Cerpen Rachem Siyaeza
(Diterbitkan 03 April 2011 di Harian Merapi)
“Vin, Madrusak itu anak Bibi. Mana mungkin Ayahmu berbohong…,” kata perempuan itu pada ponakannya.
“Kenapa disembunyikan?” tanya ponakannya dengan sedikit memohon.
“Tak ada maksud, Vin. Kami hanya takut kalau mengatakannya. Kami pikir lebih baik kamu tak tahu saja, tapi ternyata kami salah..” perempuan yang dipanggil Vin itu diam, masygul terhadap apa yang dikatakan bibinya. “Lagi pula semuanya telah terjadi, tak baik disembunyikan terus-menerus, toh pada akhirnya saat terbuka juga akan tiba. Kami mohon ma’af, Vin,” lanjut bibinya, tersendat diucapkan, dan bola matanya berkaca-kaca.

“Bertahun-tahun Ayah dan Bibi membiarkan aku seperti ini, menunggu Kak Madrusak? Sia-sia, Bi, kalau kenyataannya begini.”
“Tidak, Vin, kami hanya tak sanggup. Bibi, orang yang melahirkan dia, Vin, sungguh tak percaya dengan ini semua. Tapi mau bagaimana lagi, memang telah terjadi.” Sendatan Bibinya itu terus menjadi-jadi. “Dan memang kami harus mengatakannya padamu,” lanjutya dengan sendatan terus meningkat.
“Aku menderita, Bi. Kenapa tidak terus sembunyikan saja, biar aku terus berharap. Aku senang dengan harapan dan dengan apa yang aku lakukan selama ini.”
“Tidak, Vin, kau harus tahu. Tidak hanya kau sendiri, Vin, Bibi, ibunya, dia darah dagingku, mana mungkin..” bibinya itu tidak lagi tersendat, melainkan menangis.
“Bi, Bibi,” kata perempuan itu bagai mencegat omongan bibinya. Seperti bibinya, ia juga tersendat, terisak, lalu menangis.
“Bibi pikir, sekaranglah waktunya setelah sekian lama. Dari pada lebih lama lagi menyembunyikannya, lebih sulit lagi menemukan waktu yang tepat. Dan kami pun terus menderita jika terus memendamnya darimu.”
“Tak tahu, Bi,” kata Vin kecut sambil berlari dengan tangan menutup mulut.
Sementara itu, seorang lelaki yang sejak tadi diam, tak ikut bicara, berusaha mengejar Vin yang berlari menuju kamarnya.
***
Di beranda rumah, lelaki itu termenung sendiri memikirkan anak perempuannya. Dahinya mengerut, menampakkan apa yang dipikirkan itu bukanlah hal sederhana. Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada adik perempuannya yang datang menenangkan anaknya dan memberikan penjelasan apa yang sesungguhnya terjadi.
Tidak seharusnya pagi-pagi ia duduk di beranda. Tapi sudah dua hari ia lakukan itu setelah malamnya ia tidak bisa mengatupkan mata. Kalaupun iya, itu pun hanya sebentar, barang tiga atau lima menitan, dan jarang sekali. Tetapi kali ini sudah lebih setengah jam ia duduk di kursi di beranda rumah.
Sesaat kemudian, lewat di hadapannya, anaknya. Seketika itu juga ia mengangkat tanya.
 “Vin, kau mau ke mana?”
Sedang yang ditanya itu tak menjawab. Yang ditanya itu terus pergi ke kandang dan lewat lagi di depan lelaki itu dengan membawa cangkul yang diambil dari kandang.
“Buat apa itu?” lelaki itu menyelipkan tanya lagi di sela-sela anak perempuannya itu yang sedang berjalan di depan beranda. Sebelum perempuan itu membelokkan mata kakinya menuju ke arah bukit, lelaki itu mengangkat tanya lagi sambil berdiri dan berusaha mencegatnya.
“Hendak dibawa ke mana cangkul itu?” pertanyaan dengan suara agak keras itu, menghentikan langkah anaknya.
“Aku akan membuat kuburan, Ayah,” jawab perempuan yang tak lain anak lelaki itu.
“Tak ada yang perlu dibuatkan kuburan. Suamimu telah tenang di sana.”
“Aku yang tidak tenang, Ayah!”
“Vin, terimalah,” kata lelaki itu menundukkan muka.
Perempuan itu tak menanggap lagi apa yang dikatakan ayahnya itu. Perempuan itu mengangkat langkah, meninggalkan ayahnya.
Sementara lelaki itu tak punya gerak, tak punya ucap untuk mencegah anaknya sekedar bercakap lebih panjang. Menyesal rasanya ia telah memberitahukan jika membuat anak perempuannya seperti itu. Padahal ia berharap, dengan memberitahukan apa yang ia dan adik perempuannya—bibi anaknya itu—sembunyikan, anaknya itu akan berhenti berdiri di belakang jendela menatap bukit hampir tiap waktu. Nyatanya keadaan menjadi rumit. Memang anaknya, setelah tahu suaminya tak bisa ditunggu lagi, berhenti menatap bukit. Tetapi berhentinya itu bukan menerima kenyataan lalu berusaha menerimanya dengan lapang dada, tetapi—meski anaknya percaya terhadap kenyataan yang menimpa suaminya—anaknya itu mendatangi bukit yang sebelum ayahnya memberitahukan perihal apa yang terjadi, hanya menatapnya dari jendela.
Rasa khawatir mengepung lelaki itu. Takut tingkah anaknya berlanjut dan semakin membuat keadaan anak perempuannya itu semakin tak menentu dan semakin aneh.
Antara mengikuti anaknya dan membiarkan saja perempuan itu melakukan apa yang tadi diberitahukan, ia melangkahkan kaki di mana arahnya menghadap.
***
Tanah itu telah membentuk semacam gundukan memanjang dengan satu batu menjulang di bagian utaranya. Jelas ia lihat bagaimana perempuan itu merampungkan gundukan tanah dengan membetulkan letak batu di bagian utara tanah, menatapnya dengan sayu, agak lama, mematung, dan setelah itu mengibas-ngibaskan tangannya.
“Di sinilah, kau dan aku terakhir kali bertemu dan mengikat janji,” kata perempuan itu.
Lelaki itu mendengar apa yang diucapkan anaknya, sayup dan lirih. Pelan-pelan ia beranjak dari tempatnya berdiri di sebalik pepohonan, beberapa meter dari anaknya yang masih berdiri di sisi tanah memanjang itu. Ia pergi dengan dada berkecamuk berikut risau mendera-deranya.
Sementara lelaki itu telah pergi, tiba-tiba perempuan itu—yang tadinya berkata pelan dan lirih—kini agak keras.

“Siapa sangka, kau akan berbaring kaku tanpa pernah bisa kulihat lagi,” ucapnya. Beberapa daun pepohon sebagian jatuh, berserakan di tanah, juga di gundukan tanah itu, juga di kepala perempuan itu sebelum kemudian berserakan seperti daun-daun lainnya.
“Padahal aku mengharapkan kau. Lihatlah apa yang telah kau lakukan padaku. Ini yang kau maksud dua tahun. Nyatanya sampai bertahun-tahun tak ada apa-apa,” katanya lagi sambil memegang-megang nisan.
“Memangnya aku perempuan yang bisa kau mainkan begitu saja? Tidak!” ratapnya dengan tetap memegang nisan. Tetapi kali ini menggerak-gerakkan batu itu.
“Jadi ini balasan kau setelah kau biarkan aku mengharapkanmu! Apa gunanya harapan bila kau tak bisa kuharapkan. Mengapa?” Sambil tersedu-sedan ia membetulkan nisan yang tadi ia gerak-gerakkan. Lalu ia membelai-belai nisan itu seakan-akan menyesal terhadap apa yang baru saja lakukan dan katakan. 
***
Dengan bertelanjang kaki, ia lewati jalan yang menikung menuju bukit itu. Ditinggalkannya api yang masih membara di tungku, dan sangat tergesa seperti takut terlambat, ia berangkat.
Kakinya lincah tanpa sedikit pun terpeleset meski bersentuhan dengan batu-batu yang berserakan di jalan. Rambutnya dikerudungkan seadanya. Angin sore berhembus membawa aroma tanah bukit.
“Jangan ke mana-mana, Vin,” teriak seseorang, terdengar besar diucapkan.
“Aku akan berziarah, Ayah,” katanya keras dengan nada yang cukup girang.
Tak tahu kenapa, tiba-tiba perempuan itu merasa gembira. Tak seperti beberapa hari yang lalu. Dipercepatkanlah langkahnya yang mulai menanjak. Daun di kakinya berkerasak bersatu padu dengan bunyi kainnya yang terlalu ketat untuk jalan cepat.
Namun, tepat di jalan menikung berikutnya, ia menghentikan langkah. Diam sejenak. Lalu berlari membelokkan arah menuju rumah, berlari menuju kamar, membuka lemari, menyingkap-nyingkap pakain dan, sambil bergumam kecil ia ambil dua lembar kertas yang telah terlipat rapi dan segera berlari kembali dengan langkah yang tetap cekatan.
“Bukannya kamu ke bukit?” teriak seseorang dari balik kandang. Heran dan ingin mencegahnya seperti beberapa hari yang lalu tetapi lelaki itu merasa percuma.
“Ada yang ketinggalan, Ayah,” tanggapnya.
***
Wajahya cerah. Dan semakin cerah saat rambutnya yang berbalur kerudung jatuh di depannya. Ia merundukkan muka, agak dekat pada gundukan tanah dan bersamaan dengan itu, rambutnya yang bergerambai lurus dari kepada dan ke tanah, ia singkirkan dari wajahnya yang hampir tertutup karena lebatnya rambut.
“Pun keabadian itu ada karena kematian. Hanya waktunya saja tak sama.” Begitu ia memulai perkataannya, ziarahnya. Nafasnya berhembus cepat.
“Ya. Betul. Tak ada yang sia-sia kalaupun kita tak dipertemukan lagi,” ucapnya lagi.
Kupingnya nampak terlihat. Daunnya agak besar diselipi rambut yang kemudian tertutup lagi oleh rambutnya setelah kepalanya bergerak sigap, lehernya berputar dengan mata memandang ke jalan yang tadi dilewatinya. Sambil membuang nafas, seperti apa yang dilihat sesuai dengan harapannya, ia mengambil sesuatu dari balik baju di dalam dadanya.
“Kukira setelah kuterima ini kau akan datang dalam waktu dekat,” ujarnya dengan tangan mendekat pada bongkahan batu ujung utara gundukan tanah. “Tapi ternyata tidak,” lanjutnya.
“Aku kembalikan padamu,” katanya lagi. Dan tangannya menggaruk-garuk gundukan agak dalam lalu memasukkan dua lembar kertas dan menutupnya dengan tanah.
Kemudian ia memagar bibirnya dengan senyum ditahan—lebih tepat senyum dipaksakan.
“Memang telah terjadi dan tidak mungkin aku mengingkarinya. Meski ini hanya bentuk tanah tanpamu, tapi sudah cukup untuk menjadikannya abadi.”
Lalu ia mengangkat tubuh, beranjak pergi bersama turunnya senja yang muram-merah. Kakinya yang telanjang meninggalkan bekas injakan pada jalan dan daun-daun sebagian menutupinya membuat bekas itu tak terlihat.
Yogyakarta, Agustus 2010
 Rachem Siyaeza, lahir di Pajagungan, 02 September 1988, sebuah  kampung kecil di  ujung timur pulau Madura.  Bergiat di Komunitas Kutub dan IKAA Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar