Cerpen: Selendang Sulaiman
(Diterbitkan Koran Merapi)
Seperti biasa, malam menyajikan heningnya. Sementara rembulan kian menepi di balik rerimbunan pohon dan bebukitan. Sunyi terasa mengiris hati kala terlihat di sana seorang perempuan sedang menyulam kesedihan, seorang perempuan yang selalu membeku dalam lamunannya. 
Dialah perempuan sunyi. dengan sepenggal hati dan perasaan yang tersisa. Semua ruang dan waktu dimasuki tanpa kehampaan. Kegelapan adalah tuna netra sang jiwa. Niscaya nurani menjadi ruh tak bersayap. Mengais-ngais keberadaan, hanya kefanaan.

Dalam kesendirian, pastilah buliran manik air mata mengalir mata air zikir kudusnya. Betapa mengharukan dan menyendukan.
Entah, ihwal seperti apa tersimpan dalam dunia mayanya. Sungguh sulit ditebak dan dipahami ketika sedang duduk bersimpuh dalam kamar kecilmnya. Dia menangis sesunggukan, sejadi-jadinya, sepilu-pilunya. Sambil menyulam syal merahnya yang tak rampung-rampung menjadi bagian dari hidupnya.
Dia jarang keluar rumah, jarang kelihatan tetangga, apalagi sekedar ngobrol, sungguh tidak pernah dia lakukan. Dengan pembantunya saja, jarang sekali. Dia tidak akan keluar rumah selain ada keperluan penting atau berbelanja. Tidak satu pun yang mengerti apa sebenarnya yang ia inginkan. Tingkah lakunya mengundang banya tanya.
Kelopak matanya lebam, dan bola matanmya sedikit kedalam. Terlihat dia adalah perempuan yang jarang tidur dan perempuan yang matanya mengalirkan air mata.. Ya, menangis. Kadang kala mendendengkan lagu dengan nada berlirik melankolis, Dikamar kecilnya itu. layaknya nyanyian sendu tanda kehilangan. Menyedihkan.
Hidupnya benar-benar sunyi. Sedang terbelenggu oleh banyak peristiwa tragis dalam masa lalunya. Kenangan buram telah menggores kelukaan di jantung kalbunya. Tertulis dalam agenda hitamnya.
“Remi, ayolah jangan diam terus! Aku datang untuk menemanimu” Bujuk Prita dengan nada lembut. Suatu sore kala ia bertamu, sekedar menanyakan kabar hidupnya. Suaranya berdenting parau. Membuat hati Prita dan Nias terenyuh penuh rasa iba
“Senyumlah remi, sahabatku!” Sambung Nias seraya membelai gerai rambut Remi yang berantakan, tampak lama tak tersentuh sisir.
Suasana dipenuhi keriuhan suara parau terasa payau dengan mata air bandang. Mekilukan. Remi kian terpuruk dalam kemurungan. Berlian di palung matanya meloncat-loncat, gelisah terbilas kemuraman. seperti hujan menderas, mendengkur-dengkur seng atap rumahnya. Pipi mereka pada beriak air mata membentuk sungai, mengalir bersama derai hujan di kaca jendala kamar Remi.
Karena tak tahan melihat kondisi Remi dengan tangis penuh pilu. Prita dan Nias memilih pergi, membawa kedukaan dan air mata. meninggalkannya sendirian. Barangkali dengan begitu hidupnya bakal lebih tenang, sepertinya dia lebih suka menyendiri! Bisik prita pelan di daun telinga Nias.
Sambil beranjak dari ranjang berukir peninggalan benda-benda kuno. mereka berdua bercakap-cakap kecil, Tentang kelakuan Remi yang aneh. “Ya...... begitulah Non Remi, dikamar kecil warisan Eyangnya” Cetus Mbok ‘Na mengagetkan. Beliau adalah wanita berambut putih, mukanya sedikit keriput tetapi jalannya tegak tak tampak umur 50 tahun ke atas. Beliaulah yang setia menemani siang dan malam-malam Remi. Niat Prita dan Nias untuk pulang terurungkan. Mereka meminta Mbok ‘Na menceritakan semua yang dilakukan Remi.
“Non, sebenarnya kehidupan Non Remi penuh rahasia. Selama ini sengaja tidak saya ceritakan kepada siapapun. Meski orang-orang sekomplek selalu bertanya tentang Non Remi.” Desis Mbok ‘Na dengan wajah melas. Seraya merebahkan pantatnya ke kursi kamar tamu, ruang tengah.
“Memangnya rahasia apa yang mbok rahasiakan? Apa remi menderita psikologis atau kelainan jiwa?, sihingga dia lebih memilih murung diri dalam kamarnya?” Celetuk Nias datar terseling tanya.
“Iya Mbok, kita sangat perihatin sama Remi, walau bagaimanapun ia bagian dari hidup kita,” tambah Prita menimpali.
“Saya paham maksud kalian, sebab itulah saya hendak menciritakan semuanya. Biar beban Mbok sedikit berkurang. Sebelumnya saya sangat mengharap ada seseorang yang tepat dan pantas tahu tentang Non Remi” Curahnya seraya menengadah. seolah tidak sanggup mengumbar kisah perjalanan hidup Remi. Kemudian merunduk merayapkan beban pikiran.
Sejenak suasana menyepi, senyap dalam kebungkaman. Lamat-lamat senja juga menyempitkan cahaya jingganya ke ruang malam. Hanya desah nafas yang naik turun mengisi ruang tamu. angin tak lagi segar, menyusup diam-diam.
“Non Prita, Non Nias, saya harap setelah Mbok bercita kalian tidak kaget. dan saya memohon pada kalian untuk tidak bercerita pada orang lain. Mbok tidak mau Non Remi kian menderita. Tentu kalian paham maksud Mbok?” Cetusnya tumpah memecah keheningan.
“Percayalah Mbok, kami akan tutup mulut. Kami sangat sayang sama Remi” Tegas Prita, Meyakinkan.
“Non Remi ditinggal mati oleh Ayah Bundanya sejak dia duduk dikelas tiga SD. Kerena kecelakaan. Sejak saat itu ia diasuh oleh Eyangnya. Setelah dia memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama, eyangnya, satu-satunya kekayaan yang dimiliki memenuhi panggilan tuhan”. Sekelumit cerita telah terungkap, seiring bola matanya yang bergerimis. Prita terperangah tak berkedip, begitupan Nias tak kuasa menahan mendung di langit kelopak matanya.
“Hidup serasa sangat kejam sekali baginya. Seorang Pria yang ia kenal sebagai teman hidupnya di SMA. Telah menjadikan dia tidak suci lagi. Dia membius non Remi dan mencabulinya. Setelah puas ia pergi, tanpa kabar. Yah....... begitulah kisah hidupnya.” Ceritanya terhenti sekedar mengambil nafas. Sementara gerimis di pipinya menjelma hilir. Sedang wajah Prita menggeram, tampak api kebencian menyala-nyala dan Nias mengepal tangan lalu dihantamkan ke alas meja sambil melontarkan kata serapah “Bangsat, anjing! Lelaki laknat tak bernurani! Jahanam kau”.
Dengan suara serak bernada melas Mbok ‘Na melanjutkan ceritanya “Sebab kejadian itulah, Non Remi lebih berdiam diri di dalam kamar. Ia trauma penuh demdam gulana, terhadap semua laki-laki. Bahkan kepercayaan terhadap orang lain ia tak punyak. Kecuali kalian yang mendapat ruang istamewa dalam hidupnya. Sisa waktunya di habiskan dengan menangis dan menyulam syal warna merah. Bila malam tiba dan hening. lampu dop dimatikan, diganti nyala lilin. Seperti sedang melakukan ritual kesedihan. Dengan posisi bersila menghadap lilin memandangi foto keluarganya yang di pajang samping lilin. Dilehernya melingkar syal buatannya sendiri”
Mbok ‘Na sejenak mengambil nafas panjang. Diam dan mengelus dada. Prita dan Nias tercenung dalam renungan. Mata mereka tajam. Dengan tubuh tegak, tegang. Sesekali nafasnya tersengal, naik turun. Hening, tiba-tiba. Menyendukan. Saat isak tangis terdengar parau dari kamar kecil di sudut ruangan. Remi menangis.
“Kalian dengar tangis sekarat itu?” Tanya mbok ’Na. Sambil menagis iba. Suasana berganti sunyi. Mereka hanyut bersama suara tangis Remi yang sesunggukanm, terdengar dari ruang tamu.Tangis yang tanpa putus sepanjang malam. Mengisi suasana hening menjadi riuh. Penuh hiruk pikuk tanya orang-orang sekomplek. Tentu kalian akan bertanya seperti para tetangga. Tentang Non Remi, tentang penyakit kelainan jiwa, atau gila. Cakap mbok ‘Na yang di gubris dengan kucuran air mata.
Jam yang sudah renta, memeluk dinding. menunjukkan waktu pukul 08:30. Prita terkejut. Tanpa terasa jam berputar dengan begitu cepat. Lekas ia menyeka mata iar di matanya. Begitu juga sama Nias. Kemudian mereka pamit pulang. Dengan sejenak membuyarkan pikiran sendu akan derita Remi dalam tangis pilunya di kamar kecilnya.
“Hati-hati di jalan Non dan Sering-seringlah kemari” Kata terakhir mbok ‘Na lirih, mengiring kepergian mereka. “Pasti mbok” jawabnya bersamaan, sembari menggamit gasang pintu dan keluar.
Di luar, hujan telah reda malam cerah oleh rembulan. Angin lirih bertiup. Anak-anak kecil bersenda gurau sepanjang trotoar. Di angkring samping pos ronda, beberapa dari tukang becak tetangga, sedang menikmati teh hangat dengan sebatang rokok di sela jemarinya. Tampak melepas lelah setelah seharian mondar mandir mengantar penumpang. Mereka asyik bercakap-cakap, sesekali tawanya tumpah dan sesekali bicaranya rendah seolah ada yang serius. “Kang Ijo, penghuni rumah almarhum pak Amrin, jarang kelihatan ya?” Kata mahrus sedikit berbisik.
“Memang, tapi sudahlah, yang penting warga tidak terganggu” Jawabnya santai di lanjutkan menghisap rokoknya dalam-dalam. Sejenak menjadi sepi.
Prita dan Nias yang lewat di depan mereka tampa sengaja mendengar percakapan serius itu. Tentang rumah bercat biru yang sudah kusam tak terawat serta penghuninya. Tapi mereka berdua tak termakan oleh percakapan itu. Malah langkahnya semakin cepat, mengejar malam yang mulai larut.

Suatu ketika, minggu ketiga Prita dan Nias telah punyak rencana pergi ke rumah Remi. Pagi cerah, mereka berangkat memakai motor milik Parno, kakak Prita. Sesampainya di jalan depan setelah belok kanan menuju rumah Remi. Ia terhambat oleh warga yang berlari kecil memenuhi jalan gang munuju rumah bercat warna biru kusam. Penasaran, Prita bertanya pada seorang ibu-ibu setengah tua yang sedikit tersengal, berhenti tepat di sampingnya. “Bu, ini ada acara apa ya, kok banyak orang?” Begitu tanyanya. Dan Nias gelisah ingin segera menemui Remi.
“Tidak ada acara apa-apa non, kami beramai-ramai ingin ke rumah bercat warna biru, yang kusam itu” Tukasnya.
Tampa banyak tanya. klakson dibunyikan, membelah rumunan warga yang memenuhi jalan biar menyingkir. Tergesa, prita melaukan motornya, sedikit cepat. Tak peduli etika sopan santun daerah Jogja yang terkenal santun. Di halaman sembarang sepedanya di parkir. Langsung menuju pintu yang telah dipenuhi dengan orang yang sedari tadi telah keluar masuk. Dengan berlari sampailah Prita dan Nias di kamar Remi, ia di sambut dengan isak tangis mbok ‘Na yang senunggukan. Remi tidak kelihatan di antara warga yang memenuhi kamar warisan Eyangnya yang berantakan. Panik, gelisah dan penuh tanya dalam hati Prita serta Nias
Hanya tangis parau yang terdengar. Tiada satupun dari mereka mampu melontarkan kata. Begitupun dengan mbok ‘Na yang sedang memeluk syal warna merah, sulaman Remi. Suasana yang begitu menyayat hati dan menyakitkan, sebab telah ditemui tubuh Remi terbaring tanpa gerak di ranjang tidurnya.
Tiba-tiba tangis prita dan Nias meledak mengisi ruangan, sambil berteriak menyebut nama Remi. Sementara warga pada pergi satu persatu. Untuk mangambil kembang-kembang sebagai penghias pusaranya, ada yang memotong kain kafan ada pula yang hanya menangisi kepergiannya. Sampai akhirnya tinggal Prita, Nias ,mbok ‘Na dan tubuh Remi yang terlentang tampa nyawa, di atas ranjang di kamar warisan. Sungguh memilukuan.
Sesaat kemudian, Nias menemukan agenda hitam di bawah bantal tidurnya. Sembari menyeka air mata,ia membukanya. Pada halaman terakhir terdapat catatan dengan dua baris yang di tulis dengan darah.

Kutub, yogyakarta 2008
*Penulis adalah Alumnus Al-In'Am, Melanjutkan studinya di UIN Su-Ka Yogyakarta. Sekarang Menjadi Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Adab dan Ilmu Budaya  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar