Daun Talas

Lelaki tua berambut panjang tergerai duduk bersila menghadap kiblatdi samping pusara Bernisan pohon talas. Daundaunnya hijau pekat tak lapuk tak rapuh menadah langit dan Matahari setiap senja menjelang malam mengantar kekunang kamis malam. Lelaki tua Berambut panjang tergerai setia mengeja hurufhuruf doa selebihnya semacam mantra Kesetiaan atas sumpah yang mendarah daging di tubuhnya. Renta. Namun tegar selalu terlihat pada matanya menatap gundukan tanah merah bertabur irisirisan danu pandan.


Syahdan, sejak tiga puluh empat tahun silam , lelaki tua berambut panjang tergerai yang setiap senja kamis malam setia duduk bersila dengan hijau pekat daunt alas di atas pusara, dia tidak lagi mencim harum bebunga disumping perempuan perempuan terpikat pada ketampanannya. Hatinya membatu dan ia jadikan nisan bertuliskan nama seorang gadis bernata sadis yang ia pinang dengan cinta abadi dan kesetiaan sehidup semati ia jadikan mahar di malam pengantin, serajut puisipuisi rindu asmara mewarnai ruang kalbu kedua mempelai di ranjang keabadian.
Kini, pohon talas adalah raga bagi cintanya. Setia sehidup semati adalah nafas yang ia hembuskan beriring doa sepanjang sisa hidupnya. Dan serajut puisipuisi rindu asmara telah ia jadikan prasasti di jantung hatinya.
Paku Alaman, 16 Januari 2011

Darah Daging
;Surat pertama dan terakhir untuk anakku yang pertama
Isti’ara, tidak selamanya dari kehidupan di alam semesta mengalir sebagaimana sungai, nafas, jantung dan darah yang menjadikanmu ada. Lantaran mulut sang waktu tidak berlidah tak bersuara, berjalan tanpa peduli akan sebuah kehendak dan keinginan. Karenanya, dalam melak mata bahkan dalam kesadaran akal berpikir aku harus menutup selsel alirmu; menolak penciptaanmu. Walau aku tahu kau darah dari dagingku, buah karya dari cintaku. Tetapi lelagi waktu dan kesempatan terlalu cepat berlari, sedang aku harus berhenti sejenak dan jatuh pada jurang ketergesahan. Terjadilah engkau.
Isti’ara, sebelum aku panjatkan doa sungkawa atas ketiadaanmu ingin aku engkau tahu bahwa akulah lelaki yang akan menggendongmu bila emakmu merasa capai dan lelah. Aku akan menenangkanmu dengan puisipuisi indah sebagaimana sewaktu aku berjumpa dalam setipa pertemuan kemudian bersama dengan emakmu.
Isti’ara, engakau adalah yang pertama buah termanis kebahagiaan dalam hidup dan kehidupanku. Engkaulah yang akan mengajari memanjatkan doadoa pada saudara-saudaramu kelak, bila waktunya aku atau emakmu menutup mata. Nmaun itu hanya mimpi, sekedar impian di awan, atau sebatas alas an kenapa kau harus pergi lebih dahulu dengan ketersengajaanku dan emakmu ke tempak kau aku dan emakmu kembali untuk menemui keabadian. Barangkali kau aka marah, benci, atau bahkan akan menyerapahiku dengan sumpah dendam kesumat, sehingga aku akan hidup dalam keterpurukan menjalani karma ke karma. Selamat jalan Isti’ara. Tenang dan damailah disana. Aku dan emakmu akan selalu ingat beserta doa setia ulang tahun persaksian kita.

17/18 Januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar