
Setiap kebaikan adalah sedekah, dan diantara kebaikan adalah menjumpai saudaramu dengan muka yang manis, dan menuangkan air dai timabamu ke dalam wadah saudaramua. (H.R. Bukhari)
Kalau hadis ini dipahami lebih lanjut, akan diperoleh pemahaman bahwa sedekah bisa dilakukan dengan hanya berbuat kebaikan saja, tidak perlu spesifikasi dan rincian lagi. Sebab, inti dari sedekah adalah demi kebaikan bersama secara kolektif yang memancar dari kebaikan individu.
      
      D.    Sedekah Sebagai Penghapus Kesenjangan Sosial dan Implementasinya dalam Pendidikan
Selama ini banyak orang yang memaknai sedekah hanya sebagai sarana untuk berhubungan dengan Allah semata, sehingga kecendrungan mereka hanya mengucapkan kalimat syukur dan membelanjakan hartanya pada hal-hal yang diperintahkan agama. Padahal makna sedekah tidak hanya menggunakan harta kita pada hal-hal yang baik. Didalam sedekah ada makna sosial yang hendak menyelamatkan kehidupan orang miskin, anak yatim, para pengemis, pemulung dan peminta-minta.
Sedekah sebagai fungsi sosial adalah untuk menghasilkan solusi dari berbagai problem sosial kemasyarakatan, khususnya ketidak adilan ekonomi. Dengan bersedekah, masing-masing orang tersadar bahwa kita membantu orang lain yang sedang berada dalam himpitan kesulitan ekonomi. Sedekah yang baik memang bisa diorientasikan untuk menjadi solusi problem tersebut, yaitu sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, istiqamah, dan betul-betul memerhatikan nasib sipenerima.
Dalam agama Islam, kedemarwanan mendapat tempat terhormat sekaligus menjadi tuntutan dalam konsep etika sosial-kemasyarakatan. Sebab, Islam tetap menghormati hak milik pribadi seberapa pun banyaknya. Maka, agar orang yang nasibnya kurang beruntung bisa hidup layak, orang-orang kaya dituntun untuk bersikap dermawan dan mau membantu mereka. Konsep Islam dalam hal kedemarwanan atau filantropi ini berbeda jauh dengan ideologi kapitalisme yang memberikan kesempatan tanpa batas bagi kepemilikan pribadi untuk mengksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) demi kepentingan ekonomi. Konsep kedermawanan atau filantropi Islam juga bebeda dengan konsep ekonomi sosialisme-komunisme yang menyatakan tidak ada kepemilikan pribadi, yang ada hanya kepentingan komunis.[15]
Sedekah dalam arti ini tidak bisa dipahami sebagai pemberian yang instan, sesuatu yang langsung habis katika telah sampai di tangan penerima. Sedekah dalam arti ini harus dipahami sebagai motivasi agar orang yang menerima semakin giat dalam meberdayakan dirinya secara ekonomi yakni agar mereka bekerja keras karena merasa malu jika harus terus menerus menerima sedekah dari orang lain. Allah berfirman :
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.[16]
Dalam ayat di atas, Allah swt. Memberikan penghargaan khusus kepada orang yang mengajak untuk bersedekah, amar makruf nahi munkar, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Sebab dengan sedekah, amar ma’ruf nahi mungkar, dan perdamaian itulah kondisi sosial yang sejahtera dan agamis akan benar-benar terwujud. Jadi, dalam konteks ayat di atas, peran  penting sedekah sama dengan amar makruf nahi mungkar dan menjaga perdamaian, dilihat dari nilai dan kontribusinya bagi aspek sosial.
Disamping itu, sedekah akan meruntuhkan kesenjangan sosial dan akan mendekatkan diri seseoran gdengan masyarakat sekita. Sebab, sedekah merepresentasikan adanya kepedulian dan keinginan untuk terus menjalin komunikasi. Sedekah dalam fungsi ini bisa ditarsirkan sebagai alat komunikasi dan perekat hubungan sosial, tetapi karena bersifat formal, maka nilainya menjadi kura terlaksana. Dalam sebuah hadits, rasulullah bersabda :
يا ابا ذر اذا طبخت مرقة فاكثر مأها وتعا هد جيرانك (رواه مسلم)
Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak makanan yang berkuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetanggamu. (H.R.Muslim)

Pesan Rasulullah di atas mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, karena  hanya bersedekah kuah kepada tetangga. Akan tetapi, jika sedikit apapun kebaikan yang kita kerjakan kalau niatnya ikhlas maka akan mendapatkan pahal. Selain itu Rasulullah berpesan melalui hadits tersebut untuk tidak hidup individualistik dan tidak peduli pada kehidupan sekitar. Pesan Nabi tersebut akan menciptakan suasana keakraban antarmanusia (tetangga) tanpa adanya kekerasan dan pendiskriminasian pada si miskin.
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda :
عن عبد الله انب سلام رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا أيها الناس افشوا السلام وصلوا الارحام وأطعموا الطعام وصلوا بالليل والناس نيام  تدخلوا الجنة بسلام (رواه الترمذى)[17]
Dari Abdullah bin Sala r.a. berkata: Rasulullah saw. Bersabda: wahai sekalian manusia! Tebarkanlah perdamaian, sambunglah tali persaudaraan, berilah makanan kepada orang lapar, dan dirikanlah shalat malam di tengah manusia tidur nyenyak, engkau akan masuk surga dengan selamat. (H.R. Tirmidzi)

Kedamaian dan ketentraman adalah dambaan setiap orang. Dengan gemar bersedekah, menyambung tali persaudaraan/bersilaturrahmi, dan mendirikan shalat malam di tengah orang tidur nyenyak, kedamaian dan ketentraman hidup akan bisa didapatkan.[18]
Sebagaimana penjelasan di atas terdapat nilai-nilai sosial yang terkandung dalam sedekah, nilai kepedulian, kebersamaan, pengakuan hak, egalitarianisme dan lain sebagainya. Adapun cara untuk mengimplementasikan nilai-nilai sedekah dalam pendidikan bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1)      Penanaman dasar-dasar kejiwaan yang mulia, seperti ketakwaan, ukhuwah islamiyah, kasih sayang (rahmah), itsar (mementingkan orang lain daripada diri sendiri), memaafkan, berani karena benar.
2)      Pemeliharaan hak orang lain. Membiasakan anak untuk menghargai dan menghormati hak-hak orang di luar dirinya, seperti hak terhadap orang tua, hak terhadap teman, hak terhadap tetangga, hak terhadap guru, hak terhadap orang yang lebih dewasa. Tujuan yang ingin dicapai adalah agar pendidikan sosial bagi individu menjadi lebih sempurna dan bermakna, sehingga masyarakat tumbuh di atas dasar saling menolong, produktivitas, keterikatan yang kuat, akhlak yang luhur, serta saling mencintai dan mengkoreksi secara konstruktif.
3)      Melaksanakan tatakrama sosial yang berlaku umum. Anak dibiasakan sejak dini untuk menjalankan etika sosial secara umum, dibentuk atas dasar-dasar pendidikan yang sebenarnya. Tujuannya, bila sudah dewasa dan dapat menangkap inti segala masalah, ia dapat bergaul dengan sesamanya di tengah-tengah masyarakat dengan kebaikan yang maksimal dan simpatik, dengan cinta yang utuh, dan budi pekerti yang luhur. Etika yang bisa diajarkan diantaranyai etika makan dan minum, etika mengucapkan salam, etika berbicara, etika menjenguk orang sakit dan etika-etika yang lain
4)      Kontrol dan kritik sosial, anak dibiasakan untuk melakukan kontrol dan kritik sosial, membina setiap orang yang bergaul dengannya, dan memberi nasihat kepada orang yang menyimpang dari etika islam. Anak dibiasakan melakukan amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kejahatan), memerangi kerusakan dan penyimpangan, dan memelihara nilai, idealisme dan moralitas yang baik.[19]
Disamping itu, sekolah juga dapat membantu memecahkan pengangguran dan kemiskinan, antara lain dengan pembekalan peserta didik dengan mata pelajaran keterampilan, kesenian, dan olah raga.[20]

      E.     Kesimpulan
Tidak selamanya shadaqah itu harus berupa uang, materi, senyuman dari muka yang jernih terhadap sesama manusia adalah bentuk pemberian yang tidak memerlukan harta. Semua bentuk kebajikan terhadap sesama manusia dalam bentuk apapun yang dilakukan adalah shadaqah, karena bertolak dari sumber yang satu, yaitu kemanusiaan yang tulus.
Rasa kemanusiaan inilah yang menggerakkan seseorang untuk menyingkirkan duri dari jalan, menuntun orang buta, mendukung orang yang lemah, memberi senyum harapan kepada orang yang patah hati. Atau melompat ke dalam air bah untuk menolong orang, walau taruhannya adalah nyawanya sendiri. Rasa kemanusiaan ini ibarat lembar-lembar sutra yang saling menjalin individu-individu dalam ikatan ukhuwah (persaudaraan yang sesungguhnya). Itulah fungsi shadaqah dalam kehidupan sosial. Bisa rasa solidaritas dibeli dengan harta yang banyak, buat sementara waktu. Akan tetapi apabila uang habis, kekayaan ludes, rasa solidaritas lenyap.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an digital.
Anam, Munir Che, Muhammad SAW dan Karl Marx: Tentang Masyarakat Tanpa Kelas,Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008.
Elga, A. Yusrianto, Menjadi Kaya Dengan Sedekah, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2007.
Gunawan. Ary H, Sosiologi Pendidikan : Suatu Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai Problem Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, Cet, II, 2010.
Inoed, H. Amiruddin dkk, Anatomi Fiqh Zakat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
Isma’il, Muhammad bin, Subulussalam. Juz. IV.
Juwariyah, Hadits Tarbawi , Yogyakarta: Teras, Cet, I, 2010.
Mu’is, Fahrur, Sedekah Tanpa Uang, Solo: Aqwam, Cet, I, 2007.
Mursyid, Mekanisme Pengumpulan Zakat, Infaq, dan Ahadaqah Menurut Hukum Syara’ dan Undang-undang, Kalasan: Magistra Insania Press, 2006.
Sanusi, Muhammad,  The Power Of Sedekah, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2009.
Thobroni, Muhammad, Mu’jizat Sedekah, Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2007.
Ulwan, Abdullah Nashih, Pendidikan Sosial Anak, Bandung : Rosda Karya, 1992.




[1] Q.S. Al-Hujurat, 49: 13.
[2] Dikutip dari Muhammad Sanusi, The Power Of Sedekah, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2009), hlm. 9.
[3] Dr. Juwariyah, M. Ag, Hadits Tarbawi , (Yogyakarta: Teras, 2010), Cet, I, hlm. 77.
[4] Dikutip dari H. Amiruddin Inoed dkk, Anatomi Fiqh Zakat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), Cet, I, hlm. 16.
[5] Q.S. Al-Mauun, 107: 1-3.
[6] Muhammad Sanusi, op. Cit, hal. 1.
[7] Dikutip dari Dr. Juwariyah, M. Ag, Op. Cit, hlm, 82.
[8] A. Yusrianto Elga, Menjadi Kaya Dengan Sedekah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2007), hlm. 22.
[9] Muhammad Sanusi, op. Cit, hal. 24.
[10] Q.S. At-Taalaq, 65: 7.
[11] Muhammad Thobroni, Mu’jizat Sedekah, (Yogyakarta: Pustaka Marwa, 2007), hlm. 37.
[12] Q.S. At-Taalaq, 99: 7.
                [13] Fahrur Mu’is, Sedekah Tanpa Uang, (Solo: Aqwam, 2007), Cet, I, hlm. 124.
[14] Dikuti oleh Mu’is, Ibid, hl. 125.
[15] Muhammad Sanusi, op. Cit, hal. 69.
[16] Q.S. An-Nisa’, 4: 114.
                [17] Muhammad bin Isma’il, Subulussalam. Juz. IV, hlm. 209.
[18] Dikutip dari Dr. Juwariyah, M. Ag, Op. Cit, hlm, 88.
[19] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Sosial Anak, (Bandung : Rosda Karya, 1992), hlm 22.
[20] DRS. Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan : Suatu Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai Problem Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), Cet, II, hlm. 69.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar