Oleh: Juma', M.Hum


MANUSIA DILAHIRKAN dengan fitrahnya. Fitrah manusia berkaitan dengan hak otoritas pribadi yang menjadikan manusia memiliki kebebasan dalam menentukan arah/jalan hidupnya. Hak otoritas manusia yang dibawa sejak lahir hingga mati adalah hak untuk hidup dan mengejar kebahagiaan hidup.

Keberadaan hak-hak manusia selalu mengalami dialektika dengan lingkungannya. Dialektika tidaklah selamanya berkonotasi positif, terkadang dialektika menimbulkan problematika dan konflik tak berujung. Adanya marjinalisasi, diskriminasi dan tekanan terhadap sebuah perbedaan merupakan dialektika yang berujung konflik. Sehingga yang terjadi adalah perlawanan dan perang. Padahal, manusia dibebani kebebasan untuk bertindak dan berpikir sesuai dengan keinginan dan dalam batas kewajaran norma-etika. Manusia selalu mengidealkan harmonitas hidup.

Diperlukan sebuah entitas yang mampu mengadopsi dan mengakomodasi, mengatur dan menjamin hak asasi setiap orang. Konsep Thomas Jefferson tentang declaration of independence banyak membahas masalah kebenaran-kebenaran yang bersumber dari HAM, menyatakan bahwa untuk menjamin hak-hak asasi manusia didirikanlah pemerintahan di antara mereka yang kekuasaan legalnya didapatkan dari konvensi yang diperintah. Deklarasi HAM oleh PBB pada 10 Desember 1948 telah membuka harapan bangsa-bangsa dunia bahwa hak yang melekat dalam diri manusia tidak dapat diganggu gugat siapa pun.

Deklarasi HAM PBB merupakan puncak peradaban manusia yang lahir setelah malapetaka akibat kekejaman dan kaiban yang dilahirkan oleh negara fasis dan nazi Jerman dalam perang dunia II. (Adnan Buyung Nasution; 1997) Ini menjadi penanda akan peradaban baru manusia. Setiap perbedaan individu menurut agama, ras, suku bangsa, warna kulit, ideology, golongan dan bahasa menjadi hak yang melekat pada diri manusia yang harus dihormati dan dihargai.  Perbedaan tersebut merupakan hak asasi manusia.
Ironisnya, terkadang atas nama hak asasi manusia, negara Barat atau Amerika sering menyerang negara asi dan negara islam dengan simbol perang melawan teroris. Adanya stigmatisasi terhadap islam dengan menyebut teroris merupakan bentuk penyerangan terhadap hak asasi manusia. Kasus WTC menjadi anti-klimaks seruan hak asasi manusia yang dilakukan Amerika untuk dunia. Kasus WTC telah menjadikan Amerika begitu  brutal menginvasi dan menghancurkan Irak. Negara demokrasi dan penegak HAM, atas nama hak asasi manusia telah menghancurkan sebuah peradaban negara. Ironis sekali.

Membaca buku; “Hak Asasi Manusia; Polemik dengan Agama dan Kebudayaan”, kita akan diajak berefleksi, merenung, dan mengkritisi HAM. F. Budi Hardiman terkadang mengajak diri untuk “membenci” realitas sosial dan politik yang begitu kejam terhadap hak-hak orang. Bangsa-bangsa yang getol mengumandangkan penegakan HAM ternyata meludahi dan banyak melanggar kebebasan HAM.

Buku ini merupakan kajian filsafat politik yang akan membawa pada pemikiran filsafat tentang hak asasi manusia seperti yang dikonsepkan republikanisme Hanna Arendt, kontrak sosial Lock, Thomas Hobbes, Immanuel Kant dan filosof lainnya yang disajikan dengan renyah, sederhana tetapi kritis. Buku yang memberikan penyadaran aka urgensi kesadaran manusia berkaitan dengan agama, negara, budaya dan sosial dalam ranah hak asasi manusia.

Penulis mengajak pembaca untuk menyelami dan menemukan pemikiran-pemikiran radikal dan kritis tentang polemik dan problematika hak asasi manusia ketika harus bersinggungan langsung dengan agama, negara dan budaya dengan tendensi politis tentunya. Mulai sejarah hak asasi manusia, deklarasi DUHAM PBB 1948 hingga universalitas hak asasi manusia.

Berbagai kasus yang melibatkan Amerika telah mengindikasikan terjadi konspirasi atas nama hak asasi manusia dalam percaturan politik internasional. Ada kepentingan politik dibalik retorika keunggulan agama dan kebudayaan yang digelontorkan negara barat dan Amerika. Kasus invasi Amerika ke Irak bukan hanya semata masalah agama, tetapi motif ekonomi, karena disana tersimpan kekayaan minyak sebagai penyuplai terbesar di dunia.

Peperangan yang mengatas-namakan simbol terorisme, sebenarnya hanyalah permainan negara barat untuk melakukan invasi ekonomi dan kekuatan modal di sebuah negara Asia. Pertarungan agama dan kebudayaan semakin digencarkan negara barat untuk menunjukkan dominasinya di negara berkembang seperti Indonesia. Dikotomi barat-timur dan islam-kristen menjadi semakin lebar dengan atas nama agama yang ditunggangi kepentingan politik. Negara-negara barat menebar teror dan stigma buruk kepada agama tertentu.

Setiap individu memiliki kebebasan untuk bertindak, tetapi ada kebebasan orang lain yang perlu diperhitungkan. Atas nama hak asasi manusia, kita tidak bisa menegasikan entitas kebebasan orang lain, karena hak asasi manusia dimaklumkan untuk melindungi manusia dari pengalaman-pengalaman negative modernitas, akibat kesewenangan kekuasaan, ekspansi pasar, kapitalis, tekanan kelompok atau hegemoni teknologi informasi.

Deklarasi hak asasi manusia yang berbicara tentang personal right, political right, legal equality right, property right, procedural right dan social cultural right, sangat tidak bisa direlatifkan demi memenuhi ambisi politik, ekonomi, agama atau pun kebudayaan, agar peradaban baru tentang HAM akan semakin terbuka lebar tanpa harus ada penghalang sedikit pun baik atas nama agama dan kebudayaan tertentu. Nilai-nilai inilah yang sejatinya perlu terpatri di lubuk kesadaran jiwa manusia. buku ini akan meretas HAM dalam polemik agama dan kebudayaan.


Data Buku:

Judul Buku: Hak-Hak Asasi Manusia; Polemik dengan Agama dan   Kebudayaan
Penulis: F. Budi Hardiman
Penerbit: Kanisius
Cetakan: September 2011
Tebal: 159 halaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar