Oleh: Saifullah Syah
      Latar Belakang Masalah
Memberikan definisi kebenaran bukan hal yang mudah, sebab mendefinisikan berarti membatasi sesuatu dengan sesutu yang lain. Sementara kebenaran itu sendiri merupakan kata yang dalam perakteknya mempunyai pengertian relativ apalagi dalam bidang ilmu atau pengetahuan lainnya. Kerelativan kebenaran itu karena perbedaan asumsi dan pola pandangan setiap orang terhadap dunia yang menjadi objek dari ilmu pengetahuan.


Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran dalam perenunganya akan  menemukan beberapa asumsi yang berbeda-beda tentang kebenaran itu sendiri. Perbedaan dan asumsi itu lahir karena pengaruh sosial, agama, dan tujuan hidup masing-masing manusia serta pandangan manusia terhadap kehidupan ini yang menjadi objek kajian.
Dalam pandangan aliran korespondensi pengetahuan dinilai benar jika pengetahuan yang telah ditemukan sesuai dengan kenyataan hidup, tidak selamanya diterima oleh semua orang. Bagitu juga asumsi aliran materialis yang memandang pengetahuan itu benar ketika mampu membantu memuaskan manusia dalam memperoleh pengalaman-pengalaman hidup. Kedua perbedaan pandangan aliran tersebut merupakan salah satu contoh dari relativitas kebenaran suatu ilmu pengetahuan. Akan tetapi bukan berarti kebenaran itu tidak ada dalam alam ini.
Perdebatan mengenai kebenaran suatu proposisi (pernyataan/ilmu pengetahuan) bukan hal baru dalam dunia para filosof. Mereka terus berjuang untuk menemukan makna kebenaran itu sendiri, bahkan kriteria kapan proposisi atau ilmu pengetahuan yang berhasil ditemukan seseorang akan dinilai benar. Meskipun tidak ada kesepatan universal dalam memberikan penilaian benar akan tetapi nilai benar dapat diberikan apabila sudah memenuhi kriteria ilmiah. Kriteria yang dimaksud ialah kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan dan nilai (guna, mamfaat dan tujuan) dari ilmu pengetahuan.
      Kebenaran ilmiah menjadi tolok ukur dalam memberi penilaian benar atau tidaknya sebuah pengetahuan atau teori yang dihasilkan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan serta laju filsafat barat yang tidak bisa dibendung menjadikan teori-teori ilmiah sebagai acuan mereka dalam mengembangkan suatu ide. Akan tetapi bukan berarti semua pengetahuan yang ada sudah sesuai dengan teori-teori tersebut. Sebab masih banyak ilmu pengetahuan yang ketika diaplikasikan memakan banyak korban dan menghancurkan tatanan kehidupan. Seperti ilmu tentang bom nuklir dan permesinan yang cenderung membuat polusi udara.
Fenomena ini membuat penting mengenalkan kembali teori-teori kebenaran ilmiah dan batasan-batasannya, demi membunuh kebiasaan manusia dalam memberi penialian benar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di era-post moderen saat ini dan peradaban dunia kedepan yang seakan tidak humanis lagi. 

Pengertian Kebenaran
Kebenaran adalah penilaian terhadap sesuatu mengenai baik-buruknya, benar-salahnya, dan pantas tidaknya sesuatu itu dipulikasikan ke khalayak umum. Dalam pandangan Abbas Hamami (1983) kata kebenaran dapat digunakan sebagai penilaian suatu benda yang konkrit atau abstrak. Akan tetapi pada prinsipnya kebenaran akan terus berubah tergantung persepektif seseorang terhadap suatu sujek dan keadaan sosial manusia.
Kebenaran suatu proposisi atau ilmu pengetahuan paling tidak ditentukan oleh dua pandangan. Pertama, berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Tipe pengetahuan yang pertama merupakan jenis pengetahuan yang dilihat dari jenis cara membangun pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan ini dapat dilihat dari empat macam pengetahuan;[1]
(1) pengetahuan biasa, atau disebut juga knowledge of the man in the street atau ordeniry knowledge atau juga common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini memiliki kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya terikat pada subjek yang mengenak. Dengan demikian, pengetahuan tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
Pengetahuan jenis (2) adalah pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan atau hampiran metodologi yang khas pula. Pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutaakhir. Dengan demikian kebenaran pengetahuan ilmiah bersifat relative. Adapun ciri-ciri ilmu pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie (1987) ada 5 ciri pokok.[2]
1.      Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2.      Sistemtis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur.
3.      Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka seseorang dan kesukaan pribadi.
4.      Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok persoalannya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan dan peranan dari bagian-bagian itu.
5.      Verifikatif, dapat diperiksa dan dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Pengetahuan jenis (3) adalah pengetahuan filsafati yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis dan spekulatif. Kebenaran pengetahuan filsafati bersifat absolut-intersubjektif. Artinya dimensi kebenaran pengetahuan ini bertolok ukur pada pandangan para filosof  serta mendapatkan pembenaran dari filosof selanjutnya yang menggunakan metodologi berpikir yang sama.
Kebenaran pengetahuan (4) adalah pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis. Artinya pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah ditentukan, sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakian yang digunakan untuk memahaminya. Penafsiran mengenai hukum yang terkandung dalam kitab tersebut akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan zaman. Akan tetapi tujuan dari isi kitab tersebut tidak boleh dirubah karena kebenarannya bersifat absolute.[3]
Kebenaran yang ke dua, dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya itu. Apakah ia memahaminya dengan pengindraan atau sence experience, atau akal pikiran atau rasio, intuisi atau keyakinan. Menurut John Hosper dalam bukunya an Introduction to Philosophical Analysis mengemukakan ada enam alat untuk memperoleh pengetahuan, yaitu:
1.      Pengalaman indra (sense experience)
2.      Nalar (reason)
3.      Otoritas (authority)
4.      Intuisi (intuition)
5.      Wahyu (revelation)
6.      Keyakinan (faith). (Abbas Hamami M., 1982, hlm.11)[4]
Kebenarann pengetahuan yang ke-tiga adalah nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan terhadap ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subjek dengan objek, manakah yang dominan untuk membangun pengetahuan itu, subjekkah atau objek. Jika subjek yang berperan, maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungnya itu amat tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau yang sangat berperan sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam atau ilmu-ilmu alam.

Teori-Teori Kebenaran Ilmiah
Sedikit telah dijelaskan mengenai kapan suatu pengetahuan bisa dinilai benar. Akan tetapi dimensi kebenaran pengetahuan di atas tidak selamanya menjadi patokan wajib dalam menilai pengetahuan yang ada. Sebab jenis pengetahuan manusia juga berbeda-beda. Kedudukan ilmu pengetahuan dalam wilayah pemikiran tidak selamanya diterima oleh semua orang. Oleh karena itu perlu adanya pengujian terhadap ilmu pengetahuan yang ditemukan seseorang. Pengujian yang dimaksud adalah pengujian mengenai nilai kegunaan dan kebenaran ilmu tersebut.
Kebenaran suatu ilmu atau pengetahuan disandarkan pada teori-teori rumusan kebenaran substansif untuk menilainya. Teori kebenaran ini dibawa oleh Michael Williams, yaitu kebenaran korespondensi, kebenaran koherensi, kebenaran pragmatisme, dan teori kebenaran lainnya (borchert, 1996).[5]
Ø  Kebenaran Korespondensi
Teori kebenaran ini merupakan teori kebenaran tradisional yang pertama lahir. White (1978) menyebut  teori ini sebagai teori yang paling tua. Pernyataan ini sebagaimana yang dikutip oleh hornie (1952) dalam bukunya Studies In Philosophy, ia menyatakan “The Corespondence theory is an old one”.  Menurut teori korespondensi ini sebagaimana dikemukakan oleh Moore yang dikutip oleh Alan R. White “since p is true if and only it p, then when what is said e.g. p is true”.[6]  Kattsoff (1986) menyatakan bahwa “kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian (correspondence) antara makna yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau apa yang merupakan fakta-faktanya.”[7]
Berpikir benar korespondensi adalah berpikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu lain. Korespondensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlainan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan (positivisme), antara fakta dengan belief yang diyakini yang sifatnya spesifik (Phenominologi Russel)[8]
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa suatu ilmu pengetahuan bisa dikatakan benar apabila pada ilmu pengetahuan itu terdapat kesesuaian dengan objek yang dipahaminya. Teori ini juga mendasarkan diri kepada kriteria tentang kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan objek yang dikenai pernyataan tersebut.[9] Artinya pengetahuan yang diperoleh oleh seseorang dari suatu pemahaman terhadap proposisi (objek) sesuai dengan keadaan objek yang dipahami itu (Valid)[10].
Dengan demikian kebenaran korespondensi erat kaitannya dengan fakta yang ada terhadap suatu pernyataan, sebab dalam aliran ini kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian antara makna yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau apa yang merupakan fakta-faktanya. Jika fakta-fakta itu sendiri merupakan ide-ide, maka terdapatlah makna yang berhubungan dengan makna-makna yang lain atau ide-ide yang berhubungan dengan ide-ide dan hubungan ini ialah hubungan koherensi.
Ø  Kebenaran Koherensi
Koherensi merupakan teori kebenaran yang menegaskan bahwa suatu proposisi atau (pernyataan suatu pengetahuan, pendapat, kejadian, atau informasi) akan diakui sahih atau dianggap benar apabila memiliki hubungan dengan gagasan dari proposisi sebelumnya yang juga sahih yang dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan logika.[11]
Menurut teori koherensi sebagaimana dikemukakan oleh White (1978) yaitu:
to say that what is said (usually calleh a judgment, belief, or proposition) is true or false is to say that it coheres or fails to cohere with a system of other thungs which are said; that it is a member of a system whose elements whose elements are related to each other by ties of logical implication as the elements in a system of pure mathematics are related” (White, 1978).
            Menurut Kattsoff (1986) dalam bukunya elements of philosophy “suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proposi-proposisi lain yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita”.[12] Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa bersadasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.[13]
            Dengan memperhatikan beberapa pendapat di atas maka dapat diungkapkan dengan bahasa yang lebih sederhana bahwa teori kebenaran koherensi atau teori kebenaran saling berhubungan yaitu suatu proposisi itu atau makna pernyataan dari suatu ilmu pengetahuan bernilai benar bila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu bernilai benar juga.[14]
Ø  Kebenaran Pragmatis
Teori kebenaran pragmatis dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul How To Make Our Ideas Clear. Bagi seorang pragmatis maka kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. [15]
Teori kebenaran ini lebih menekankan manfaat suatu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dinilai benar apabila ia mampu memberikan nilai guna, kesenangan, serta mampu membantu manusia dalam memperoleh pengalaman-pengalaman hidup. Menurut Kattsoff (1986), teori kebenaran pragmatis ini meletakkan ukuran kebenaran dalam salah satu macam konesekuensi. Atau, proposisi itu dapat membantu untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian yang memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman, pernyataan itu adalah benar.[16]
Dalam pandangan Willian James dan John Dewey yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir, james mengungkapkan bahwa yang benar adalah yang konkrit, yang individual, dan yang spesifik. Dewy lebih lanjut menyatakan bahwa kebenaran merupakan korespondensi antara ide dengan fakta. Sedangkan pengertian korespondensi menurut Dewey adalah kegunaan praktis.[17]
Jadi menurut pandangan teori ini suatu proposisi bernilai benar bila proposisi itu mempunyai konsekuensi-konsekuensi praktis seperti yang terdapat secarah inheren dalam pernyataan itu sendiri. Karena setiap pernyataan selalu terikat pada hal-hal yang bersifat praktis, maka tiada kebenaran yang bersifat mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat ketat, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal, sebab pengalaman itu berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam perkembangannya itu senantiasa berubah. Hal itu karena dalam perakteknya apa yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Atau degan kata lain bahwa suatu pengertian itu tidak pernah benar melainkan hanya dapat menjadi benar kalau saja dapat dimanfaatkan secara praktis. [18]

Kesimpulan
Dalam memberikan penilaian tentang benar atau tidaknya ilmu pengetahuan cukup kita melihat dari karakteristik pada umumnya, seperti kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan dan nilai (guna, mamfaat dan tujuan) ilmu itu sendiri.
Teori kebenaran yang dibawa Michail Williams cukup bagus dan tepar untuk dijadikan dimensi akan kebenaran suatu ilmu atau pengetahuan tertentu. Seperti teori kebenaran korespomdensi, kebenaran koherensi, kebenaran pragmatic, dan teori kebenaran lainnya. Kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang mengatakan suatu proposisi itu dikatakan benar apabila terdapat kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan objek yang dikenai pernyataan tersebut. Artinya pengetahuan yang diperoleh dari pemahaman suatu ilmu atau proposisi dan atau objek terdapat kesesuaian dengan pernyataan atau materi yang benar-benar ada pada ilmu, peoposisi dan objek tersebut.
Kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang apabila suatu proposisi atau makna suatu pengetahuan mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi pertama yang bernilai benar. Contoh ada pernyataan “setiap hewan akan mati” pernyataan ini adalah pernyataan pertama dan benar. Kemudian ada pernyataan kedua, “setiap anjing pasti mati”. Meski kedua pernyataan tersebut digabungkan pasti akan tetap benar. Sebab anjing merupakan entitas dari hewan.
Kebenaran pragmatis adalah teori yang akan menilai suatu prosisi cenderung benar apabila mampu memberi manfaat kepada manusia. Atau mampu membantu memuaskan manusia dalam memperoleh pengalaman-pengalaman dalam kehidupan.


Daftar Pustaka
Adib, Muhammad, H.  Drs. M. A. Filsafat Ilmu: Ontologi, epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Ed 2. Cet 1. Yogyakarta: Pustaka pelajar. 2010. 
Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty. 1999.
Kattsoff, Louis O. Pengantara Filsafat. Yogyayakarta: Tiara Wacana. 2004.
Muhadjir, H. Noeng, Prof. Dr. Filsafat Ilmu: Positivisme, Post-Positivisme, dan Post-modernisme. Yogyakarta: Rakesarasin. 2001.
Surajiyo, Drs. Filsafat Ilmu. Jakarta:PT Bumi Aksara. 2007.
Surajiyo, Drs. Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2005.
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2005.
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas UGM. Filsafat Ilmu. Cet 3. Yogyakarta: Liberty. 2003.


[1] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas UGM, Filsafat Ilmu,( Yogyakarta: Liberty,2003) Cet 3, hal.136.
[2] Drs. Surajiyo, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007),hal. 59.
[3] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas UGM,Op,cit Ibid, hal. 137.
[4] Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Bumi Aksara,2005),hal. 55.
[5]Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu: Positivisme, Post-Positivisme, dan Post-modernisme,( Yogyakarta: Rakesarasin,2001), hal. 17.
[6] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas UGM., Op, cit, hal. 138
[7] Ibid. hal. 139
[8] Noeng Muhadjir, Op, cit, hal. 18
[9] Muhammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2010) Ed 2. Cet 1, hal. 122.
[10] Valid adalah derajat ketepatan antara pernyataan yang dipahami oleh seseorang dari objek dengan pernyataan asli yang terdapat pada objek itu sendiri.
[11] Muhammad Adib, Op, cit, hal. 121.
[12] Louis O. Kattsoff, Pengantara Filsafat, (Yogyayakarta: Tiara Wacana,2004). hal 176.
[13] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,. 2005), hal. 55.
[14] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas UGM, Op, cit, hal. 140.
[15] Ibid, hal. 57-59
[16] Louis O. Kattsoff, Op, cit. hal. 183.
[17] Noeng Muhadjir, Op, cit. hal. 20.
[18] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas UGM, Op, cit. hal. 141.
* Makalah ini disampaikan pada Forum Kajian Filsafat Yogyakarta lintas Univesitas DIY.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar