(Kajian Terhadap Teori dan Praktek)
Oleh: Dedy Hariyono*
Pendahuluan
Tidak bisa di pungkiri lagi bahwa agama dalam masyarakat menjadi momok yang menarik untuk di perbincangkan karena banyaknya kepercayaan yang di anut masyarakat sangatlah banyak,namun yang diakui oleh Negara kita hanyalah 5 agama yakni Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Katolik.


Agama sebagai fakta social yang dikaji oleh banyak filosofi. Seorang sosiolog asal Prancis (Emile Durkheim : 1994) mendefinisikan agama sebagai : Religion is an interdependent whole composed of beliefs and rites related to sacred things,unites adherents in a single community known as a Church (satu system yang terkait antara kepercayaan dan praktek ritual yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus,yang mampu menyatukan pengikutnya menjadi satu kesatuan masyarakat dalam satu norma keagamaan).
Sosiologi agama tidak melihat bagaimana seseorang beragama, akan tetapi untuk memotret kehidupan beragama secara kolektif yang di fokuskan kepada peran agama dalam mengembangkan atau menghambat eksistensi sebuah peradaban suatu masyarakat. Oleh karena itu sosiologi agama lebih menekankan untuk mendaptakan informasi tentang masyarakat dan agama melalui penelitian.
Dalam buku Seven Theories of Religion, Daniel L. Pals[1] menyatakan bahwa pada awalnya orang Erofa menolak anggapan adanya kemungkinan meneliti agama, sebab antara ilmu dan nilai, antara ilmu dan agama tidak bisa disinkronkan. Kasus seperti ini juga terjadi di Indonesia pada awal tahun 70-an, di mana penelitian agama masih dianggap sesuatu yang tabu. Kebanyakan orang berkata: mengapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti, agama adalah wahyu Allah yang tidak bisa diutak-atik lagi.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, akhirnya sebagian besar orang dapat memahami bahwa agama bisa diteliti tanpa merusak ajaran atau esensi agama itu sendiri. Kini, penelitian terhadap agama bukanlah hal yang asing lagi, malah orang “berlomba-lomba” melakukannya dengan berbagai pendekatan. Terkait dengan hal tersebut, dalam makalah ini kami mencoba menyajikan dua pendekatan penelitian dalam studi agama, yaitu pendekatan antropologi dan sosiologi.
Semenjak kelahirannya, sosiologi concern dengan studi agama, meskipun perhatiannya terkadang menguat dan melemah. Karya-karya founding fathers sosiologi, termasuk Comte, Durkheim, Max dan Weber, sering mengacu pada wacana-wacana sosiologis atau studi perilaku dan sistem keyakinan keagamaan. Namun demikian, pada pertengahan abad 20, para sosiolog di Erofa atau Amerika Utara melihat bahwa agama memiliki signifikansi marginal dalam dunia sosial, dan sosiologi agama bergerak dalam garis tepi studi sosiologis.
Seiring dengan datangnya postmodernitas (high or late modernity) dan bangkitnya agama dalam beragam konteks global, agama kembali memperoleh signifikansi sosiologis baik dalam masyarakat yang sedang berkembang maupun di Erofa dan Amerika Utara. Konsekuensinya studi sosiologi terhadap agama mulai keluar dari garis tepi disiplinnya dan memanifestasikan tumbuhnya minat pada mainstream sosiologis yang memfokuskan perhatiannya sekitar persoalan ekologi dan perwujudan, gerakan dan protes sosial, globalisasi, nasionalisme dan postmodernitas.
Menurut anggapan umum, Aguste Comte dan Henri Saint Simon adalah pendiri sosiologi. Bagi Comte, sosiologi mengikuti jejak ilmu alam. Observasi empiris terhadap masyarakat manusia akan melahirkan kajian rasional dan positivistik mengenai kehidupan sosial yang akan memberikan prinsip-prinsip pengorganisasian bagi ilmu kemasyarakatan. Dalam pandangan Comte, bentuk positivistik konsepsi sosiologis akan membawa konsekuensi hilangnya agama dan teologi sebagai model prilaku dan keyakinan dalam masyarakat modern.
Sedangkan Durkheim, dalam kajian sosiologinya memfokuskan agama pada aspek fungsi, di mana agama dilihatnya sebagai jembatan ketegangan dengan suku atau kelompok lain, karena agama seringkali melahirkan keteraturan sosial dan moral, mengikat anggota masyarakat dalam suatu proyeksi kebersamaan, sekumpulan nilai dan tujuan sosial bersama. Kondisi inilah yang memperkuat fanatisme kelompok sosial sehingga saat berhadapan dengan kelompok lain yang berbeda agama, akan sangat mudah memunculkan ketegangan antar kelompok.
Setelah Durkheim, kajian sosiologi terhadap agama mengalami perkembangan yang cukup signifikan, misalnya muncul para sosiolog yang bernama Talcott Parsons, Robert Bellah, Bryan Wilson, Karl Marx, Max Weber dan beberapa sosiolog lainnya yang cukup serius mengkaji agama dengan pendekatan sosiologi, kendatipun banyak diantaranya yang memperkuat paham sekuler.
  1. Pengertian Sosiologi dan Agama
  1. Sosiologi
Definisi sosiologi secara luas adalah ilmu tentang masyarakat dan gejala-gajala mengenai masyarakat. Secara sempit sosiologi didefinisikan sebagai ilmu tentang perilaku social ditinjau dari kecenderungan individu dengan individu lain dengan memperhatiakn symbol-simbol interaksi. Augus Comte menuntut bahwa sosiologi perlu bebas dari pernyataan-pernyataan nilai. Augus Comte menuntut bahwa ujuan sosiologi sama dengan tujuan ilmu pengetahuan alam, ayaitu memformulasikan generalisasi yangmerupakan rangkaian hukum sebab-akibat.[2]
            Dalam sosiologi berkembang 3 metode, diantaranya metode deskriptif, metode komparatif, dan metode eksperimental.
            Metode Deskriptif adalah suatu metode tentang penelitian tentang dunia empiris yang terjadi pada masa sekarang. Tujuannya,untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan antar fenomena yang di selidiki.
            Metode Komparatif adalah sejenis metode deskripsi yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang hubunga sebab-akibat, dengan menganalisis factor-faktor penyebab munculnya suatu fenomena. Jangkauan waktunya adalah masa sekarang. Jika jangkauanya masa lampau, maka penelitian tersebut termasuk dalam metode sejarah.
            Metode Eksperimental adalah suatu metode pengujian terhadap suatu teori yang telah mapan dengan suatu perlakuan baru. Pengujian suatu teori dari ilmuan yang telah di buktikan oleh beberapa kali pengujian bisa memperkuat atau memperlemah teori tersebut. Tetapi apabial teori itu ternya dapat di buktikan oleh suatu eksperimen baru, maka teori itu ternyata dapat dibuktikan oleh suatu eksperimen baru,m maka teori tersebut akan lebih menguat dan mungkin akan mencapai taraf hukum teori.[3]
  1. Agama
Menurut sudut pandang kebahasaan, pada umumnya “agama” berasal dari bahasa sangsekerta yang artinya “tidak kacau”. Agama diambil dari susunan dua kata, yaitu a yang berarti “tidak” dan gama yang berarti “kacau”.
Dalam bahasa arab, agama dikenal dengan kata al-din dan al-milah. Kata al-din sendiri mengandung berbagai arti. Ia dapat di artikan al-mulk (kerajaan). Sedangkan pengertian al-din yang berarti agama adalah nama yang bersifat umum. Artinya, tidak ditunjukan kepada salah satu agama ; ia adalah nama untuk setiap kepercayaan yang adAgama memberi lambang-lambang kepada manusia. Dengan lambang-lambang tersebut mereka dapat mengungkapkan hal-hal yang susah diungkapkan, meskipun hakikat pengalaman keagamaan selamanya tidak dapat diungkapkan.
Penulis-penulis terdahulu seperti Tylor dan Spencer menganggap agama sebagai suatu hasil pemikiran manusia dan hasratnya untuk mengetahui. Durkheim, dan belakangan juga freud, mengemukakan landasan-landasan agama yang bersifat naluriah dan emosional. Semua yang dijelaskan tentang agama, bahwa agama itu merupakan produk kebudayaan, atau pengembangan dari aktivitas manusia sebagai makhluk pencipta kebudayaan.
Salah satu hal yang terpenting dalam agama pada masyarkat adalah ia harus percaya terhadap hal yang sakral, walaupun ini berkaitan dengan hal-hal yang penuh misteri baik yang sangat mengagumkan ataupun sangat menakutkan. Dalam semua masyarakat yang dikenal terdapat perbedaan antara yang suci dengan yang biasa atau, sering kita katakan, antara yang sakral dan yang sekuler atau duniawi (the sacred and the secular or the profane).
Ciri umum apakah yang kita temukan dalam berbagai benda dan wujud sakral yang hampir tidak terbatas ini, yang bisa disebut sakral? Apabila kita memperhatikan benda-benda dan wujud-wujudnya saja kita akan menemukan jawaban. Menurut emile durkheim, bukan benda-benda itu sendiri yang merupakan tanda dari yang sakral, tetapi justeru berbagai sikap dan perasaan yang memperkuat kesakralan benda-benda itu. Dengan demikian kesakralan terwujud karena sikap mental yang didukung oleh perasaan.
Berkaitan erat dengan yang sakral, atau suci, adalah yang tidak suci; yang mencakup apa saja yang dianggap mencemarkan yang suci itu. Untuk menghindari kemungkinan timbulnya pencemaran inilah hal-hal yang sakral di pagari dengan larangan-larangan atau tabu-tabu di dunia ini.
Dilihat dari sudut kategori pemahaman manusia, agama memiliki dua segi yang membedakan dalam perwujudannya,yaitu sebagai berikut :
  1. Segi Kejiwaan (psychology state), yaitu suatu kondisi subyektif atau kondisi dalam jiwa manusia, berkenaan dengan apa yang akan di rasakan oleh penganut agama. Segi psikologis ini sangat sulit di ukur dan susah di amati karena merupakan pribadi seseorang pemeluk agama. Pengungkapan keberagamaan segi psikologi ini baru bisa di fahami ketika telah menjadi sesuatu yang di ucapkan atau dinyatakan dalam perilaku orang beragama tersebut.
  2. Segi obyektif (objective state), yaitu segi luar yang disebut juga kejadian objektif,dimensi empiris dari agama. Keadaan ini muncul ketika agama dinyatakan oleh penganutnya dalam berbagai ekspresi. Segi objektif inilah yang bisa di pelajari apa adanya dan bisa di pelajari menggunakan metode ilmu social. Segi kedua ini mencakup adat-istiadat, upacara keagamaan, bangunan, tempat-tempat peribadatan, cerita yang dikisahkan, kepercayaan, dan prinsi-prinsip yang dianut oleh masyarakat.[4]
Menurut hasil studi para ahli sosiologi, dapat diketahui bahwa agama merupakan suatu pandangan hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan individu ataupun kelompok. Keduanya mempunyai hubungan saling mempengaruhi dan saling bergantung dengan semua factor yang ikut membentuk struktur social di masyarakat mana pun. Berbeda dengan Karl Marx yang menganggap bahwa agama hanya merupakan salah satu factor bangunan atas, yang pembentukanya dipengaruhi oleh bangunan pokok.[5]
A.  Sosiologi Agama
1.      Pengertian Sosiologi Agama
Max Weber memberi definisi sosiologi agama berdasarkan prinsip Wirtschaff und Gesselscahft mengambil sikap bahwa suatu definisi agama hanya dapat dirumuskan pada akhir dan bukan pada permulaan. Hal ini membuka peluang untuk merumuskan suatu definisi sosiologi agama tidak hanya dengan ‘adalah’ namun juga membuka peluang secara implisit terhadap definisi sosiologi agama dalam pengertian yang lebih luas. Berbeda dengan Weber, Emile Durkheim, dalam bukunya Elementary Forms of the Religious Life, mencoba mendefinisi agama secara substantif.[6]
Sosiologi Agama ialah bagian dari Sosiologi umum yang memepelajari suatu ilmu budaya empiris, profane, dan positif yang menuju kepada pengetahuan umum, yang jernih dan pasti dari struktur, fungsi-fungsi dan perubahan-perubahan kelompok-kelompok keagamaan dan gejala-gejala kekelompokan agama.[7]
Perspektif-Perspektif sosiologis dan Teologis dengan persepsinya masing-masing diharapkan tidak membatasi dengan karya sendiri (opus propium). Hal ini dibutuhkan agar terjadinya kerangka “dialog” sebuah subjek lahir dalam konteks sosio-historis.[8] Teori sosiologi harus diterima sebagai ilmu pengetahuan atas kondisi konstruksi sosial. Misalnya: “Pemahaman sosiologi bahwa agama adalah suatu proyeksi sosial tidaklah bermaksud menutup ‘dialog’ dengan Teologi.” Hal ini harus dipandang sebagai proses yang saling membangun. Perbedaan pemahaman bukanlah penghalang. Hal tersebut harus dipandang sebagai korelasi antara sosiologi dan teologi dalam proses ‘dialog’ untuk membantu perkembangan keilmuan kedua belah pihak.
Farsijana Adeney-Risakota berpendapat bahwa masyarakat adalah tempat yang dapat diumpamakan seperti pabrik dimana simbol bersama diwujudkan dalam suatu praktek yang hasil kegunaan dimaknai secara bersama pula.[9] Agama dan masyarakat sebagai sebuah pengantar ingin memperkenalkan jembatan awal mengenai hubungan-hubungan yang saling terkait secara holistik (sosiologis, antropologis, politis, ekonomis, ekologis, maupun teknologis).[10]
Sosiologi agama mempelajari peran agama di dalam masyarakat; praktik, latar sejarah, perkembangan dan tema universal suatu agama di dalam masyarakat. Ada penekanan tertentu di dalam peran agama di seluruh masyarakat dan sepanjang sejarah. Sosiologi agama berbeda dari filsafat agama karena tidak menilai kebenaran kepercayaan agama, meski proses membandingkan dogma yang saling bertentangan membutuhkan apa yang disebut Peter L. Berger sebagai "ateisme metodologis" yang melekat. Sementara sosiologi agama berbeda dengan teologi dalam mengasumsikan ketidak absahan supernatural, para teoris cenderung mengakui reifikasi sosial budaya dalam praktik keagamaan.
  1. Sudut Pendekatan Sosiologi Agama (Obyek Formal)
Sebagai sasaran kajian, agama sudah banyak diteliti oleh para sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Mereka melakukan penelitian terhadap berbagai aspek agama, baik aspek ide maupun aspek perwujudan dalam kenyataan, dari masalah keyakinan dan ajaran yang dimiliki oleh suatu agama sampai pengaruh agama pada kehidupan masyarakat pemeluknya.
Menurut M. Atho Mudzhar,pendekatan sosiologi agama dapat mengambil beberapa tema atau obyek penelitian, seperti:
a.       Studi tentang pengaruh agama terhadap perubahan masyarakat.
b.      Studi tentang pengaruh struktur dan perubahan masyarakat ter-hadap pemahaman ajaran atau konsep keagamaan.
c.       Studi tentang tingkat pengalaman beragama masyarakat.
d.      Studi pola interaksi sosial masyarakat muslim.
e.       Studi tentang gerakan masyarakat yang membawa paham yang dapat melemahkan atau menjunjung kehidupan beragama.[11]
Setiap tema yang dikaji, setidaknya tetap relevan dengan teori sosiologi, baik teori fungsionalisme, konflik maupun interaksionalisme. Teori fungsionalisme dan konflik bekerja dengan cara analisis makro sosiologi yaitu memfokuskan perhatiannya pada struktur sosial. Adapun teori interaksionalisme dengan cara analisis mikro, yaitu lebih mem-fokuskan perhatiannya pada karakteristik personal dan interaksi yang terjalin antar individu.
Dengan kata lain, yang hendak dicari dalam fenomena agama itu adalah dimensi sosiologisnya. Sampai berapa jauh agama dan nilai-nilai keagamaan memainkan peranan dan berpengaruh atas eksistensi dan operasi masyarakat manusia. Lebh konkrit, misalnya, seberapa jauh unsur kepercayaan mempengaruhi pembentukan kepribadian pemeluk-pemeluknya; ikut mengambil bagian dalam menciptakan jenis-jenis kebudayaan; mewarnai dasar-dasar haluan Negara; memainkan peranan dalam munculnya strata (lapisan) social; seberapa jauh agama ikut mempengaruhi proses social, perubahan social, fanatisme dan lain sebagainya. [12]
Ada beberapa metode penelitian dengan memakai ilmu social. Pertama, pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologis menurut Joachim wach adalah pendekatan tentang interelasi dari agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antara mereka.[13]Menurut pendekatan sosiologi bahwa dorongan, gagasan, dan lembagai agama mempengaruhi. Juga dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial organisasi dan stratifikasi sosial.
Salah satu contoh penelitian yang menggunakan pendekatan sosiologi, seperti yang dijelaskan Atho Mudzhar tentang Mesjid dan Bakul Keramat: Konflik dan Integrasi dalam Masyarakat Bugis Amparita. Judul tersebut diteliti dengan menggunakan metode grounded research. Penelitian ini mempelajari bagaimana tiga kelompok keagamaan di mana orang-orang Islam, orang-orang Towano Tolitang, dan orang-orang Tolitang Benteng di desa Amparita Sulawesi Selatan, berinteraksi satu sama lain, kadang dalam bentuk konflik, terkadang kerjasama, dan terkadang juga dalam bentuk integrasi.[14]
Penelitian itu menemukan bahwa konflik antar ketiga kelompok itu bermula dari soal keagamaan, kemudian bertambah intens setelah dimasuki unsur politik. Setelah itu, berbagai pranata sosial seperti perkawinan, pendidikan agama, aturan makanan dan lainnya berfungsi melesatarikan konflik tersebut. Itulah di antara hasil penelitian agama yang menggunakan metodologi penelitian grounded research melalui pendekatan sosiologi.
Teorisasi sosiologis tentang karakteristik agama serta kedudukan dan signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong untuk ditetapkannya serangkaian kategori sosiologis, meliputi:
a.       Stratifikasi sosial, seperti kelas dan etnisitas
b.      Kategori biososial, seperti seks, gender, perkawinan, keluarga, masa kanak-kanak dan usia.
c.       Pola organisasi sosial meliputi politik, produksi ekonomis, sistem pertukaran dan birokrasi.
d.      Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal, penyimpangan dan globalisasi.
Peran kategori-kategori dalam studi sosiologi terhadap agama ditentukan oleh pengaruh paradigma utama tradisi sosiologi dan oleh refleksi empiris dari organisasi dan perilaku keagamaan. Paradigma fungsionalis yang mula-mula berasal dari Durkheim dan kemudian di-kembangkan oleh sosiolog Amerika Utara Talcott Parsons, secara khusus memiliki pengaruh kuat dalam sosiologi agama. Parsons melihat bahwa masyarakat adalah suatu sistem sosial yang dapat disamakan dengan ekosistem. Bagian-bagian unsur sistem sosial memiliki fungsi esensial kuasi organik yang memberikan kontribusi terhadap kesehatan dan vitalias sistem sosial serta dapat menjamin kelangsungan hidup manusia.
Sedangkan bagi Bryan Wilson, agama memiliki fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifesnya adalah memberikan keselamatan identitas personal dan jiwa bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan fungsi latennya adalah memberdayakan personal dan spiritual dalam menghadapi gangguan emosional inner, kondisi spiritual dan upaya untuk menghadapi ancaman keimanan dan penyembahan.
Untuk mendapatkan gambaran dari persoalan-persoalan yang di kaji, para sosiolog menggunakan dua corak metodologi penelitian, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif dalam sosiologi agama disandarkan pada skala besar survey terhadap keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktik kehadiran di gereja.
Pendekatan seperti ini digunakan oleh Rodney Stark dan William Bainbridge dalam The Future of Religion saat mengumpulkan sejumlah besar database statistik nasional dan regional tentang kehadiran di gereja dan keanggotaan peribadatan dalam upaya menghasilkan teori sosial yang telah direvisi mengenai posisi agama dalam masyarakat modern.
Sedangkan penelitian kualitatif terhadap agama disandarkan pada komunitas atau jama’ah keagamaan dalam skala kecil dengan menggunakan metode seperti pengamatan partisipan atau wawancara mendalam. Metode ini diprakarsai oleh Max Weber dan kemudian disempurnakan oleh Ernst Troeltsch dari Jerman
Kedua, pendekatan antropologis yaitu pendekatan kebudayaan artinya, agama dipandang sebgai bagian dari kebudayaan, baik wujud idea, maupun gagasan dianggap sebagai sistem norma dan nilai yang dimiliki oleh anggota masyarakat, yang mengikat seluruh anggota masyarakat.[15]
Jika budaya tersebut dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari adalah agama sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama yang datang dari Allah. Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan segenap perangkatnya, seperti kepercayaan, ritual dan kepercayaan kepada yang sakral,[16]
wilayah antropologi hanya terbatas pada kajian terhadap fenomena yang muncul. Menurut Atho Mudzhar, ada lima fenomena agama yang dapat dikaji, yaitu:
1.      Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama.
2.      Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya.
3.      Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris.
4.      Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya.
5.      Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syi’ah dan lain-lain.[17]
Kelima obyek di atas dapat dikaji dengan pendekatan antropologi, karena kelima obyek tersebut memiliki unsur budaya dari hasil pikiran dan kreasi manusia.
Ketiga, pendekatan psikologis yaitu studi ilmiah mengenai agama ditinjau dari prespektif psikologis. Wilayah kajian utama yang menjadi bahan pendekatan ini adalah pengalaman relegius dari kelompok individu atau sosial. Kajian mendalam terhadap motivasi beragama dan latar belakang keberagamaan manusia secara individual maupun komnunal. Dalam penelitian psikologis ini, para peneliti mencari makna agama dalam setting psikologis, yaitu bagaimana keadaan hati manusia beragama yang terefleksikan kedalam tingkah laku keagamaan ataupun tingkah laku yang bukan keagamaan.[18]
Keempat, pendekatan fenomenologis yaitu pendekatan yang menggunakan perbandingan sbagai sarana interpretasi yang utama untuk memahami arti dar ekspresi-ekspresi keagamaan, seperti persembahan, upacara agama, mahluk ghaib, dan lain-lain. Asusmsi dasar dari pendekatan ini bahwa bentuk luar dari ungkapan manusia mempunyai pola atau konfigurasi kehidupan dalam yang teratur, yang dapat dilukiskan kerangkanya dengan menggunakan metode fenomenologi.[19]
Pendekatan ini mencoba menemukan struktur yang mendasari fakta keagamaan dan memahami makna yang lebih dalam, sebagaimana dimanifestasikan lewat struktur tersebut dengan hokum-hukum dan pengertian yang khas. Bidang studinya meliputi fakta religious yang bersigat subjektif, seperti pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan maksud-maksud dari seseorang yang diungkapkan dari tindakan-tindakan luar. Pemahaman beberapa ungkapan yang bersifat subjektif inilah yang membuat fakta menjadi suatu tindakan ibadah, bukan sekedar gerakan-gerakan tanpa makna.
  1. Kajian Sosiologi Agama (Obyek Material)
Wilayah objek kajian sosiologi Agama adalah wilayah atau lingkup wawasan agama yang bisa diteliti dengan metode ilmiah atau (scientific method); meliputi berbagai persoalan dan berbagai segi dalam kehidupan umat beragama. Dengan kata lain Sosiolgi Agama menangani masyarakat agama sebagai sasarannya yang langsung.
Masyarakat agama yang demikian itu akan disoroti secara berturut-turut: strukturnya; dan fungsinya; pengaruh terhadap masyarakat luas umumnya, dan atas stratifikasi sosila khususnya, teristimewa mengingat adanya kesadaran dan kohesi kelompok relegius yang mempunyai sifat tersendiri. Sudah tentu tidak dilupakan untuk mengkaji perubahan-perubahan yang disebabkan oleh agama, baik yang positia maupun yang nigatif, seperti kerukunan antar golongan agama dan konflik-konflik yang sering terjadi. Demikian pula fenomena jenuhnya organisasi lemabaga-lembaga keagamaan yang tidak selalu membawa berkat, bahkan sering menghambat laju moderenesaisi para penganutnya.[20]
  1. Metode Penelitian Dalam Sosiologi Agama
Sebagaimana penelaahan proses social lainnya, kajian sosiologi agama menggunakan metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan antara lain dengan data sejarah, analisis komparatif lintas budaya, eksperimen yang terkontrol, observasi, survai samlpling dan content analisis.
a)      Analisis Sejarah
Objek studi sosiologi adalah menerangkan realitas masa kini, yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia dan yang mempengaruhi gagasan serta perilaku manusia. Untuk mengerti persoalan yang dihadapi manusia saat ini, kita harus mngetahui sejarah masa silam. Meskipun terkadang metode ini tidak selalu dapat menjawab persoalan yang dihadapi karena agama tidak sama nilai maupun kepentingannya untuk setiap tempat dan waktu.
Sejarah dalam hal ini hanya sebagai metode analisis atas dasar pemikiran bahwa sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur-unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga. Karna itu, setiap kita harus menjelaskan fakta manusiawi yang berhubungan dengan sesuatu waktu, apakah itu masalah kepercayaan, hokum, moral, system ekonomi, teknologi, kita perlu melihat sejarah kejadian dan perkembangan eksistensinya dimulai dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang lebih kompleks yang tampak sekarang.
Pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama dengan menelusuri sumber di masa lampau sebelim tercampuri tradisi lain. Pendekatan tersebut didasarkan kepada personal historis dan perkembangan kebudayaan umat manusia. Pendekatan yang didasarkan atas sejarah personal, berusaha menelusuri awal perkemabangan tokoh keagamaan secara individual, untuk menemukan sumber-sumber dan jejak perkembangan perilaku keagamaan sebagai hasil dialog dengan dunia sekitarnya.
Beberapa sosiolog menggunakan data historis untuk mencari pola-pola interaksi antara agama dan masyarakat. Pendekatan ini telah membimbing ke arah pengembangan teori tentang evolusi agama dan perkembangan tipologi kelompok-kelompok keagamaan. Analisis hisoris telah digunakan oleh Talcott Parson dan Bellah dalam rangka menjelaskan evolusi agama, Berger dalam uraian tentang memudarnya agama dalam masyarakat modern, Max Weber ketika menerangkan tentang sumbangan teologi Protestan dalam melahirkan kapitalisme dan sebagainya.
b)      Analisis Lintas Budaya
Dengan membandingkan pola-pola sosioreligius di beberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran mengenai korelasi unsure budaya tertentu atau kondisi sosiokultural secara umum.
Talmon menggunakan data lintas budaya untuk menelaah pola-pola di antara gerakan millenarian, yaitu gerakan keagamaan yang menganggap akan adanya era baru di masa yang akan dating setelah jatuhnya penguasa yang lama. Salah satu kesulitan pelaksanaan analisis sosiologi agama melalui analisis lintas budaya yaitu sangat bervariasinya konsep agama pada daerah kebudayaan yang berlainan, juga sulit dalam mendapatkan ketepatan yang disyaratkan oleh para saintis.
c)      Eksperimen
Metode eksperimen sulit dilaksanakan dalam bidang sosiologi agama. Namun, di dalam beberapa hal masih dapat dilalukan, misalnya untuk mengeevaluasi hasil pebedaan belajar dari beberapa model pendidikan agama.
d)      Observasi Partisipatif
            Dengan partisipasi dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religious. Hal itu dapat dilakukan dengan terus terang, artinya orang yang dobservasi itu boleh mengetahui bahwa mereka sedang dipelajari.
e)      Riset Survei dan Analisis Statistik
Peneliti menyusun kuesioner, melakukan interview dengan sampel dari sustu populasi. Sampel dan populasi bias berupa oganisasi keagamaan atau penduduk sustu kota atau desa. Responden misalnya ditanya tentang:
1)      Afiliasi keagamaannya;
2)      Frekuensi kehadiran ditempat-tempat peribadatan;
3)      Frekuensi keteraturan sembahyangnya;
4)      Pengetahuan tentang ajaran agama atau doktrin yang dikembangkan oleh sesuatu organisasi keagamaan;
5)      Kepercayaan kepada sesuatu konsep keagamaan tertentu seperti tentang hidup setelah mati, eksistensi tuhan, tentang akan kembalinya nabi Isa (yesus) dan indicator religiousitas lainnya.
Prosedur ini sangat berguna untuk memperlihatkan korelasi dari karakteristik keagamaan tertentu dengan sesuatu sikap social, atau atribut religious tertentu. Kalau metode historis dan observasi memberi peluang kepada interpretasi data subjektif, maka data survey untuk mengidentifikasi sesuatu lebih cermat dari korelasi religious dengan sikap dan karakteristik social tertentu.
f)        Analisis Isi
Peneliti mencoba mencari keterangan dari teman-tenman religious; baik berpa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin, deklarasi teks dan lain-lain. Misalnya:
1.      Sikap suatu kelompok keagamaan dapat dianalisisdari isi khotbah yang diterbitkan oleh kelompok tersebut;
2.      Pandangan hidup dari organisasi atau aliran agama dapat diidentifikasi dari tema atau isi lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di gereja, atau lagu qasidahan yang dilantunkan oleh senimannya;
3.      Keterlibatan religious seorang Amerika misalnya, dianalisis dari buku-buku agama popular yang terbit di Negara tersebut;
4.      Tentang eivil religion (sejenis agama bangsa) dipelajari melalui analisis isi referensi relegius, misalnya dalam Declaration of Independence, pidato pengukuhan presiden dan statement lain yang erat hubungannya dengan tujuan bangsa sesuatu Negara.
Dalam uraian di atas secara sambil lalu telah disinggung sedikit cara yang ditemput sosiologi Agama untuk mencapai tujuaannya. Sosiologi Agama menempuh cara yang sama seperti sosiologi umum untuk mencapia maksudnya ialah dengan observasi, interview dan angket mengani masalah-masalah keagamaan yang dianggap penting dan sanggup memberikan data-data yang dibutuhkan. Dengan kata lain seluruh proses pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif mengikuti tehnik yang dipakai sosiologi umum.[21]

B.  Lahir dan Berkembangnya Sosiologi Agama
Kelahiran sosiologi lazimnya dihubungkan dengan seorang ilmuwan prancis yang bernama august comte (1798-1857) yang dengan kreatif telah menyusun sintesa berbagai aliran macam pemikiran kemudian mengusulkan mendirikan ilmu tentang masyarakat dengan dasar filsafat empiric yang kuat.
Ilmu tentang masyarakat ini pada awalnya oleh August Comte diberi nama “social physics” (fisika sosial) kemudian dirubahnya sendiri menjadi “sociology” karena istilah fisika sosial tersebut dalam waktu yang hamper bersamaan ternyata dipergunakan oleh seorang ahli statistic sosial berasal dari belgia bernama adophe quetelet. Selanjutnya August Comte dikenal sebagai “bapak sosiologi”.
Sedangkan minat mempelajari fenomena agama dalam masyarkat mulai tumbuh sekitar pertengahan abad ke-19 oleh sejumlah sarjana barat terkenal seperti Edward B.Taylor (1832-1917), Herbert Spencer (1820-1903), Frederick H.Muller (1823-1917). Tokoh-tokoh ini lebih tertarik kepada agama-agama primitive akan tetapi pengkajian masalah agama secara ilmiah dan terbina mulai sekitar tahun 1900. Mulai saat itu hingga menjelang munculnya buku-buku sosiologi agama yang sering disebut dengan nama sosiologi klasik.
Periode klasik ini dikuasai oleh dua orang sosiolog yang terkenal yaitu Emile Durkheim dari prancis (1858-1917) dengan karyanya anntara lain The Elementary Forms of Religious Life dan Max Webber dari Jerman (1864-1920) dengan karya yang monumentalnya yaitu The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism dan Ancient Judaism.
Dua sarjana tersebut lazim dipandang sebagai pendiri sosiologi agama. Dikemudian hari tulisan-tulisan mereka digolongkan oleh para ahli sosiologi ke dalam bagian sosiologi umum. Berdasarkan data etnologi yang diperoleh dari bangsa-bangsa di luar Eropa Durkhiem menulis buku yang menarik (bermutu klasik) tentang: “bentuk-bentuk elementer kehidupan relegius”. Sedangkan Max Weber menerbitkan buku yang tidak kurang menariknya mengenai agama-agama di India dan Cina, karena di dalamnya disajikan gagasan-gagasan penting yang dapat dipakai sebagai landasan pengamatan dan analisis di kemudian hari.[22]
C. Fungsi dan Tujuan Penelitian Sosiologi Agama
Munculnya Sosiologi Agama dalam forum keilmuan merupakan suatu sumbangan yang tidak kecil bagi instansi keagamaan. Sebagaimana sosiologi positif telah membuktikan daya gunanya dalam hal mengatasi kesulitan yang muncul dalam masyarakat serta menunjukkan cara-cara ilmiah untuk perbaikan dan pengembangan masyarakat, demikian pula sosiologi agama bermaksud membantu para pemimpin agama dalam mengatasi maslah-masalah sosio-relegius yang tidak kalah beratnya dengan masalah-masalah sosial non keagamaan.[23]
Sosiologi agama memberikan kontribusi yang tidak kecil lagi bagi instansi keagamaan. Sebagai sosiologi positif ia telah membuktikan daya gunanya dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul dalam masyarakat serta menunjukkan cara-cara ilmiah untuk perbaikan dan pengembangan masyarakat, demikian juga sosiologi agama bermaksud membantu para pemimpin agama dalam mengatasi masalah-masalah sosio-religius yang tidak kalah beratnya dengan masalah-masalah social nonkeagamaan, memberikan pengetahuan tentang pola-pola interkasi sosial keberagamaan yang terjadi dalam masyarakat, membantu kita untuk mengontrol atau mengendalikan setiap tindakan dan perilaku keberagamaan kita dalam kehidupan bermasyarakat, dengan bantuan sosiologi agama, kita akan semakin memahami nilai-nilai, norma, tradisi dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat lain serta memahami perbedaan yang ada.
Menurut pandangan Durkheim, fungsi sosiologi agama adalah mendukung dan melestraikan masyarakat yang sudah ada. Djamari berpendapat bahwa ada 2 implikasi sosiologi agama bagi agama, yaitu:
1.      Menambah pengertian tentang hakikat fenomena agama di beragai kelompok masyarakat, maupun pada tingkat individu.
2.      Suatu kritik sosiologis tentang peran agama dalam mayarakat dapat membantu kita untuk menentukan masalah teologi yang mana yang paling berguna bagi masyarakat, baik dalam arti sekuler maupun religious.[24]
Dengan cara ini, sosiologi agama memberikan sumbangan kepada dialog kegamaan di dalam masyarakat. Semua pelopor sosiologi Eropa, seperti Karl Marx, Weber, Durkheim, serta Simmel berpendapat bahwa untuk mengerti masyarakat modern, seseorang harus mengerti peran penting agama dalam masyarakat.
Sedangkan pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian Sosiologi Agama yang didasarakan pada pendekatan ilmu sosial atau pengetahuan budaya mengenai berbagai masalah. Hasil penelitiannya bisa digunakan untuk memperoleh gambaran (diskripsi) mengenai kemungkinan yang terjadi akibat kegiatan atau keputusan pejabat pemerintah atau pejabat agama, atau akibat rencana pembangunan yang menyebabkan perubahan masyarakat beragama. Pengetahuan tentang kondisi masyarakat pemelu agama sangat diperlukan bagai orang yang akan menerapkan suatu kebijakan pada suatu masyarakat.[25]
D.    Aliran-Aliran Sosiologi Agama
Sosiologi agama bukan merupakan satu kesatuan yang seragam. Adapun perbedaan aliran dalam sosiologi agama dengan cirri-ciri tersendiri disebabkan oleh:
1.      Perbedaan visi atas realitias masyarakat, khususnya mengenai kekuatan tertentu yang dianggap memerankan peranan dominan atas kehidupan masyarakat;
2.      Akibat dari perbedaan visi tesebut, digunakan pula metode dan pendekatan yang berbeda.
Ø  Aliran Klasik
Aliran ini muncul pada pertengahan abad ke-19 dan belahan pertama dari abad ke-20 yang ditopang oleh sejumlah sarjana (kecuali Durkheinm dan Weber). Bagi mereka kedudukan sosiologi agama sangat dekat dengan sejarah dan filsafat dan merupakan suatu refleksi dan analisis sistematis terhadap masyarakat, kebudayaan dan agama.
Tujuan aliran ini adalah hendak mengungkap pola-pola social dasar dan peranannya dalam mencipatakan masyarakat. Instansi pemerintah dan kalangan agama yang berkonsultasi dengan pendukung aliran ini, akan mendapat jawaban panjang tentang sejarah dari masyarakat agama yang bersangkutan dan akan ditunjukkan kekuatan-kekuatan (social) yang mendorong berdirinya unsure-unsur budaya yang menopang kelangsungan hidup, disbanding dengan tuntutan-tuntutan modern dalam situasi yang sudah berubah, lantas mempersilakan instansi yang bersangkutan untuk mengadakan perubahan yang sesuai.
Ø  Aliran Positivisme
Aliran ini mengikuti sosiologi yang empiris-positivistis dan menyetarakan masyarakat agama dengan benda-benda alamiah. Ia menyibukkan diri dengan kuantifikasi dari dimensi masyarakat yang kualitatif dengan metode pengukuran yang eksak dan menarik kesimpulan yang dibuktikan dengan fakta-fakta. Dengan kata lain, kesimpulan yang sifatnya netral tanpa diwarnai pertimbangan teologis atau filosofis, dilepas dari konteks sejarah perkembangan yang dialami masyarakat itu dalam waktu yang lampau. Cara penganalisisan demikian itu dipegang ketat dan konsekuen demi tercapainya hasil yang diinginkan, yaitu hasil yang seobjektif mungkin.
Instansi pemerintah atau keagamaan yang berkonsultasi dengan pendukung aliran ini untuk mengadakan penelitian mengenai lembaganya atau organisasinya, akan mendapat keterangan banyak tentang struktur organisasinya, mengenai kualitas pemimpinnya dan reaksi (baik positif maupun negative) dari naggota-anggota lemaganya. Instansi yang berkonsultasi akan diyakinkan mengenai pentingnya keterangan (ilmiah) itu, tetapi kepadanya diserahkan sepenuhnya untuk menentukan sendiri bagaimana ia akan menggunakan informasi itu.
Ø  Aliran Teori Konflik (Teori Kritis)
Menurut ahli teori ini, masyarakat yang baik ialah masyarakat yang hidup dalam situasi konfliktual. Masyarakat yang hidup dalam keseimbangan (equilibrium) dianggap sebagai masyarakat yang tertidur dan berhenti dalam peruses kemajuannya. Karena konflik social dianggapnya sebagai kekuatan social utama dari perkembangan masyarakat yang ingin maju kepada tahap-tahap yang lebih sempurna. Gagasan ini dicetuskan oleh Hegel, Karl Marx dan Weber. Sebagai sarana mutlak (yang diberikan oleh alam sendiri) untuk memajukan masyarakat manusia.
Aliran ini tidak sepakat dengan para ahli aliran fungsionalisme yang melihat keseimbangan soosial masyarakat sebagai bentuk hidup yang ideal, karena dianggap kurang menyadari atau membiarkan adanya kekurangan dan ketidakadilan yang dibungkam oleh struktur kekuasaan yang bertahan. Aliran ini juga tidak menyetujui metode kuantitatif dari aliran positivism, karena dianggap sebagai suatu hal yang mengasingkan orang dari masyarakat.
Aliran ini tidak dapat memusatkan perhatiannya pada problem mikro saja, karena pengkajian masalah yang kecil akan mengundang persoalan yang lebih besar. Dan hal yang tidak boleh dilupakan dalam analisisnya adalah usaha menempatkan situasi yang dhadapi dalam kurun sejarah perkembangan yang telah dilewati yang tidak dapat dilepaskan dari masalah baru yang hendak dicari pemecahannya. Aliran sosiologi ini mempunyai persamaan dengan aliran sosiologi kalsik yang selalu tertarik pada problem-problem makro, dan masalah-masalah mikro hanya diperhatikan sejauh itu dapat memberikan keterangan bagi pemecahan masalah yang besar.
Jika salah satu instansi pemerintah dan keagamaan berkonsultasi dengan pendukung aliran ini, maka mereka akan mendapat seperangkat penjelasan tentang unsure-unsur pertentangan yang ada dalam tubuh organisasinya, dan yang berhasil digali dari keasadaran kelompok-kelompok yang saling bertentangan, lalu diberikan solusi yang dipandang tepat untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.
Ø  Airan Fungsionalisme
Para pendukung aliran ini bertolak belakang dari pendirian dasar bahwa masyarakat itu suatu system perimbangan, di mana setiap kelompok memberikan sumbangannya yang khas melalui peranannya masing-masing yang telah ditentukan demi lestarinya suatu masyarakat. Menurut mereka, timbulnya suatu bentrokan dalam organisasi dipandang berfungasi korektif untuk membenahi kesalahan-kesalahan yang telah terjadi, yang tidak berjalan baik. Penelitian yang dilakukan sebegaian besar bertujuan untuk mendapatkan keterangan-keterangan tentang apakah tugas-tugas yang dilaksanakan oleh pimpinan adan anggotanya berjalan dengan baik.
E.     Kesimpulan
Setelah menguraikan secara singkat tentang Sosiologi Agama dapat disimpulkan bahwa Sosiologi agama aladah suatu cabang sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis guna mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti, demi kepentingan masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat luas pada umumnya.kedua pendekatan di atas, dapat dijelaskan bahwa pendekatan antropologi dan sosiologi sama-sama mengkaji manusia (masyarakat) dan hal-hal yang terkait dengannya.
Sosiologi Agama berusaha meneliti situasi masyarakat beragama, mulai dari fenomena agama, kehidupan masyarakat beragama dan sebagainya. Untuk mendapatkan informasi tersebut dilakukan suatu pendekatan. Kajian agama yang menggunakan pendekatan antropologi lebih terfokus pada naskah dan simbol agama, para penganut atau pemuka agamanya, ritus dan lembaga serta ibadatnya, alat-alat, serta organisasi keagamaannya. Sedangkan kajian agama yang menggunakan pendekatan sosiologi lebih terfokus perhatiannya pada fungsi, konflik dan interaksi yang ada dalam kehidupan beragama.

*Penulis adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain aktif munulis opini, puisi, cerpen dan esai, ia juga aktifis PMII, IKAAY, Komunitas Kemanusiaan Yogyakarta.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Agus, Bustanuddin, 2006, Agama dalam Kehidupan Manusia; Pengantar Antropologi Agama, Jakarta: Raja Grapindo Persada.
Abdullah, Syamsudin, 1997, Agama dan Masyarakat , Jakarta : Logos.
Adeney, dkk, 2005, Masyarakat sebagai Titik Berangkat Penelitian dan Pengabdian dari Perguruan Tinggi, Yogyakarta: LPPM UKDW Press. Cetakan I
Hendropuspito, 1984, Sosiologi Agama, Malang : Kanisius.
Kahmad, Dadang, 2000, Sosiologi Agama, Bandung : Rosda.
Mudzhar, M. Atho, 1998, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nottingham, Elizabeth K, 1993, Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Sosiologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
O’Dea, Thomas F, 1966, Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal, Jakarta: CV Raja Wali.
Umar, Mu’in, dkk, 1986, Sosiologi Agama II : Agama dan Mobilitas Sosial, Jakarta: IAIN.
Robertson, Ronald. 1993. Agama: dalam analisadan internalisasi sosiologis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Rachmat, Jalaluddin, 2005, Psikologi Agama, cet. III, Bandung: PT Mizan Pustaka.
Scharf, Betty, R, 1995, Kajian Sosiologi Agama, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.
Makalah
Muhammad Sanusi dalam, Sosiologi Agama: Metode dan Peraktik, 2009 yogyakarta.
Berger, Peter, Definisi-definisi Sosiologi Agama, dan Perspektif-Perspektif Sosiologis dan Teologis.
M. Atho Mudzhar, Studi Hukum Islam dengan Pendekatan Sosiologi, Pidato Pengukuhan Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 15 September 1999.


[1] Dikutip dari Muhammad Sanusi dalam Makalah, Sosiologi Agama: Metode dan Peraktik, 2009 yogyakarta.
[2] Syamsudin abdulah, agama dan masyarakat , (Jakarta : Logos,1997),hlm.13
[3] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung : Rosda, 2000),hlm.10
               [4] Ibid, hlm. 14
[5] Ibid, hlm.15
[6] Berger, Peter, Definisi-definisi Sosiologi Agama, dan Perspektif-Perspektif Sosiologis dan Teologis, hlm. 204
[7] Hendropuspito, Sosiologi Agama, (Malang : Kanisius, 1984), hlm.7
[8] Ibid, hlm. 212
[9] Adeney-Risakota, Farsijana. Masyarakat sebagai Titik Berangkat Penelitian dan Pengabdian dari Perguruan Tinggi, hal. 54. Pengantar Metode Penelitian Interdisiplin, Yogyakarta: LPPM UKDW Press. Cetakan I, Tahun 2005.
[10] Ibid, hlm yang sama
[11] M. Atho Mudzhar, Studi Hukum Islam dengan Pendekatan Sosiologi, Pidato Pengukuhan Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 15 September 1999.
[12] Hendropuspito, Op.cit, .hlm. 9
[13] Dikutip dari Dadang Kahmad, Op.cit, hlm.90
[14] Lebih lengkapnya lihat M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 127-228.
[15] Dadang Kahmad, Op.cit, hlm. 90
[16] Bustanuddin Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia; Pengantar Antropologi Agama, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2006), hlm. 18.
[17] M. Atho Mudzhar, Op.cit, hlm. 15
[18] Dadang Kahmad, Op.cit, hlm. 91
[19] Ibid, hlm.93
[20] Hendropuspito, Op.cit, .hlm. 8-9
[21] Hendropuspito, Op.cit, .hlm. 10
[22] Hendropuspito, Op.cit, .hlm. 14
[23] Ibid, hlm. 10-11
[24] Mu’in Umar, dkk, Sosiologi Agama II : Agama dan Mobilitas Sosial, (Jakarta: IAIN, 1986), hlm. 57
[25] Dadang Kahmad, Op.cit, hlm.112

Tidak ada komentar:

Posting Komentar