Oleh: Matroni el-Moezany*
 
Siapa yang tidak mengenal Rabindranath Tagore. Seorang pendidik, penyair, penafsir, peramal dan filosof. Status itu bukanlah serta merta diterima, melainkan penuh perjuangan demi Negara dan rakyatnya. Kehancuran dan kekecewaan Tagore jalani dengan penuh senyuman dan keindahan karena Tagore yang sangat meyakini bahwa pada akhirnya kebenaran dan keindahanlah yang akan menjadi pemenangnya.
Pada saat-saat dunia sedang bersiap-siap untuk merayakan HUT ke-150 kelahiran Rabindranath Tagore bulan Mei, sudah sepantasnya kita sebagai pencinta sastra memberikan penghormatan kepada putra besar India ini yang telah membuat kita bangga, tersentak, tertegun dengan karya-karya besarnya yang banyak menghentak jiwa dan pemikiran kita untuk menjadikan sosok Tagore dijadikan contoh perjuangan dan pendidik yang luar biasanya cerdas.   


Seperti apa yang dikatakan Tagore “Awan-awan datang mengambang kedalam kehidupanku, tidak lagi membawa hujan atau mendatangkan badai, tetapi untuk menambah warna kepada langitku pada waktu sang mentari terbenam.” Di lain waktu pernah berkata: Musik kita adalah musik untuk satu, musik untuk keterasingan”, tetapi bukan berarti satu orang yang tersudut. Dia adalah “satu” yang mewakili sesuatu yang universal, yang menyeluruh. Sehingga musik Tagore berkembang atas dasar keinginan untuk mempersatukan kesatuan individual dengan yang universal dan menyeluruh”.  
Kalau dikaitkan dengan pejuangan kemanusiaan di Indonesia kita belum menemukan tokoh yang sekaliber Tagore. Pram, Rendra dan penyair Indonesia belum pantas dinyatakan sebagai sosok yang mampu mewakili perjuangan dan proses kehidupan Tagore. Walau pun para pemudah belum terlambat untuk mencontoh sosok Tagore sebagai pemimpin, pendidik, filosof dan penyair. Tapi sangat sulit menemukan pemudah yang tangguh di negeri ini, karena di samping pemudah kita lebih mengikuti arus modernitas, kapitalis, dan hedonis daripada kritis melihat kehidupan. Juga pemimpin bangsa kita belum siap menjadi pemegang amanah rakyat.
Karena Tagore berusaha untuk menyeimbangkan kecintaannya terhadap perjuangan kemerdekaan India dengan kepercayaannya kepada humanisme yang universal dan kekhawatirannya akan ekses-ekses nasionalisme. Tagore sengaja melepaskan gelar kebangsawanan “Knighthood” yang dianugerahkan Inggris kepadanya sebagai protes terhadap pembantaian yang dilancarkan tentara Inggris di Jallianwala Bagh di Amritsar pada tahun 1919. Tagore punya nyali, seperti dikemukakan oleh Prof. Amartya Sen dalam tulisannya, untuk mengeritik kampanye Swadeshi yang dilancarkan Mahatma Gandhi dan penggunaan alat pemintal benang atau Charkha seperti yang dianjurkan oleh sang Mahatma.
Dengan selalu bersikap positif dan berorientasi kepada tindakan (action), Tagore telah banyak merangsang kita untuk berpikir dan bertindak.seperti yang dikatakan “Saya telah menjadi seorang yang optimis menurut versi saya sendiri. Jika saya tidak berhasil mencapainya dengan melewati satu pintu, saya akan mencobanya dengan melewati pintu yang lain. atau saya harus membuat sebuah pintu baru. Sesuatu yang luar biasa akan saya capai betapapun gelapnya masa sekarang ini”.
Kalau Tagore lebih pada tindakan dalam memperjuangkan karya dan perjuangan untuk kemanusiaan, tapi bagaimana penyair Indonesia? Kalau saya di suruh untuk menjawab hal itu, sepertinya saya belum pantas. Karena banyak kaum intelektual bangsa yang lebih ahli dalam berbicara, tapi tidak dalam tindakan. Tindakan memang cukup sulit dilaksanakan di Indonesia, karena kaum intelektual bangsa ini lebih mementingkan status dirinya sendiri seperti berlomba-lomba menjadi PNS, guru, dosen, MPR, DPR dan presiden dari pada menjadi pejuang kemanusiaan seperti apa yang dicita-citakan Rabindranath Tagore. Kalau realitasnya kaum intelektual kita seperti itu, jadi jelas bahwa jiwa-jiwa Tagore-an belum ada di Indonesia.
Belum lagi tindakan seperti yang Tagore jalankan selama hidupnya. Dimana para pemimpin bangsa ini yang melakukan tindakan dari janji-janjinya sebelum menjadi pemimpin?. Tidak ada pemimpin bangsa ini benar-benar sesuai apa yang dijanjikan selama berkampanye. Itu hanya politik. Tagori tidak pernah menggunakan politik dalam memperjuangkan Negara dan rakyatnya.
Tagore mengkritik pemimpin yang berhianat pada rakyatnya melalui jembatan puisi, lukisan, cerpen dan karya-karyanya untuk melawan pemimpin yang sewenang-wenang. Pemimpin yang tidak peduli pada rakyatnya. Seperti misi Rabindranath Tagore adalah mendewatakan manusia dan memanusiakan Dewata.
Seperti tidak cukup kalau kita hanya menyebut Tagore kalau tidak menyandingkan Gandhi sesama pejuang kemanusiaan dari Negara yang sama. India.  Rabindranath Tagore tahu bahwa dia tidak akan dapat memberikan kepemimpinan politik kepada India seperti yang diberikan Gandhi, dan dia dengan tulus memuji apa yang dilakukan Gandhi untuk bangsanya. Namun mereka tetap saling mengritik terhadap banyak hal yang mereka saling pertahankan dan saling menghargai.  
Suasana inilah yang bisa menentramkan bangsa dan rakyatnya, akan tetapi hal itu sulit untuk para pemimpin kita di Indonesia, justru pemimpin kita saling sikut dan saling berperang merebut kekuasaan demi tercapainya status untuk dirinya sendiri. Realitas para pemimpin yang seperti itu, sulit untuk memasukkan pemikiran Tagore di dalam jiwa mereka. Hati nurani mereka sudah mati.
Sehingga pada akhirnya perjuangan, pemikiran dan proses kehidupan Rabindranath Tagore tidak bisa masuk di ranah para pemimpin bangsa Indonesia. Akan tetapi perjuangan, pemikiran dan proses kehidupan berada di ruang-ruang kecil seperti penyair, sastrawan, rakyat kecil dan budayawan. Proses kehidupan Rabindranath Tagore terlalu kecil mungkin, sehingga para pemimpin besar Negara tidak mau. Jadi jelas hanya orang-orang kecil seperti penyair, sastrawan, budayawan dan rakyat kecil yang mampu menyenyam dan dialiri air proses dan perjuangan Rabindranath Tagore. Para poli-tikus, dan koruptor tidak masuk dalam dataran daftar seperti apa yang diharapkan Rabindranath Tagore.
Terakhir penulis-pernulis kreatif seperti Tagore tidak hanya menghasilkan karya-karya seni, tetapi juga menciptakan sebuah seni hidup yang baru mampu menerjemahkan, sedekat mungkin, esensi dari kreativitas mereka kedalam sebuah konteks sosial. Jadi saya tunggu para penyair, budayawan dan sastrawan yang benar-benar rela memperjuangkan karyanya demi kemanusiaan.


**Penyair kelahiran Sumenep. Aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI). Tinggal di Yogyakarta. Tulisannya telah dipublikasikan di media baik lokal maupun nasional dan dibukukuan dalam antologi bersama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar