Marsus*
(Diterbitkan 02 April 2011 di Harian Jogja)
“Ibu, jangan pergi tinggalkan aku,” lenguh suara anak kecil yang masih berumur sepuluh tahunan. Suaranya serak, wajah dan sekujur tubuhnya hitam penuh debu dan lumpur. Hanya kulit asri yang kelihatan digaris pipinya yang dialiri tetes air mata. Kulit kedua kakinya mengelupas terkena lalapan api. Bukan! Bukan hanya kakinya. Bahkan sekujur tubuhnya juga luka mengelupas, namun belum bisa ditangkap penglihatan mata karena terbalut debu pekat yang menempel di sekujur tubuhnya.

“Ibu, jangan pergi...., Ibu mau dibawa ke mana?” Tanya anak kecil itu ketika ibunya dianggkat oleh para relawan dibawa ke tempat pengungsian. Dia terus membuntutinya. Mengikuti jejak para relawan yang membawa ibunya entah ke tampat pengungsian mana?
“Ibu, aku takut! Mengapa orang-orang pada berkumpul semua, Ibu? Dan wajahnya hitam tak kukenal,” desisnya sambil menitikkan air mata. “Ayah ke mana? Kakek dan nenek-yang setiap malam menjelang tidurku bercerita tentang ini, tentang itu ada di mana sekarang? Apa dia juga berkumpul dengan orang-orang itu, Ibu? Orang-orang yang wajahnya hitam tidak kukenal? Atau masih di sana, di rumah yang runtuh tertimbun debu dan lumpur panas? Kasihan mereka, Ibu!” dia mulai tergolek merengek tak berdaya.
Anak kecil itu terus mengigau mengikuti ibunya yang sedang di usung ke tempat pengungsian. Lalu sesampainya di sana, dia kembali bertanya, “Ibu, bukankah itu ayah?” telunjuk jarinya menuju seorang lelaki yang sedang terdampar di bawah tenda pengungsian, “Bukankah itu juga kakek dan nenekku, Ibu,” lanjutnya ketika melihat dua orang tua yang berada disamping lelaki yang terdampar itu.
“Ibu, bangun! Kenapa Ibu hanya diam saja mulai tadi? Itu ayah dan nenek ada di sana. Ayo ke sana, ayo kita berkumpul lagi dengan mereka!” Anak kecil itu mengajak ibunya dengan meronta-ronta. Wajahnya memaksa. Dia tidak tahu kalau sebenarnya sang ibu dan ayah serta kakek dan neneknya sudah tak bernyawa lagi.
Kemudian, anak kecil itu menagis. Menjerit memanggil-manggil sang ibu yang berada di sampingnya. Setelah sesaat datanglah para relawan yang ingin mengevakuasi para korban bencana Gunung Merapi. Baik yang masih bertahan hidup maupan yang sudah mati. Termasuk seorang perempuan yang kini sedang ditangisi oleh seorang anaknya.
“Mau dibawa ke mana ibuku?” Tanya anak itu. Kemudian, perempuan itu diangkat, dibawa ketempat penguburan massal yang sudah disediakan. Dan anak kecil tersebut kembali menjerit. Meronta-ronta meminta agar ibunya tidak segera di kubur.
Selang beberapa bulan dari peristiwa itu, hidup sebatangkara ia jalani tanpa ayah dan ibu, juga tak ada lagi nenek atau pun kakek yang setiap malam menjelang tidurnya bercerita berbagai dongeng-dongeng lucu, haru, juga menakutkan. Sekarang tidak seperti itu lagi, bahkan setiap harinya untuk mencari makan ia hanya mondar-mandir di pertigaan jalan raya menunggu belas kasihan orang-orang kaya yang bermobil mewah. Dan setiap malam pun ia berusaha melindungi tubuhnya dari udara dingin dan lebat air hujan dengan berteduh dibawah kolom jembatan bersama teman-temannya....
Jogja, 2011
*)Penulis adalah alunmi Al-In'am, sekarang menjadi Penikmat Sejarah dan Kebudayaan Islam FAIB UIN SUKA Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar