LAGU LUKA_DUKA KITA

Jutaan kata bermuncratan di jalan raya
Menggasak busuk ludah para abdi negara
Amis darah  memanah luka dada jelata
Anyir nanah menyeruap di bumi nusantara

Orang-orang saling geram menatap tajam
Bertukar nasib dan aib atas nama saudara
Sedang kebenaran kenyataan dalam kalam
Membenam suara di bibir yang terpenjara

disini, di tanah pertiwi
Ada yang terenyuh lara yang membara
Ada yang tersiksa oleh nyerinya luka derita
Ada pula yang terpuruk dalam gemuruh dendam
dan ada yang acuh saja menertawakan kekalahan
Lantas sumpah serapah bermuntahan
Di atas mimbar kehormatan dan podium kebangsaan
Bagai kuala; deras amarah diperah kebiadaban


Yogyakarta, 2009-juni 2010


JUDUL JAUH DISANA

Aku terkapar diantara jarak panjang
Mencakar-cakar menggali hal ihwal atau amsal sebatang pohon
Saat bulan redup di kening kertas kosong atau otakmu

Aku menjerit memanggil namamu dalam keterasingan
Memecah karang batu diantara tebing-tebing terjal
Bersama debur ombak, amarah lautan samudra jiwa

Sekarang, Sahabat!
Sebelum darahmu mendarah-darah di altarku
Sebelum mimpi menua memar langit dan nanah menderas hujan
Aku ingin kau dan aku merenung saling terka
Atau sekedar lepas pandang bersitatap sekedar penawar resah
Karena hutang kata-kata yang tak terlunaskan

Madura-jogjakarta, 2007-2010

REFLEKSI AKHIR TAHUN
            ~teruntuk Sahabat Pergerakan

Tuntas sudah dua belas purnama
Bertengger di pundak-pundak gunung bermagma
Dan matahari yang tak letih menampar
Akan berganti sengatan yang lebih membakar

Maka, dimana-mana tanya berguguran
Dimana aktifis pemikir dan cendikiawan tegak berdiri
Dimana sejarawan dan budayawan pada berdikari
Apa dan siapa yang layak dihargai dan dihormati
Ketika mahasiswa sejati saling bodoh menbodohi
Menelurkan ide-ide tirani di forum-forum diskusi
Menetaskan ego dan tujuan tirani tanpa naluri

Malam dan siang berganti, Sejarahpun tersampul rapi
Perjalalanan baru bermula kembali
Mimpi burukpun menjelma potret pagi nanti

Sekarang, sebelum kelopak berbaring mata
Sebelum mimpi menua berjuta harap
Ayo, sejenak kita merenung saling terka rasa
Saling menyapa dan berbagi meski sebening air mata
Atau sekedar lepas pandang bersitatap

Yogyakarta Januari, 2009-Juni 2010

KELAHIRAN, AKU, DAN PERGERAKAN

Tak ada yang aku sesalkan dari perjalanan
Kata-kata yang bereinkarnasi dalam balutan batok otak
Menbentuk kotak-kotak yang merettakkan pemahaman
Kecuali birahi bibir mengecup imaji dalam-dalam
Sungguh aku terpana dengan keadaan yang menantang

Tak ada yang aku sesalkan dari perjalanan
Sebab ia ada atas kelahiran beruntun dari rahim ke rahim dan waktu
Tanpa mengenal apa atau siapa yang ada disini, di hidupku.

tak ada yang aku sesalkan dari kelahiran ini
sampai pada perjalanan terbata-bata ini
dari perjalanan ke perjalanan asing ini

yogyakarta, 0ktober ’09

*Penulis adalah Mahasiswa senang berpuisi yang aktif berproses di PMII dari tahun 2008-entah sampai kapan. Manta ketua Rayon Fakultas Adab dan Budaya Periode 2010-2011. Tulisannya dimua diberbagai media baik lokal maupun nasional.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar