(Tealaah Atas QS al-Anbiya[21]: 107)
Oleh: Rahbini, M.Pd*
A.  Pendahuluan
Pendidikan Islam lahir dan berkembang bersamaan dengan diwahyukannya Islam sebagai agama samawi terakhir kepada nabi Muhammad SAW.  Pada masa pertumbuhan, yaitu ketika rasulullah selesai menerima wahyu pertama  dengan wahyu ke dua, proses kependidikan[1] hanya terbatas kepada keluarga-keluarga dekatnya dan kemudian kepada para sahabatnya. Penyampaian ajaran yang dilakukan oleh beliau adalah untuk mengakui kebenaran agama yang dibawakan oleh nabi Muhammad tersebut dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, kerena pendidikan yang dilakukan oleh beliau pada waktu itu adalah pendidikan yang menyangkut masalah keimanan (aqidah), di tengah paham paganisme yang telah mengakar cukup kuat pada masyarakat Jahiliyah. Salah satu tempat yang  digunakan Nabi  Muhammad SAW untuk proses pendidikan Islam tersebut adalah di rumah beliau sebagai tempat penyampaian ajaran agama Islam.

Setelah dilakukan selama kurang lebih tiga tahun, proses penyebaran Islam dilakukan dengan cara terang-terangan dan meninggalkan cara sembunyi-sembunyi yang dilakukan sebelumnya. Cara terang-terangan ini pada awalnya ditujukan kepada kerabat, penduduk Mekkah yang beraneka ragam golongan masyarakatnya, kemudian para suku arab yang datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Proses ini terus berkembang sejalan dengan upaya untuk mengajarkan Islam.
Wahyu pertama  (iqra’)[2] merupakan dasar utama dalam proses pendidikan Islam, ayat tersebut menanamkan pentingnya membaca dan menulis yang disertai dengan adanya pengakuan terhadap Allah SWT  Dzat Yang Maha Mulia. Hal ini menjadikan pendidikan Islam tidak dapat lepas dari sebuah entitas nilai, terutama nilai-nilai ilahiah yang tertuang dalam bingkai al-Qur’an. Membaca dan menulis menjadi perhatian utama dalam Islam, karena membaca dan menulis merupakan gerbang ilmu pengetahuan yang mengantarkan umat manusia ke dalam samudra ilmu yang tidak tampak garis tepinya.
Aktifitas membaca dan menulis tersebut merupakan dobrakan terhadap tradisi penyebaran ilmu  pengetahuan yang pada awalnya hanya disebarkan dari mulut ke mulut (sima’i) yang telah menjadi kebiasaan mesyarakat pada waktu itu. Meskipun demikian, dalam proses kependidikan yang terjadi pada masa awal Islam tersebut, belum mengalami kondisi seperti yang kita saksikan sekarang ini, termasuk juga tempat atau institusi yang digunakan dalam proses pembelajaran dan akfitas pendidikan lainnya. Dalam makalah ini penulis ingin melihat bagaimana paradigma pendidikan Islam itu dapat kita aktualisasikan kembali, setelah pada masa awal Islam sampai abad pertengahan telah mencapai titik kulminasi kesuksesan dan kemajuannya, terutama ketika dikaitkan dengan al-Qur’an surat al-Anbiya’ ayat 107.
B.  Paradigma Islam Rahmatan Lil’alamin.
Sebelum memasuki pembahasan tentang paradigma Islam dalam konteks pendidikan, sebaiknya kita menelusuri lebih dahulu tentang pengertian paradigma dari berbagai segi. Secara etimologis paradigma berasal dari bahasa Inggris paradigm yang berarti  type of something, model, pattern (bentuk sesuatu, model, pola). Secara terminologis paradigma berarti a total view of problem; a total outlook, not just a problem in isolation.  Menurut Thomas S. Kuhn,[3] paradigma adalah satu kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Paradigma[4] sebagai dasar  pendidikan adalah cara berfikir atau sketsa pandang menyeluruh yang mendasari rancang bangun suatu sistem pendidikan. Dengan demikian, paradigm pendidikan Islam berarti pola, corak, model atau wawasan pendidikan dalam perspektif al-Qur’an.[5]
Memahami pendidikan Islam tidak semudah mengurai kata “Islam” dari kata “pendidikan”, karena selain sebagai predikat, Islam juga merupakan substansi dan subjek penting yang cukup kompleks. Karenanya, untuk memahami pendidikan Islam berarti kita harus melihat aspek utama missi agama Islam yang diturunkan kepada umat manusia dari sisi pedagogis. Islam sebagai ajaran yang datang dari Allah sesungguhnya merefleksikan nilai-nilai pendidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia sehingga menjadi manusia paripurna (par excellence). 
Islam sebagai agama universal (ramatan lil’alamin) yang telah memberikan pedoman hidup bagi manusia menuju kehidupan bahagia, yang pencapaiannya bergantung pada pendidikan yang diperaktekkankannya. Dengan demikian, Islam sangat berhubungan erat dengan pendidikan. Hubungan keduanya bersifat organis-fungsional, pendidikan berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan Islam, dan Islam menjadi kerangka dasar pengembangan pendidikan Islam, serta memberikan landasan sistem nilai untuk mengembangkan berbagai pemikiran tentang pendidikan Islam. Dalam hal ini firman Allah SWT di bawah ini dapat dijadikan landasan paradigmatik pendidikan Islam:

وَماَ أَرْسَلْنٰكَ اِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ 
(dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).
Kata rahmah berasal dari akar kata rahima-yarhamu-rahmah, di dalam beberapa bentuknya, kata ini terulang sebanyak 338 kali di dalam al-Qur’an. Yakni, di dalam bentuk fi’il madhi disebut 8 kali, fi’il mudhari’ 15 kali, dan fi’il amar 5 kali. Selebihnya disebut di dalam bentuk ism dengan berbagai bentuknya. Kata rahmah sendiri disebut sebanyak 145 kali[6].  Ibnu Faris menyebutkan bahwa kata yang terdiri dari ra, ha, mim, pada dasarnya menunjuk kepada arti ”kelembutan hati”, “belas kasihan”, dan “kehalusan”. Dari akar kata ini lahir kata rahima, yang memiliki arti ikatan darah, persaudaraan, atau hubungan kerabat.
Al-Asfahani[7] menyebutkan bahwa rahmah adalah belas kasih yang menuntut kebaikan kepada yang dirahmati. Kata ini kadang-kadang dipakai dengan arti ar-riqqatu mujarradah (belas kasih semata) dan kadang dipakai dengan arti al-ihsanul mujarrad dunar-riqqah (kebaikan semata-mata tanpa belas kasih). Misalnya, jika kata rahmah disanadarkan kepada Allah, maka arti yang dimaksud tidak lain adalah “kebaikan semata-mata”. Sebaliknya jika disandarkan kepada manusia, maka arti yang dimaksud adalah simpati semata. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa rahmah yang datang dari Allah adalah in’am (karunia atau anugrah), dan ifdhal (kelebihan) dan yang datangnya dari manusia adalah riqqah (belas kasih).
Kata rahmah yang digunakan dalam al-Qur’an hampir semuanya menunjuk kepada Allah Swt, sebagai sabjek utama pemberi rahmah. Atau dengan kata lain, rahmah di dalam al-qur’an berbicara tenang berbagai aspek yang berkaitan dengan kasih sayang, kebaikan, dan anugerah rezeki Allah terhadap makhluk-Nya. Dengan demikian, jelas bahwa subjek utama dari pemberi rahmah yang diungkap al-Qur’an adalah Allah Swt, Dia menyifati diri-Nya dengan kasih dan sayang yang maha luas (rahman), mewajibkan bagi diri-Nya sifat rahmah sebagaimana termaktub dalam QS.Al-An’am (6): 12) sebagai berikut;
Artinya: Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.
 Dan rahmah-Nya meliputi segala sesuatu (QS.Ghafir (40):7). Rahmah-Nya ditaburkan kepada semua makhluk dan tak satupun makhluk yang tidak mendapatkan rahmah Allah walau sekejap. Bahkan musibah atau pun kesusahan yang menimpa seorang hamba pada hakikatnya adalah perwujudan dari rahmah-Nya jua. Bukankan orang tua yang menghukum anaknya yang berbuat kesalahan merupakan kasih sayang orang tua tersebut kepada anaknya?. Dengan demikian, rahmah-Nya adalah anugerah dan nikmat ilahi di dalam seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Seiring dengan keluasan rahmah-Nya, al-Qur’an mengungkapkan bahwa rahmah Allah diberikan kepada alam semesta secara keseluruhan, termasuk kepada manusia sebagaiman disebutkan dalam QS.Al-Anbiya’ ayat 107 di atas, juga diberikan kepada orang-orang yang beriman[8], orang-orang yang berpegang teguh didalam keimanannya[9], orang-orang yang beramal shaleh[10], orang-orang yang berbuat kebaikan[11], orang-orang yang berserah diri[12], serta orang-orang atau kaum yang yakin[13].
Rahmah yang diturunkan oleh Allah ke alam semesta secara umum berupa pengutusan para nabi dan rasul. Para ulama menyimpulkan bahwa rahmah Allah kepada makhluk-Nya terbagi menjadi dua, yakni; rahmah umum dan rahmah khusus. Rahmah umum diberikan kepada makhluk-Nya tampa terkecuali, sedangkan rahmah khusus hanya diberikan kepada makhluk-Nya yang beriman dan taat kepada-Nya. Sementara itu ulama berpendapat bahwa denga sifat rahman-Nya, Allah Swt memberikan semua karunia rahmah-Nya secara umum kepada seluruh makhluk-Nya di dunia ini tanpa kecuali, sedangkan dengan sifat rahim-Nya, Allah Swt memberikan rahmah-Nya secara khsusus kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada-Nya di akhirat kelak. Sepertinya, pendapat ini didasarkan kepada salah-satu prolog doa Rasulullah Saw “ya rahmanad dun-ya wa ya rahimal akhirah” (Wahai Yang Maha Pengasih di dunia dan Maha Pengasih di akhirat).
Dari perbedaan ppengertian antara al-Rahman dan al-Rahim di atas terkesan bahwa Allah hanya memberikan rahim hanya sebagai respon terhadap sikap dan perbuatan manusia sendiri, seolah-olah Allah di sini pasif dan tidak mau tahu apakah manusia itu mengambil langkah yang benar atau keliru[14]. Sebenarnya Allah tidak tinggal diam, membiarkan hamba-Nya tidak berbuat baik. Allah melalui Nabi dan Rasul-Nya menurunkan wahyu yang dapat member petunjuk. Wahyu yang memberikan petunjuk inilah merupakan rahmah.
Redaksi ayat tersebut di atas kelihatan sangat ringkas, akan tetapi ayat tersebut mengandung makna yang sangat luas bahkan dari segala sisinya akan memancarkan berbagai makna yang bermacam-macam laksana mutiara yang memancarkan cahaya dari berbagai sisinya. Ada empat hal pokok yang tersebut dalam ayat tersebut, pertama rasul atau utusan Allah dalam hal ini adalah nabi Muhammad SAW, kedua ada lah Allah yang mengutus beliau, ketiga yang diutus kepada mereka (al-‘alamin) dan yang keempat adalah risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, yakni rahmat yang sifatnya sangat besar  sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah atau indifinitif dari kata tersebut.[15]
Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW adalah sebagai rahmat bagi semua mahluk yang ada di muka bumi, karena beliau membawa risalah yang dapat mengantarkan umat manusia menjadi bahagia baik di dunia maupun di akhirat.[16]  Rahmat yang dibawa oleh rasulullah tersebut tidak hanya terbatas pada satu golongan atau komunitas tertentu saja, akan tetapi berlaku bagi setiap manusia baik yang muslim maupun non muslim, meskipun ada sebagian ulama yang berpendapat dan menafsirkan ayat tersebut secara ekslusif, sehingga rahmat itu hanya khusus atau monopoli bagi mereka yang beragama Islam.[17]
            Dalam konteks pendidikan Islam Rasulullah SAW adalah guru pertama[18] yang diutus oleh Allah mengajarkan segala sesuatu yang terkandung dalam al-Qur’an kepada umatnya, baik yang menyangkut akidah, ibadah, mua’amalah dan etika sosial. Tempat yang digunakan oleh beliau adalah Majlis yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat musyawarah, akan tetapi menjadi pusat pengajaran dan pendidikan Islam pada waktu itu. Indikator kependidikan itu menunjukkan tentang bagaimana Nabi Muhammad sebaga guru yang paling agung ini telah berhasil mendidik serta menggembleng para shahabat beliau hingga menjadi manusia yang teruji kemuliaan akhlaknya.
Islam sebagai rahmatan lil‘alamin  secara konseptual pendidikan amat menghargai pemberdayaan manusia dengan upaya membebaskannya diri sebagai berbagai penindasan dan menghormati perbedaan. Banyak contoh ketika Rasulullah memberantas kejahiliaan masyarakat Arab, dari kebodohan, dari kesenangannya pada peperangan. Karena paradigma yang dipegang oleh Rasulullah  SAW adalah Islam universal dan kosmopolitan bukan untuk satu golong saja melainkan semua manusia.
Agar pendidikan Islam itu betul-betul menjadi pendidikan rahmatan lil’alamin yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu (space and time)  ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya adalah, kebebasan, kesetaraan, keadilan, persamaan, etika dan perdamaian. Nilai-nilai fundamental ini harus ditanamkan dalam pendidikan Islam yang selama ini masih jauh di atas panggang api.
Untuk menuju pendidikan yang rahmatan lil’alamin dibutuhkan sebuah pendidikan Islam yang menghargai pluralism dan multikulturalisme.[19] Aspek perbedaan harus menjadi titik tekan dari setiap pendidik. Pendidik harus sadar betul bahwa masing-masing peserta didik merupakan manusia yang unik, karena itu tidak boleh ada penyeragaman-penyeragaman dan lembaga pendidikan harus memberikan ruang kepada peserta didiknya agar mampu mengekspresikan perbedaan tersebut pada semua aspek kehidupan.
Kata al’alamin adalah bentuk jama’ dari kata ‘alam yang menurut para ahli dipahami sebagai kumpulan sejenis makhluk Allah yang hidup, baik hidup sempurna maupun terbatas. Jadi ada alam manusia, alam malaikat, alam jin, alam hewan dan tumbuh-tumbuhan. Semua itu memperoleh rahmat dengan kehadiran Nabi Muhammad saw yang membawa ajaran Islam. Dengan rahmat itulah terpenuhi kebutuhan batin manusia untuk meraih ketenangan, ketentraman serta pengekuan atas wujud, hak, bakat  dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhi kebutuhan orang kecil dan besar, menyangkut perlindungan, bimbingan dan pengawasan serta saling pengertian dan penghormatan.
            Pendidikan menyimpan kekuatan yang luar bisa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberi informasi yang paling berharga mengenai pasangan hidup masa depan di dunia, serta membantu anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan yang esensial untuk menghadapi perubahan.
Pendidikan Islam rahmatan lil’alamin adalah pendidikan yang menjunjung tinggi moralitas atau budi pekerti luhur, karena risalah atau tugas kenabian adalah untuk menyempurnakan akhlak sesuai dengan sabdanya “aku diutus semata hanya untuk menyempurnakan akhlak”. Dengan demikian pendidikan yang berwawasan semesta (rahmatan lil’alamin) adalah pendidikan yang memberikan kebaikan actual kepada manusia, dengan berbagai harapan. Untuk mencapai pendidikan yang rahmatan lil’alamin ada tiga hal yang harus dijadikan pendulum epeitemologinya, pertama adalah dengan menggunakan rasionalitas, kedua, dengan menanamkan sikap empati dan kepedulian kepada sesama, dan ketiga ikut serta membangun sebuah peradaban (ilmu pengetahuan, seni dan system sosial) yang unggul. Sehingga pendidikan yang seperti ini bersifat idealistik, yakni pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik dan berakar pada budaya yang kuat. Adapun pendidikan yang idealistik ini bisa dijelaskan sebagai berikut[20]: pertama, pendidikan integralistik mengandung komponen-komponen kehidupan yang meliputi, Tuhan, manusia dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integral bagi terwujudnya kehidupan yang baik, serta pendidikan yang menganggap manusia sebagai sebuah pribadi jasmani-rohani, intlektual, perasaan dan individu sosial.
Pendidikan yang integralistik ini diharapkan bisa menghasilkan manusia yang memiliki integritas yang tinggi, yang bisa bersyukur dan menyatu dengan kehendak Tuhannya, yang bisa menyatu dengan dirinya sendiri sehingga tidak tidak memiliki kepribadian yang terbelah (splite personality), menyatu dengan masyarakatnya, sehingga bisa menghilangkan disentegrasi sosial, dan bisa menyatu dengan alam atau lingkungan sehingga tidak melakukan kerusakan dan eksploitasi besar-besaran. Sesuai dengan sabda Rasullah SAW bersabda bahwa “al-nadhafatu minal iman” bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, bukankah menjaga lingkungan dari segala bentuk eksploitasi dan pencemaran lebih besar dari sekedar menjaga kebersihan dan itu justru merupakan hal yang paling fundamental yang banyak dilupakan. Sehingga hadis itu dapat berbunyi “ishlahul biah minal iman” (menjaga lingkungan adalah sebagian dari iman).
Kedua,pendidikan yang humanistik memandang manusia sebagai manusia, yaitu makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup. Sebagai mahkluk yang menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak menyuarakan kebenaran, hak berbuat kasih sayang dan lain sebagainya. Sesuai dengan firman Allah dalam QS Ali Imran (3): 159:
Artinya;  Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Ayat tesebut juga menjadi bukti bahwa Allah sendiri telah mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad sebagaimana sabda beliau: Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil didikan-Nya. Dari ayat tersebut di atas juga tersirat bagaimana seorang pendidik harus betul-betul bersikap profesional dan mengerti psikologi peserta didiknya, dengan bersikap lembut dan manusiawi, sehingga tidak hanya menindahkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya (transfer of knowledge), akan tetapi ia mampu memberikan dan menanamkan nilai  (transfer of value) yang dapat menyinari hatinya, dan mampu mewarisi skill pada anak didiknya (transfer of skill), sehingga ia tampil menjadi orang yang menjadi rahmat bagi alam semesta setelah lulus dari lembaga pendidikan di mana ia belajar. Tentunya semuanya dengan harapan  agar dapat meningkatkan kualitas anak didik tertama dalam kualitas berfikir, kualitas moral, kualitas kerja, kualitas pengabdian dan kualitas hidup.[21]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam mengacu pada paradigma  rahmatan lil’alamin di atas, harus memberikan ruang kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan bakat dan potensinya untuk mencapai kualitas manusia yang berbudaya, yang pada konteks modern dikenal dengan istilah kebebasan akademik (academic freedom), dimana siswa bebas belajar dan guru bebas mengajar. Kondisi seperti ini hanya mungkin terjadi ketika didalamnya ada prinsip humanisasi, yang tidak menganggap murid sebagai tong sampah yang harus diisi sebanyak mungkin data-data ilmu pengetahuan.
Akan tetapi ia sebenarnya harus diposisikan sebagai mitra belajar yang juga mempunyai konsep yang ada dalam pemikirannya yang harus dikembangkan bersama-sama dalam situasi pembelajaran. Sehingga pendidikan Islam tidak tampak menjadi penjara yang menyeramkan dan guru tidak tampil seperti algojo yang siap mengekskusi  talenta mereka, akan tetapi mereka bersikap lembut sehingga dilihat layaknya menjadi taman yang indah dan tempat yang aman, enak dan menyenangkan sedangkan guru laksana penjaga taman yang ramah yang selalu tersenyum bagi anak-anak. Sehingga anak didik tumbuh sempurna, baik aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Sehingga outputnya benar-benar menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan dan tergolong orang yang ittiba’ di syari’atillah (mereka yang memiliki aqidah yang mantap, kedalaman spiritual dan akhlak yang unggul, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial) sekaligus ittiba’ bi sunnatillah (mereka berusaha membaca fenomena alam, fenomena social, fenomena budaya dan fenomena lainnya).
Pendidikan yang humanistik diharapkan dapat mengembalikan hati manusia ditempatnya yang semula, dengan mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai sebaik-baik mahluk  (khairu ummah). Manusia yang manusiawi yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik  diharapkan bisa berfikir, berasa dan berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang bisa mengganti sifat individualistik, egositik, egosentrik dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia, sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan dan lain sebagainya.
Ketiga pendidikan yang pragmatik adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya, baik bersifat jasmani, seperti sandang, pangan, papan, sex, kendaraan dan lain sebagainya. Juga bersifat rohani, seperti berfikir, merasa, aktualisasi diri, kasih sayang dan keadilan maupun kebutuhan sukmawi, seperti dorongan untuk berhubungan dengan yang adikodrati (Tuhan). Pendidikan yang pragmatik diharapkan dapat mencetak manusia pragmatik yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya, peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan dapat membedakan manusia dari kondisi dan situasi yang tidak manusiawi.
Keempat, pendidikan yang berakar budaya[22] kuat, yaitu pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah, baik sejarah manusia pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa atau kelompok etnis tertentu. Pendidikan yang berakar budaya kuat ini diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri, percaya pada diri sendiri, dan membangun pradaban berdasarkan pada budayanya sendiri yang merupakan warisan monumental dari nenek moyangnya. Akan tetapi disisi yang lain bukan berarti orang yang anti kemodernan, yang menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar.
Disamping memberikan kebebasan dalam pendidikan Islam rahmatan lil’alamin, paradigma tersebut juga memberikan ruang kesetaraan dan keadilan. Artinya Islam memberikan ruang akses yang sama bagi peserta didik untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tampa membedakan jenis kelamin, suku, agama, dan golongan.  Pendidikan betul-betul dirasakan oleh seluruh lapisan untuk meningkatkan dirinya pada derajat yang lebih tinggi dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal itu sudah dipraktekkan oleh rasulullah ketika melakukan pendidikan pada masa awal Islam.
Pendidikan Islam harus mampu menanamkan nilai-nilai sosial bagi peserta didik sejak dini, agar kelak mereka setelah lulus dari satuan lembaga pendidikan tidak terasing dari lingkungannya. Mereka ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan social dan peduli terhadap sesama, tampa melihat dari golongan mana mereka, dan agama serta ideologi apa yang dianutnya.
Sebagaimana diyakini oleh setiap muslim, bahwa Islam adalah agama wahyu terakhir yang mengemban misi rahmatan lil’alamin, yaitu terciptanya dunia yang makmur, dinamis, harmunis dan lestari.[23] Sehingga seluruh penghuninya, baik manusia maupun mahluk-mahluk yang lain merasa aman, aman dan kerasan didalamnya.
Agar manusia dapat berperan sebagai khalifah dan mampu mewujudkan rahmatan lil’alamin, pada hakekatnya Allah telah memberikan pendidikan kepada manusia dengan sempurna. Allah telah menciptakan manusia dengan unsur-unsur dan perlengkapan sempurna, sehingga sangat memungkinkan untuk melaksanakan tugan kekhalifahan yang sesunguhnya sangat berat.
Dari uraian di atas menjalaskan kepada kita, bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang berwawasan semesta, berwawasan kehidupan yang utuh dan multi dimensional, yang meliputi wawasan tentang ketuhanan (akidah), manusia dan alam secara integrative serta moral spiritual. Wawasan ketuhanan (tauhid) akan menumbuhkan ideologi, idealisme, cita-cita dan perjuangan. Wawasan tentang manusia akan menumbuhkan kearifan, kebijaksanaan, kebersamaan, demokrasi, egalitarian, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan sebaliknya menentang anarkisme dan kesewenang-wenangan.
Sementara itu, wawasan tentang alam dan lingkungan hidup akan melahirkan semangat dan sikap ilmiah, sehingga melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesadaran yang mendalam untuk melestarikannya, karena alam bukan semata-mata objek yang harus dieksploitasi seenaknya, melainkan sebagai mitra dan sahabat yang ikut menentukan corak kehidupan.
Ketiga wawasan tersebut diharapkan dapat melahirkan kebudayaan yang berkualitass (amal shalih), sebagaimana dikehendaki oleh nurani manusia. Bukan kebudayaan yang justru menumbuhkan ketakutan, kekejaman dan menurunkan derajat manusia.  Dengan demikian pendidikan Islam adalah pendidikan yang diharapkan mampu menyiapkan kader-kader khalifah, sehingga secara fungsional keberadaannya menjadi pemeran utama tatanan dunia yang rahmatan lil’alamin.

C.  Kesimpulan
Paradigma Islam rahmatan lil’amin dalam pendidikan Islam merupakan sebuah keniscayaan (dlaruriy), karena disadari atau tidak pendidikan Islam adalah tempat menyemai kader-kader umat manusia yang dihaparkan nanti menjadi pendulum perubahan yang bermoral dan berdaya guna bagi alam semesta. Untuk menjadi mesin pencetak manusia yang rahmatan lil’alamin pendidikan Islam paling tidak harus memiliki empat wawasan pokok dalam proses pendidikannya.
Pertama, pendidikan integralistik mengandung komponen-komponen kehidupan yang meliputi, Tuhan, manusia dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integral bagi terwujudnya kehidupan yang baik, serta pendidikan yang menganggap manusia sebagai sebuah pribadi jasmani-rohani, intlektual, perasaan dan individu sosial.
Kedua,pendidikan yang humanistik memandang manusia sebagai manusia, yaitu makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup. Sebagai mahkluk yang menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak menyuarakan kebenaran, hak berbuat kasih sayang dan lain sebagainya.
Ketiga pendidikan yang pragmatik adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya, baik bersifat jasmani, seperti sandang, pangan, dan papan, Juga bersifat rohani, seperti berfikir, merasa, aktualisasi diri, kasih sayang dan keadilan maupun kebutuhan transcendental.
Keempat, pendidikan yang berakar budaya yang kuat, yaitu pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah. Pendidikan yang berakar budaya kuat ini diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri, percaya diri, dan membangun  pradaban berdasarkan pada budayanya sendiri yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Akan tetapi disisi yang lain bukan berarti orang yang anti kemodernan, yang menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar.

*Mahasiswa Program Doktor Kependidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktivis PMII Kabupaten Sumenep Madura, Ketua Sekolah TInggin Islam Nasy’atul Muta’allin.


Daftar Pustaka
A Malik Fajar, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Fajar Dunia,1999.
Abi Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jami al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Vol. IX, Bairut; Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1999.
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.
M.Quraish shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol 8, Cet. VIII, Jakarta: Lentera Hati, 2007.
Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum Hingga Strategi Pembelajaran, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2009.
Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni al-Syanqithi, Adlwa al-Bayan fi Idlahi al-Qur’an bi al-Qur’an, Vol. IV, Kairo: Dar al-Hadits, 2005.
M. Dawam Raharjo, Esiklopedi Al-Qur’an Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Jakarta: Paramadina, 2002.
Muhammad Thalhah Hasan, Islam Dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta: Lantabora Press, 2003.
Said Aqil Husin Al-Munawwar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2003.
Sahabuddin dkk (Editor), Ensiklopedi Al-Qur’an, Kajian Kosa Kata, Jakarta: Lentera Hati, 2007.
Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, Ikhtiar Mewujudkan Pendidikan Bernilai Ilahiyah dan Insaniah di Indonesia, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
Thomas S.Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (Chicago: University of Chicago, 1970.


[1] Kependidikan ini dipahami  sebagai sebuah bentuk atau proses transmisi informasi kebenaran Islam sebagai sebuah agama baru.
[2] Iqra’ disini paling tidak mempunyai tidak arti pokok, yaitu; pertama membaca teks (al-Qur’an, al-Sunnah dan teks-teks lainnya, kedua membaca realitas sosial, dan ketiga adalah menbaca diri (muhasabah), dari titik inilah sebenarnya kemudian umat manusia diharuskan untuk mempunyai ilmu pengetahuan yang memadai dan kaya wawasan yang tetunya diawali dengan memasuki gerbang membaca sebuah teks yang sudah lazim dilakukan di dalam pendidikan Islam.
[3] Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (Chicago: University of Chicago Press, 1970), hlm.7
[4] Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, Ikhtiar Mewujudkan Pendidikan Bernilai Ilahiyah dan Insaniah di Indonesia, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm.3
[5]Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta; Gramedia, 1996), hlm.779,  terdapat beberapa pengertian tentang paradigma, diantaranya sebagai berikut: pertama cara memandang sesuatu, kedua dalam ilmu pengetahuan diartikan sebagai model, pola, ideal. Dari model-model ini berbagai fenomena dipandang dan dijelaskan. Ketiga totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah konkrit, hal ini melekat dalam peraktik ilmiah pada tahap tertentu, dan keempat adalah dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.
[6] Sahabuddin dkk (Editor), Ensiklopedi Al-Qur’an, Kajian Kosa Kata, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm.810. 
[7] Sahabuddin dkk (Editor), Ensiklopedi Al-Qur’an, Kajian Kosa Kata, ……810
[8] QS. Al-Nisa’ (4): 175, QS.Al-A’raf (7): 52, Al-Taubah (9): 61, QS (11):57.
[9] QS. Al-Nisa’ (4): 175,
[10] QS.Al-Jatsiyah (45):30.
[11] QS.Lukman (31): 3.
[12] QS.Al-Nahl (19):89.
[13] QS.Al-Jatsiyah (45):20
[14] M. Dawam Raharjo, Esiklopedi Al-Qur’an Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, (Jakarta: Paramadina, 2002), hlm.222-223
[15] M.Quraish shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol 8, Cet. VIII (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. 519.
[16] Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni al-Syanqithi, Adlwa al-Bayan fi Idlahi al-Qur’an bi al-Qur’an, Vol. IV, (Kairo: Dar al-Hadits, 2005), hlm. 488
[17] Abi Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jami al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Vol. IX, (Bairut; Dar Al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1999), hlm. 100-101.
[18] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm.116
[19] Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum Hingga Strategi Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2009), hlm. 314-315
[20] A Malik Fajar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Fajar Dunia,1999), hlm. 37-39
[21] Muhammad Thalhah Hasan, Islam Dan Masalah Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Lantabora Press, 2003), hlm. 154.
[22] Secara normatif tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan dengan mengambil semangat dari al-Qur’an meliputi tiga aspek penting dalam kehdupan yang harus dibina dan dikembangkan oleh pendidikan Islam, yaitu; pertama dimensi spiritual, yaiitu iman dan takwa serta ahlak mulia yang tercermin dalam ibadah dan muamalah sosial sehari-hari, kedua budaya, yaitu kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyaraktan dan kebangsaan, dan ketiga dimensi kecerdasan baik IQ maupun ISQ yang membawa kemajuan, yaitu cerdas kreatif, terampil, disiplin, etos kerja, profesional, inovatif dan produktif, lihat Said Aqil Husin Al-Munawwar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur’ani Dalam Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2003), hlm.8-10
[23] A Malik Fajar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Fajar Dunia,1999), hlm. 32

1 komentar:

  1. a very good site to bookmark because I want to always follow what's the latest from this site which has a lot of information from very good articles because it's written by a very professional person
    dominoqq online
    poker online
    bandar judi
    judi terpercaya
    agen domino
    situs bandarq

    BalasHapus