(Kajian Terhadap Aspek-Aspek Psikologi Shalat)
Oleh : Saifullah
Pendahuluan
Perintah shalat merupakan wahyu yang diberikan oleh Allah kepada semua Nabi dan Rasul sebagai salah satu bentuk melakukan ibadah Kepada-Nya. Sebagai perintah Allah, shalat wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang beragama Islam sebagai sarana mengagungkan Allah sekaligaus sebagai tanda bahwa umat Islam benar-benar ma’rifat kepada Allah,  mengakui akan kehambaannya dan wujud syukur kepada Allah.
Aktifitas ini dilakukan dengan khusyu’ dan penuh keikhlasan.  Kecenderungan umat Islam saat ini melakukan shalat hanya sekedar menghilangkan tanggung jawab rukun Islam yang ke dua. Padahal ibadah ini tidak semata-mata dilakukan hanya melalui bacaan-bacaan atau gerakan-gerakan, melainkan dengan bersatunya raga dengan jiwa di dalam memaknai setiap yang bacaan-bacaan dan gerakan shalat. Disinilah bukti bahwa shalat memerlukan kekhusyu’an yang tidak hanya melibatkan aktivitas raga tetapi juga aktivitas jiwa (soul).
Dalam pandangan psikologi, shalat termasuk dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena shalat adalah proses perjalanan spiritual penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Allah, Tuhan Semesta Alam. Shalat dapatmenjernihkan jiwa dan mengangkat pelakunya dalam mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience).
Kesadaran yang lebih tinggi merupakan kesadaran dimana jiwa manusia mampu merasa tenang dari segala persoalan-persoalan yang rumit. Paa saat itulah manusia akan memasuki pengalaman baru yang berbeda dengan pengalamannya di duni riil, meski hanya dalam beberapa menit saja.
Dalam shalat, sebagaimana juga pandangan psikologi transpersonal, seseorang akan berusaha untuk menapaki jalan spiritual untuk mempertemukan diri atau aku yang fana dengan kekuatan ilahiah (divine power) atau AKU yang kekal (baqa). Shalat adalah salah satu cara ibadah yang berkaitan dengan meditasi transendental, yaitu mengarahkan jiwa kepada satu objek dalam waktu beberapa saat, seperti halnya dalam melakukan hubungan langsung antar hamba dengan Tuhannya.
Ketika melaksanakan shalat, ruhani bergerak menuju Zat Yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan pancaindra melepaskan diri dari segala macam keruwetan peristiwa di sekitarnya, termasuk keterikatannya terhadap sensasi tubuhnya seperti rasa sedih, gelisah, rasa cemas dan lelah. Bentuk perjalanan kejiwaan dalam shalat ini oleh para ahli psikologi disebut sebagai proses untuk memasuki kesadaran psikologi transpersonal.

      A.    Shalat dan Kesehatan Raga
Shalat secara bahasa berarti berdoa. Shalat merupakan ibadah istimewa dalam Islam, baik dilihat dari turunnya perintah untuk shalat kepada Nabi Muhammad Saw. Maupun dimensi-dimensi lainnya. Banyak aspek-aspek shalat yang dapat memberi manfaat bagi umat Islam untuk menjaga kesehatan raga ini.
  Ø  Aspek Olah Raga
Dalam gerakan-gerakan shalat mengandung unsur gerakan-gerakan olah raga; mulai dari takbir, berdiri, ruku, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk akhir (atahiyat) sampai mengucapkan salam.[1] Menurut ilmu kesehatan, setiap posisi gerakan shalat adalah posisi paling sempurna dalam memelihara kondisi kesehatan tubuh.[2]
Ketika seseorang hendak sujud yang mendahulukan lutut daripada tangan, berarti punggungngnya tetap dalam keadaan lurus dan tulang punggung tetap alam posisi asalnya. Tapi apabla dilakukan sebaliknya, menggunakan tangan sebgai tumpuan, maka dia harus membungkuk. Gerakan ini semacam menjadikan tulangpunggung melngkun ke belakang. Meski gerakan ini sebentar, tai karena dilakukan berulang-ulang, dapat mengakibatkan pergeseran pada tulang punggung. Akibatnya, zat putih(meilin) yang mengitari saluran syaraf punggung muncul keluar. Inilah yang dikenal denan Henria Nucleus Pulpous (NCP). Jadi, dahulukan lutut ketika hendak sujud.[3]
Setelah meletakkan kedua lutut untuk sujud, lakukanlah sujud dengan segera. Sehingga aliran darah yang mengandung oksigen akan tersuplai degan baik tanpa adanya jeda. Menunduk untuk sujud itu menambah suplai darah ke otak, maka gerakan itu dapat memperbaharui aktivitas pikiran dan mempercepat proses pembersihan sisa-sisa pembakaran di otak. Pandangan akan semakin terang, rasa pusing akibat kekurang ksigen akan terobati sehingga kemampuan fungsional otak bertambah. Demikian pula fungsi tubuh lainnya.[4]
Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan liran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi. [5]
Shalat mengungguli semua jenis olah raga, karena ia dapat dilaksanakan di setiap tempat yang layak, tidak menuntuk kecakapan khusus, dang mengandung berabagai gerakan yang menggerakkan tubuh. Dengan ini tubuh bisa memperoleh kekuatan dan fleksibilitas sewaktu bergerak.[6]
Dengan melaksanakan shalat secara teratur, maka akan terhindar dari penyakit seperti serangan jantung, empisema (benkak pada rongga paru-paru), radang sendi (arthritis), problem kandung kemih, ginjal dan usus besar, infeksi virus dan bakteri, penyakit mata, hilang ingatan dan pikun, pegal pada pinggang dan tulang belakang. Sehingga melalui shalat, gerakan organ tubuh menjadi lincah dan memiliki daya tahan terhadap penyakit. Shalat memiliki sifat isoterik, yang mengandung unsur badan dan jiwa, serta menhasilkan bio-energi.

  Ø  Aspek relaksasi otot
Ibadah shalat juga mempunyai efek seperti relaksasi otot, yaitu kontraksi otot, pijatan dan tekanan pada bagian-bagian tubuh tertentu selama menjalankan shalat.[7] Menurut Walker,dkk ada bagian-bagian tubuh tertentu yang harus digerakkan atau dikontraksikan selama melakukan relaksasi otot, antara lain; bagian kepala, mata, pipi, dahi, mulut, bibir, hidung, lidah, dan rahang, leher, bahu, lengan bawah dan lengan atas, siku, pergelangan tangan, tangan dan jari-jari, dada, perut, tulang belakang dan punggung, pinggang dan pantat, paha, lutut, pergelangan kaki, kaki dan jari-jari kaki
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Johana Endang Prawitasari dengan menggunakan teknik relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera dan yoga, hasilnya menunjukkan bahwa teknik-teknik tersebut ternyata efektif untuk mengurangi keluhan berbagai penyakit terutama psikosomatis.[8]
Fungsi otot adalah pengerutan dan pengenduran. Apabila otot mengerut, seorang manusia akan mengalami kesulitan sarag, karena semua urat saraf yang bersambung dengan otot yang mengerut ini menjadi tegang. Sementara pengenduran terlepas dari ketegangan tersebut. Semua otot yang bersambung dengan urat saraf menerima perintah untuk bergerak dari otak untuk mengerut atau mengendur. Ketika otot mengerut, terjadi ketegangan pada seluruh urat saraf. Sebaliknya, pengenduran otot berarti semua urat saraf yang bersambung dengannya tidak mengalami ketegangan.
Untuk mendapatkan kesempurnaan kinerja otot, maka diperlukan pelatihan relaksasi yang efektif, dan ini dapat melalui shalat. Sesungguhnya di antara hal yang dapat menyempurnakan kinerja otot, berdasarkan beberapa pengalaman dan eksprimen, adalah shalat. Pendapat ini diakui oleh beberapa orang yang memiliki kepakaran di bidang ilmu kedokteran. Shalat adalah kebiasaan paling baik yang sampai sekarang diakui mampu memberikan ketentraman pada jiwa dan menenangkan urat-urat saraf.[9]
Relaksasi otot di dalam shalat dapat dijumpai ketika seseorang melakukan shalat pada posisi Tasyahud awal dan akhir. Posisi Tasyahud menjadikan otot-otot belakang paha menekan kuat ke otot cembung tungkai (betis). Begitu juga sebaliknya, keduanya salaing menekan sama seperti dalam posisi duduk di atas tumit. Tekanan-tekanan seperti ini dapat mengosongkan pembuluh-pembuluh darah di kaki sehingga dapat melindunginya dari varises di dua tungkai.
Proses terjadinya perlindungan dari varises di dua tungkai in diterangkan dalam salah satu jurnal kedokteran sebagai berikut, kata pembengkakan pembuluh darai balik (varises), artinya semakin melebarnya pembuluh darah. Pembuluh darah adalah pipa saluran darah yang mengalir kembali darah dari seluruh organ tubuh ke jantung. Tegasnya, ia adalah organ yang sama dengan pembuluh-pembuluh yang berfungsi sebagai tempat sirkulasi darah. Biasanya, pembengkakan pembuluh ini terjadi di sebagian organ tubuh, khususnya sekitar kantung alat vital pria (testis) dan pembuluh rektal, yaitu bagaian akhir usus besar yang berujung dipermukaan anus. Tetapi, pembengkakan pembuluh ini terjadi paling banyak disekitar dua tungkai, yaitu 90%.[10]

      B.     Shalat dan Kesehatan Jiwa
Shalat memang suplier rohani dan pemompa mental. Tanpa shalat, jiwa manusia mungkin saja tak mampu menanggung beban dalam menjalani hidup. Bagi orang yang kerap mengalami penderitaan, shalatlah yang menjadi tempat menumpahkan segala permasalahan, menjadi kesempatan mengadu dan waktu mencurahkan harapan.
Secara ideal orang yang sehat jiwanya adalah orang yang mengakui kebesaran Tuhan sebgai Tuhan seluruh alam. Dalam Islam digambarkan secara ideal, bahwa orang yang benar-benar sehat mentalnya adalah orang yang berimana dan berteqwa kepada Allah Yang Maha Satu serta berusaha secara sadar merealisasikan nilai-nilai agama, sehingga kehidupannya itu dijalaninya ssuai dengan tuntunan Agama Islam.[11]
Orang yang seperti demikian tersebut, secara sadar berupaya mengembangkan berbagai potens dirinya, seperti bakat, kemampuan, sifat, dan kualitas-kualitas pribadi lainnya. Ia akan mengiplemenatasikan pengetahuanannya agar bermanfaat bagi masyarkat sektarnya disamping dia berhubungan dengan Allah. Sejalan dengan itu ia upun berupaya untuk menghambat dan mengurangi kualitas-kualitas negatif dirinya, karena sadar bahwa hal itu dapat menjadi sumber berbagai gangguan (dan penyakit) kejiwaan, salah satunya dengan shalat.
Ibadah shalat adalah ajaran agama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw dan Nabi sebelumnya. Karena itu ibadah shalat mempunyai banyak hikmah didalamnya. Kalau kita pelajari al-Qur’an dan as-Sunnah maka akan kita temukan penjelasan tentang hikmah dari pelaksanaan ibadah shalat, diantaranya yaitu pengaruh pelaksanaan terhadap kesehatan mental manusia.
Dengan shalat manusia menyerahkan diri kepada-Nya, hal ini akan membantu dalam meredakan ketegangan emosi manusia, karena seorang mukmin mempunyai keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doanya dan memecahkan problem-roblemnya, memenuhi berbagai macam kebutuhannya dan membebaskan diri dari kegelisahan dan kerisauan yang menimpanya. Menghadap kepada Allah melalui shalat dan berdoa kepada-Nya dengan harapan dikabulkan akan menimbulkan otosugesti yang akan meredakan ketegangan emosi dan kegoncngan jiwa yang terjadi pada manusia. Fungsi shalat yaitu :
1. Shalat sebagai sebagai pengobat gangguan jiwa dan penyakit jiwa,
2. Fungsi ibadah shalat sebagai pembinaan kesehatan jiwa, dan
3. Fungsi shalat sebagai pencegah gangguan dan penyakit jiwa.[12]
  Ø  Aspek relaksasi kesadaran indera
Relaksasi kesadaran indera ini seseorang biasanya diminta untuk membanyangkan pada tempat-tempat yang mengenakkan. Pada saat shalat seseorang seolah-olah terbang ke atas (ruh) menghadap kepada Allah secara langsung tanpa ada perantara. Setiap bacaan dan gerakan senantiasa dihayati dan dimengerti dan ingatannya tertuju kepada Allah.
Shalat merupakan proses perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan manusia untuk menemui Tuhan Semesta Alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat orang yangmenunaikannya untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi dan pengalamanpuncak spiritualitas. Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena iamerupakan meditasi tertinggi dalam Islam.
Gerakan shalat merupakan sebuah prosesrelaksasi yang akan menjadikan kita sehat. Bacaan-bacaan dalam shalat bisamemunculkan auto sugesti yang membuat kita selalu berpandangan positif terhadappermasalahan yang dihadapi. Ketika shalat, ruhani bergerak menuju Zat Yang Maha Mutlak. Pikiran terlepas dari keadaan riil dan panca indra melepaskan diri dari segalamacam keruwetan peristiwa di sekitarnya.
  Ø  Aspek Meditasi
Meditasi saat ini menjadi alternatif solusi berbagai persoalan bagi orang-orang sibuk, terutama yang stres. Beberapa penelitian mencoba untuk melihat pengaruh meditasi atau yoga terhadap gelombang-gelombang otak atau EEG (elenctro-encyphalographic), yaitu dengan jalan membangdingkan sebelum meditasi dan sesudah melakukan meditasi. Hasilnya menunjukkan bahwa ada perubahan atau perbedaan gelombang-gelombang otak. Setelah meditasi otak lebih banyak mengeloarkan gelombang-gelombang alfa yang berhubungan dengan ketenangan atau kondisi relaks.[13]
Shalat juga memiliki efek seperti meditasi atau yoga bahkan merupakan meditasi atau yoga tingkat tinggi bila dijalankan dengan benar dan khusuk. Menurut Arif Wbisono Adi shalat akan mempengaruhi pada seluruh sistem yang ada dalam tubuh kita, pencernaan, otot-otot, kelenjar, reproduksi dan lain-lain.
Shalat memiliki efek yang mirip dengan efek obat-obatan. Misalnya memberikan efek ketenangan (depresan), seperti obat bius atau obat penenang. Konsentrasi penuh dalam shalat (khusuk), yaitu hanya mengingat Allah Swt. Akan menutup rangsangan lain yang akan terbawa ke otak.
Alvan Goldstein telah menemukan semacam zat morfin alamiah yang ada pada diri manusia, yaitu dalam otak manusia yang disebut endogegonius morphin/endorfin.[14] Menurut Dr. Sunandi,MA bahwa kelenjar endorfina dan enkafalina yang dihasilkan oleh kelenjar pituitrin di otak ternyata mempunyai efek yang mirip dengan opiat (candu), sehingga disebut opiat endogen. Menurut Kastama, dkk (1990) zat yang mirip dengan morfin yang dihasilkan oleh tubuh manusia dengan rumus kimia C17H19N03 disebut endofina dan encephalina yaitu yang dihasilkan oleh kelenjar hipofese di otak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada zat semacam morfin tersebut memiliki fungsi kenikmatan (pleasure principle).[15]
Seseorang yang memasukkan zat morfin ke dalam tubuhnya. Maka terjadi penghentian produksi endorfin dalam tubuhnya. Jika dilakukan penghentian morfin dari luar secara mendadak, misalnya berhenti dari menyalahgunakan narkotika, tubuhnya tidak segera memproduksi endorfin. Produksi endorfin akan dipacu dengan aktifitas semacam meditasi. Jadi menurut teori atau pendekatan ini shalat dapat membantu merangsang atau mempercepat tubuh memproduksi endorfin.[16]
  Ø  Sarana pembentukan kepribadian
Laster D. Crow dan Alice Crow (1989:226) menyatakan, bahwa kpribadian adalah sinonim dengan ide berfungsinya seluruh individu secara organisme yang meliputi semua aspek yang beragam yang secara verbal terpisah-pisah, seperti intelek, watak, dorongan, sikap yang diliputi oleh emosi, minat kesediaan untuk bergaul dengan orang lain dan penampilan pribadinya terhadap orang lain. Begitu juga efektifitas sosial pada umumnya.[17]
Pola Kepribadian merupakan satu pengelompokan tingkah laku seseorang, baik yang tampil atasu masih dalam bentuk potensi yang menunjukkan kehasan seseorang, sehingga dianggap berbeda dengan lainnya. Perbedaan tersebut berasal dari faktor keturunan dan lingkungan yang sudah terintegrasikan. Dengan demikian untuk mengembangkan kepribadian seseorang melalui proses Perkembangan diri.
Perkembangan diri seorang muslim pada shalat telah dimulai, dibentuk dari azan yang merupakan panggilan untuk melakukan shalat. Dalam panggilan tersebut, dikumandangkan kalimat “raihlah kemenangan”. Kalimat ini merupakan kalimat positif yang merupakan alat untuk pengembangan diri, sebagai awal pembentukan kemampuan adaptasi terhadap stres yang dihadapi.[18]
  Ø  Terapi Air (Hydro Therapy)
Whudhu ternyata memiliki efek refreshing, penyegaran, membersihkan badan dan jiwa, serta pemulihan tenaga.[19] Wudhu juga memiliki dampak fisiologis. Terbukti bahwa dibasuhnya tubuh dengan air sebanyak lima kali sehari akan membantu mengistirahatkan organ-organ tubuh dan meredakan ketegangan fisik dan psikis.[20]
Terapi dengan menggunakan efek air ini sebenarnya telah lama dikenal dalam dunia kedokteran. Dalam dunia kedokteran dikenal adanya Hukum Baruch dan Hidro-terapi. Hukum Baruch adalah hukum atau teori yang diciptakan oleh seorang dokter di Amerika, Simon Baruch (1840-1921). Menurut teori ini air memiliki daya penenang jiuka suhu air sama dengan suhu kulit, sedangkan jika suhu air lebih tinggi atau lebih rendah akan memberikan efek stimulasi atau merangsang.[21]
Air berdifat membersihkan. Sifat air yang mendinginkan dianggap sebagai alat yang dapat menenangkan emosi seseorang.Islam juga mengajarkan seseorang untuk berwudhu’ dalam keadaan marah atau gelisah. Selain itu, dalam berwidhu’ seseorang juga secara perlahan dapat melakukan pemijatan pada titik akupuntur tertentu pada anggota tubuh yang berhubungan dengan kesehatan.
 [22]
Saat ini terbukti dengan banyaknya pusat kebugaran yang menggunakan efek air, rumah, kantor atau tempat rekreasi/hiburan, taman guna mempengaruhi kejiwaan seseorang, seperti sungai buatan, air mancur, air terjun, wisata air yang dikenal dengan istilah back to nature (kembali ke alam). Tanpa air semua makhluk hidup di muka akan mati kehausan dan kekeringan. Ini menunjukkan bahwa air adalah sumber kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya.

      C.    Kesimpulan
Sedikit keterangan tentang shalat di atas menunjukkan kepada kita bahwa shalat bukansekedar ritual yang menjadi kewajiban rutin umat Islam. Lebih dari itu, jika iadilaksanakan dengan penuh ketekunan, kesadaran, dan penghayatan, ia akan menjadisemacam terapi yang bisa membuat peshalat mencapai tingkat kecerdasan emosional danspiritual yang mapan. Dan pada gilirannya ia akan memiliki mental yang sehat, yangtidak pernah merasa tertekan dengan segala permasalah hidup yang menghimpit.

Daftar Pustaka
Buku :
AA, Gus, 2009, Matematika Shalat: Rahasia Hikmah di Balik Perintah, Surakarta: Rahma Media Pustaka.
Bahsani, Muahmmad, 2004, Shalat Sebagai Terapi Psikologi, Jakarta: Mizan Pustaka.
Bastaman, Hanna Djumhana, 1997, Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islam, cet. II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,.
Haryanto, Sentot, 2003, Psikologi Shalat: Kajian Aspek-Aspek Psikologi Ibadah Shalat, Yogyakarta, Mitra Pustaka.
Hasan, Aliah B Purwakania, 2008¸ Pengantar Psikologi Kesehatan Islami,Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Syafi’I, Syaikh Jalal Muhammad, 2006,The Power Of Shalat, terj. H. Romli Syarqawizain, cet, I, Bandung: MQ Publishing. 
Sapuri, Rafy, 2009, Psikologi Islam, Jakarta: PT Grafindo.

Websete :
http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2010/12/sholat-dan-kesehatan-fisik mental.html




[1] Sentot Haryanto, Psikologi Shalat: Kajian Aspek-Aspek Psikologi Ibadah Shalat, (Yogyakarta, Mitra Pustaka, 2003),hal. 64.
[2] Ibid, hal. 65.
[3] Syaikh Jalal Muhammad Syafi’I, The Power Of Shalat, terj. H. Romli Syarqawizain, (Bandung: MQ Publishing, 2006), hal, cet, I, hal. 106-107. 
[4] Ibid, hal. 111.
[5] Selengkapnya lihat di Gus AA, Matematika Shalat: Rahasia Hikmah di Balik Perintah, (Surakarta: Rahma Media Pustaka, 2009), hal. 152-153.
[6] Muahammad Bahsani, Shalat Sebagai Terapi Psikologi, (Jakarta: Mizan Pustaka, 2004), hal. 117.
[7] Sentot Haryanto,Op. cit, hal. 76.
[8] Dikutip dari Sentot Haryanto,Op. cit, hal. 78.
[9] Muahmmad Bahsani, Op. cit, hal. 121.
[10] Syaikh Jalal Muhammad Syafi’I, Op. cit, hal. 143.
[11] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi Dengan Islam: Menuju Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), cet. II, hal. 135.
[12] Diunduh tanggal 09 April 2011 dari http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2010/12/sholat-dan-kesehatan-fisik-mental.html
[13] Sentot Haryanto,Op. cit, hal. 81.
[14] Ibid, hal. 84.
[15] Ibid, hal. 85.
[16] Ibid
[17] Di kutip dari Rafy Sapuri, Psikologi Islam, (Jakarta: PT Grafindo, 2009), hal. 150.
[18] Aliah B Purwakania Hasan, Pengantar Psikologi Kesehatan Islami,(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008), hal. 90.
[19] Sentot Haryanto,Op. cit, hal. 105.
[20] Ibid, hal. 106.
[21] Ibid, hal.110.
[22] Aliah B Purwakania Hasan, Op. cit, hal. 90.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar