Oleh : Saifullah Syah*

A.   Pendahuluan

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 22 tahun. Istilah remaja berasal dari kata latin adolescence (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau tumbuh menjadi dewasa.[1] Namun dewasa ini istilah adolescence mempunyai pengertian yang sangat luas, mencakup kematangan perkembangan mental, emosional, sosial, dan fisik.
Hurlock (1973) memberi batasan masa remaja berdasarkan usia kronologis, yaitu antara 13 hingga 18 tahun. Menurut Thornburgh (1982), batasan usia tersebut adalah batasan tradisional, sedangkan aliran kontemporer membatasi usia remaja antara 11 hingga 22 tahun. 
Dalam proses tumbuh menjadi dewasa ada beberapa masa yang dilalui oleh remaja. Menurut Knopka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi tiga fase (a) remaja awal: 12-15 tahun, (b) remaja madya: 15-18 tahun, dan (c) remaja akhir: 19-22 tahun.[2] Pada fase-fase tersebut ada beberapa hal yang mulai dan berkembang pada diri remaja, diantaranya perkembangan fisik, sosial, kepribadian dan lain-lain.
Perkembangan sosial dan kepribadian remaja akan berimplikasi pada cara ia merespon pengetahuan atau pengalamannya. Dalam pendidikan, perkembangan sosial pada remaja akan mendorong ia untuk senantiasa mentaati peraturan sekolah, menjalin intraksi yang baik dengan teman sekolah, menghargai pendidik atau temannya yang sedang menjelaskan pelajaran, ikut serta dalam menjaga ketentraman dilingkungan sekolah.
Sedangkan perkembangan kepribadian pada masa remaja akan menjadikan individu berani menyampaikan idenya dalam proses pendidikan dan sebagainya, membuat individu bersifat kritis terhadap apa yang disampaikan orang lain baik pendidik, teman sekolah atau siapapun dan lain-lain.
            Sejalan dengan perubahan-perubahan (perkembangan) yang terjadi dalam diri remaja, mereka pun akan mengahadapi beberapa tugas dan tanggung jawab yang berbeda dari tugas masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi.
Apabila tugas-tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, kebahagian dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas itu juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual. Maka dengan demikian pendidikan ikut serta membantu remaja untuk menyelesaikan tugas-tugasnyadan mengembangkan potensi yang dimilki. Hal ini dimaksudkan agar perjalanan remaja mampu mencapi kedewasaan yang sempurna sesuai dengan tujuan hidup bermasyarakat.

B.   Karakteristik Perkembangan Sosial Dan Kepribadian Pada Masa Remaja
Perkembangan sosial atau kepribadian pada remaja merupakan proses untuk mencapai kemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja.

Ø  Perkembangan Sosial dan Karakteristiknya Pada Masa Remaja
Perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain, keluarga, teman atau kelompok masyarakat. Perkembangan sosial adalah proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; Meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi serta bekerja sama.[3]
Anak yang baru dilahirkan belum mempunyai rasa untuk hidup sosial. Dia belum memunyai keinginan untuk bergaul dengan orang lain atau lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu ia harus belajar cara-cara beradaptasi dengan orang lain untuk memiliki kematangan sosial. Kemampuan seperti ini ditentukan oleh pengalaman serta pergaulan anak dengan lingkungan dan orang-orang sekitar.
Kematangan sosial pada diri anak sangat dipengaruhi oleh peran orang tua dalam membimbing dan mengenalkan mengenai kehidupan sosial, baik  norma-norma kehidupan bermasyarakat atau pun fenomina lain seputar lingkungan sekitar. Bimbimbingan orang tua sangat penting bagi anak, karena anak belum bisa mengenal sekitar dan tidak memiliki pengalaman banyak untuk mencapai kematangan sosialnya sendiri.
Adapun karakteristik perkembangan sosial masa remaja terbagi atas tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.[4]
1.    Di Lingkungan Keluarga
a)    Menjalin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga (orang tua dan saudara).
b)    Menerima otoritas orangtua (mau menaati peraturan yang dibuat orang tua).
c)    Menerima tanggun jawab dan batasan-batasan (norma) keluarga.
d)    Berusaha untuk membantu anggota keluarga, sebagai individu maupun kelompok dalam mencapai tujuannya.
2.    Di Lingkungan sekolah
a)    Bersipat respek dan mau menerima peraturan sekolah.
b)    Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah.
c)    Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah.
d)    Bersikap hormat terhadap guru, pemimpin sekolah, dan staf lainnya.
e)    Membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan-tujuannya.
3.    Di Lingkungan Masyarakat.
a)    Mengakui dan respek terhadap hak-hak orang lain.
b)    Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain.
c)    Bersikap simpati dan altruis terhadap kesejahteraan orang lain.
d)    Bersikap respek terhadap nilai-nilai, hukum, tradisi, dan kebijakan-kebijakan masyarakat (Alexander A. Schneiders, 1964:452-460).

Ø  Perkembangan Kepribadian dan Karakteristiknya Pada Masa Remaja
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik, Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri.
Adapun yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001). Abin Syamsudin Makmun (1996) mengartikan kepribadian sebagai kualitas prilaku individu yang tampak dalam melakukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan secara unik.[5]
Pada masa remaja awal anak laki-laki dan perempuan sudah mengetahui perbedaan diantara yang baik dan yang buruk, dan mereka sudah mulai menilai sifat-sifatnya sesuai dengan sifat teman-temannya. Sifat ini akan menyadarkan anak laki-laki dan perempuan terhadap pentingnya kepribadian dalam kehidupan sosial dan karenanya mereka akan menempuh cara untuk memperbaiki kepribadiannya lewat baca buku, haus motivasi dan ingin mendapatkan arahanan dari orang lain.
Perkembangan kepribadian dapat diketahui melalui perubahan fisik, cara berpikir, kemampuan bahasa dan menilai dirinya serta lingkungan dan lain sebagainya. Sedangkan karakteristik perkembangan kepribadian remaja adalah sebagai berikut:
1)    Berusaha untuk bersikap hati-hati dalam berprilaku, memahami kemampuan dan kelemahan dirinya.
2)    Meneliti dan mengkaji makna, tujuan dan keputusan tentang jenis manusia seperti apa yang ia inginkan.
3)    Memperhatikan etika masyarakat, keinginan orang tua dan sikap teman-temannya, dan
4)    Mengembangkan sifat-sifat pribadi yang diinginkannya.[6]
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa remaja sudah bisa dikatakan memiliki kepribadian apabila ia sudah memiliki pemahaman tentang tugas dirinya untuk dirinya sendiri, sosial, masyarakat keluarga dan lingkungan alam.

C.   Komponen-Komponen Pendidikan
Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem. Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Dalam pendidikan ada banyak komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan. Sebagian dari komponen-komponen tersebut yaitu 1) tujuan pendidikan, 2) isi pendidikan, dan 3) evaluasi pendidikan.

·         Tujuan Pendidikan
Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang normatif dan praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu pendidikan merumuskan kaidah-kaidah; norma-norma atau ukuran tingkahlaku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia. Langeveld mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia menjiwai tingkah laku perbuatan mendidik.
Langeveld mengemukakan jenis-jenis tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan khusus, tujuan tak lengkap, tujuan sementara, tujuan kebetulan dan tujuan perantara. Pembagian jenis-jenis tujuan tersebut merupakan tinjauan dari luas dan sempit tujuan yang ingin dicapai.[7]
Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah agar anak, sebagai manusia (individu) dan sebagai anggota masyarakat (manusia sosial), dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu harus terdapat keseimbangan antara segi individual dan segi sosial. Antara dua segi tersebut harus harmonis.[8]
Tugas pendidikan untuk menciptakan manusia sebagai mahluk individu adalah sekolah mengajarkan konsep-konsep hidup percaya diri, dan mengembangkan sikap kepribadian peserta didik, seperti ruang kelas yang dialektis. Pendidikan bisa mencetak out-put manusia sosial, ketika dalam kurikulum pendidikan terdapat materi yang membantu perkembangan sosial peserta didik, seperti adanya materi sosiologi serta lingkungan sekolah yang mencerminkan kehidupan bermasyarakat (terdapat peraturan sekolah, kantin dan sejenisnya).
·         Isi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta didik isi/bahan yang biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Isi pendidikan berkaitan dengan tujuan pendidikan, dan berkaitan dengan manusia ideal yang dicita-citakan.
Macam-macam isi pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama., pendidikan moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial, pendidikan civic, pendidikan intelektual, pendidikan keterampilan dan pendidikan jasmani.
Isi pendidikan moril akan menjadi daya perkembangan tingkah laku kepribadian peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, seperti materi aqidah ahlaq dan pendidikan agama. Perkembangan sosial remaja adalah ketika ia bisa berinteraksi dan mampu mentaati norma-norma masyarakat. Sekolah bertanggung jawab mempelajari budaya hidup gotong royong (membersihkan halaman sekolah bersama-sama), saling membantu antar peserta didik  atau dengan lainnya. Sekolah dapat mengeluarkan peraturan serta sangsi-sangsi bagi pelanggarnya untuk menumbuhkan gaya hiudup yang sosialis.
·         Evaluasi Pendidikan
Komponen evaluasi merupakan komponen yang berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, juga bisa berfungsi sebagai umpan balik untuk perbaikan strategi yang telah diterapkan. Kedua fungsi evaluasi tersebut merupakan evaluasi sebagai fungsi sumatif dan formatif.[9]
Evaluasi pendidikan merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik.[10]
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki tiga hal penting yaitu, input, transformasi dan output.
Disamping itu, evaluasi juga menilai seberapa besar pengaruh materi terhadap pola kehidupan sosial dan kepriabadian peserta didik. Misalnya, apakah dengan pendidikan agama peserta didik sudah mampu mengetahui untuk apa dan untuk siapa dirinya diciptakan oleh Tuhan, kemudian seberapa besar pengaruhnya dalam kepribadiaannya. Begitu juga dengan bentuk interaksi sosialnya, apakah peserta didik sudah mampu melakukan hubungan baika dan benar dengan mayarakat.

D.  Implementasi Aspek Perkembangan Sosial Dan Kepribadian Pada Masa Remaja Dalam Pendidikan
Peserta didik merupakan obyek pokok pendidikan. Anak didik yang menjadi obyek pokok pendidikan itu adalah anak yang sedang dalam pertumbuhan dan perkembangan. Kaum pendidik perlu mempunyai pengetahuan masa pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak yang sedang tumbuh dan berkembang itu tidak hidup terpisah seorang diri. Anak hidup di dalam masyarakat, dan senantiasa mengadakan interaksi sosial dengan anggota-anggota masyarakat yang lain. Oleh karena itu kaum pendidik perlu mempunyai pengetahuan tentang interaksi sosial dan pengaruh-pengaruh yang ada dalam masyarakat.
Menurut Murphy proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara organisme yang dasarnya bersifat individual dengan lingkungan khusus tertentu. Sebagai hasil dari interaksi ini maka terbentuklah koneksi antara kebutuhan-kebutuhan dan response-response, antara tegangan dengan tingkah laku yang mengubah tegangan tersebut.[11]
Sekolah termasuk ruang bagi remaja untuk berinteraksi dengan orang lain melalui proses belajar sebelum ia berinteraksi dengan masyarakat luas. Hal ini akan membantu perkembangan sosial dan kepribadian remaja. Perkembangan sosial dan kepribadian mempunyai hubungan timbal bailk dengan pendidikan. Pendidikan membantu rasa sosial dan kepribadian remaja berkembang, dan perkembangan tersebut akan berdampak pada cara dan pola belajar remaja selama ia menjalani pendidikan di sekolah ataupun di luar sekolah.
Implikasi dari perkembangan ini perlu diimplementasikan dalam pendidikan agar tujuan pendidikan untuk menciptakan manusia sebagai individu dan manusia sosial bisa terwujud. Pengimplementasian aspek perkembangan sosial dan kepribadian remaja dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
1.    Sekolah menyediakan perpustakaan, taman, kantin dan sejenisnya agar mereka dapat bertemu dan berinteraksi dengan siswa kelas lain.
2.    Pendidik lebih menujukkan pada kegiatan pembelajaran pemecahan masalah. Kegiatan ini bertujuan sebagai kontrol seberapa besar perkembangan kepribadian peserta  didik dalam hal kepedulian terhadap persoalan yang ada.
3.    Sekolah mengangkat guru BK (Bimbingan Konseling) untuk senantiasa memotivasi peserta didik agar mempunyai jiwa optimime dan percaya diri.
4.    Kurikulum harus berisikan pelajaran ilmu jiwa (ilmu jiwa umum, ilmu jiwa perkembangan, ilmu jiwa sosial), ilmu sosial (sosiologi, ekonomi, hukum, anthropologi)
-          Ilmu jiwa penting guna mengadakan penyesuaian-penyesuaian perkembangan sosial, kepribadian dan lainnya pada masa remaja dalam pendidikan.
-          Ilmu sosial penting untuk lebih lanjut mengembangkan rasa sosialnya agar mampu memahami keadaan-keadaan masyarakat.[12]
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengimplementasian perkembangan sosial dan kepribadian dalam pendidikan dapat dilakukan melalui pembelajaran dialektis (peserta didik diberi kesempatan untuk menyampaikan pengetahuannya seputar materi pelajaran) serta  sekolah memfasilitasi ruang yang berkenaan dengan kehidupan sosial.

E.    Kesimpulan
Perkembangan sosial remaja ditandai oleh  interaksi dirinya dalam lingkungan rumah tangga dan sosial masyarakat. Sedangkan perkembangan kepribadiaannya dapat diketahui apabila ia sudah memiliki pemahaman tentang tugas dirinya untuk dirinya sendiri, sosial, masyarakat keluarga dan lingkungan alam.
Pengimplementasian perkembangan sosial dan kepribadian dremaja dalam pendidikan melalui sistem pembelajaran koperatif. Artinya pendidik juga memberi kesempatan pada peserta didik untuk menyampaikan pengetahuannya. Disamping itu, sekolah juga memfasilitasi ruang yang bernuansa kehidupan sosial serta memasukkan materi sosial dalam kurikulum pendidikan.

* Mahasiswa Kependidikan Islam Fakultar Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

F.    Daftar Pustaka

Abu Ahmad, Drs dan M. Umar M.A, Drs : Psikologi Umum, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1982.

Amir Daien, Indrakusuma, Drs : Pengantar Ilmu Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1973.

Hamruni, H. Dr, M. Si :Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif Menyenangkan, Fakultas Tarbiyah, Yogyakarta, 2009.

Syamsu Yusuf LN, H. Dr. M. Pd :Psikologi Perkembangan  Anak & Remaja, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.

Suhartono, Suparla, M. Ed., Ph.D : Filsafat Pendidikan, Ar-Ruz Media, Yogyakarta, 2007.

Suryabrata, Sumadi, Drs, BA. M.A. Ed. S. Ph. D : Psikologi Kepribadian, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007.



[1] Elizabth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Erlangga, Jakarta, Edisi V 1980, hal. 206 
[2]Dr. H. Syamsu Yusuf LN. M.Pd, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, Cet. 5, 2004, hal. 184
[3]Dr. H. Syamsu Yusuf LN. M.Pd, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, Cet. 5, 2004, hal. 122
[4] Ibid, hal. 198
[5] Dr. H. Syamsu Yusuf LN. M.Pd, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, Cet. 5, 2004, hal. 126
[6] Ibid, hal. 203
[7] Drs. Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP, Malang, 1973, hal. 69
[8] Ibid, hal. 71
[9] DR. H. Hamruni, M. Si, Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif Menyenangka, Fakultas Tarbiyah UIN Su-Ka, Yogyakarta, 2009, hal. 12
[10] Dikutip dari Bloom et.all 1971.
[11] Drs. Sumadi Suryabrata, BA, MA, Ed. S. Ph. D, Psikologi kepribadian, PT Raja Grafindo Persada, Jakrta, 1983, hal. 354
[12] Drs. Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, IKIP, Malang, 1973, hal. 24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar