Oleh: Rahbini, M.Pd*
A.  Pendahuluan
Transmisi ilmu pengetahuan secara sederhana telah terjadi pada masa sebelum masuknya Islam di Indonesia, hal ini terbukti dengan adanya dua pradaban besar yang ada di Indonesia yaitu; Hindu dan  Budha. Kemajuan dua pradaban tersebut sudang barang tentu sebagai sebuah representasi adanya  transmisi ilmu pengetahuan yang dilaksanakan pada masanya. Karena prestasi yang dicapai suatu bangsa sangat ditentukan oleh  kualitas  pendidikan yang dicapai oleh bangsa tersebut. Hal ini juga dibuktikan fakta historis bahwa pada waktu rombongan kapal laut yang berbendera kolonial Balanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman bersandar di pulau jawa pada tahun 1596, mereka melihat keyataan bahwa di nusantara ini telah terdapat perguruan rakyat sebagai tempat transmisi pengetahuan yang dipengaruhi oleh paham keagamaan yaitu Hindu.[1]

Jauh sebelum madrasah itu eksis, ketika Eropa menginjakkan kaki di nusantara, telah dijumpai bahwa mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Di wilayah ini sudah terdapat model pendidikan tradisional pribumi yang secara umum menekankan pendidikan agama Islam. Transmisi ilmu pengetahuan pada waktu itu telah dilakukan melalui langgar, surau, rumah-rumah pribadi yang terpanggil untuk mengajarkan Islam, masjid dan pesantren. Materi yang diajarkan adalah hanya terbatas pada membaca al-Qur’an, menulis huruf Arab dan pengetahuan mengenai hal-hal pokok dalam ibadah sehari-hari.
Lahirnya Madrasah merupakan kelanjutan dari sistem pendidikan pesantren yang dimodifikasikan sesuai dengan penyelenggaraan sekolah-sekolah umum dengan sistem klasikal. Disamping memberikan pengetahuan agama, diberikan juga pengetahuan umum sebagai pelengkap, inilah yang menjadi cirri khas dari sebuah madrasah pada masa awal di Indonesia.
Madrasah sebagai lembaga pendidikan, tentu  saja memiliki andil dan konstribusi yang cukup besar dalam proses transmisi ilmu pengetahuan. Karena itu dalam makalah ini akan dibahas; bagaimana peran madrasah dalam proses transmisi ilmu pengetahuan di Indonesia, dan bagaimana bentuk-bentuk yang terjadi dalam proses transmisi tersebut.
B.  Munculnya Madrasah di Indonesia
Istilah madrasah merupakan isim makan dari kata darasa yang berarti tempat belajar. Istilah madrasah kini telah menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan (terutama perguruan Islam).[2] Akan tetapi menurut Karel Steenbrink istilah madrasah dan sekolah dibedakan, karena keduanya memiliki ciri yang berbeda. Namun dalam pembahasan ini penulis lebih menyamakan anti madrasah dengan sekolah, akan tetapi tumbuhnya madrasah di Indonesia tidak lepas dari pengeruh madrasah yang berkembang pada masa kejayaan Islam abad pertengahan.
Dalam sejarah Islam madrasah sudah menjadi fenomena yang menonjol sejak abad 11-12 M (abad 5 H), terutama ketika Wazir Bani Saljuk Nizam al-Muluk mendirikan madrasah Nizamiyah di Baghdad.[3] Kebanyakan penulis sejarah Islam membuktikan bahwa lembaga pendidikan itu merupakan salah satu bentuk khas dari tradisi pendidikan dalam Islam, terutama dikalangan kaum sunni. Sebelum munculnya madrasah, peraktek pendidikan Islam lebih banyak dilakukan di kuttab sebagai tempat belajar membaca dan menulis al-Quran, dan masjid-masjid disamping di beberapa pusat studi seperti Dar al-Hikmah. Pada abad pertengahan madrasah menjadi model pendidikan Islam par excellent, dihampir semua kekuasaan Islam.
Institusi pendidikan madrasah di indonesia lahir pada awal abad 20 M, yang dapat dianggap sebagai awal priode pertumbuhan madrasah dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Memasuki awal abad 20 M ini banyak orang Islam Indonesia mulai menyadari bahwa mereka tidak mungkin berkomptisi dengan kekuatan-kekuatan yang menantang dari pihak kolonialisme Belanda, penetrasi misionaris Kristen, dan perjuangan untuk maju di  bagian-bagian lain di asia, apabila terus melanjutkan kegiatan pendidikan dengan cara-cara tradisional dalam menegakkan Islam, seperti yang dilaksanakan di langgar-langgar, surau, masjid dan pesantren.
Munculnya kesadaran kritis dikalangan umat Islam Indonesia tersebut tidak lepas dari kiprah kaum terdidik lulusan Mesir atau Timur tengah yang telah banyak menyerap semangat pembaharuan (tajdid) disana. Setelah mereka kembali ke tanah air, mereka melakukan pengembangan institusi pendidikan baru yang lazim disebut madrasah dengan menerapkan metode dan kurikulum yang juga baru.
Munculnya madrasah oleh para sejarawan pendidikan Islam dipandang sebagai salah satu bentuk pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Argumen yang dapat dikemukakan adalah bahwa secara historis, awal kemunculan madrasah dapat dikembalikan pada dua situasi; pertama, adanya pembaharuan Islam di Indonesia, kedua,adanya respon pendidikan Islam terhadap kebijakan pendidikan Hindia-Belanda.[4]
Dari hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa tumbuhnya madrasah di Indonesia adalah hasil dari tarik menarik antara pesantren sebagai lembaga pendidikan asli pribumi yang sudah ada disatu sisi, dengan pendidikan Barat disisi yang lain. Setidaknya ada dua kecenderungan yang dapat diidentifikasi dari kemunculan format madrasah: pertama, madrasah diniyah-salafiyah yang terus tumbuh dan berkembang sampai saat ini dengan peningkatan jumlah maupun penguatan kualitas sebagai lembaga tafaqquh fiddin (lembaga yang semata-mata mendalami ilmu agama), dan kedua, madrasah yang selain mengajarkan ilmu agama dan nilai-nilai Islam, juga memasukkan beberapa materi yang diajarkan di sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia-Belanda, yang sampai saat semakin menampakkan eksistensinya.
C.  Peran Madrasah dalam Proses Transmisi Ilmu Pengetahuan
Konstribusi madrasah dalam proses penyebaran ilmu pengetahuan sudah tidak dapat kita sangsikan, mengenai peran madrasah dalam proses transmisi ilmu pengetahuan tersebut dapat kita perhatikan dari munculnya madrasah-madrasah yang ada di Indonesia. Diantaranya adalah Madrasah Adabiah-biasa digunakan Sekolah Adabiah atau Adabiah School yang didirikan oleh Abdullah Ahmad pada tahun 1909,[5]  yang terkenal sebagai plopor pembaharu  di Minangkabau pada mulanya Madrasah Adabiyah ini bercorak agama an sich. Madrasah ini sering dijadikan rujukan oleh para penulis sejarah pendidikan Islam di Indonesia sebagai madrasah yang tumbuh pada masa awal pembaharuan. Akan tetapi setelah madrsah ini mengelalmi perubahan menjadi Holand Inland School (HIS) Adabiyah, Madrasah Adabiyah ini lebih cenderung seperti sekolah Belanda yang memasukkan mata pelajran umum ditambah dengan materi pendidikan agama.
Selanjutnya pada tahun 1910 didirikan Madrasah School (Sekolah Agama) yang dalam perkembangannya berubah menjadi Diniyah School (Madrasah Diniyah) dan nama diniyah inilah yang kemudian menjadi popular.  Madrasah Diniyah, yang didirikan oleh Zainuddin Labai el-Yunusi pada tahun 1915. Madrasah Diniyah Zainuddin Labai ini dilaksanakan dengan sistem kelas dengan susunan mata pelajaran terpadu atara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu umum. Madrasah ini pada awalnya mengajarkan dasar-dasar bahasa arab kemudian melatih pembacaan al-Qur’an. Pengetahuan umum yang diberikan di madrasah ini adalah meliputi sejarah dan ilmu bumi. Namun secara umum madrasah ini lebih menekankan pada penguasaan bahasa arab, sehingga pada kelas yang lebih tinggi teks-teks untuk pengetahuan umum pun menggunakan bahasa arab[6]. Madrasah ini sejalan dengan pola yang ditawarkan oleh gerakan pembaharuan di Timur Tengah. Disamping itu juga ada Madrasah Sumatra Tawalib yang didirikan oleh Abdul Karim Amrullah, madrasah ini memiliki perbedaan dalam hal kurikulum dan buku-buku teks yang diajarkan di Madrasah Adabiyah dan Madrasah Diniyah lainnya. Di Madrasah Sumatra Tawalib ini mata pelajaran dan kitab-kitab yang digunakan adalah tetap memakai kitab-kitab seperti diajarkan di surau yang menjadi rujukan utama, seperti kitab Taqrib, Fath al-Qarib, al-Muhadzdzab, dan Bidayah al-Mujtahid. 
Disamping madrasah-madrasah yang tumbuh dan berkembang di Minangkabau seperti dijelaskan di atas, di pulau Jawa juga tumbuh dan berkembang madrasah-madrasah sebagai pusat transmisi ilmu pengetahuan agama Islam. Sebagian madrasah dipulau Jawa lebih dekat dengan sistem sekolah model Belanda, ada juga madrasah yang dipengaruhi oleh perkembangan pembaharuan pendidikan di Timur Tengah, dan juga ada tipe madrasah yang merupakan konvergensi antara sistem pendidikan pesantren dengan sistem madrasah atau sekolah modern.
Madrasah-madrasah yang ada di pulau jawa adalah madrasah yang didirikan oleh KH.ahmad Dahlan, beliau mendirikan madrasah dengan memakai bahasa arab sebagai bahasa pengantar dalam lingkungan kraton Yogyakarta, meskipun pada akhirnya mengalamai kegagalan. Namun kegegalan tersebut tidak menyurutkan semangat beliau, pada tanggal 1 Desember 1911 Ahmad Dahlan mendirikan sekolah dasar di lingkungan kraton Yogyakarta[7]. Di sekolah ini pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru pribumi berdasarkan sistem gubernemen yang ditambah dengan  pelajaran agama. Sekolah ini merupakan sekolah Islam swasta pertama yang mengembil persyaratan untuk mendapatkan subsidi pemerintah dan kemudian mendapat subsidi tersebut dari pemerintah Belanda. Sekolah dasar yang dibangun oleh Ahmad Dahlan ini lebih menyerupai sekolah setingkat dalam sistem pendidikan Belanda, meskipun beliau masih lebih menunujukkan pengaruh keagamaannya. Madrasah inilah yang menjadi embrio madrasah-madrasah selanjutnya di lingkungan Muhammadiyah setelah Muhammadiyah terbentuk pada 18 November 1912.
Tokoh lain yang terkenal dalam pembaharuan pendidikan adalah KH.Hasyim Asy’ari, beliau mendirikan madrasah Salafiyah pada tahun 1919 di lingkungan pesantren Tebu Ireng Jombang. Karena beliau sebagai kiai kharismatik dan juga mempunyai posisi central di lingkungan pesantren di pulau jawa, maka pendirian madrasah juga dengan cepat diikuti oleh pesantren-pesantren lain di jawa dan madura.[8] Disamping itu beliau juga mempunyai posisi yang sangat strategis sebagai pendiri Nahdatul Ulama pada tahun 1926. Madrasah inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal dari tumbuh dan berkembangnya madrasah-madrasah dilingkungan Nahdatul Ulama.
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa sejak abad 20 inilah pertumbuhan dan perkembangan madrasah sebagai salah satu pusat transmisi dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia telah menyebar keberbagai penjuru di wilayah Indonesia baik yang ada di lingkungan pesantren maupun yang tidak, dengan nama dan sebutan yang cukup berfariasi. Meskipun pada wal perkembangannya transmisi ilmu pengetahuan tersebut hanya terbatas pada ilmu pengetahuan agama Islam. Akan tetapi pada tahun 1930-an, pembaharuan sudah sedikit demi sedikit sudah mulai tampak dan bahkan eskalasinya semakin cepat dan meningkat, dengan tujuan untuk semakin memantapkan eksistensi madrasah yaitu dengan menambahkan ilmu pengetahuan skuler, sebagai sebuah respon terhadap perkembangan peradaban. Munculnya madrasah-madrasah baru tersebut cikal bakalnya tidak lepas dari madrasah-madrasah yang tumbuh pada masa pertumbuhan dan juga masa Islam klasik abad pertengahan di Timur Tengah.
Pendidikan madrasah di Indonesia berbeda dengan dengan madrasah pada masa pertengahan, dimana pada waktu itu madrasah adalah sebagai seolah lanjutan atau perguruan tinggi sebagai tempat untuk mengembangkan keilmuan. Sedangkan di Indonesia madrasah mengacu kepada lembaga pendidikan yang memberikan ilmu pengetahuan agama Islam, dari tingkat rendah, menengah (MI, MTs dan MA) dan madrasah Diniyah dengan berbagai variannya  tidak termasuk perguruan tinggi.
Madrasah mengalami perkembangan secara progresif. Pada tahun 1970-an masih banyak orang yang memandang sinis terhadap madrasah, kini sikap mereka berbalik arah dengan menyebut madrasah sebagai sekolah plus lebih-lebih yang ada di lingkungan pesantren. Disamping memberikan pelajaran umum (science) juga menanamkan ajaran keagamaan yang tidak terbatas pada ranah kognitif, tetapi juga masuk pada tataran etika, moral dan tingkah laku (akhlak).
Madrasah pada saat ini telah mencapai puncak perkembangannya, dengan segala kelebihan dan kekurangnnya, madrasah tidak dapat dipungkiri telah memberikan konstribusi yang besar dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Menurut data statistic BIRO Humas Depag RI (2006) sebagaimana dikuti oleh Ida Farida dan Anis Masruri,[9] jumlah madrasah negeri dan swasta dari mulai pendidikan dasar, menengah, dan atas diseluruh Indonesia adalah 37.363. pada tingkat pendidikan dasar diperkirakan terdapat 22.799 Madrasah Ibtidaiyah yang terdiri dari 1.482 madrasah negeri dan 21.317 madrasah ibtidaiyah swasta. Pada tingkat pendidikan menengah (MTs) terdapat 10.792 Madrasah Tsanawiyah yang meliputi 1.168 Madrasah Negeri dan 9.624 adalah Madrasah swasta. Sementara jumlan pendidikan tingkat atas atau Madrasah Aliyah berjumlah 3.772 yang terdiri dari 557 madrasah negeri dan 3.195 madrasah Aliyah swasta.
Dari paparan tersebut di atas, terlepas dari realitas sosio-politik yang mengitarinya terhadap perkembangan madrasah, madrasah sebagai bentuk modernisasi dari lembaga pendidikan pesantren telah memiliki akar historis yang mengakar cukup dalam di masyarakat Indonesia dalam tradisi pengembangan ilmu. Meskipun demikian, eksistensinya masih berkisar pada paradigma penyebaran ilmu pengetahuan-untuk tidak mengatakan dakwah-semata. Ketika kondisinya demikian maka madrasah tidak lebih dari sekedar majlis ta’lim yang hanya berpijak pada kacamata doktriner, belum beranjak pada tingkatan pemikiran yang lebih kritis-ilmiah.
Dalam konteks kemodernan, madrasah sebagai center pengembangan keislaman dan keilmuan, tentunya harus segera keluar dari kubangan paradigma dakwah seperti yang berjalan selama ini. Akan tetapi madrasah harus beranjak menjadi laboratorium dimana transmisi ilmu pengetahuan didalamnya harus selalu di updet dikritik dan dikaji secara terbuka (open ended bukan closed ended) untuk menghindari adanya expired knowlwdge yang sangat berbahaya terhadap kemanusiaan dan pradaban secara umum.
Melihat realistas historis munculnya madrasah yang mampu berdialog dengan pradaban keilmuan yang diwarisi oleh colonial, tentunya memberikan injeksi spiritualitas kepada kita agar mengambil nilai historis yang untuk memulai keberanjakan madrasah dari paradigma dakwah yang doktriner-eksklusif kearah paradigma akademik-inklusif yang berlandaskan etika tauhidik. Sehingga output yang diharapkan adalah peserta didik atau murid yang berwawasan semesta atau rahmatan lil’alamin.

D.  Bentuk-Bentuk Transmisi Ilmu Pengetahuan di Madrasah
Perpaduan antara sistem pada pondok pesantren atau pendidikan langgar dan sistem yang berlaku pada sekolah-sekolah modern (kolonial) yang menjadi embrio kelahiran madrasah maka proses pendidikan dan pengajaran yang dipergunakan di madrasah tentunya juga mengalami modifikasi dan penyesuaian. Proses perpaduan tersebut berlangsung secara berangsur-angsur dan mengikuti sistem klasikal, dengan menggunakan kursi, meja dan papan tulis dan media pembelajaran  lainnya.
Kurikulum madrasah dan sekolah-sekolah agama masih mempertahankan agama sebagai mata pelajaran pokok, walaupun dengan persentase yang berbeda. Pada waktu pemerintahan Republik Indonesia, kementrian agama yang mengadakan pembinaan dan pengembangan terhadap sistem pendidikan madrasah melalu kementrian agaman, merasa perlu menentukan kriteria madrasah. Kriteria yang ditetapkan oleh menteri agama untuk madrasah-madrasah yang berada dalam wewenangnya adalah haarus memberikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok, paling sedikit enam jam dalam seminggu. 
Sabagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa transmisi ilmu pengetahuan di madrasah pada awalnya hanya terbatas pada ilmu-ilmu keislaman yang bersifat naqliyah. Dan juga memasukkan ilmu umum, yakni membaca dan menulis huruf latin, bahasa Indonesia, berhitung, ilmu bumi, sejarah Indonesia dan dunia, olah raga dan kesehatan[10]. Akan tetapi pada tahap perkembangannya madrasah sudah mengalami perubahan yang cukup maju, yaitu dengan sains (ilmu alam dan social-humaniora) sebagai bahan pelajarannya dan juga teknologi dan informasi seperti yang belangsung saat ini dengan tradisi akademik yang kritis dan terbuka.
Proses transmisi ilmu dapat kita lihat dari sistem pendidikan yang diterapkan di madrasah pada awal kemunculannya. Dimana otoritas pendidikan di madrasah pada awalnya berada di tangan ulama atau kiai sebgai top leader. Dalam usaha menyelenggarakan pendidikan, mereka mengembangkan semacam staf pengajar untuk memperlancar proses transmisi ilmu tersebut. Pada puncak struktur hirarkinya, ulama atau kiai dapat disejajarkan dengan professor (guru besar), yang mengajar sesuai dengan keahlian dan komptensi keilmuannya, setelah mereka mendapat ijzah al-tadris dari gurunya. Karena itu tidak jarang kita temukan kiai yang ahli tafsir, kiai hadis, kiai tasawuf dan sterusnya.
Syarat-syarat bagi seorang guru madrasah diantaranya adalah memiliki kapasitas ilmu yang cukup tentang agama, kadang disyaratkan harus hafal al-Qur’an, mengetahui tata bahasa arab serta ilmu-ilmu lainnya, seperti matematika dan sastra.[11] Selain itu mereka harus mempunyai akhlak mulia, bertakwa dan taat melaksanakan ajaran agama. Bahkan perinsip yang harus dipegang oleh guru madrasah adalah bahwa seorang guru harus menyantuni yang kecil dan berlaku adil dalam berinteraksi dengan mereka.
Proses transmisi ilmu terjadi melalui kegiatan belajar mengajar, dimana murid berhungan langsung dengan guru secara formal di ruang kelas. Sistem belajar mengajar dengan kegiatan formal tatap muka secara kolektif maupun individual telah menciptakan suasana belajar yang kondusif. Metode pembelajaran yang digunakan di madrasah untuk mempercepat murid dalam memahami materi pelajaran sangat berfariatif sesuai dengan kecerdasan dan kemampuan muridnya. Diantaranya adalah menggunakan metode menghafal, ceramah, dan diskusi. Murid mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru, atau sebaliknya guru mendengarkan apa yang dikatakan oleh murid, terkadang guru memberikan ilustrasi, menyampaikan kisah-kisah, praktek individu, mengambil pelajaran dari pristiwa yang terjadi, targhib dan tahzib (reward dan punishment), uswah hasanah dan memelihara karakter-karakter tertentu. Disamping itu, di luar jam pelajaran kadang-kadang madrasah menerapkan sistem pembelajaran yang dibimbing oleh seorang tutor yang membantu murid mengulang pelajarannya untuk memahami materi-materi yang telah diajarkan dan sukar dipahami, serta membantu murid yang kecerdasannya terbatas.
Pada tahap perkembangan selanjutnya, seperti yang tampak saat ini, madrasah telah diakui oleh pemerintah sebagai lembaga pendidikan yang setara dengan sekolah umum, dan madrasah telah dianggap sebagai sekolah umum yang bercirikan agama. Bahkan pemerintah telah banyak memberikan bantuan untuk pengembangan madrasah baik secara finansial maupun sarana dan prasarana pembelajaran yang dibutuhkan oleh madrasah sebagai tempat teransmisi ilmu dan tempat untuk mendidik anak-anak bangsa di masa yang datang.
Salah satu yang menjadi kelebihan madrasah adalah terletak pada penanaman tauhid, memahami fenomena alam dan kemanusiaan sebagai satu kesatuan yang holistik. Kemanusiaan disini berarti peningkatan sumber daya manusia yang seimbang, beriman, berilmu dan beramal, cakap secara lahir maupun batiniah, berkualitas secara emosional, rasional dan spiritual. Disamping itu kelebihan madrasah ada pada visi, misi dan karakteristik yang khas di dalam masyarakat dan bangsa Indonesia dilihat dari segi kebudayaan, pendidikan, politik, dan bahkan ekonomi.
Untuk  membangun masyarakat yang demokratis serta mengikutsertakan masyarakat secara optimal di dalam penyelenggaraan dan pengeturan kehidupan mereka, maka lembaga pendidikan madrasah merupakan contoh hidup yang perlu diaktualisasikan, Karena di dalam lembaga pendidikan madrasah ada;
1.      Pendidikan yang berbasis masyarakat, kesatuan antara pendidikan masyarakat dan kebudayaan, diwujudkan dalam pendidikan madrasah. Dengan diikutsertakannya masyarakat di dalam pelenggaraan dan pengelolaan pendidikan, maka pendidikan tersebut betul-betul berakar  dalam masyarakat di dalam kebudayaan sehingga dapat memfungsikan nailai-nilai budaya tersebut.
2.       Akar budaya yang kuat yang melekat dengan pengakuan nilai-nilai moral yang tinggi yang ada dalam kebudayaan Indonesia, kurang mendapatkan tempat yang semestinya di lembaga-lembaga pendidikan selain madrasah. Tauran antar pelajar, penggunaan narkoba, hamper tidak ditemukan di lembaga-lembaga madrasah. Hal ini menandakan betapa nilai-nilai luhur masih tetap hidup di dalam system pendidikan madrasah.
3.        Otonomi dan desentralisasi yang melekat pada tubuh madrasah patut dijadikan contoh dan model di dalam penyelnggaraan pendidikan nasional dalamrangka pelaksanaan otonomi daeran dan otonomi pendidikan ke depan.
Disamping kelebihan yang melekat pada madrasah, ada beberapa kelemahan yang harus diantisipasi oleh para pengambil kebijakan di madrasah-madrasah, agar tetap surprise di tengah gempuran pradaban modern saat ini. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain:
1.      Madrasah telah kehilangan akar sejarahnya yang kuat, sehingga pada saat ini Nampak terjadi dehistorisasi madrasah.
2.      Terdapat dualism pemaknaan terhadap madrasah. Disatu sisi madrasah dimaknai sama dengan sekolah umum yang memiliki cirri keagamaan, karena didalamnya ada kurikulum yang tersusun dengan rapi. Sementara disisi yang lain madrasah dianggap sebagai pesantren dengan system klasikal yang kemudian dikenal dengan madrasah diniyah. Dengan demikian sub system pendidikan nasional madrasah belum memiliki jati diri yang dapat dibedakan dari lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
E.  Kesimpulan
Dari apa yang penulis paparkan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan akhir, bahwa madrasah di Indonesia sebagai tempat proses transmisi ilmu memiliki akar sejarah yang cukup kuat yaitu sejak abad pertengahan. Meskipun madrasah di Indonesia memiliki perbedaan yang cukup mencolok, dimana madrasah pada abad pertengahan adalah sebagai pendidikan tingkat lanjut, sementara di Indonesia madrasah adalah sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah serta atas (MI, MTs, dan MA), yang tersebar di berbagai penjuru nusantara baik madrasah yang berstatus negeri maupun swasta dengan tipe dan karakter yang berbeda-beda.
 Eksistensi madrasah sebagai tempat transmisi pengetahuan tidak dapat dirgukan. Madrasah adalah sebagai kelanjutan proses pembaharuan lembaga pendidikan Islam tradisional langgar, masjid dan pesantren yang dipadukan dengan sistem sekolah yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial, terlepas dari pengaruh dan latar belakang sosial politik yang mengitarinya pada masa itu.
Transmisi ilmu di madrasah lebih didominasi oleh ilmu-ilmu agama. Meskipun demikian madrasah juga mengajarkan ilmu-ilmu umum yang pada saat ini populer dengan sebutan sains, dengan menggunakan  sistem klasikal, baik secara kolektif mupun individual dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, hafalan, imlak dan lain-lain serta dilengkapi dengan sarana perpustakaan dan media pembelajaran lainnya dan lengkap dengan kurikulum yang up to date.

*Mahasiwa Program Doktor (S3) Kependidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Suanan Kalijaga Yogyakarta, Dosen STI  Al-Karimiyyah Sumenep Jawa Timur.

Daftar Pustaka
 Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi Misi dan Aksi, Jakarta: Rajawali Pers, 2004
Armai Arief, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Kalasik¸ Bandung: Angkasa, 2005
Azyumardi Azra, Esai-Esai Intlektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1998
Enung K Rukiyati dan Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: Pustaka Setia, 2006
Ida Kusmana dan JM.Muslimin, Paradigma Baru Pendidikan Restrospeksi dan Proyeksi Modenisasi Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: IISEP bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Direktorat Jendral pendidikan Tinggi Islam Depag RI, 2008
Karel Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3S, 1994
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995 Rohinah M Noor, KH.Hasyim Asy’ari memodernisasi NU dan Pendidikan Islam, Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2010
Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta: Logos, 1999



[1] Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Visi Misi dan Aksi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2004), hlm. 14
[2] Azyumardi Azra, Esai-Esai Intlektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1998), hlm. 88
[3] Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos, 1999), hlm.79
[4] Karel Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3S, 1994, hlm. 26-28.
[5] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995), hlm. 63
[6]Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya,……..hlm. 103
[7] Karel Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah,………. hlm. 52.
[8] Rohinah M Noor, KH.Hasyim Asy’ari memodernisasi NU dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2010), hlm. 8-20.
[9] Ida Farida & Anis Masruri, Konstribusi UIN Terhadap Peningkatan Mutu Madrasah; Perpustakaan sebagai Pusat sumber Belajar. Dalam Kusmana dan JM.Muslimin, Paradigma Baru Pendidikan Restrospeksi dan Proyeksi Modenisasi Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: IISEP bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Direktorat Jendral pendidikan Tinggi Islam Depag RI, 2008), hlm.281
[10] Enung K Rukiyati dan Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm.120.
[11]Armai Arief, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Kalasik¸ (Bandung: Angkasa, 2005), hlm.206.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar