Judul Buku   : Suamiku Seorang Badui: Kisah Gadis Barat yang Hidup di Tengah Masyarakat Arab Badui
Penulis         : Marquerite van Geldermalsen
Penerbit       : Ramala Books, Jakarta
Cetakan       : 1 Oktober, 2009
Tebal             : 381 halaman
Peresensi    : Matroni el-Moezany*

Kita selalu menyukai pengalaman karena menyajikan sesuatu yang baru dan tidak kita diketahui sebelumnya. Pengalaman menguak rahasia-rahasia ketidakmengertian dan ketidaktahuan. Bahkan, pencari pengalaman akan merasakan hidup yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Pengalaman identik dengan hidup keluar dari kampung halaman. Adalah Marguerite van Geldermalsen, seorang gadis asal Selandia Baru yang memiliki kebiasaan ingin mencari pengalaman. Kebiasaan itu berkat dari orangtuanya yang imigran dari Belanda. Keduanya meninggalkan orangtuanya saat masih kecil. Ibu ikut dengan salah satu kapal, sedangkan ayah ikut salah satu penerbangan komersial. Keduanya kemudian bertemu di tempat tujuan. Seseorang yang dipanggil paman oleh Marguerite, yang merupakan teman pena ayah dan tinggal di Auckland, mengajak ayah berbisnis prangko di sana. Ayah dan ibu kemudian menikah di negara tersebut.
Sebagai seroang ibu yang selalu membebaskan anaknya. Karna dia tidak ingin mencampuri urusan mereka, karena dia merasakan modal awal dari pendidikan tersebut ketika masih kecil. Ayah pun sama, dia tidak pernah memberikan hukuman apa-apa kepada anaknya Marguerite.
Sejak usia 15 tahun, Marguerite terbiasa mendaki gunung di Selandia Baru dan Inggris. Usia 17 tahun, ia meninggalkan rumah dan masuk sekolah program 3 tahun di Rumah Sakit Braemar. Kemudian ia bertemu Maureen yang tinggal bersamanya di kos. Keduanya tinggal berpindah-pindah, dari satu rumah tua ke rumah tua yang lain.
Marguerite membeli motor Suzuki 2 tak. Dai dan Maureen menggunakannya untuk menelusuri negeri Kanada, Swiss, dan tempat-tempat indah dunia lainnya.
Ketika masih kecil, Marguerite menyukai film-film Halloween dan Wild Wild West yang kemudian membuat dia ingin selalu pergi ke Amerika Serikat. Namun, Maureen meyakinkannya kalau London merupakan tempat yang menyenangkan untuk memulai pertama kali mencari pengalaman. Marguerite dan Maureen memutuskan untuk pergi ke London pada tahun 1976.
Di sana, Marguerite dan Maureen bekerja serabutan, mulai dari sebagai pelayan bar sampai menjadi pelayan toko. Namun, Maureen menghentikan kebiasaan itu ketika dia bertemu dengan suaminya. Untungnya, Marguerite bertemu Elizabeth yang menceritakan berbagai hal seputar Yunani dan Mesir. Namun, Marguerite tidak pernah mendengarnya dan juga tidak pernah mendengar mengenai Petra. Lalu Marguerite dan Elizabeth memutuskan untuk pergi ke Petra.
Kalender menunjukkan tahun 1978. Setelah mengunjungi Yunani dan Mesir Marguerite dan Elizabeth memutuskan untuk ke Petra, Yordania. Di sanalah ia bertemu dengan seorang pria Badui yang juga seorang memiliki kebiasaan yang sama.
”Di mana kau tinggal?” Tanya pria Badui itu. “Kenapa kau tidak tinggal bersamaku. Di dalam guaku?” laki-laki itu tampak antusias.
Begitulah Marguerite membuka ceritanya. Kata-kata itu begitu membekas, bahkan menjadi daya tarik baginya, sehingga dia bersedia dipersunting oleh Muhammad Abdallah Othman, seorang penjual suvenir dari Badui di kota kuno Petra Yordania.
Bagi Marguerite, Muhammad Abdallah adalah sosok yang karismatik, yang berhasil meyakinkannya kalau dirinya adalah laki-laki yang tepat. Tanpa diduga, Marguerite telah mengulang kisah yang dialami Maureen. Apakah Muhammad Abdallah telah mengakhiri kebiasaanya Marguerite itu? Justru pernikahan itu adalah memberikan penglaman baru yang sesungguhnya.
Marguerite tinggal dengan Muhammad Abdallah di dalam gua yang dipahat dari batu merah di lereng bukit yang berusia dua ribu tahun, menjadi perawat untuk suku Badui yang menghuni tempat bersejarah itu, dan belajar untuk hidup seperti suku Badui memasak dengan api, mengangkut air dengan keledai, dan meminum teh hitam yang manis. Mereka pun dikaruniai tiga orang anak.


*Penyair



Tidak ada komentar:

Posting Komentar