Oleh Juma Darmaputra
BAB I. PENDAHULUAN
            Sistem khalifah pada masa Bani Umayyah II di Andalusia terjadi pada masa pemerintaahan Abdur Rahman III yang bergelar al-Nashir. Ia memerintah sekitar 50 tahun dengan berbagai kamajuan di segala bidang, baik arsitektur, ilmu pengetahuan, pertanian, industri maupun perdagangan. Kemajuan ini mampu dipertahankan oleh kedua keturunannya, yaitu Hakam II dan Hisyam II.  Namun pasca keduanya, Bani Umayyah secara perlahan mengalami kemunduran sampai akhirnya mengalami kehancuran. Sistem pemerintahan yang berlaku dalam Bani Umayyah di Andalusia berlangsung secara turun-temurun (Monarchi), anak menggantikan posisi orang tuanya dalam pemerintahan.

            Dalam upaya melegitimasi kekuatan dan kekuasaan politiknya, Bani Umayyah menggunakan kekuatan militer sebagai pendukungnya. Keberhasilan dan kemajuan yang dicapai Bani Umayyah di Andalusia salah satunya didapatkan karean para Khalifahnya mampu mengendalikan keahlian dan kecakapan tentaranya yang terdiri dari terntara bayaran (murtaziqah) yang kuat gabungannya dengan suku Slavia, Frank dan lain-lainya, seperti Negro dan Barbar (Berber). Disamping itu, Bani Umayyah juga memiliki tentara sukarela yang berperang untuk menegakkan agama islam. Ada juga golongan, tentara biasa yang dianggotai oleh semua kaum.
            Makalah ini, akan membahas sistem pemerintahan (Khalifah) dan sistem pemerintahan pada masa Abdur Rahman III, Hakam II dan Hisyam yang dipimpin oleh Ibn Abi Amir.
           
BAB II. PEMBAHASAN
            A. Sistem Pemerintahan
            Abdur Rahman III (300-350 H/912-961 M) yang bergelar “al-Nashir” merupakan khalifah pertama atau amir ke delapan dinasti Umayyah di Andalusia. Ia mendeklarasikan sistem khalifah pada tahun 929 M setelah ia berhasil memadamkan pemberotakan internal dan eksternal yang datang dari Dinasti Fathimiyah dan kekuatan suku Kristen Spanyol, Leon. Disamping itu, kematian Khalifah Dinasti Abbasiyah, Al-Muktadir turut berperan dalam pendeklarasian sistem Khalifah.[1]
            Abdul Rahman III memilih sendiri gelarnya, yaitu al-Khalifah al-Nashir li Din Allah (khalifah penolong agama Allah). Karena ia telah berhasil membawa Spanyol muslim ke kedudukan lebih tinggi dari pada sebelumnya, ia pantas menyandang gelar Amir al-Mukminin¸terutama di kalangan bawah yang tidak lagi mempercayai kekhalifahan di Timur. [2]
            Saat itu, Abd Rahman III mengirim surat ke seluruh pojok pemerintahannya, atas deklarasi kekhalifahannya. Isi surat itu menyatakan bahwa munculnya kembali sistem kekhalifahan dalam dinasti Umayyah di Andalusia dan juga memerintahkan agar dalam khutbah jum’at menyebutkan gelar khalifan bani Umayyah.[3]\
            Pada masanya, Spanyol mengalami kejayaan dan keemasan. Abdur Rahman berhasil membangun peradaban Spanyol di segala bidang. Ia mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaan yang menampung ratusan ribu buku.[4] Pada masanya, Abdur Rahman tidak hanya berhasil mengamankan Spanyol dari kehancuran, namun sekaligus menciptakan kemakmuran dan kemajuan Spanyol. Kemajuan dalam bidang perekonomian Spanyol mendukung untuk melancarkan pembangunan di Spanyol. Jalan raya dan sarana pengadaan air minum dibangun di seluruh penjuru negeri. Pertanian, industri, perdagangan, pendidikan mengalami kemajuan yang pesat.[5]
            Abdur Rahman membangun istana yang kemewahannya, tiada yang menandinginya di daratan Eropa kecuali di Baghdad dan Konstantinopel. Berbagai duta yang datang dari Jerman, Prancis, Itali dan kaisar Bizantium ditempatkan di istana itu.[6]
            Abdur Rahman III memerintah selama kurang lebih 50 tahun. Ada 11 pengganti setelah ia meninggal. Namun, tidak seorangpun yang mampu mempertahankan kekusaannya. Dua penggantinya, Hakam II dan Hisyam II masih mampu mempertahankannya. Kepemimpinan Abdur Rahman III dikatakan sebagai penguasa terbaik dunia.[7]
            Pengganti Abdur Rahman III adalah Hakam II (350-366 H/961-976 M). Pada masanya, ia harus menghadapi suku Navarre yang berusaha melepaskan diri dengan anggapan bahwa Hakam yang terkenal dengan sukan perdamaian dan terpelajar tersebut tidak akan menuntut ketentuan dalam perjanjian sebelumnya dan walaupun terjadi perang, kekuatan Hakam II tidak akan sekuat Ayahnya, Abdur Rahman.[8]
            Pada masa Hakam II, bidang ilmu pengetahun mengalami kemajuan pesat. Karena ia terkenal sebagai seorang terpelajar dan sangat menyukai keilmuan. Saat itu, Spanyol menjadi pusat ilmu pengetahuan, pusat kebudayaan, kesusastraan dan ilmu yang tinggi.[9] Bahkan untuk mendukung proyek gerakan ilmu pengetahuan, ia berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 400.000 buku dalam perpustakaan negara di Kordoba. Katalognya terdiri dari 44 jilid. Para filosof dan ulama bebas memasukinya.[10]
            Sistem administrasi pemerintahan di kekhalifahan Barat tidak jauh berbeda dari kekhalifahan Timur. Jabatan penting di kekhalifahan biasanya dipegang secara turun-temurun, kendati para perwira dan bangsawan sering kali memilih orang yang mereka sukai. Kedudukan seorang hajib (pengurus rumah tangga) berada antara mereka (para wazir) dengan khalifah. Setiap wazir, bersama beberapa kuttab (sekretaris) bawahannya menanggungjawabi kantor(diwan) kementrian. Provinsi-provinsi yang terpisah dari Kordova ada enam—masing-masing diperintah oleh seorang gubernur sipil dan militer yang disebut wali.Beberapa kota penting juga berada dibawah kekuasaan wali.
            Peradilan dijalankan langsung oleh khalifah, yang kemudian mendelegasikan wewenang kepada para qadhi, dipimpin oleh qadhi qudhat yang berkedudukan di Kordova, shahih al-mazalim, menerima pengaduan setiap orang yang merasa kecewa atas pelayanan para pejabat publik.
            Hukuman yang biasanya diputuskan pengadilan adalah denda, skorsing, penjara, pemotongan anggota tubuh dan dalam beberapa kasus khusus seperti fitnah, bidah dan murtad, hukuman mati menjadi hukuman final. Satu jabatan yang cukup manarik adalah muhtasib (Spanyol: almotaten) yang, selain mengarahkan polisi, juga bertindak sebagai pengawas perdagangan dan psar, memeriksa takaran dan timbangan, serta ikut mengurusi kasus-kasus perjudian, seks amoral dan busana yang tidak layak di hadapan umum.[11]
            Setelah Hakam II meninggal, putranya Hisyam II yang berusia 1o tahun dinobatkan menjadi khalifah dengan gelar Muayyad. Karena usianya yang masih terlalu muda, ibunya, Sulthana Subh dan Hakim Agung, Ibn Abi Amir mengambil alih kekuasaan. Ia bergelar al-Malik al-Manshur Billah dan terkenal dengan sebutan Hajib al-Manar.[12]
            Ia adalah orang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan islam dengan menyingkirkan saingan dan rivalnya. Ia wafat tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya, al-Muzaffar.[13]
            Malapetaka kahancuran mulai melanda istana ketika pemuka-pemuka bani Bani Umayyah memecat al-Muayyad dari jabatan khalifah, karena ia bersedia memberikan jabatan tertinggi negara itu kepada al-nashir li dinillah sepeninggalnya kelak. Daulah bani Umayyah akhirnya mengalami keruntuhan pada masa Hisyam III ibn Muhammad III yang bergelar al-Mu’tadi (418-422 H/1027-1031 M) yang disingkirkan oleh sekelompok angkatan bersenjata.[14]

            B. Sistem Pertahanan
            Ketika Abdur Rahman III memproklamirkan diri sebagai khalifah, ia harus menghadapi berbagai pemberontakan di dalam negeri. Al-Nashir harus menghadapi Raja Ramiro II dari Leon dan Ratu Regent Tota dari Navarre. Kedua pasukan berhadapan di Alhandage, sebelah selatan Alamanca. Ini merupakan peperangan terbesar yang dihadapi pasukan al-Nashir selama 27 tahun operasi mereka. bahkan saat itu, pasukan al-Nashir hampir mengalami kehancuran. Ia sendiri berhasil meloloskan diri.[15]
            Ketika Abdur Rahman menghadapi kekuatan dinasti Fathimiyah, Abdur Rahman III mendapatkan bantuan dari pasukan Afrika Barat dan berhasil menaklukannya. Kekuatan armada laut yang dibentuk khalifah berhasil menguasai jalur lautan tengah bersama dengan armada Fathimiyah.[16]
            Khalifah Abdur Rahman tidak menyukai kelas bangsawan di Spanyol. Sehingga, ia lebih suka merekrut pasukan non-Arab. Ini menimbulkan gerakan bangsawan Arab menentang kebijakan kepada Khalifah. Dalam pertempuran al-Khandaq dan dalam pengepungan kota Zamora, militer Arab mengalami kekalahan dan kehancuran.
            Ketika pembangunan istana al-Zahra, sang khalifah melindungi dirinya dengan satu pasukan pengawal, yang terdiri atas orang slavia yang berjumlah 1.750. Khalifah juga mengepalai angkatan bersenjata yang terdiri atas ratusan ribu personil. Pada mulanya, nama Slavia diterapkan untuk budak-budak, tawanan dan golongan lainnya dari suku-suku Slavia yang ditangkap pasukan Jerman, kemdian dijual kepada orang Arab yang kemudian disandangkan pada orang Franka, Galicia, Lombard dan semacamnya.
            Mereka kemudian diarabkan. Berkat bantuan dari kelompok “Janissari” atau “Mamluknya” Spanyol ini, Khalifah, khalifah tidak hanya sukses menekan pemberontakan dan perampokan, tetapi juga mengurangi pengaruh kelas bangsawan Arab. Akibatnya penghasilan dan pendapatan negara bertambah. Ini merupakan dampak dari perkembangan pesat dunia perdagangan dan pertanian. Sebelumnya, Kordova tidak pernah mengalami kejayaan serupa semacam ini.[17]
            Pada masa kekuasaan Hakam II, walaupun kekuatan militernya tidak sekuat pada masa ayahnya. Namun, ia berhasil membuktikan dirinya sebagai ahli strategi perang. Sancho pimpinan kristen suku Leo dan pemimpin Kristen lainnya ditundukkan. Dibawah pimpin Ghalib, pasukan Hakam berhasil menghadang kekuatan Fathimiyah dan berhasil menegakkan kekuasaan Umayyah di Spanyol di Afrika Barat.
            Hakam II membentuk polisi rahasia yang terdiri dari orang-orang Barbar, sedangkan tentara khalifah yang terdiri dari orang Slavia dibubarkan dan diganti dengan tentara baru dari orang-orang Barbar dan orang Nasrani dari Leon, Castilla dan Navarre.[18]
            Kebijakan militer ini diteruskan oleh penggantinya, Hisyam II. Pada masanya, ia merekrut pasukan militer dari kalangan suku Berber menggantikan militer Arab. Dengan kekuatan militer Berber ini, ia berhasil menundukkan kekuatan Kristen di wilayah utara Spanyol, dan berhasil memperluas pengaruh Bani Umayyah di Barat Laut Afrika. Ia akhirnya memegang seluruh cabang kekuasaan negara, sementara sang khalifah tidak lebih sebagai boneka permainannya.[19]
            Ketika Ibn Abi Amir menduduki kekuasaan tertinggi Bani Umayyah, dia membubarkan pasukan pengawal berkebangsaan Slavia, dan menggantinya dengan satu unit baru yang terdiri atas para parjurit bayaran berkebangsaan Maroko. Bahkan ia sampai mengurung khalifah di dalam istana.     
            Dalam bidang militer, Ibn Abi Amir pernah mereformasi mileter, yakni dengan cara mengganti organisasi militer ala kesukuan dengan angkatan bersenjata. Dengan kekuatan militer yang dimilikinya, ia mampu menaklukkan negeri-negeri lain seperti Zamora, Barcelona, meruntuhkan Kota Leon beserta tembok dan menaranya dan berhasil meruntuhkan gereja megah Santiago de Compestella, sebuah tempat ziarah orang kristen dari seluruh Eropa. Ia meninggal di medan perang pada 1002 M.  
BAB III. PENUTUP
            Kesimpulan
            Sistem khalifah Bani Umayyah di Andalusia pertama kali dideklarasikan oleh Abdur Rahman III. Suksesi kepemimpinan dipegang secara turun-temurun, walaupun terkadang, para perwira atau bangsawan sering memilih orang yang mereka sukai untuk menduduki jabatan penting pemerintahan. Khalifah dibantu oleh Hajib,wazir, kuttab dan diwan. Disamping itu ada wali yang bertugas di setiap daerah atau propinsi.
            Sedangkan sistem pertahanan (militer), Bani Umayyah di Andalusia banyak menggunakan jasa tentara bayaran, baik dari Slavia, suku Berber atau Negro. Berkat kekuatan militer tersebut, kekusaan Bani Umayyah berkembang dan meluas di seluruh dataran Spanyol. 

DAFTAR PUSTAKA
·         Ali, K. Sejarah Islam; Tarikh Pra Modern Jakarta; RajaGrafindo Persada, 1997
·         dkk. Siti Maryam. Sejarah Peradaban Islam; Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta; LESFI, 2009
·         Hamka. Sejarah Umat Islam II. Jakarta; Bulan Bintang, 1975
·         Hitti, Philip K. History of The Arabs. Jakarta; Serambi Ilmu Semesta, 2005
·         Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta; Raja Grafindo Persada, 200096.

               




                [1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 96.
                [2] Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta; Serambi Ilmu Semesta, 2005), hlm. 666.
                [3] Hamka, Sejarah Umat Islam II, (Jakarta; Bulan Bintang, 1975), hlm. 140.
                [4] Yatim, Sejarah…., hlm. 97.
                [5] K. Ali, Sejarah Islam; Tarikh Pra Modern (Jakarta; RajaGrafindo Persada, 1997), hlm. 309.
                [6] Hitti, History….., hlm. 667. Bandingkan juga dengan Ali, Sejarah Islam….., hlm. 309-310 yang menyebutkan bahwa Abd Rahman III mendirikan 300 Mesjid, 100 istana megah, 13.000 gedung dan 300 tempat pemandian umum.
                [7] Ali, Sejarah Islam…., hlm. 310
                [8] Ibid......
                [9] Hamka, Sejarah…., hlm. 141.
                [10] Ali, Sejarah Islam…. Hlm. 311.
                [11] Hitti, History….., hlm. 670.
                [12] Maman A. Malik, “Peradaban Islam Masa Bani Umayyah II di Andalusia” dalam Siti Maryam, dkk. Sejarah Peradaban Islam; Dari Masa Klasik Hingga Modern (Yogyakarta; LESFI, 2009), hlm. 81. lihat juga, Ali, Sejarah Islam…, hlm. 311 atau Yatim, Sejarah….., hlm. 97
                [13] Yatim, Sejarah….., hlm. 97
                [14] Siti Maryam, Sejarah……,hlm. 82
                [15] Hitti, History…., hlm. 666.            
                [16] Ali, Sejarah Islam….., hlm. 310.
                [17] Ibid., hlm. 668.
                [18] Siti Maryam, dkk. Sejarah….. hlm. 62.
                [19] Ali, Sejarah Islam….., hlm. 311.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar