Oleh: Rachem Siyaeza*
Bulan bundar menggantung di langit. Malam sudah setengah kelam. Vinny membuka gorden ungu jendela kamarnya; berdiri, menatap nanap ke seberang jalan. Sebentar kemudian, ia tersipu, seolah dari ujung jalan itu muncul sesosok bayang tak asing, mengajaknya bercakap berucap janji hidup semati. Ah, dua tahun silam..., desisnya sambil melirik sebingkai foto dirinya bersama seorang lelaki, yang tergantung di dekat jendela. Lalu, sesaat berselang, kembali menebar pandang pada sekitar, sesekali memicingkan sepasang matanya, jauh menerawang; ah, begitu jauhnya kini kamu, kapankah kita bisa bertemu. Dua tahun. Duh..., desisnya lagi.

Bintang-bintang bertaburan. Awan-awan tipis berarakan. Mahluk-mahluk malam berbunyi lirih. Vinny tersenyum. Rambut lurusnya ia usap-usap dengan tangan kanannya yang lentik. Entahlah, semakin lama ia berdiri di balik jendela itu, semakin ia merasakan kehadiran sesosok lelaki, namun di sisi lain ia merasakan sesuatu yang membuat takut dan cemas, seusai bapaknya datang dari rumah kepala desa, karena harus menerima telepon dari kota yang jauh. Dan, ketika bapaknya ditanya dari siapa telepon itu, bapaknya diam tak menjawab, seakan menyimpan sesuatu.
Angin sedikit menyisir rambut lurusnya. Matanya hampir tak berkedip menatap bulan. Dagunya terangkat terus seperti menanti sesuatu. Sesuatu yang begitu lama ia harapkan. Ada rasa sedih dan rasa sakit tak terperihkan. Apalagi, kini ia menatap seruas jalan berkelok, menikung menuju bukit itu. Ya, tepat beberapa miter di depan jendela, sebuah jalan menikung menuju bukit itu, semakin membuat perasaanya begitu kacau, perasaan aneh bercampur kerinduan. Mungkin juga ketakutan.
***
Jalan itu masih tetap seperti dua tahun lalu. Masih ditumbuhi rumput-rumput hijau, juga sedikit daun kering berserakan. Persis, suasana di jalan itu seperti dua tahun silam saat terakhir kali ia mengantar Madrusak.
“Aku akan menunggumu.” Begitulah Vinny berucap saat Madrusak akan berangkat ketika terakhir kali bertemu. Tepat di jalan menikung menuju bukit itu, kalimat itu ia ucapkan.
Vinny masih ingat, bagaimana waktu itu Madrusak melambai tangan dengan langkah gontai menjejaki jalan itu sebelum akhirnya lenyap di balik bebukit. Tapi, apa yang bisa dilakukanya selain membiarkannya pergi. Tak ada lelaki yang tak merantau. Dan ia, sebagai perempuan hanya bisa berharap kedatangannya mampu memberi “keterangan” bagi semua. Tidak hanya harta, tapi juga kebahagian sepulangnya dari rantau.
Saat itulah, Vinny dengan perasaan berat melepas Madrusak. Sementara Madrusak telah lenyap dari pandangannya, tinggal pertanyaan di kepala Vinny. Apakah aku bisa hidup tanpa ada dia? Vinny bergeming, tak percaya bahwa Madrusak telah jauh. Laut lepas di balik bukit itu terdengar samar-samar mencipratkan ombak. Sebentar kemudian, terdengar bunyi perahu menderu menandakan sebuah keberangkatan jauh. Dan Vinny tersentak sadar bahwa Madrusak telah berangkat. Dadanya ngilu.
Sekarang, dalam bimbang dan harapan yang tak kunjung berujung pada titik jawab, kapankah kiranya Madursak kembali, dengan doa dan kesabaran ia tetap menunggunya meski cemas kerap mendera, mengusiknya hingga perasaan was-was akan keberadaan Madrusak di pulang seberang sana. Ah, doa. Hanya doa yang bisa dilakukannya. Menunggu dan selalu menunggu. Mungkin dengan menunggu, wanita akan berarti, pikir Vinny. Ah, menunggu sungguh menyakitkan.
Bulan sedikit langsir, semakin rebah di jalan menikung, merebahkan bayang-bayang pohon jauh ke ujung. Vinny tersadar. Namun ia tak ingin beranjak dari dekat jendela. Ia ingin berlama-lama berdiri sambil menatap bulan dari kamarnya melalui jendela sambil lalu ia membukanya, juga menatap jalan menikung menuju bukit itu. Mungkin saat ini Madrusak, di rantau jauh sana juga sedang menatap bulan seperti aku, gumamnya. Bukankah jika hati sama-sama rindu, perasaan akan menyatu meski jarak terlampau jauh?
Entah mengapa tiba-tiba, di tengah kerinduannya yang berkabut dari sebalik bukit itu seolah Madrusak berjalan menuju jalan menikung, sebelum akhirnya berjalan ke dekat jendela, tentu cahaya bulan akan membantu menampakkan wajahnya yang tenang. Vinny sedikit senang.  Bergairah. Bibirnya menyiratkan senyum tak tertahan. Tapi sesaat berselang, betapa ia merasa hampa, setelah sadar dari luar sana tak ada apa-apa, hanya bayang-bayang pohon bergeran-gerak pelan sepelan angan menggiring kenangan.
Ah, karena Madrusak aku menyukai bulan, pikinya. Ya, seperti malam ini, Vinny menunggui bulan seolah Madrusak bulan itu. Ingin dipeluk tapi jauh, hanya bisa dinikmati. Bukankah bulan selalu membawa kabar? Tapi, sejauh malam-malam purnama lalu, malam ini begitu ganjil. Desir angin pun seperti menusuk-nusuk kulit. Menyengat, membuat Vinny jadi merinding. Entah kenapa. 
***
Vinny tersentak terbangun dari lamunannya. Suara mirip kalung sapi disertai suara memanggil membuyarkan bayangan-bayangan Madrusak di kepalanya. Bulan di langit yang juga berbinar di matanya seolah murung. Angin mengibas-ngibas jendela hingga menimbulkan bunyi engsel yang cukup keras di tengah kesunyian malam. Ah, tidak! Itu bukan suara kalung sapi, itu suara yang timbul dari balik bukit itu. Ya, setelah jalan menikung menuju bukit itu, di sana setelah bukit ada laut lepas begitu luas, suara itu dari sana berasal. Madrusak! Vinny sedikit kaget seolah ada sesuatu yang telah terjadi.
Apakah Madrusak akan datang malam ini sebagaimana mimpiku beberapa malam lalu? Tanyanya dalam hati. Malam ini, mungkin Madrusak akan datang, duganya. Bukankah kedatangan selalu memberi sebuah isyarat? Suara itu timbul tenggelam di telinganya membuat semacam kegairahan dan keyakinan di benaknya. Suara itu seperti memanggil nama dirinya dari kejauhan sana. Tidak begitu jelas karena, mungkin bercambur dengan bunyi mesin perahu. Mungkinkah itu Madrusak? Entah kenapa, tiba-tiba Vinny terdorong hatinya untuk mendatangi suara itu.
Tanpa pikir panjang Vinny dengan perlahan menaiki gigir jendela. Nafasnya mulai agak tak teratur. Sedikit tersendat ketika bisa melewati jendela. Pelan-pelan ia tutup jendela dari luar dan segera ia tapakkan kaki, tidak gesa, detak jantungnya mulai berdegup kencang, sebentar kemudian ia telah sampai ke jalan menikung menuju bukit itu. Sempat ia membalikkan pandangan ke kamar, cahaya keperakan masih terhampar masuk melalui kaca jendela yang sudah di tutup itu.
Jalan setapak ia lewati dengan perasaan tak menentu. Lagi-lagi suara di balik bukit itu memaksa dirinya untuk mendatanginya. Suara jangkrik, burung hantu atau hewan sejenisnya tak ia hiraukan. Pendengaran Vinny tertuju pada suara di balik bukit itu. Malam kian merayap. Bintang-bintang berkedap-kedip di langit seakan bersaing dengan bulan untuk menyinari Vinny yang sedang tergopoh-gopoh di jalan menikung menuju bukit itu.
Ah, suara itu mirip seperti suara kerinduan yang menggumpal. Menyayat hati. Membuat debaran-debaran tak tertahankan di jantung Vinny. Langkahnya gontai  namun agak cepat. Ia telusuri jalan menikung menuju bukit itu dengan gairah meletup-letup. Namun tiba-tiba di tengah jalan, Vinny tiba-tiba terhenti langkahnya. Ada orang yang tergesa-gesa di belakang menghentikan langkahnya.
“Mau ke mana kamu Vinny?” teriaknya.
“Ayah....” balas Vinny kaget. “Ayah, aku akan pergi ke laut di balik bukit itu.” Jawab Vinny sambil menatap bukit di depannya, suaranya datar.
“Mau apa ke sana malam-malam begini? Apa yang membuat kamu ingin ke laut?” tanya lagi ayahnya.
“Apakah Ayah mendengar suara itu? Dengarkan suara memanggil itu Ayah! Itu suara Madrusak yang datang dari rantau?”
“Tidak ada anakku, Madrusak belum pulang. Itu hanya suara ombak dan suara mesin perahu orang yang akan menjaring ikan.” Ada kesedihan tersirat di raut wajah Vinny, begitu dalam.
“Tapi Ayah, coba dengarkan suara itu, memanggil namaku, jelas sekali itu suara Madrusak, dia sudah pulang dari rantau.” Pekik Vinny dengan suara agak keras.
“Baiklah, kalau memang Madrusak datang dari rantau malam ini, pasti besok akan menemuimu. Tidak baik perempuan keluar malam-malam begini. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada kamu. Kau tak tahu...” Ayah Vinny terhentinya ucapannya di bagian akhir. Vinny tak cukup jelas dengan kata terakhir itu, bahkan nyaris tak mendengar. Setengah tersendat. Ah, bagaimana cara mengatakannya?, gumam lelaki itu. Sungguh tak bisa, terlampau menyakitkan. Kabar dari rantau yang diterimanya di rumah kepala desa tadi sore itu, sungguh sulit untuk dikatakan pada Vinny. Bagaimana cara mengatakannya?, batinya. Telepon dari tanah ber-uang ringgit itu, yang membuat sang Ayah mendadak mematung di bagian pojok ruangan di rumah Saha, tempat ia mengangkat telfon dari rantau, dengan kata apa sang Ayah mesti berucap pada Vinny. Ada sedikit keraguan di matanya. Ah, tidak! Mungkin saja itu Madrusak lain, gemingnya. Namun tetap ragu.
“Pulanglah, Nak. Tolong...” pinta Ayahnya tiba-tiba, suara parau.
Bulan di atas tampak begitu murung. Suara mahluk-mahluk malam berbunyi lirih. Kian lirih. Seolah ada sesuatu yang dikatakan. Mirip jawaban atas kegelisahan. Angin berhembus pelan seolah membawa aroma kematian.
“Tidak. Vinny tidak mau pulang sebelum bertemu, Kak Madrusak.”
“Tunggulah besok pagi, jika memang Madrusak datang pasti dia akan menemui kamu.” Ayahnya mencoba menjelaskan lagi. Suaranya begitu sesak seperti ada sesuatu yang menyumbat. Sesuatu yang mengganjal.
Dengan perasaan berat akhirnya Vinny menuruti permintaan Ayahnya. Ia sempat menoleh ke belakang sebelum melangkahkan kaki kembali ke rumah, memandang jalan menikung menuju bukit itu, perasaannya berkabut, seolah di sana, di antara jalan menikung menuju bukit itu, seolah dengan suara pilu Madrusak memanggil dirinya.
Dan sontak, betapa ayah Vinny kaget saat dari arah rumahnya, dengan langkah lekas, Saha, kepala desa yang tadi sore mendampinginya menerima telepon tak jelas tentang keberadaan Madrusak di tanah rantau, dan tiba-tiba dengan suara serak kepala desa itu berkata;
“Benar, kabar itu...”
“Kabar apa?” buru-buru ayah Vinny, meraih tangan Saha, menjauh. “Benar, Madrusak, yang meninggal?” bisik ayah Vinny. Saha, dengan mata melirik penuh selidik memperhatikan Vinny, yang berdiri kaku, sekaku batu di jalan menikung menuju bukit.

**Sumber: Jalan Menikung ke Bukit Timah (Buku Kumpulan Cerita Pendek Temu Sastrawan Indonesia II Bangka Blitung-2009)
*Penulis adalah mahasiswa alumni Al-in’am dan sedang melanjutkan studinya di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam. Tulisannya dimuat diberbagai media dan menjuarai lomba cerpen yang diadakan oleh instansi baik tingkat lokal maupun nasional. Selain aktif penulis, ia aktifis Sastra Kutub, LPM Literasia, PMII, BEM-F dan IKAAYogyakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar