Oleh:Marsus Ala Utsman*

Kau tak akan pernah tahu, Zahuri, betapa gerimis Oktober akan seruncing ini. Kau mungkin tak pernah menyangka betapa suara paraumu mengiris menziarahi kemenanganku yang terpampang di lautan parasmu.
Tentu saat itu riuh ombak dan denting gerimis yang meruncing akan menggulung gelombang merah di hatiku. Dan kilat akan menyambar dari sebilah suara gelegar angin yang panas. Dan jerit paraumu kian melengking mewarnai ringkik-ringkik perang di dadaku. Tapi, Zahuri, aku tidak punya anak panah yang bisa kulepas dari busurnya. Apalagi pistol yang berpeluruh emas yang bisa menembus jantungnya. Aku hanya bersenjata runcing bambu para pejuang-pejuang Indonesia dulu.

Tentu saja aku sudah mulai berani mengabaikan jerit pilumu lantaran kau diculik oleh para penjajah yang bersenjata. Dan kau, Zahuri, mengapa tidak berlari saat ada pertempuran sengit antara orang-orang yang berbaju biru dan warna putih campur merah darah, sedangkan orang-orang yang lain pada berlari membawa anak-kerabatnya melintas di atas kuburan hatiku. Bukankah itu sama dengan kau telah menyerahkan diri pada penjajah yang sedang kehausan darah.
Kini kau sempat hentikan detak jantungku yang berlari kencang melawan para penjajah. Tetapi senjata runcing bambuku seakan patah karena kujadikan tongkat dari kian lelahku. Dan aku terus diburu oleh satu dan sekian anak panah dengan lucutan peluruh yang meraung-raung di sekitarku. Sudah kuduga kau akan mengabaikan teriak parauku bersama jerit orang-orang sakit dan kelaparan.
Aku memang bodoh, Zahuri. Seharusnya aku tidak perlu menoleh mengusikmu. Tapi aku masih merasa manusia di tengah gempuran dan lecutan peluruh yang hampir berhasil menancapkan ujung lancip panahnya di dadaku. Tapi, aku masih egois ingin mengubah wajahmu semanis madu labah, meski kau telah menjadi tawanan sang penjajah yang haus darah itu.
Tolong..., tolong...!
Perang memang sudah hampir usai. Tapi gelegar suara lancip yang menusuk-nusuk telingaku tetap berteriak kesakitan. Sungguh menjadi aneh seketika. Suara itu seperti menandakan kematian. Namun aku begitu tak percaya ketika wajahmu melesat semacam kilat di musim kemarau. Penjajah itu tidak mungkin membunuhmu, Zahuri. Mereka menculikmu bukan untuk dibunuh dan dijadikan tumbal, tapi sebagai ratu penguasa di medan perang nanti.
Dan kau, Zahuri, mungkin di masa mendatang akan menjadi lawanku saat perang terjadi untuk kesekian kalinya. Tapi aku masih juga tidak mempunyai senjata ampuh untuk melawanmu, Zahuri. Aku hanya punya sebatang bambu runcing yang hampir patah karena kujadikan tongkat ketika aku tidak mampu lagi berlari dari kejaran anak panah sang penjajah.
Tolong..., tolong...! ada yang mati.
Teriak kematian mengejutkanku. Ternyata sang penjajah berhasil menancapkan peluruh emasnya ke tubuh para pejuang yang kelelahan mungkin karena dahaga yang tak mampu tertahan. Dan aku pun berlari sambil merobek-robek kain bajuku untuk sekedar menahan darah yang berlepotan di tubuh para pejuang yang gugur itu. Hendak kuulurkan secuil kain bajuku pada seseorang yang meneriakkan kabar kematian, bersama pula dengan dengus nafas terakhir pejuang itu.
Pantas saja kalau sang penjajah akan tertawa terbahak-bahak setelah tahu peluruh yang dilecutka berhasil menancap pada salah satu peminpin perang.
Kau lihat, Zahuri, sebagian peluruh telah menelan korban, batinku.
Aku tidak punya yang akan kuhadiahkan untukmu, Zahuri, kecuali kematian yang membahagiakanmu setelah aku didera kesakitan yang tak kunjung habis.
Mungkin kamu tahu sebagian pejuang telah gugur. Namun kau keliru jika menganggap aku telah binasa. Dan aku tahu ada sesuatu yang kau tidak ketahui. Sebab setelah kau mengabaikan berbagai pertanyaanku, aku terbang melesat ke ruang yang lain, ke waktu yang lain. Saat itu pula kau sering mengasah amarahmu memprotes berbagai pertanyaan itu. Karena itu aku tahu betapa setelah para penjajah terlena pada kemenangan sesaat, kesadaranku berangsur-angsur pulih kembali.
Dan tak salah jika siapa pun orang menyangka aku tak mampu menghentikan gelegak tawa kemenangan yang menguar dari bibirmu yang bergincu darah. Setelah puas mencabik-cabik remuk dadaku, akankah kau lakukan sebongkah lagu-lagu kemenangan yang menganyirkan seluruh gurun, seluruh bukit-bukit yang menjulang.
Kau, Zahuri, tidak perlu dendam pada mereka, toh kenyataannya amarahmu hanya sesuatu yang hampa saja. Mungkin kau sekarang bukanlah wanita perkasa, sebab menjadi tawanan para penjajah. Tapi nanti, Zahuri, setelah gerimis Oktober yang meruncing, akankah kamu akan diam saja, bahkan kau akan menyerbuku dengan berbagai anak panah dan lecutan peluruh emas yang menusuk dadaku.
Dan setelah gerimis perih itu, tak akan kutemui lagi perempuan-perempuan perkasa seperti kamu yang lupa membiarkan anak panah lepas dari busurnya, kemudian membinasakan para pejuang-pejuang tergeletak diatas gelak tawa yang meruncing merah.
“Aku akan membalas kematian yang pernah terjadi di hari kemarin” lenguh seorang anak dari seorang ayah yang mati saat berperang.
“Tapi kau bisa apa?”
“Apa saja akan aku lakukan”
“Meski nyawamu yang akan menjadi korban?”
“Ya, termasuk nyawaku yang akan di pertaruhkan”
“Kau tidak punya senjata ampuh untuk menaklukkan para penjajah, tidak juga satu anak panah pun yang bisa kau lepas dari busurnya”
“Mereka punya banyak peluruh emas yang mampu menusuk kekebalan tubuhmu, bahkan tulang sumsummu sekalipun” lanjutku.
“Aku akan tetap membalas. Sejarah kematian tidak akan kubiarkan hanya ada bagi para pejuang yang bersenjata runcing bambu”.
Kota ini akan terus terbakar oleh para srigala-srigala yang tak henti-hentinya merobek-robek gaun malam seperti perempuan yang tertawan. Masa-masa penyesalan telah lewat, Zahuri. Lagi pula buat apa kau menyesal ditawan oleh para penjajah, sebab kamu akan dijadikan seorang ratu di malam peperangan nanti. Kamu tidak perlu tahu mengapa aku membiarkan dirimu diculik oleh para penjajah, Zahuri, karena kau pun tahu aku tidak punya senjata ampuh yang bisa melawan para penjajah.
Namun, kupikir dari teriakan parauku, kau sudah mesti tahu kalau hasratku sangat menghalangimu agar tidak terculik oleh para penjajah yang haus darah. Tapi, Zahuri, aku mengerti, kamu tidak bisa lari sebab kau sudah terikat erat oleh tali kemarahan sang penjajah. Sekuat kau mengasah amarah saat itu, tapi semuanya tak ada guna.
“Lantas siapa yang akan menyelamatkan kota yang terbakar ini, dan bahkan orang-orang mati tertusuk peluruh yang runcing itu?” kembali anak itu bertanya.
“Karel Satsuit Tubun, Katamso Darmokusumo, Sugiyono Mangunwiyoto, yang pernah diceritakan oleh Pak guru di sekolah-sekolah kemarin?” lanjutnya.
“Tidak! Mereka telah mati terlebih dulu dianiaya oleh para penjajah, kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang di kenal sebagai Lubang Buaya,” jelasku.
“Berarti kita telah kedua kalinya di jajah oleh para penjajah?”
“Tidak! Bukan hanya kedua kalinya, tapi beberapa kian kalinya”
“Lantas...”
“Aku. Aku yang akan menyelamatkan kota yang terbakar ini?” potongku.
Kau tidak usa terkejut, Zahuri. Aku akan terbang dengan sepasang sayap indahku dan runcing bambu yang kugenggam erat untuk membalas kematian dan terbakarnya kota ini. Kota indah yang kau huni di kampung hatiku. Aku akan tetap menghalangi orang-orang yang menyerahkan nyawanya untuk kematian yang tiada guna.
Memang, sebagian pejuang banyak yang mati, bahkan salah satu peminpin pun juga tergeletak mendenguskan nyawa terakhirnya. Tapi, Zahuri, aku masih punya senjata lain selain runcing bambu yang hampir patah. Sebilah celurit selaksa bulan sabit yang menggantung di dinding, untuk memenggal leher para penjajah yang banyak meminum darah. Maskipun celurit itu sudah karat, tapi akan kuasah dengan sepeninggal leluhurku.
Maka ketika kota dan kampung ini diamuk oleh para penjajah, akan kugenggam erat celurit sepeninggal leluhurku untuk memenggal kepala-kepala srigala yang membuat kerusuhan di kota hatiku yang kian terkubur mati. Dan kau, Zahuri, tidak perlu melepaskan diri dari dekapan amuk sang penjajah. Karena, pada saat itu aku akan lebih erat mencengkram senjataku dan pasti kupenggal kepala para serigala yang menyeretmu.
Dan setelah semuanya terjadi, aku akan melesat dengan tubuh yang berlepotan darah untuk merenggutmu, Zahuri. Tapi entahlah, apakah kamu sudah menjadi ratu di antara para penjajah, atau bahkan kau telah melecutkan peluruh dari perbuatan busukmu.
“Jangan, anakku,” teriak ibuku.
“Jangan...!” ulangnya, dia mulai megalirkan air di pipinya.
“Biarlah, Ibu. Kalaupun pada akhirnya akan ada yang membunuhku, aku sudah siap. Biarlah orang-orang bisa mengenang kematianku dan dijadikan sejarah dimasa-masa yang akan datang” tandasku.
“Kau tidak boleh mati, anakku. Hanya kamu yang kumiliki satu-satunya” air mata ibu kian deras saja.
Rupa-rupanya air mata itu tidak ada gunanya. Aku tetap beranjak dengan secarik celurit yang baru saja kuasah untuk memenggal leher para srigala. Maafkan anakmu yang durhaka ini, Bu. Keperginku lantaran takut ada korban kematian lagi, karena aku pun bisa merasakan kehilangan yang mendalam jika meraka yang tertawan menjadi korban. Aku tak mau kehilangan mereka. Aku tak ingin meraka mati. Paling tidak, yang ku inginkan mereka sebagaimana Zahuri yang di tawan lantaran untuk dijadikan ratu penguasa.
Tapi rupanya gerimis Oktober yang kian meruncing telah melukaiku. Membakar kampung-kampung dan kota dalam hatiku. Lantas, mampukah aku menebas leher para penjajah yang bersenjata, di saat runcing bambu senjataku mulai patah, dan celurit yang kuasah tak tajam lagi. Kemudian meneriakkan lagu kemenangan, ataukah akan sebagaimana Zahuri yang di culik oleh para penjajah untuk dijadikan ratu penguasa? Entahlah! Tapi, Zahuri, mengapa harus aku lagi yang merasakan gerimis Oktober yang kian meruncing? Tidakkah kau juga merasakan itu?*
Yogyakarta, Oktober 2009
*Penulis adalah mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga. Selain menjadi penulis ia aktivis PMII, LPM Literasia, Komunitas Kemanusiaan Yogyakarta, BEM, Diskusi Lintas Universitas dan IKAAY.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar