Oleh: Herman Busri* 

            Mencuatnya kabar tak sedap di telinga publik, setelah dua pilot Lion Air tertangkap basah sebab ditengarai mengkonsumsi narkoba. Kabar buruk ini tidak hanya menambah daftar pemberitaan di berbagai media dalam negeri, bahkan kabar ini mengundan perhatian dunia, sebagaimana yang di kutip Daily Mail  dan beberapa situs penerbangan dunia di internet. Pemberitaan yang sempat mengharumkan nama Lion Air setelah dapat membeli 230 unit Boeing 737-900 ER dan Boeing 737 MAX dan disaksikan langsung oleh presiden  Paman Sam, Barack Obama, kini dinodai oleh pemberitaan tak sedap sebab dua pilotnya yang bermasalah.

Dua pilot Lion Air telah ditemukan positif mengkonsumsi narkoba, fakta ini menyita perhatian khusus di ranah publik. Kabar ini mengundang depresi yang amat besar pada setiap penumpang karena keselamatan mereka tergadaikan. Jangankan yang biasa naik pesawat, orang yang tidak pernah naikpun “mengutuk” dua pilot tak bertanggung jawab ini.
            Sebagai seorang pilot semestinya bertanggung jawab atas keselamatan semua penumpang yang dibawanya. Namun dari kenyataan yang ada menunjukkan bahwa ada sebagian pilot yang “berkhianat” atas tugas yang mereka emban. Bagaimana tidak? Narkoba yang mereka konsumsi akan mengakibatkan daya kendali yang mengurang. Sehingga keamanan penumpang tidak lagi terjamin.
            Memang ada alasan tersendiri bagi para pilot pengguna narkoba. Padatnya jam terbang yang menjadi tanggung jawab mereka menjadi salah satu alasannya. Terlepas alasan ini benar atau tidak. Bagi mereka, narkoba dapat menahan lelah dan meningkatkan rasa percaya diri. Inilah yang menjadi alasan mengapa mereka mengkonsumsi narkoba.
            Namun, disisi lain hukum medis mengungkapkan bahwa pengguna obat-obatan terlarang ini dapat mengganggu respon kerja otak mereka. Mereka yang menggunakan narkoba akan mengalami suatu kondisi yang bias ruang dan waktu. Misalnya; suatu jarak yang jauh, akan terlihat seakan sangat dekat. Nah, lalu bagaimana bila kondisi tersebut dialami oleh seorang pilot? Tentu kita akan terbayang sesuatu yang tidak kita inginkan akan terjadi. Maka tidak berlebihan bila ada yang mengatakan bahwa maskapai penerbangan Indonesia adalah industri peti mayat terbang.
            Sebagaimana terjadinya kecelakaan maut beberapa minggu yang lalu yang sampai menelan 9 nyawa. Mobil mini bus yang dikemudikan oleh Afriyani menghantam bahu jalan dan menyerembet beberapa orang yang tengah berjalan di trotoar. Afriyani  ini tidak punya kendali diri saat mengemudi karena pengaruh narkoba yang di konsumsinya. Inilah salah satu contoh akibat buruk narkoba bila di konsumsi pengemudi. Lalu bagaimanakah nasib pengguna jasa angkutan udara, bila pilot yang mengemudikan pesawatnya dibawah pengaruh narkoba? Maka, bukan tidak mungkin suatu kecelakaan maut yang akan menelan ratusan jiwa akan terjadi. Na’udzubillah. Semoga Allah menjauhkan dari mala petaka ini.
            Alasan lain dari fakta yang ada. Berkembang pesatnya maskapai penerbangan di Indonesia yang sampai mencapai 35% per tahun yang disebabkan tunbuh pesatnya pengguna layanan transportasi udara yang mengalami peningkatan 20% per tahunnya, sehingga maskapi penerbangan membutuhkan sekitar 800 pilot, namun hanya dapat terpenuhi sebanyak 500 pilot. Jadi defisit ini mengakibatkan pemadatan jam terbang para pilot, yang mencapai 30 jam per minggunya.
            Kendati demikian, itu memang bukan alasan kuat yang cukup mendasar mengapa para pilot menggunakan narkoba. Tapi, hal itu juga perlu diperhatikan secara khusus guna mengurangi jam terbang para pilot. Hingga nantinya tidak ada alasan lagi dari para pilot, mereka menggunakan narkoba karena jam terbang mereka yang padat. Namun, terlepas dari semua alasan yang telah disebutkan. Pengguna narkoba sebenarnya telah dipengaruhi oleh gaya hidup yang menggoda mereka.
            Lalu siapakah yang paling bertanggung jawab atas tingkah “nakal” para pilot dan awak pesawat terbang ini, maskapai penerbangan ataukah Dinas Perhubungan?. Secara administratif dan kenegaraan mungkin yang paling bertanggung jawab adalah pihak yang berwajib, termasuk pihak Dinas Perhubungan. Namun kendati demikian, yang amat sangat perlu ditegaskan disini adalah keikut sertaan pihak maskapai dalam menanggulangi dan bertanggung jawab atas pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pilot mereka.
            Jika masalah ini tidak ditangani secara serius, maka bukan hanya masalah sosial yang akan menjadi derita maskapai penerbangan Indonesia, tetapi juga masalah bisnis. Bagaimana tida? Citra negatif yang membaluri maskapai penerbangan Indonesia akan mngurangi kepercayaan penumpang. Penumpang yang per tahunnya mengalami peningkatan sampai 20% itu tidak akan segan-segan di caplok oleh maskapai penerbangan asing.
            Langkah kongkrit yang harus benar-benra segera ditangani oleh maskapai penerbangan Indonesia adalah sesegera mungkin melakukan tes pada setiap pilot, inspektur, para awak, petugas pengamanan di darat sampai pengatur lalu lintas udara. Karena mereka inilah yang paling bertanggung jawab atas keselamatan ratusan penumpang.
Bila memang ditemukan ada pilot atau salah satu di antara mereka yang positif menggunakan narkoba, segeralah cabut izin terbangnya dan jangan diberi ampun. Karena hal ini menyangkut keselamatan orang banyak. Ini menjadi tugas semua maskapai penerbangan di Indonesia_tidak hanya maskapai Lion Air. Dinas Perhubungan dan BNN harus menjalin kerjasama untuk menangani masalah ini dan sesegera mungkin menangkap para pengkonsumsi narkoba. Selain itu maskapai penerbangan harus secara berkala melakukan pengecekan atau tes pada setiap pilotnya.
Sebenarnya, masalah narkotika tidak hanya menghantui maskapai penebangan, segala profesi mempunyai potensi untuk melakukan hal yang sama. Maka kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan guna mencegah dan membasmi penyalah gunaan obat terlarang ini.

*Penulis adalah penerbang merpati Indonesia di Bandara Anthena. Tinggal di Yogyakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar