Oleh: Saifullah*
A.   Latar Belakang Masalah
Sampai detik ini, pendidikan masih diyakini sebagai instumen terbaik dalam membentuk generasi masa depan sekaligus instrumen guna menyelamatkan gerak maju sebuah bangsa. “Keyakinan” ini tetap ada tentu dengan lebih dulu mengenyampingkan fakta di lapangan, bahwa produk pendidikan ternyata tidak dapat dijamin berperilaku terpuji. Sehingga  permasalahan pendidikan tidak hanya terletak  pada siswa dan guru tetapi masyarakat dan  pemerintah juga turut andil dalam masalah pendidikan. 

Pendidikan yang dimaksud disini adalah proses belajar mengajar secara formal di  lembaga pendidikan khususnya sekolah. Menurut  Dalyono, belajar adalah suatu usaha atau kegiatan, yang bertujuan  mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap,  kebiasaan, ilmu pengetahuan serta keterampilan  dan sebagainya. Belajar merupakan kegiatan  yang urgen sekalai sebab melalui belajar manusia dapat  melakukan perbaikan dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan hidup, dengan kata lain  melalui belajar dapat memperbaiki nasib, menggapai cita-cita yang didambakan.
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi siswa dalam belajar. Faktor fakor itu berasal  dari internal dan juga eksternal. Kita bisa mengetahui dan  membedakan faktor mana saja  yang  bisa meningkatkan belajar siswa. Banyak kasus penyebab kegagalan studi disebabkan karena  kurangnya ketidaktahuan apa saja faktor yang dapat menggagngu belajar siswa.   Keberhasilan untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang  merupakan hasil dari proses belajar siswa yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu  diantaranya faktor yang paling pokok yaitu minat belajar. Sedangkan minat belajar dipengaruhi  oleh faktor intern dan faktor ekstern.
M. Surya (1979:39-40) mengemukakan pandangannya dalam menyikapi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, antara lain terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor fisiologis atau jasmani individu, baik yang bersifat bawaan/hereditas maupun yang diperoleh, misalnya penglihatan, pendengaran, struktur badan dan sebagainya. Faktor internal lain yaitu faktor psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, yang terdiri dari faktor intelektif (faktor potensial, yaitu intelegensi dan bakat serta faktor actual yaitu kecakapan yang nyata, seperti prestasi).
Faktor psikologis lain yaitu faktor non intelektif yaitu komponen kepribadian tertentu seperti sikap, minat, kebiasaan, kebutuhan, motivasi, konsep diri, penyesuaian diri, emosional dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal meliputi sosial, lingkungan keluarga, sekolah, teman, masyarakat, budaya, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan teknologi, faktor lingkungan fisik contohnya fasilitas belajar di rumah, di sekolah, iklim dan faktor spiritual serta lingkungan keluarga. Faktor yang berasal dari dalam individu (internal), baik yang bersifat intelektual maupun non intelektual, mempunyai peranan penting dalam belajar. Karena belajar merupakan proses aktif, dimana individu tidak hanya menerima, tetapi dituntut pula untuk berolah fikir, rasa  untuk memperoleh, memahami dan menguasai materi yang dipelajarinya.

B.   Definisi Faktor Belajar
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam  perilaku atau potensi perilaku  sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya  interaksi antara stimulus dan  respon. Seseorang dianggap telah  belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa  reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang  terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati  dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang  diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati  dan diukur.
Faktor – faktor belajar adalah peristiwa belajar yang terjadi pada diri pembelajar, yang  dapat diamati dari perbedaan perilaku sebelum dan sesudah berada didalam proses belajar, sebab dalam makna belajar adalah adanya perubahan perilaku seseorang kearah yang lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran. 
Faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar itu banyak jenisnya. Faktor – faktor  belajar itupun dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor intern yang berasal dari dalam dan faktor  ekstern atau berasal dari luar. Faktor luar banyak dipengaruhi dari dalam diri siswa itu sendiri dan  faktor eksternal dipengaruhi oleh lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah  dan lingkungan masyarakat. Antar kedua faktor itu masing masing bisa mempengaruhi seseorang  untuk meningkatkan prestasinya yang diperoleh dengan cara belajar.

C.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar. Masukan apabila dinamis lebih lanjut, akan didapati beberapa jenis masukan, yaitu masukan mentah, masukan instrumen dan masukan lingkungan. Semua ini berinteraksi dalam proses belajar, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar. Apabila salah satu faktor terganggu, maka proses akab terganggu dan hasil juga akan terganggu. Hal ini juga akan berimplikasi pada hasil prestasi belajar.
Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor intern) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu.[1] Faktor internal yaitu faktor-faktor yang  berasal dari seseorang sendiri dan dapat mempengaruhi terhadap belajarnya, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi seseorang dari luar dirinya.
Ø  Faktor Internal
Secara garis besar faktor internal dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor fisik dan faktor psikis.
1.    Faktor Fisik
Faktor-faktor fisik adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu salah satunya yaitu kesehatan. Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian – bagiannya/bebas dari  penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya karena proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan/kelainan kelainan alat inderanya serta tubuhnya.
Cara untuk menjaga kesehatan jasmani antara lain adalah :
a)    Menjaga pola makan yang sehat dengan memerhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuh, karena  kekurangan gizi atau nutrisi akan mengakibatkan tubuh cepat lelah, lesu , dan mengantuk, sehingga tidak ada gairah untuk belajar,
b)    Rajin berolah raga agar tubuh selalu bugar dan sehat;
c)    Istirahat yang cukup dan sehat.[2]
Disamping faktor kesehatan, faktor cacat alat indera juga ikut mempengaruhi dalam melakukan proses belajar. Baik cacat indera bawaan maupun cacat indera karena musibah. Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan. Keadaan cacat tubuh juga  mempengaruhi belajar dan menghambat dalam memperoleh pengetahuan. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu, jika hal ini terjadi maka hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatan itu.
Selain dua faktor di atas kelelahan merupakan penghambat utama dalam proses belajar seseorang. Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan  menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani terlihat  dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak/kurang lancar
 pada bagian – bagian tertentu.
Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang, kelelahan ini  sangat terasa pada bagia  kepala dengan pusing – pusing sehingga sulit untuk konsentrasi seolah-olah otak kehabisan daya untuk bekerja.
Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani dapat dihilangkan dengan cara-cara  sebagai berikut:
a)    Tidur,
b)    Istirahat,
c)    Mengusahakan variasi dalam belajar, juga dalam bekerja,
d)    Menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah, misalnya obat gosok,
e)    Reaksi dan ibadah yang teratur,
f)     Olahraga secara teratur, dan
g)    Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi syarat – syarat kesehatan (memenuhi empat sehat lima sempurna),
h)   Jika kelelahan sangat serius cepat – cepat menghubungi seorang ahli, misalnya dokter, psikiater dan lain – lain.[3]
2.    Faktor Psikis
Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yang terdiri atas :
a)    Faktor Intelektif yang meliputi :
1)    Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat.
2)    Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki.
Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk  menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui  atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak  secara efektif, mengetahui relasi dan  mempelajarinya dengan cepat.
Orang dianggap inteligen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya. Untuk memberikan respon yang tepat, individu harus memiliki lebih banyak buhungan stimulus-respons, dan hal tersebut dapat diperoleh dari hasil pengalaman yang diperolehnya dan hasil respns-respons yang lalu.[4]
Kecerdasan merupakan salah satu aspek penting, dan sangat menentukan berhasil  tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau diatas  normal maka secara potensial dapat mencapai prestasi yang  tinggi. Namun dalam kenyataan  kadang-kadang kita menjumpai murid yang mempunyai  tingkat kecerdasan diatas normal tetapi  prestasi belajarnya rendah sekali bahkan ada yang gagal sama sekali.
Disamping intelegensi faktor psikis lain adalah faktor bakat. Bakat (aptitude) biasanya diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang perlu dikembangkan.[5] Bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberi kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar, akan menjadi kecakapan yang nyata. Seseorang yang tidak berbakat akan sukar untuk mempelajari sesuatu secara mendalam.  Menurut Hilgard dalam buku Slameto (2003: 58) bakat adalah kemampuan untuk belajar.
Pada dasarnya bakat itu mirip dengan intelegensi. Itulah sebabnya seoarang anak yang mempunyai intelegensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.[6]
Kemampuan itu baru akan  terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya akan lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia  lebih giat lagi dalam belajarnya itu. Mengetahui bakat yang dimiliki siswa itu sangat penting karena dengan  mengetahuinya, maka akan dapat menempatkan siswa tersebut belajar di sekolah sesuai dengan bakatnya.
b)    Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, dan penyesuaian diri.
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik – baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Siswa segan-segan untuk belajar, dan tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan siswa.
Selain itu, motivasi juga berperan dalam mempengaruhi proses belajar seseorang. Motivasi adalah keadaan internal organisme yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Karena belajar merupakan suatu pross yang timbul dari dalam, faktor motivasi memegang peranan pula. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal, akan menyebabkan kurang bersemangatnya anak dalam melakukan proses pembelajaran materi-materi pelajar, baik di sekolah maupun di rumah.
Kematangan seseorang berperan aktif dalam mempengaruhi belajar seseorang. Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat – alat  tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kematangan belum berarti anak dapat  melaksanakan kegiatan secara terus – menerus, untuk itu diperlukan latihan – latihan dan pelajaran. Dengan kata lain anak yang sudah  siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang). Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar.
Ø  Faktor Eksternal
Menurut Slameto faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dibagi menjadi tiga, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
1.    Faktor keluarga
Keluarga berperan penting dalam proses belajar seseorang, dalam artian pengaruh keluarga sangatlah besar terhadap pencapaian keberhasilan seseorang di dalam suatu studi. Antara lain faktor yang dapat mempengaruhi belajar seseorang yang timbul dari keluarga seperti berikut ini:
       (1) Cara orang tua mendidik
Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Orang tua yang kurang memperhatikan pendiidkan anaknya, misalnya acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mau tahu kemajuan-kemajuan anaknya dalam belajar, kesulitan kesulitan yang ia alami dalam belajar dan lain-lain dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam belajarnya.
         (2) Suasana rumah
Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada mahasiswa untuk belajar dengan baik. Suasana rumah yang tegang, ribut dan sering terjadi cekcok dan pertengkaran antara penghuni anggota keluarga atau dengan keluarga lain menyebabkan anak suka keluar rumah yang akibatnya belajarnya menjadi kacau.
Perselisihan, pertengkaran, percekcokkan, tidak ada tanggung jawab bersama antar kedua orang tua akan menimbulkan keadaan yang tidak diinginkan terhadap diri mahasiswa. Hal semacam ini membuat pikiran mahasiswa tidak mempunyai pendirian dan konsentrasi belajar.
Mahasiswa yang sedang dalam proses studi memerlukan suasana rumah yang nyaman dan kondusif untuk studinya. Dan suasana yang nyaman di rumah seperti rumah yang jauh dari suara-suara bising, keramaian, pertengkaran dan lain-lain yang bisa memecahkan konsentrasi belajar mahasiswa.
        (3) Pengertian orang tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah, Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan anak yang dialami di sekolah.
 Pengertian yang diberikan keluarga terutama orang tua besar sekali peranannya dalam proses studi mahasiswa. Mahasiswa yang sedang dalam proses studi atau pun mereka yang baru memasuki kehidupan belajar di kampus terkadang lemah semangat karena sulitnya memahami dan mempelajari materi-materi kuliah serta banyaknya tugas-tugas kuliah yang diberikan dosen. Tentu pengertian orang tua dan motivasinya amat membantu dan mengurangi beban dan kesulitan yang dialaminya.
        (4) Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak, anak yang sedang belajar selalu harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar, meja, kursi, penerangan, alat menulis, buku-buku dan lain-lain.
Faktor ekonomi seringkali menjadi ganjalan dalam melaksanakan proses belajar, sehingga ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat diri mahasiswa untuk membantu bekerja meningkatkan ekonomi keluarga, tentu bekerja sambil belajar akan banyak menguras tenaga dan pikiran dan dapat berakibat pada kelelahan sehingga fokus belajar pun terpecah dan hasilnya pun kurang baik.

Kesimpulan
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam  perilaku atau potensi  perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.Belajar merupakan akibat  adanya interaksi antara stimulus dan respon.Seseorang dianggap  telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.
Faktor – faktor belajar adalah peristiwa belajar yang terjadi pada diri pembelajar, yang  dapat diamati dari perbedaan perilaku sebelum dan sesudah berada didalam proses belajar, sebab dalam makna belajar adalah adanya perubahan perilaku seseorang kearah yang lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran. 
Faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar itu banyak jenisnya. Faktor-faktor belajar itupun dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor intern yang berasal dari dalam dan faktor ekstern atau berasal dari luar.faktor luar banyak dipengaruhi dari dalam diri siswa itu sendiri dan faktor eksternal dipengaruhi oleh lingkungan luar. Faktor internal yaitu faktor faktor yang  berasal dari seseorang sendiri dan dapat mempengaruhi terhadap belajarnya. Faktor internal dibedakan menjadi tiga yaitu faktor jasmaniah, faktor kelelahan dan faktor psikologi. Faktor eksternal yaitu faktor faktor  yang berasal dari lingkungan luar dan dapat mempengaruhi terhadap belajarnya. Faktor eksternal dibedakan menjadi tiga yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.

*Mahasiswa Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Daftar Pustaka
Sumber dari Buku:
Ahmadi, H.Abu, Psikologi Belajar, 1991, cet I, Jakarta: Rineka Cipta.
Fauzi, Herman dkk, 2010, Makalah   Faktor-Faktor Yang Berpengaruhi Dalam Belajar.
Walgito, Bimo, Pengantar Psikologi Umum, 2004, Yogyakarta: Andi.
Sobur, Alex, Psikologi Umum, Bandung Pustaka: Setia

Sumber dari webset:
http://ekosuprapto.wordpress.com/2009/04/18/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses-belajar/




[1] H.Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), cet I, hlm. 130
[2] http://ekosuprapto.wordpress.com/2009/04/18/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses-belajar/
[3] Dikutip dari Herman Fauzi dkk, Makalah   Faktor-Faktor Yang Berpengaruhi Dalam Belajar, 2010
[4] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Andi, 2004), hlm. 192
[5] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung Pustaka: Setia), hlm. 180
[6] Ibid, hlm. 246


Tidak ada komentar:

Posting Komentar