Oleh: Selendang Sulaiman*
(Diterbitkan Di Harian Jogja Edisi 02 Februari 2012)

Seperti malam-malam sebelumnya, mendung tebal menitikkan hujan rintik. Hawa setengah dingin perlahan menyusupi pori-pori yang kaku dan dibaluti perasaan tak menentu. Sunyi mengiris gelak tawa dan percakapan orang-orang, di warung kopi tempat biasa orang-orang saling tunggu.
“Ada apa denganmu, Alin?” tanyaku lirih. Hembus nafasnya berat menahan sesak.
Nggak ada apa-apa,” jawabnya ketus.
 “Sudahlah, tak perlu kau cadari wajah resahmu itu. Aku semakin tidak mengerti cara berpikirmu!” cakapku lagi yang tak berarti sapa buatnya, kemudian menghisap sebatag rokok dalam-dalam. Terasa ada yang dipendam dalam hatinya.


Aku semakin tidak paham dengan perempuan yang kini duduk di depanku dengan wajah lesu. Perempuan yang sejak setahun lalu aku mengenalnya dan kemudian akrab, dia selalu bercerita panjang lebar sampai lupa waktu. Cerita apa saja, tentang cintanya, kekasihnya, keluarganya, dan apapun yang penting bagi dirinya. Aku meski tidak selalu suka dengan cerita-ceritanya, kupaksakan kehendak untuk selalu jadi pendengar setianya.
Sejak setahun silam, ia selalu punya cara untuk merayuku sekedar mendengakar keluh kesahnya. Sampai ia mendekatiku dengan cara yang menurutku terlalu berlebihan. Ia mendekatiku dengan cara mengejekku “jelek” saat keadaan rambut panjangku tergerai, lantas ia mendekatiku dan kemudian menggelung rambutku. Awalnya aku risih dengan tingkahnya bahkan tidak jarang aku hamper marah. Namun perasaan-perasaan yang semacam itu aku buang jauh-jauh demi menjaga perasaannya dan demi persahabatanku dengannya.
Lantaran sikapnya yang berlebihan itu, teman-temanku berpikiran miring padaku, pada hubungan persahabatanku dengannya. Tetapi aku lebih memilih diam dari pada harus melayani percakapan mereka yang sangat membakar telinga dan amarahku. Akhirnya sejak perjumpaan itu, aku tidak lagi membalas SMS darinya. Sengaja aku lakukan itu demi kebaikannya. Sebenarnya aku tidak menginginkan semua itu.
Aku tahu dengan sikapku yang mungkin juga berlebihan dan kekanak-kanakan menurutnya, telah membuatnya sedih kemudian menangis setiap kali SMS tidak aku balas. Sebagaimana aku yang tak nyenyak dalam tidur setiap malam, sejak aku tak mahu memabalas SMSnya. Akupun resah memikirkannya, beragam kemungkinan tentangnya muncul dalam pikirannku, firasatku selalu tidak enak tentangnya. Mungkin dia merindukanku sebagai teman yang setia mendengarkan cerita-ceritanya.
Selain resah lantaran rasa bersalah di hatiku karenan tidak pernah membalas SMS yang bertubi-tubi. Seorang teman dating menemuiku suatu malam, ia membawa kabar bahwa perempuan yang memilihku untuk menjadi teman mengungkapkan segala gelisahnya sedang sakit. Aku kaget dan semakin merasa bersalah mendengar kabarnya dalam keadaan sakit sejak sehari setelah SMSnya tak pernah aku balas. Beberapa saat kemudian, ponselku berdering, ada SMS masuk, ternyata dia yang SMS.
 “Jika maut mampu menghentikan rindu, maka aku tidak akan menunggu ia datang, melainkan akan aku jemput ia sekarang. Sebab, kerena rindu pula, kini aku tengah mati perlahan.” Isi SMSnya benar-benar mengantar ketakutan yang dalam di hatiku. Aku hampir tak sanggup menggerakkan jemari sekedar meletakkan ponsel di atas meja, apalagi mengetik ahuruf-hurufnya. Sungguh aku tak sanggup memaknai SMSnya. Lama aku pandangi layar ponselku dan membaca SMSnya berulang-ulang, sampai dating SMS yang kedua.
 “Aku terus bertanya-tanya beberapa malam ini, siapa yang berani mengurungmu di alam mimpi? Hingga kau lupa bangun dan bergurau denganku?” SMS yang membuatku berperasangka bahwa dia seperti telah kehilangan rasa percaya diri. Aku benar-benar sepi ketika itu. Dan tetap tak mampu membalasnya.
***
Sementara malam kian larut meski percakapan dan ketawa orang-orang di sekitarku masih riuh mengisi warung kopi. Namun tidak dengan dirinya dan aku yang sama-sama terjerat oleh pertanyaan dan prasangka-prasangka yang menakutkan.
Dalam-dalam aku menarik nafas untuk sekedar mengungkapkan sepatah kata. Entah pernyataan atau pertanyaan, suaraku menjadi samar di tengah ucapnya yang tak tertangkap di telingaku. Aku tertawa kecil sambil menyembunyikan kekikukan yang tergambar di bibirnya. Meski sebenarnya aku hanya pura-pura masam di depannya. Sebab di mataku tampak sesuatu di wajahnya yang layu.
“Alin, katakanlah sesuatu padaku,” pintaku membuka percakapan kecil.
“Apa lagi yang harus kukatakan? SMS-ku itu sudah cukup.” Jawabnya lirih dan ketus
“Aura wajahmu yang memaksa. Bukan aku.”
“Iya, tapi aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi.”
“Aku tahu, kau takut kan, sesuatu yang lain akan terjadi?” Alin menjadi dingin dan matanya berkaca-kaca.
 “Baiklah Alin! Sejak beberapa hari yang lalu aku sudah yakin bahwa apa yang kau lakukan padaku adalah bagian dari perasaanmu. Dan aku tulus menerimanya. Kupikir kau telah mampu untuk merasakan semua itu dari SMS yang aku kirim padamu, sejak dulu. Hanya waktu dan keadaan yang memaksaku untuk menyimpannya rapat-rapat.” Seperti kilat menggores langit, aura terang terpancar di wajahnya.
“Apa kau masih takut dengan kenyataan yang harus kita hadapi ini?”
“Tidak! Hanya aku tak mampu menjalaninya.” ia tersenyum sumringah.

Yogyakarta, 19 april 2011

*Pengelola Sanggar Jepit Yogyakarta. Aktivis PMII, PU LPM Literasia, Mantan Ketua Rayon PMII Adab dan Ilmu Budaya. Tulisannya dimuat diberbagai Media local dan nasional.



2 komentar:

  1. Mantap cerpennya....

    punya teman2 IKAAY yg lain segera ya,,, kami tunggu!

    BalasHapus
  2. Hahahahahahahaha. Iya, kami masih setia menunggu tulisan teman-teman.
    Cerpen di atas seperti kisah nyata, atau jangan-jangan sampai saat ini peristiwa itu masih hidup. hahahahahahah

    BalasHapus