Oleh: Marsus Ala-Utsman*

Kisakbi diusir dari kampungnya. Karena dianggap telah membuat resah dan mengganggu kenyamanan masyarakat. Kisakbi berani melakukan pekerjaan yang sangat fatal. Dan membuat setiap orang yang mengetahui pekerjaannya akan terasa menjijikkan.
Dulunya, pekerjaan Kisakbi setiap pagi-pagi buta. Sebelum adzan subuh berkumandang. Kisakbi mulai bergegas mengais sisa-sisa makanan yang berlendir, yang baru saja usai dicakar-cakar kucing. Atau memberai tong-tong sampah. Memilah-milih dan memungut barang-barang kotor, untuk kemudian dimasukkan ke dalam karung yang digendongnya.


Kisakbi laki-laki tua yang sudah beruban. Tinggal seorang diri di sebuah gubuk di pinggir sungai yang kotor di perkotaan. Tempat tinggalnya dibuat dari susunan kardus dan beberapa pelastik bekas untuk menepis hujan. Ia bertahan hidup dengan menggantungkan nasib di jalanan. Pada siapa pun yang merasa kasihan. Atau dimana ia sedang menyanyikan tembang sumbang di pertigaan.
Saya mendengar kabar diusirnya Kisakbi dari desas-desus riuh tetangga. Lalu diperjelas lagi oleh Sahwan, tetangga saya yang rumahnya berdampingan dengan Kisakbi. Namun anehnya, saat Sahwan menyampaikan berita itu pada saya, dia kelihatan tenang-tenang saja. Wajahnya tetap berseri. Mulutnya hanya cengar-cengir. Nadanya bergurau.
Kalau memang Kisakbi diusir, mengapa tak sedikit pun ada rasa iba dari raut wajah Sahwan? Pikir saya. Maka dari itu saya kurang begitu percaya pada ucapan Sahwan. Apa lagi, kebiasaan dia memang sering bercanda mengelabuhi saya. Bahkan tak jarang Sahwan mengatakan, Kisakbi orang yang nggak waras. Masak sudah tua masih suka main kucing, ujarnya suatu ketika pada saya. Entah apa maksudnya.
Kisakbi memang orang yang senang memelihara kucing. Di rumahnya ada sekitar sepuluh sampai dua belas kucing yang didapatnya ketika ia memberai barang-barang dalam tong sampah yang dibawanya pulang ke rumah. Kucing-kucing itu ia pelihara. Ia beri makan setiap hari.  Bahkan ia buatin kandang kucing.
 “Kucing-kucing ini adalah makhluk yang senasib dengan saya. Setiap pagi harus memberai sisa makanan di pinggir jalanan.” katanya saat berjumpa pagi-pagi sewaktu saya sedang berlari-lari kecil keliling kampung. Ia menganggap kucing seperti bagai saudaranya.
 “Saya akan pelihara kucing ini.” Lanjutnya lagi sambil membawa kucing itu.
***
“Benar, Kang, Kisakbi diusir dari kampung ini,” tegas Sahwan.
“Kata siapa? Kau ikut mengusirnya?” tanya saya. Dia malah tambah cengengesan.
Awalnya saya memang tidak percaya. Saya baru percaya kalau Kisakbi sudah tidak di kampung ini, sesaat kemudian setelah saya melewati jalan samping rumahnya. Saya tak melihat tempat tinggal Kisakbi utuh lagi. Semuanya telah rata dengan tumpukan kardus yang berserakan di tanah. Emm, siapa yang tega meratakan rumah Kisakbi?
Beberapa meter dari tempat saya berdiri melihat rumah Kisakbi, di rumah Sahwan ramai orang-orang berkerumun. Apa yang sedang mereka bicarakan? Saya belum tahu. Mungkin tentang Kisakbi yang diusir dari kampung ini. Tapi, entah apa yang Kisakbi lakukan sehingga dia diusir dari sini? Sekedar ingin tahu perihal kejadian yang menimpa Kisakbi, saya bergegas ke rumah Sahwan.
Di sana saya dengar mereka bercerita banyak hal dari awal hidup dan pekerjaan Kisakbi. Yang dulunya menjadi pemulung, sempat juga menjadi tukang bersih-bersih di sebuah sekolah, dan sekarang berjualan. Ya, menjual daging yang katanya milik seorang pedagang di salah satu pasar di desanya. Dan di antara para penjual daging di pasar itu, yang paling laris daging milik majikan Kisakbi. Pasalnya bagi para pembeli karena dagingnya dijual lebih murah dari harga biasanya. Dan yang biasa berlangganan membelinya adalah Galib dan Sahwan, dan para penjual bakso atau soto lainnya.
Namun, lama-lama timbul kecurigaan mengenai harga daging yang dijual sangat murah itu oleh Kisakbi. Para penjual daging yang lain merasa iri. Dan tak yakin itu daging sapi atau daging ayam asli yang baru disembelih. Dengan begitu, mereka mulai menyelidiki Kisakbi. Dan ternyata, akhirnya juga ketahuan kalau daging yang Kisakbi jual adalah daging kucing yang selama ini ia pelihara di rumahnya. Oleh karena itu, orang-orang kemudia sepakat mengusir Kisakbi. Terutama orang yang pernah kenak tipu membeli daging kucing tersebut.
Saya merasa pening mendengar tutur cerita mereka. Dalam benak saya muncul tanya: benarkah Kisakbi menjual daging kucing?
***
Tiba-tiba saya teringat pada saat Kisakbi diajak main ke rumah. Beberapa minggu sebelum ia diusir dari kampung ini, dia sempat ngobrol beberapa hal dengan saya. Dia juga sempat mengeluh dari cerita-ceritanya.
 “Saya akhir-akhir ini selalu bingun, Kang,” ujarnya.
 “Bingung kenapa, Bi?” tanya saya.
 “Pekerjaan apa yang bisa buat saya kaya, Kang?”
 “Kaya belum tentu senang kan, Bi?”
 “Menurut saya orang kaya pasti senang, Kang. Karena semua keinginannya bisa terpenuhi,”
 “Ya, belum tentu. Lagi pula orang seperti kita, ingin kaya? Ya harus kerja keras!”
 “Apa pun pekerjaan itu harus kita lakukan ya, Kang?”
 “Iya.”
Perbincangan itu berakhir saat ada istri saya membawa menu makan buat Kisakbi; sepiring nasi, sayur, dua potong paha ayam bakar, sambel bawang dan dua buah terong bakar. Setelah semuanya sudah disajikan di hadapan Kisakbi. Saya segera menyilahkan untuk segera menikmatinya.
 “Sampean, Kang?” tanyanya.
 “Saya sudah makan tadi,” jawab saya sedikit.
Kisakbi melahap semua makanan yang ada di hadapannya. Semuanya ia cicipi. Saya tersenyum melihat cara makannya. Dalam waktu hanya beberapa menit, ia habiskan semua makanan yang ada dalam piringnya.
***
Galib dan Sahwan merasa kesal. Ia kelilig setiap komplek perumahan dari gang ke gang. Menjajakan bakso dan sotonya. Tetapi tak ada satu orang pun yang membelinya. Kecuali seorang wanita pendatang baru di kampung itu. Dan hanya dia satu-satunya yang setiap hari berlangganan membelinya. Itu pun setelah beberapa hari kemudian, dia tak pernah memanggil Galib atau Sahwan lagi setiap kali dia menjajakan jualannya.
Em, bukan hanya Galib ternyata yang akhirnya berhenti berjualan. Warung sate milik Pak Sariman di belakang rumah saya juga tak kelihatan terbuka lagi. Begitu pula Saripa, perempuan cantik penjual bakso, warungnya sudah tutup beberapa minggu lalu. Bu Santi, istri Sahwa, yang biasa warungnya ramai setiap hari, sekarang sepi. Cuma satu-dua orang yang kelihatan duduk di mija di warung Bu Santi.
 “Bagaimana nasib kita, Kang?” keluh Bu Santi pada Sahwan.
 “Nasib apanya?”
 “Warung kita, Kang?”
 “Kenapa warung kita?” Sahwan pura-pura nggak tahu.
 “Ah, Akang kayak nggak tahu. Warung kita sebentar lagi harus gulung tikar!”
 “Kita tidak akan gulung tikar, Santi. Kalau tikar digulung, tinggal digelar lagi! Hehe,” candanya.
 “Bagaimana mungkin, Kang? Wong setiap harinya yang membeli hanya dua-tiga orang.”
 “Sabarlah dulu, Santi! Nanti saya carikan solusinya.”
***
Pagi-pagi buta sebelum matahari mengembang di ujung timur. Seperti biasa aktifitas saya setiap pagi berlari-lari kecil keliling kampung. Saat itu, sebelum Kisakbi diusir dari kampung ini, kerap saya berjumpa dengannya ketika dia sedang mengais benda-benda kotor di pinggir jalan dan memungutnya. Tak jarang pula saya selalu mengajaknya ke rumah untuk sarapan pagi bersama. Tanpa sungkan-sungkan dia langsung menerima tawaran saya dengan seulum senyum.
Tetapi, sekarang tidak lagi demikian. Semenjak Kisakbi diusir dari kampung. Yang sering saya jumpai di pinggir-pinggir jalan hanya sampah-sampah berserakan. Sampah yang berceceran usai dicabik-cabik kucing nakal. Ya, kucing yang dulu selalu menemani Kisakbi ketika pagi-pagi dia mengais-ngais tong sampah di jalanan.
Pada suatu ketika saat pagi masih petang. Saya tiba di salah satu gang perkampungan. Tak seperti pagi biasanya yang sepi. Dari kejauhan samar-samar saya melihat sosok lelaki berjalan memakai baju hitam, celana komprang setengah lutut. Mengais tempat-tempat sampah. Memungutnya. Memasukkan sesuatu ke dalam karung. Sama persis dengan Kisakbi saat saya jumpai pagi-pagi dulu.
Kisakbikah? Ah, tak mungkin dia berani kembali ke kampung ini lagi.
Keesokan harinya, lagi-lagi saya jumpai lelaki berperawakan Kisakbi di sepanjang jalan perkampungan itu. Karena merasa penasaran, saya dekati saja lelaki itu. Jika pun ia benar-benar Kisakbi, akan saya ajak ke rumah untuk sarapan pagi bersama. Jika bukan, saya juga ingin mengajaknya makan bersama ke rumah.
 “Sahwan?!” saya terkejut. Ada suara jerit kucing dalam karungnya.
 “I...iya, Kang.” Jawabnya gelagapan sambil menyembunyikan karung tersebut di punggungnya.
Setelah sejenak. Saya melanjutkan perjalanan. Pulang.
***
Diam-diam saya buntuti jejak langkah Sahwan. Ia bergegas dengan menggendong karung menyusuri jalan setapak. Lalu melintas di jembatan. Dan di seberang jembatan. Setelah Sahwan melengak-lengok memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia tergesah turun ke bawah jembatan. Saya mengintipnya diam-diam dari balik pohon asam. Tak seberapa lama setelah Sahwan berhenti sejenak di pinggir sungai di bawah jembatan. Ia keluarkan sesuatu dari dalam karung tersebut. Hem, ternyata ada sekitar tiga-empat kucing sedang ia pegang.
Ia belai kucing tersebut, dari kepalanya hingga ujung ekornya. Sebagian dari kucing itu menjerit-jerit. Ada yang meronta-ronta hendak melepaskan diri dan berlali. Tapi lekas Sahwan memasukkannya ke dalam karung. Setelah dari salah satu kucing ia jinakkan. Lalu ia keluarkan sebilah pisau tajam. Dengan sigap ia tusukkan ke leher kucing tersebut. Lalu darah segar muncrat dari lehernya. Mengalir bersama aliran air sungai.
Dan tak seberapa lama, ada banyak bulu kucing kemudian mengambang di hilir sungai. Sebelum akhirnya saya bergegas pulang.
***
Suatu waktu saat saya dan istri saya pergi ke pasar. Kita melewati jalan di depan warung Bu Santi, istri Sahwan. Saya lihat warung itu tertutup rapat. Kalau diperhatikan, warung itu sudah lama tutup. Sebab, tempat duduk yang biasanya berjajar di depannya. Sekarang tidak ada. Pintu dan halamannya juga berdebu tebal. Banyak daun-daun kering berserakan tak di sapu.
 “Bu Santi juga berhenti jualan, ya?” tanya saya.
 “Nggak. Dia pindah tempat,” jawab istri saya.
 “Tapi Bu Santi tidak lagi menjual sendiri, yang jualan di warungnya orang lain,” jelas istri saya.
 “Warungnya dimana sekarang?”
 “Itu, di seberang jalan dekat sekolah, yang kita sering beli bakso ketika jemput Anis sepulang sekolah.”
 “Sekarang laris jualannya! Orang-orang pada beli bakso atau sotonya di sana.” lanjut istri saya.
Kepala saya tiba-tiba terasa pening. Seketika terigat Sahwan saat menyembelih tiga ekor kucing di bawah jembatan. Purut mual-mual hendak mengeluarkan semua isinya. Setelah sebentar, dari belakang seperti ada suara samar-samar memanggil-manggil saya. Setelah saya menoleh, ada lelaki tua yang wajahnya mirip Kisakbi. Ia sedang menggendong seokor kucing besar dan membelai-belai kepalanya hingga ujung ekornya. Seketika itu perut saya semakin bertambah sesak. Mual-mual. Lalu muntah. Dan setelah saya menoleh kembali. Sudah tidak melihat lelaki tua itu lagi.
Yoyakarta, Januari 2012

*Penulis adalah mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam di  Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pimred Majalah Maddana Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Aktifis PMII, IKAAY dan Diskusi Lesehan Sastra Pesantren Yogyakarta. Tulisannya dimuat di berbagai Media lokal dan nasional dan terkumpul dalam beberapa antologi bersama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar