Oleh: Matroni el-Moezany*

Suasana harap dan persiapan untuk berangkat di Candirejo, tapi setelah kami masik mobil, tiba-tiba perempuan dalam mobil menangis, entahlah? Rony awalnya tak mengerti, setelah aku lihat sendiri, Bowi tertabrak motor.
Suasana shok dan airmata mengalir dari mata perempuan di dalam mobil, karena tak kuasa menahan melihat Bowi yang mengeluarkan darah merah pekat, gerak-gerak mengeluarkan nafas terakhir, sementara teriakan tangis semakin keras.  
Ayu yang memiliki air mata yang tampak banyak membanjiri pipi dan mobil, tapi maz Hasta membujuk dengan suara lembut, menenangkan.


“sudah-sudah, ga apa-apa, sudah ga apa-apa”
“Di kubur ya maz, di bungkus kain putih, kasih bunga, jangan lupa ya mas kasih di bungkus beri kain putih” Ayu meminta dengan suara serak setengah sampai dan airmata membanjiri pipinya.
Kami bertuju pun berangkat ke Candirejo, naik mobil bersama. Airmata dan kata-kata di tengah perjalanan mengisi kepergian Bowi. Ayu perempuan yang paling sering mengalirkan airmata, ketika Bowi di sebut-sebut. Perjalanan yang cukup lama dari jogja ke Candirejo, dengan selimut kesedihan, angin, dan semesta ikut berduka atas kepergian Bowi yang selama ini menemani kami di posko relawan kemanusiaan. Airmata menjadi penyampai saksi bahwa kita tidak hanya menjadi relawan kemanusiaan, tapi juga relawan kehewanan. Di jalan tepatnya di belokan sebelum desa Candirejo, kami menyerempet motor yang dinaiki tiga perempuan, dan anak kecil. 
Mobil berjalan lebih cepat, angin kencang, sementara kesunyian, airmata, dan hati kami tak kuasa menahan airmata untuk membuncah keluar menjadi saksi. Detik demi detik yang menyertai kami ke Candirejo menjadi perjalanan airmata, apakah ini pertanda sumur yang di gali takkan kurang untuk memenuhi kebutuhan dusun Ngaglik? Karena airmata seorang perempuan cukup mahal untuk keluar menemui semesta tanpa ada makna yang tersimpan di dalamnya.   
“Bowi telah pergi meninggalkan kami” tak ada harapan waktu untuk mencari lain, keberadaan Bowi dan perjuangannya sungguh tak tergantikan, ia yang selalu menjadi tempat curhat kesenangan, kemarahan, dan menemani tidur teman-teman.  
Suasana kembali ceria, setelah perjalan menempuh dua puluh kilo dari tempat dimana Bowi tertabrak motor. Senyum mulai terlihat, tapi airmata tak bisa Ayu tahan. Mulai jam sembilan pagi, suasana jiwa sedikit lelah dan sedih, sungguh kepergian Bowi membuat kami ikut serta dalam perjalanan menuju tempat yang sebenarnya. Tempat dimana berkumpulnya semua nyawa dan nafas itu berada. Kembali pada asal dimana nyawa dan nafas diciptakan, entah dimana?
Sesampainya di Candirejo, Bowi menjadi topik utama dalam obrolan dan senyuman. Di Candirejo Membuat sumur bersama warga dusun Ngaglik, untuk persiapan air bersih, karena menjadi dampak dari letusan gunung merapi. Kami tak hanya menjadi relawan kemanusiaan, tapi relawan rasa. Entah, karena Ayu perempuan begitu peka sehingga airmata tak mampu dia bendung atau menjadi lahan pemuas untuk mengalihkan kesedihannya?  
Sebelum kami pulang ke Jogjakarta, mas Hasta datang ke Ngaglik, lalu Ayu langsung bertanya.
“Maz di kubur dimana si Bowi” tanya Ayu dengan suara lirih, campur serak
“Di bawah pohon pepaya, sudah di beri bunga”
“Terus, di bungkus kain apa” lanjut Ayu
“Kain putih, di sana, teman-teman Bowi yang lain pada datang, berkumpul”  
“Lubangnya dalam ga mas”
“Ya, dalam”
“Ternyata mereka lebih peka ke timbang kita, hubungan emosinal lebih tajam daripada kita”  lanjut mas Hasta
“Iya po mas” sedikit heran Ayu
“Ya, hewan ketika nyawa ingin lepas dari tubuhnya, lebih sakit daripada manusia, apalagi Bowi pergi dalam usia yang masih mudah” keluarnya nyawa kucing lebih sakit dari kita, makanya ketika ada orang yang menabrak kucing, ada yang kaos atau bajunya sebagai bungkus, lalu menguburnya dengan baik.         
Bowi, seekor kucing kecil, kurus, bulunya putih, hanya di kasih nama Bowi. Tiap hari, tiap malam, dan tiap waktu Bowi selalu menemani Ayu dan teman-teman yang lain, di kasih makan, minum, sehingga Bowi menyatu dalam rasa, kita saling memiliki, jadi ketika kepergiannya semua merasa kehilangan. Hari-hari sunyi tanpa Bowi, makan biasanya ada yang minta dengan suara Bowi yang manja, kini hanya makan selesai.
Jam dua siang kami pulang dari Candirejo, hati gundah gulana, muram durja, sementara airmata Ayu masih menemani perjalanan. Diperjalanan pulang aku menemukan kesunyian. Karena cukup lain kesunyian waktu itu. Kesunyian di tinggal orang yang aku sayangi dengan hewan yang aku sayangi. Ternyata kesunyian juga memiliki keberagaman untuk menemui kehidupan.   
Cakrawala sedikit mendung, hujan turun membasahi perjalanan pulang. Kesunyian sudah mulai terasa. Ternyata kepergian memiliki ruang lain yang mampu menghidupkan kesunyian dalam diri seseorang. Di sana kami merasa benar-benar ada yang lain, merasa kesunyian benar-benar tampak nyata, karena semua merasa mencari, kucing-kucing lain mondar-mandir mencari Bowi yang sudah di kubur dan pergai dengan tenang. Kami pun demikian, suasana sunyi senyap menyertai kami yang sedang duduk santai di kursi walau banyak senyum menghias wajah-wajah indah senja itu.
Senja itu, kami duduk berlima di kursi, membicarakan kronologis Bowi, sementara airmata deras mengalir dari lintik indah mata Ayu dan Vera, dan yang lain hanya membisu mendengarkan. Senja pun mulai pergi, gelap datang menyertai percakapan kami, lampu-lampu mulai menyala, kucing-kucing masih mondar-mandir mengitari kuburan Bowi, tak tahu dimana Bowi ber-ada. Adzan terdengar lembut, percakapan Bowi belum menemui ujungnya.
Apakah memang seperti itu, ketika ada percakapan rasa selalu tak kunjung usai? Ke-usaiannya tak menemukan jalan lembut yang harus di diami. 
“Ayu, mengapa kamu begitu sedih” tanya Hai
“Kucing juga makhluk, yang harus kita sayangi dan di rawat, makhluk yang juga membutuhkan makan, minum, tempat tidur, sama seperti manusia” jawab Ayu dengan suara serak.
Jarum jam menunjuk angka ke enam, sementara garis airmata mengalir masih jelas tergambar di wajah perempuan. Karena setiap makhluk memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan kesedihan, maka kepergian merupakan keber-adaan yang sebenarnya. Setiap kita berawal dari ketiadaan menjadi ada, menuju ada yang sesungguhnya.    

Candirejo, 19 Desember 2010

*Penyair kelahiran Sumenep. Aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI). Tinggal di Yogyakarta. Tulisannya telah dipublikasikan di media baik lokal maupun nasional dan dibukukuan dalam antologi bersama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar