Oleh: Juma’ S.Hum*
              Pendahuluan
 Di penghujung abad ke-19 M, Mesir sudah memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan. Mesir memang merupakan negeri muslim yang pertama mengalami kebangkitan kembali setelah sekian lama mengalami kemunduran. Kebangkitan ini dimulai dengan munculnya beberapa orang penulis Mesir dalam berbagai disiplin keilmuan, seperti Sejarah, Astronomi, Goegrafi dan lain sebagainya. Dalam bidang sejarah, al-Jabarti dapat dikatakan sebagai pelopor dan perintis kebangkitan kembali Arab-Islam di Mesir abad ke-19 M. Dalam makalah ini, dijelaskan tentang biografi al-Jabarti, karya-karya sejarahnya yang fenomenal serta metode penulisan sejarah di dalam karya-karyanya.

PEMBAHASAN
A.   Riwayat Singkat al-Jabarti (1754-1825 M)
Nama lengkap al-Jabarti adalah Abd al-Rahman Ibn Hasan al-Jabarti, lahir di Kairo tahun 1163 H/ 1754 M.[1] Al-Jabarti dinisbatkan pada Jabart yaitu sebuah karang kecil di negeri Habasyah (Ethiopia), negeri asal nenek moyang.[2] Nenek moyang al-Jabarti pindah ke Kairo bersama-sama dengan beberapa keluarga lain dari daerah Jabart. Perpindahan keluarga ini kelihatannya tidak disebabkan oleh kesulitan hidup, tetapi memenuhi aspirasi keagamaan, sebab tidak beberapa lama, di Kairo seorang kakek al-Jabarti ditunjuk sebagai ketua pemukiman (Syaikh ar-riwaq) di Azkar. Kedudukan ini kemudian diwariskan secara turun-temurun dari bapak sampai ke anak dan seterusnya.[3]
Al-Jabarti berasal dari keluarga yang taat beragama dan aktif berkecimpung di dunia ilmiyah. Beberapa orang diantaranya dikenal sebagai ilmuwan di al-Azhar, Mesir. Ayanya sendiri, Hasan al-Jabarti (w. 1179 H), adalah seorang ahli ilmu keagamaan islam dan ilmu pasti, terutama Astronomi dan Geografi dan mengajar di al-Azhar.[4] Al-Jabarti adalah sejarawan Mesir terkenal yang hidup di tiga periode politik Mesir; 1). Zaman pemerintahan Turki Ustmani di Mesir yang berakhir tahun 1798; 2). Zaman pendudukan Perancis (1798-1801) dan 3). Zaman pemerintahan Muhammad Ali Pasya yang dimulai tahun 1805 M.
Pendidikan formal pertamanya yang dilalui al-Jabarti adalah di Madrasah as-Samaniyah, Kairo. Disamping menuntut ilmu di madrasah ini, pada waktu yang sama, sepulang dari madrasah, ia juga belajar berbagai ilmu keagamaan dari ayahnya dan dari ulama-ulama yang datang ke rumahnya. Setelah itu, al-Jabarti melanjutkan pendidikannya di al-Azhar sambil terus belajar ilmu astronomi, matematika dan hikmah dari ayahnya.
Demikianlah pendidikan yang dilalui sampai ayahnya meninggal dunia pada 1179 H, ketika ia masih berusia 21 tahun. Dalam lapangan ilmu, al-Jabarti sebenarnya melanjutkan tradisi ilmiyah yang sudah dikembangkan oleh anggota keluarga al-Jabarti lebih dahulu. Sebagaimana ayahnya, dia juga menjadi salah seorang ulama besar al-Azhar, Kairo, Mesir. Diasmping itu, al-Jabarti juga memberi pengajaran di masjid-masjid dan rumahnya.[5]
           
B.   Karya-karya al-Jabarti
Dalam bidang sejarah, al-Jabarti menulis dua buah karya buku penting, yang pertama buku yang berjudul “Aja’ib al-Atsar fi al-Tarajim wa al-Akhbar” (Keanehan-keanehan Peninggalan tentang Biografi dan Kabar Berita). Terdiri dari empat jilid yang lebih dikenal dengan nama “Tarikh al-Jabarti” dan buku yang berjudul “Mazhab at-Taqdis”. Buku Aja’ib memotret peristiwa-peristiwa yang terjadi di Mesir, terutama di Kairo mulai dari tahun 1688 M/ 1000 H sampai dengan 1821 M/ 1236 H.
Karya al-Jabarti berisi catatan berbagai peristiwa dan data-data keamtian. Penulis memulai keryanya dengan pengantar singkat dan uraian peristiwa hingga era Utsmani. Jilid I buku Aja’ib ditutup dengan catatan kematian Muhammad Bek Abi Dzahab. Jilid III, membahas sejarah Mesirsemenjak kedatangan misi Perancis di bawah kepemimpinan Napoleon Bonaparte.[6]
Dalam perkembangan selanjutnya, Aja’ib al-Atsar dilarang beredar di Mesir pada tahun 1878 M karena menyebutkan kejelekan yang terjadi pada zaman pemerintahan Muhammad Ali Pasha. Pada tahun itu, sebagian dari buku itu saja yang diterbitkan dan baru pada tahun 1880 M buku tersebut data diterbitkan secara lengkap yaitu pada zaman Khudaywi Tawfiq. Bangsa Perancis sejak dini telah berusaha menerjemahkan buku itu dan menerbitkannya karena di dalamnya terdapat ulasan tentang penjajahan Perancis terhadap Mesir, keberadaan penduduk aslinya, serta para panglima dan kekuasaannya.[7]
Secara garis besar, sesuai dengan judulnya, karya ini dibagi atas dua bagian; bagian pertama tentang peristiwa-peristiwa sejarah dan bagian kedua tentang biografi para tokoh. Yang terakhir ini mempunyai nilai sosial yang sangat besar karena ia menggambarkan secara terinci kehidupan penduduk dunia islam bagian Timur.
Adapun karya yang lain, yaitu berjudul “Mazhab at-Taqdis” merupakan sebuah catatan terinci tentang proses pendudukan Perancis atas Mesir. Buku ini diterbitkan kembali  bahasa Arab dalam bentuk ringkasan pada tahun 1960-an, tanpa suntingan dan dibagikan di sekolah-sekolah yang berada di bawah kordinasi Departemen Pendidika dan Pengajaran Mesir. Bentuk utuh buku ini dalam bahasa Arab tidak pernah terbit lagi, tetapi terjemahannya oleh Cardin, terbit di Paris pada 1838 M dalam bahwa Turki dan Bahasa Perancis.

C.   Metode Penulisan Sejarah al-Jabarti
Al-Jabarti menulis karyanya dalam bentuk kombinasi biografi (terjemahan) dan kronikel (khabar). Dua gaya penulisan ini telah telah populer dikalangan sejarawan muslim sejak awal. Namun, pengunaan keduanya secara serentak jelas merupakan inovasi. Sejauh mana corak penulisan sejarah Usmani yang kebanyakan bercorak kronikel dan gaya penulisan historis masa dinasti Mamluk yang cendrung biografi ikut mempengaruhi pilihan penulisan al-Jabarti adalah sulit untuk ditentukan.
Al-Jabarti sendiri menjelaskan proses keterlibatannya dalam penulisan karya sejarah tersebut. pertama, semenjak tahun 1776 M (1190 H), al-Jabarti mulai tertarik membuat catatan sejarah secara lengkap tentang topik-topik kesejarahan tertentu. Dia kelihatannya mendapatkan inspirasi dari gurunya, al-Murtadha (w. 1791 M/ 1205 H). Memang kemudian al-Murtadha kemudian memintanya untuk mengumpulkan bahan-bahan sejrah dalam rangka penulisan kumpulan biografi yang disponsori oleh sejarawan asal Syiria, al-Muradi (w. 1791 M/ 1205 H). Akhirnya sepeninggal al-Murtadha dan Muradi, al-Jabarti mengembangkan karyanya sendiri yang berjudul Ajaib tersebut. Namun, tidak diragukan bahwa sumbangan tulisannya kepada Muradi juga dimuat kembali dalam karya besarnya tersebut.[8]
Ajaib al-Atsar fi al-Tarajim wa al-Akhbar dimulai dengan mukaddimah, dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa pada tahun 1099 H dan berakhir dengan peristiwa pada tahun 1236 H. Informasi dari tahun 1099 H sampai 1170 H yang terdapat di dalam buku ini bersumber dari riwayat yang diterima dari generasi yang lebih tua. Disamping dari dokumen-dokumen resmi, prasasti nisan kubur dan peninggalan sendiri bersumber dari ingatannya sendiri karena peristiwa-peristiwa itu di dalamnya sendiri.
Banyak peristiwa yang di dalamnya terjadi ketika ia berusaha masih sangat muda. Informasi yang bersumber dari ingatannya itu sendiri dibagi dua pula; (1). Peristiwa tahun 1171 H dengan tulisan terinci dan panjang lebar. Dapat dikatakan bahwa tulisan tersebut tahun 1190 H mirip dengan laporan jurnalistik di surat kabar karena ia menulis smua peristiwa yang di dalamnya.[9]
Dalam penulisan sejarah Mesir pada masa Turki Utsmani, al-Jabarti mempunyai kelebihan dibangdingkan dengan sejarawan lainnya karena; pertama, menggambar masyarakat Mesir pada masa itu dengan sempurna serta berusaha melakukan penelitian mendalam terhadap peristiwa-peristiwa yang di tulisnya; kedua, ia menyatakan di dalam bukunya bahwa ia menulis sejarah bukan karena perintah penguasa karena ia adalah ilmuwan independen. Tidak ada tanda bahwa ia terlihat “menjilat” dengan memuji-muji para penguasa agar memperoleh keuntungan baik moral maupun material, namun ia dalam hal ini bersikap netral dan bahkan kritis terhadap penguasa.
Namun, al-Jabarti masih mempertahankan corak penulisan sejarah islam yang dikembangkan para sejarawan muslim seribu tahun sebelumnya, yaitu hawliyat. Di dalam menulis peristiwa-peristiwa yang terjadi setiap tahun, dia memang sudah menggunakan pendekatan tematik, tetapi penulisan tema-tema itu tidak lebih dari pada bentuk khabar karena antara tema satu dengan tema yang lainnya tidak saling terkait, baik dalam hubungan tematis maupun hubungan kaulsalitas bahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa-masa terakhir dikumpulkan dengan tema “bulan” tidak lagi tahun. Tentunya itu dimulai pada tahun 1215 H.[10]
Kelebihan karya al-Jabarti dibandingkan sejarawan Mesir lainnya karena ia memberikan potret utuh masyarakat Mesir ketika itu dan mengungkapkan berbagai peristiwa dengan tema-tema. Uraian itu, tidak bertujuan untuk melayani tokoh tertentu atau mengikuti selera penguasa. Ia pun tidak pernah atau tujuan yang bersifat materi. Sekalipun Ajaib al-Atsar banyak memuat tema kelompok sosial, seperti pedagang, profesi lain dan kalangan Abu Dzimmah, tetapi fakus kajiannya adalah sejarah dan biografi kalangan ulama dan penguasa Dinasti Mamluk.
Al-Jabarti dikenal kritis terhadap kebijakan Muhammad Ali Pasha, terlebih lagi di masa-masa awal kepemimpinannya. Di masa pendudukan Perancis, ia ditunjuk sebagai anggota sebuah lembaga bentukan Napolen Bonaparte yang sebagian besar anggotanya adalah warga Mesir. Sedangkan usia senjanya lebih banyak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah sampai meninggal tahun 1822 M dalam perjalanannya dari kediaman menuju Kairo.[11]


BAB III. PENUTUP
Al-Jabarti lahri di Kairo 1754 M dan meninggal tahun 1805 M merupakan salah satu beberapa tokoh besar di Mesir yang hidup di tiga periode penguasa Mesir yaitu zaman Turki Usmani, masa pendudukan Perancis dan era pemerintahan Muhammad Ali Pasha.
Al-Jabarti merupakan tokoh sejarawan besar yang menghidupi historiografi Arab-Islam untuk pertama kalinya setelah sekian lama menghilang di Mesir. Dua buah karyanya; Ajaib al-Atsar fi al-Tarajim wa al-Akhbar dan Mazhar at-Taqdis. Buku Ajaib terdiri dari empat jilid. Buku ini pernah dilarang beredar pada zaman pemerintahan Muhammad Ali Pasha tahun 1878 M. buku ini kembali beredar di Mesir tahun 1880 M.
Metode penulisan sejarah al-Jabarti dalam bentuk kombinasi antara biografi dan kronikel. Karyanya banyak terinspirasi dari gurunya, al-Muradi dan al-Murtadha. Al-Jabarti menggunakan sumber-sumber primer dalam karyanya serta menggunakan hawliyat. Al-Jabarti sudah menggunakan pendekatan tematik meskipun antara tema satu dengan tema lainnya tidak ada hubungannya.

*penulis adalah sarjana Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tulisannya dimuat di berbagai media lokal, nasional dan dibukukan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yusri Abdul Ghani. Historiografi Islam dari Klasik Hingga Modern. Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2004.
Amir, Husain Ahmad. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam.  Bandung; Remaja Rosdakarya, 1995
Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia. Jakarta; Djambatan, 1992
Yatim, Badri. Historiografi Islam. Jakarta; Logos Wacana Ilmu, 1997
           




            [1] Beberapa sumber mengatakan kelahiran al-Jabarti tahun 1753 M. lihat; Husain Ahmad Amir, Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. ….. dan dalam Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta; Djambatan, 1992). Yusri Abdul Ghani Abdullah, Historiografi Islam dari Klasik Hingga Modern, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 56.
            [2] Badri Yatim, Historiografi Islam, (Jakarta; Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 217.
            [3] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Modern (Jakarta; Djambatan, 1992), hlm 469.
            [4] Yatim. Historiografi, hlm. 218
            [5] Ibid.,
            [6] Yusri Abdul Ghani, Historiografi Islam dari Klasik Hingga Modern (Jakarta; Raja Grafindo persada, 2004), hlm. 58.
            [7] Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam (Bandung; Rosdakarya, 1995), hlm. 276.
            [8] Tim Penulis, Ensiklopedi, hlm. 469-470.
            [9] Yatim, Historiografi, hlm. 219.
            [10] Ibid., hlm. 221.
            [11] Yusri, Historiografi Islam, hlm. 57-58

2 komentar: