Oleh: Rahbini, M.Pd
(Diterbitkan di kopertais wilayah III DIY: Edisi Buku)
A.  Pendahuluan
Proses pendidikan sebenarnya telah belangsung cukup lama, yaitu sepanjang sejarah manusia itu sendiri, dan seiring dengan perekembangan sosial budayanya. Secara umum aktifitas pendidikan sudah ada sejak manusia diciptakan, karena manusia tidak termasuk makhluk instinktif, melainkan makhluk logik atau rasional dan spiritual.


Menurut pandangan Islam pendidikan adalah sebagai sebuah proses, berawal dari saat Allah menciptakan alam ini. Selanjutnya tugas-tugas pendidikan itu dilimpahkan kepada para nabi dan rasul untuk mendidik manusia di muka bumi. Sehubungan dengan hal ini, para umat Islam ahli pendidikan, berusaha menemukan kembali pedoman tersebut dengan menyusun konsep pendidikan Islam dalam konteks zamannya.
Seiring dengan perkembangan peradaban yang dicapai oleh umat manusia, wajah kehidupan berubah menjadi sesuatu yang kompleks dan sophisticated yang mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Era modern yang ditandai dengan laju kencangnya arus informasi dan komunikasi membuat jarak antar satu Negara dengan Negara yang lain menjadi sempit dan mencair, seakan tanpa batas. Konsekuensinya transfer budaya dan life style tidak bisa dihindari dan berujung pada krisis spiritualitas dan ketidakbermaknaan.
Situasi yang demikian mengakibatkan krisis eksistensi dan moralitas pada suatu bangsa tertentu. Masyarakat terus berusaha mencari alat untuk menepis hantaman gelombang tersebut melalui pendidikan yang masih dipercaya sebagai tameng utama penyelamat peradaban. Namun, lembaga pendidikan sepertinya masih setengah-setengah dalam melakukan usaha membentuk manusia yang tangguh dan mempunyai wawasan semesta yang dilandasi oleh etika tauhid yang membumi. Bagaimanakah sebenarnya kensep tarbiyah itu dapat kita rumuskan untuk membentuk suatu kesadaran ma’rifat, sehingga output dari lembaga pendidikan Islam betul-betul tangguh dan manusia yang paripurna (par excellence) dan menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin).
B. Pembahasan
1.    Pendidikan dalam Konsep Tarbiyah
Dalam pengertian umum pendidikan sering diartikan sebagai usaha pendewasaan manusia. Tetapi merujuk pada al-Qur’an, pendidikan mencakup segala aspek  jagad raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai pendidik yang Maha Agung. Kosa kata rabba yang dirujuk sebagai akar kata dari konsep tarbiyah atau pendidikan, pada hakikatnya merujuk kepada Allah selaku murabby (pendidik) sekalian alam. Kata rabb dan murabby berasal dari akar kata seperti termuat dalam ayat al-Qur’an:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَحَا الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْحُمَا كَمَا رَبَّيانِي صَغِيْرًا
Artinya; dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Menelusuri makna ayat tersebut terlihat kedudukan Allah SWT sebagai pendidik agung yang tidak dapat dilepaskan dari kajian filsafat pendidikan Islam. Sebagai Tuhan pencipta dan pemelihara alam semesta, aktifitas dan proses pendidikannya meliputi seluruh ciptaannya. Allah yang maha pencipta adalah juga tuhan mengatur, memelihara, memberi rezeki seluruh makhluk ciptaannya yang ada di alam semesta.
Meskipun kata tarbiyah tidak digunakan dalam leksiologi al-Qur’an, akan tetapi ada beberapa kata yang sebangun dengan kata itu, yaitu ar-rab, rabbayani, nurabbi, ribbiyyun, dan rabbani. Apabila tarbiyah diidentikkan dengan kata ar-rab, pada ahli mendefiniskannya sebagai berikut: Fahrur Rozi berpendapat bahwa ar-rab merupakan fonem yang seakar dengan tarbiyah yang berarti at-tanmiyah, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Ibnu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi mengartikan ar-rab dengan makna pemilik, yang maha memperbaiki, yang meha mengatur, yang maha menambah, yang maha menunaikan. Al-Jauhari mengartikan tarbiyah, rabban dan rabba dengan memberi makan, memelihara dan mengasuh. Apabila istilah tarbiyah diidentikkan dengan bentuk fi’il madhi-nya (rabbayani) dan bentuk fi’il mudhari’-nya nurabbi  maka tarbiyah mempunyai arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, membesarkan dan menjinakkan.[1]
Sementara menurut Imam Baidlawi[2], tarbiyah bermakna menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan secara bertahap. Sementara Sayyid Naquib al-Attas[3] menolak istilah tarbiyah dan ta’lim yang selama ini dianggap sebagai pengertian yang lengkap mengenai pendidikan dalam Islam, baik salah satu (tarbiyah atau ta’lim) maupun keduanya (tarbiyah wa ta’lim), dengan alas an diantara keduanya menunjukkan ketidaksesuain makna. Beliau menolak istilah tarbiyah karena istilah ini hanya menyinggung aspek fisikal dan mengembangkan tanaman-tanaman dan juga terbatas pada aspek fisikal dan emosional dalam pertumbuhan dan perkembangan binatang dan manusia. Dengan kata lain beliau menjelaskan tarbiyah hanya berkaitan dengan pengembangan fisikal dan emosional manusia.
Kata tarbiyah berakar pada rabb sebagiamana tersebut di atas yang berarti mengasuh, mendidik, menumbuhkan, mengatur. Kata ini juga serumpun dengan rabbun yang sering diartikan Tuhan. Di dunia pendidikan, kata tarbiyah identik dengan terjemahan pendidikan itu sendiri.  Berbeda dengan ta'lim yang berarti pengajaran. Kata ta'lim memuat intisari ilmu sehingga pengajaran atau ta’lim itu adalah proses transfer ilmu (transfer of knowledge). Meskipun demikian, antara kata tarbiyah dan ta'lim selalu berinteraksi dan hanya dapat dibedakan (distinguish) akan tidak tidak bisa dipisahkan (sparate). Sebab, selain telah menjadi konotasi bahasa, keduanya memiliki benang merah yang berkorelatif. Artinya, proses pendidikan mau tidak mau harus diikuti juga dengan proses transfer ilmu (ta’lim). Sebaliknya, pendidikan harus membuat peserta didik berilmu. Maka, benar bila ungkapan: "al-ilmu bit-ta'allum la bin al-nasabi", ilmu itu harus dengan cara belajar yang rasinal bukan karena faktor genitik. 
Dari beberapa batasan dan pengertian tarbiyah di atas, secara implisit dapat dipahami bahwa tarbiyah adalah aktifitas bimbingan yang disengaja untuk mencapai kepribadian muslim, baik yang berkenaan dengan dimensi jasmani, rohani, akal maupun moral. Tarbiyah (pendidikan Islam) adalah proses bimbingan secara sadar seorang pendidik sehingga aspek jasmani, rohani dan akal anak didik tumbuh dan berkembang menuju terbentuknya pribadi, keluarga dan masyakarat yang islami, dalam tarbiyah ada proses naik kearah kehidupan yang hakiki yaitu ma’rifat yang memungkinkan kecerdasan rasional bebas materilisasi sehingga intuisi (kasyf) bisa bekerja secara sempurna. Kecerdasan ma’rifat sebagai puncak dari proses  tarbiyah merupakan akumulasi dari seluruh aksi kecerdasan yang dimiliki manusia. Dunia dipahami secara harmonis menjadi sebuah sintesis hirarkis[4].
Tampaknya, kita memang perlu kembali memahami makna tarbiyah secara holistik dengan melihat hakikatnya. Ketika tarbiyah itu memang semakna dengan rabbun atau Tuhan, maka pada garis finis proses tarbiyah juga harus bermuara pada ma’rifat terhadap Tuhan (Allah)[5]. Jadi, pendidikan yang kering akan nilai-nilai agama dan moral, yang tidak mengantarkan peserta didik pada ma’rifatullah, ia tidak pantas disebut dengan tarbiyah, dengan kata lain, pendidikan itu gagal total.
Apabila tarbiyah hanya berkutat pada hal-hal teknis seperti; pembuatan RPP, desain silabus, kontrak kuliah, presensi siswa, strategi belajar-mengajar, pemanfaatan media, workshop kurikulum, dan seterusnya, maka meski semua hal itu memang diperlukan karena semuanya adalah bagian dari syariat tarbiyah, tapi pada hakikatnya, semua pernik-pernik pendidikan yang sifatnya artifisial, sekali lagi, harus berakhir pada totalitas penghambaan terhadap Allah, sebagai puncak kesadaran untuk membangun pradaban umat manusia. Ketika orientasi ini tidak ada, maka tarbiyah yang dijalankan harus segera di-rekonstruksi ulang karena telah terkooptasi oleh sebuah kegagalan, di dalamnya hanya mampu meningkatkan kemampuan IQ, EQ, dan SQ namun nir Ma’rifat. Ketika hal ini tidak segera dilakukan perbaikan dan pemikiran secara mendalam dengan landasan epestimologi yang jelas, akibatnya akan terjadi malapraktek pendidikan yang tidak bisa memberikan sosulusi terhadap cacat bawaan modernitas saat ini. Sementara, indikasi terhadap penyimpangan ini, sesungguhnya telah mewabah dan menjalar dimana-mana.
Apabila pendidikan, apakah dengan menggunakan istilah tarbiyah atau ta’lim, dan tidak berpijak pada landasan tauhid dan ahlak serta ketakwaan dan tidak bermuara pada episteme ma’rifat, maka ilmu yang ditransfer oleh guru yang lalu diserap oleh peserta didiknya hanya akan menjadi lumbung ilmu yang kering tanpa hikmah dan kearifan dan bahkan masuk dalam kategori expired knowledge yang mengungkung dirinya, bukan malah membebaskan dirinya dengan cahaya (nur) ilahi. Ketika ilmu itu menggunung dan pada saat yang sama, ruhani sang penuntut ilmu masih labil karena tidak berpijak pada landasan ma’rifat secara kuat, maka pada saatnya tiba, ia akan semakin menjauh dari Allah. Inilah bencana paling berbahaya di dunia pendidikan yang sudah hampir sampai pada titik nadirnya. Jadi sabda Nabi, "man izdada ilman walam zazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu’dan” (Siapa yang ilmunya bertambah, tapi hidayahnya tidak, maka ia akan semakin bertambah jauh dari Allah) menemukan titik labuhnya
Program-program pendidikan yang hanya menunjukkan citra belaka yang sifatnya artifisial dan berorientasi pada proyek semata, sudah seharusnya dikritisi dan disadarkan. Lembaga pendidikan yang dalam proses belajar-mengajarnya hanya ingin mengais keuntungan materi (komersialisasi), pada akhirnya akan runtuh pada tindakan penindasan. Sebab, lulusannya hanya akan menjadi sampah yang tidak lapuk oleh zaman dan akhirnya merusak tatanan pendidikan dan kemasyarakat. Maka, jangan heran apabila pendidikan selalu disalahkan-meskipun meminjam bahasanya Fazlur rahman hanya sebuah gejala (symptom)[6]-ketika di tengah masyarakat terjadi penyimpangan moral. Hal itu terjadi karena tugas utama pendidikan adalah pembentukan moral, berilmu yang agamis agar peserta didiknya menjadi alim rabbani yang dipenuhi dengan kesadaran ma’rifat.
Dalam konteks pendidikan Islam (tarbiyah) ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua bagian, yakni; ilmu ma’rifat dan ilmu sains. Ilmu ma’rifat ini bisa terjadi pada makhluk hidup, ilmu ini melibatkan orang yang ingin mengetahui dan sesuatu yang ingin diketahui secara simultan, melalui perkataan ataupun cara-cara lain yang bisa dipahami dengan jelas. Setelah terlebih dahulu ada rasa saling mengenal dan mempercayai diantara keduanya dan keinginan untuk dipahami oleh diri yang ingin berbagi rahasia-rahasia dan kondisi-kondisi batinnya.
Jika benar-benar ingin mendekatkan diri pada objek ilmunya melalui jalan tarbiyah, dia dengan sendirinya mengharuskan orang yang ingin mengetahui itu mengenal dan mengakui sesuatu yang dingin diketahuinya dengan cara yang cepat, sesuai dengan personalitas dan tingkat yang ingin diketahuinya. Ma’rifat adalah makanan bagi setiap jiwa manusia[7]. Dalam perspektif spirutalitas ma’rifat ini sama dengan ilmu ladunni dan hikmah. Dengan demikian kesadaran ma’rifat ini dapat dikategorikakn sebagai ilmu tertinggi dan selalu menjadi rujukan dan pedoman dalam semua formulasi sains dan aktifitas umat.  
2. Ma’rifat Sebagai Landasan Pendidikan Islam
            Landasan utama kesempurnaan setiap individu ataupun suatu komunitas terletak pada kualitas ilmu pengetahuan melalui proses pendidikan (tarbiyah) yang bermuara pada ma’rifat (pengetahuan) dan pola fikir intuitif (kasyf) mereka. Kesempurnaan tersebut tidak mungkin terealisasi secara utuh tanpa didukung kualitas pengetahuan yang tinggi, sedangkan pengetahuan yang tinggi tersebut hanya bisa diraih melalui proses tarbiyah. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan pengetahuan serta raisonalitas. Pesan Islam tentang pentingnya peningkatan intelektual dan keilmuan akan banyak kita dapati di berbagai rujukan tradisional yang tidak terhitung jumlahnya. Sebagai contoh, hadis yang berbunyi, “Tafakur sesaat lebih utama dibanding ibadah satu tahun.” Sedemikian tinggi nilai ma’rifat di mata Islam, sehingga ia dikategorikan sebagai paling mulianya aktifitas intlektual, yang dibandingkan dengan ibadah satu tahun lamanya semata karena didasari ilmu dan ma’rifat.
            Allah swt dalam al-Quran menjelaskan bahwa salah satu fungsi diutusnya rasul adalah untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan pola pikir manusia, ”..dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah”[8]. Dalam pandangan Islam, kualitas sebuah perbuatan bisa diukur dari tingkat kesadaran ma’rifat pelakunya. Jika peserta didik tidak melandasi perbuatannya dengan pengetahuan dan ma’rifat, perbuatannya itu tidak bernilai sama sekali. Dengan kata lain, tingkat kualitas suatu tindakan ditentukan sesuai dengan derajat ma’rifat pelakunya. Semakin tinggi derajat ma’rifat seseorang, semakin tinggi pula kualitas perbuatannya, meskipun perbuatan itu secara lahiriah nampak remeh, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat “tidurnya orang alim yang (ma’rifat) adalah ibadah.”
            Di sisi lain, penekanan Islam dalam pengutamaan kualitas ilmu pegetahuan yang diperoleh melalui tarbiyah sangat mencolok, seperti yang kita amati dari firman Allah “..apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu”. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT lebih menekankan kualitas ilmu pengetahuan yang terbaik, dari sini sangat jelas bahwa amal terbaik adalah ilmu pengetahuan dengan syarat dilandasi dengan kecerdasan ma’rifat.
            Ringkasnya, ketakwaan baik individual sosial tidak mungkin didapati kecuali dengan ilmu yang diperoleh melalui tarbiyah dan bermuara pada dermaga ma’rifat. Di samping itu, kemuliaan manusia yang dinilai dengan ketakwaannya, juga dinilai dengan sumber ketakwaannya tersebut; yaitu ma’rifat. Maka, betapa besar perhatian dan penekanan ajaran Islam terhadap nilai tarbiyah dan ma’rifat, sebagaimana yang ditegaskan firman Allah swt dalam hadis qudsi berikut ini: “Aku ibarat harta yang terpendam, maka Aku senang untuk diketahui. Oleh karena itu, Kuciptakan makhluk agar diriku diketahui”.
            Penciptaan makhluk yang ada di alam semesta ini, khususnya manusia yang memiliki berbagai potensi, adalah untuk ber-ma’rifat kepada Allah yang merupakan tujuan utama penciptaan. “Tidaklah Kucipta-kan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”[9]. Jelas, dilihat dari sisi definisi, tarbiyah berbeda dengan ma’rifat. Namun, jika kita lihat hubungan keduanya, maka kita akan dapat menilai eratnya hubungan itu, karena bagaimana mungkin kita akan beribadah kepada Zat yang tidak kita kenal, dan mungkinkah kita merasa sudah mengenal Zat Maha sempurna, yang selayaknya disembah dan harus kita tuju untuk kesempurnaan jiwa kita, sementara kita tidak melakukan ibadah kepada-Nya, padahal kita tahu bahwa kesempurnaan jiwa mustahil dicapai tanpa ibadah, baik yang mahdhah maupun ghairu mahdhah.
            Awal agama adalah mengena Allah (ma’rifat), maka awal yang harus diraih dalam tarbiyah dalam ber-ma’rifat. Pengetahuan tentang penciptanya yang melahirkan suatu keyakinan. Ia tidak akan mencapai suatu keyakinan tanpa pengetahuan, lawan dari ma’rifat adalah taqlid yang berarti mengikuti ucapan seseorang tanpa landasan argumen rasional. Maka, taqlid tidak dikategorikan sebagai ilmu. Ia sama sekali tidak akan meniscayakan keyakinan humanis-teoantroposentris transendental.
            Setiap tarbiyah dan ma’rifat, yang dimiliki oleh setiap individu ataupun suatu komunitas sangat berpengaruh pada perilaku moral dalam kehidupan mereka sehari-hari dan lingkungan dimana mereka tinggal. Kita bisa bandingkan mereka yang meyakini pandangan dunia Ilahi dengan mereka yang menganut pandangan dunia materialis produk atau anak kandung modernitas. Kelompok kedua ini menganggap bahwa kehidupan manusia tidak memiliki kepastian dan kejelasan tujuan yang harus ditempuh, anggapan yang bermuara dari keyakinan ini bahwa permulaan alam ini dari shudfah (kebetulan), sehingga mereka melihat bahwa kematian merupakan titik akhir dari kehidupan dan manusia menjadi tiada hanya dengan kematian. Kematian itu akan menghadang setiap orang tanpa pandang bulu, zalim maupun adil, berbudi luhur maupun tercela.
            Pendidikan ma’rifat bertujuan melahirkan suatu kepribadian yang bebas dari perangkap material yang terbatas, sehingga manusia bisa mengembangkan imajinasi kreatifnya (creative imagination). Pendidikan kritis dalam konsep tarbiyah diletakkan sebagai awal transformasi pendidikan ma’rifat, sehingga manusia bebas dari struktur konflik kepentingan antara ego personal dan kekerasan sosial[10]. Dengan demikian konstruk pendidikan Islam (tarbiyah) tidak hanya sukses membuat orang cerdas dan terampil, tetapi juga berkesadaran ma’rifat. Pendidikan Islam (tarbiyah) yang meletakkan iman dan takwa sebagai pendulum utamanya, sebelum beranjak pada ilmu pengetahuan dan teknologi, harus dirumuskan secara lebih konseptual terkait dengan kema’rifatan.
            Maka, ketika anggapan-anggapan tersebut menjadi dasar pengetahuan, sekaligus menjadi dasar keyakinan, mereka hidup sebagai hedonis yang selalu berlomba untuk mencari segala bentuk kenikmatan duniawi dan menganggapnya sebagai kesempurnaan sejati yang harus dicari oleh setiap orang, sebelum ajal mencengkeram mereka. Menurut mereka, tidak ada sesuatu yang lebih sakral dibanding kenikmatan hidup ini, dan nilai-nilai moral seseorang akan terus berubah seiring dengan perubahan situasi dan kondisi dunia dengan berbagai atributnya, sehingga standar etika mereka adalah segala hal yang berkaitan dengan prinsip materialisme dan hedonisme.
Berbeda dengan pandangan agama semitik, khususnya Islam. Bertolak dari prinsip tauhid muncullah keyakinan-keyakinan, seperti adanya tujuan-tujuan pasti yang tak pernah sia-sia di balik penciptaan alam semesta ini, termasuk penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah SWT, “Apakah engkau menyangka bahwa telah kami ciptakan dirimu (manusia) dengan kesia-siaan, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami”[11].
Dengan ungkapan lain, yang lebih mendasar dan fundamental dalam hakikat pengetahuan dan ma’rifat adalah pensucian jiwa dan tazkiyah hati, dan bukan dengan analisa pikiran dan demonstrasi rasional semata. Para ‘urafa dan sufi beranggapan bahwa segala ma’rifat dan pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musyahadah, dan mukasyafah lebih sesuai dengan kebenaran daripada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal semata. Mereka menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasi-Nya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate) dan intuitif dengan hakikat tunggal alam (Sang Pencipta) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah.
Sebagai hasil pengetahuan ini, kita mengetahui segala seuatu di dunia yang yang tercerap, akan tetapi bukan melalu perantara persepsi ataupun konseptualisasi, dna bahkan bukan melalui penampakan dan refleksi ataupun jenis representasi yang disengaja, melainkan melalui penyatuan dengan, atau kehadiran dalam realitas substansi ilahi. Kesadaran kesatuan eksistensial ini adalah kesadaran mistik, yang tidak hanya mungkin secara filosofis dalam term ilmu huduri, tetapi juga dicapai melalui kebahagian puncak kontemplasi logis manusia di dunia[12].
Makrifat dan pengetahuan dalam istilah Tasawuf dan Irfan adalah penyaksiaan hakikat-hakikat dengan mata batin dan hati yang tercerahkan setelah melewati tingkatan-tingkatan pensucian jiwa dan telah sampai pada kualitas-kualitas kejiwaan yang konstan. Pengetahuan intuitif dan irfani adalah sejenis pengetahuan yang bersumber dari hati (qalb, heart), pensucian, dan tazkiyah jiwa, atau suatu bentuk pengetahuan yang tak berdasarkan pada empirisitas, indrawi, akal, pikiran, dan argumentasi rasional, melainkan bersumber dari mata air sair suluk, menapaki jalan-jalan spiritual, tahzib dan tazkiyah jiwa, dan penjernihan hati. Pengetahuan seperti ini tidak dapat disamakan dengan pengetahuan hushuli yang bersumber dari suatu konsepsi-konsepsi rasional tarbiyah, melainkan suatu pengetahuan ma’rifat, intuisi, immediatehudhuri. (langsung), kehadiran, dan
            Tanpa peletakan dasar kebijakan dan berusaha menaikkan poroses tarbiyah ketingkat yang lebih arif (ma’rifat) di tengah gempuran modernitas sebagaiman disebutkan di atas, pendidikan Islam (tarbiyah) akan gagal memberikan pelayanan kebutuhan pendidikan bagi masyarakat publik[13]. Ketika hal ini tidak dipikirkan (unthinkable) oleh para stakeholder pendidikan Islam, maka pendidikan Islam (tarbiyah) akan terkubur dan terhimpit puing-puing pradaban, yang menuntut kepentingan pragmatis.
            Fungsi pragmatis pendidikan Islam (tarbiyah) yang berujung pada kesadaran ma’rifat harus keluar dari kubangan ketabuan yang selama ini menjadi pre-understanding sekolompok mansyarakat, yang menganggap pendidikan hanya sebatas untuk ilmu dan berhenti di titik labuh ini. Sudah seharusnya pendidikan Islam (tarbiyah) membuktikan sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran Islam menampakkan fungsi peragmatisnya. Kegagalan menawarkan program pendidikan yang memberikan peluang kerja dengan panduan psikologis dan spitualitas ma’rifat, adalah awal kematiannya. Di mata publik saat ini kebenaran Islam bukan karena bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah, akan tetapi karena bukti pragmatisnya yang mampu memberikan solusi dalam kehidupan nyata, terutama di era modernitas yang diklaim memiliki penyakit kronis bawaan.
C. Kesimpulan
Dari paparan di atas tentang rekonstruksi pendidikan Islam dalam bingkai tarbiyah menuju kesadaran ma’rifat, dapat ditarik beberapa kesimpulan akhir, bahwa:
1.  Tarbiyah yang berarti membimbing, mendidik, mengasuh dan mengembangkan potensi manusia agar menjadi makhluk yang mencapai puncak kesempurnaan (insan kamil), dengan berbagai kecerdasan yang dimilikinya, baik kognitif, afektif, dan motorik, atau IQ, EQ, dan SQ tidak hanya berhenti disini, sebagaimana terjadi selama ini. Akan tetapi harus berani naik satu tangga menuju kesadaran ma’rifat (ma’rifat quotient).
2.  Kesadaran  ma’rifat (ma’rifat quotient) dalam tarbiyah merupakan sebuah keniscayaan ditengah gemburan peradaban modern yang penuh dengan penyakit konis cacat bawaan. Kecerdasan ma’rifat sebagai puncak dari proses  tarbiyah merupakan akumulasi dari seluruh aksi kecerdasan. Dunia tidak dipahami secara harmonis menjadi sebuah sintesis hirarkis.
3.  Dalam tarbiyah ada proses naik kearah kehidupan yang hakiki yaitu ma’rifat yang memungkinkan kecerdasan rasional bebas materilisasi sehingga intuisi (kasyf) bisa bekerja. Konsekwensi logis dari hal tersebut dapat membentuk pendidikan Islam (tarbiyah) membuktikan fungsi peragmatisnya. Kegagalan menawarkan program pendidikan yang memberikan peluang kerja dengan panduan psikologis dan spitualitas ma’rifat, adalah awal kematiannya

*Mahasiwa Program Doktor (S3) Kependidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Suanan Kalijaga Yogyakarta, Dosen STI  Al-Karimiyyah Sumenep Jawa Timur.

Daftar Pustaka

Abdul Munir Mulkan,  Kecerdasan Ma’rifat Jalan Pembebasan Manusia Dari Mekanisme Konflik, (Pidato Pengukuhan Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004)
Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.
Fazlur Rahman, Islam, Chicago: University of Chicago Press, 1979.
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Maragustam, Mencetak Pembelajar Menjadi Insan Paripurna (Filsafat Pendidikan Islam), Jogjakarta: Nuha Litera, 2010.
Mehdi Ha’iri Yazdi, Ilmu Huduri Prinsip-prinsip Epistemologi dalam Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 1996
Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, Ikhtiar Mewujudkan Pendidikan Bernilai Ilahiyah dan Insaniah di Indonesia, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Peraktik Pendidikan Islam Syed M.Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003.



[1] Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, Ikhtiar Mewujudkan Pendidikan Bernilai Ilahiyah dan Insaniah di Indonesia, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm.30-31
[2] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 112-113.
[3] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Peraktik Pendidikan Islam Syed M.Naquib Al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), hlm.180.
[4] Abdul Munir Mulkan,  Kecerdasan Ma’rifat Jalan Pembebasan Manusia Dari Mekanisme Konflik, ( Pidato Pengukuhan Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004), hlm. 21.
[5] Maragustam, Mencetak Pembelajar Menjadi Insan Paripurna (Filsafat Pendidikan Islam), (Jogjakarta: Nuha Litera, 2010), hlm. 12.
[6] Fazlur Rahman, Islam, (Chicago: University of Chicago Press, 1979), hlm. 186
[7] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Peraktik Pendidikan Islam Syed M.Naquib Al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), hlm.155.
[8]  ( Q.S. Jum’ah : 2)
[9] (Q.S Al-Hujurat : 13)
[10] Abdul Munir Mulkan, Kecerdasan Ma’rifat Jalan Pembebasan Manusia Dari Mekanisme Konflik, ( Pidato Pengukuhan Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004), hlm. 21.

[11] (Q.S. Al-Mu’minun : 115)
[12] Mehdi Ha’iri Yazdi, Ilmu Huduri Prinsip-prinsip Epistemologi dalam Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 43-44.
[13] Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritual Pendidikan Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hlm. 166-167.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar