Oleh: Rahbini, M.Pd*

A.  Pendahuluan
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, tentunya tidak berangkat dari ruang hampa. Kondisi sosio-historis yang mengitarinya (socio-cultural sorrounding) ikut serta membentuk dan mempertegas eksistensi pesantren dalam setiap epoch babakan sejarah. Diakui atau tidak kehadiran pesantren merupakan respon positif terhadap realitas sosial masyakarat dimana pesantren tersebut berada.

Disinilah kemudian pesantren dicap sebagai indegenous[1] institusi pendidikan Indonesia yang tidak ditemukan padanannya di negara-negara manapun menemukan titik labuhnya, termasuk di timur tengah sebagai tempat lahirnya Islam, terlepas apakah ia termasuk meneruskan tradisi Hindu-Budha[2] yang telah eksis sebelumya. Kehadiran pesantren di nusantara seperti sebuah oase di tengah padang sahara yang tandus yang mampu melepaskan dahaga dan memberikan kesegaran terhadap para petualang yang melakukan salik intlektual dan spiritual.
Pesantren telah lama menjadi lembaga yang memiliki kontribusi penting dalam ikut serta mencerdaskan bangsa. Banyaknya jumlah pesantren di Indonesia, serta besarnya jumlah santri pada tiap pesantren menjadikan lembaga ini layak diperhitungkan dalam kaitannya dengan pembangunan bangsa di bidang pendidikan dan moral. Perbaikan-perbaikan yang terus menerus dilakukan terhadap pesantren, baik dari segi manajemen, akademik (kurikulum dan metode) maupun fasilitas, menjadikan pesantren keluar dari stigma buram tradisional, kumuh, sarungan, dan kolot yang selama ini disematkannya. Beberapa pesantren bahkan telah menjadi model-untuk tidak mengatakan bancmark-dari lembaga pendidikan yang leading saat ini.
Seiring dengan keinginan dan niat yang luhur (lii’lai kalimatillah) dalam membina dan mengembangkan masyarakat, dengan kemandiriannya, pesantren secara terus-menerus melakukan upaya pengembangan dan penguatan diri. Walaupun terlihat berjalan secara lamban, kemandirian yang didukung keyakinan yang kuat, ternyata pesantren mampu mengembangkan kelembagaan dan eksistensi dirinya secara berkelanjutan dengan modal sosial (social capital) dan spiritual (spiritual capital) yang dimilikinya. Pembahasan dalam tulisan ini adalah ingin melihat tentang bagaimana sebenarnya memadukan pesantren dengan sekolah terutama secara kelembagaan dan kurikulum, sebagai jantung pengembangan keilmuan dalam konteks pendidikan nasional untuk merespon modernitas.

B.  Relasi Pesantren dan Sekolah
Secara historis pesantren didesain sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai spesifikasi dalam bidang pengkajian ilmu-ilmu keislaman atau tafaqquh fi al-din an-sich. Seiring dengan kemajuan peradaban umat manusia abad ini yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, pesantren juga ikut berbenah untuk menyambut fajar baru peradaban tersebut dengan melakukan berbagai langkah transformatif dengan memasukkan sistem sekolah di lingkungan pesantren, baik jenjang SD, SMP dan SMA, meskipun masih ada pesantren yang masih bertahan pada pola ortodoksi-klasik secara eksklusif, karena dianggap sebagai sebuah sumber otoritatif par-excellent, dan sekolah dianggap sebagai sistem warisan kolonial yang harus jahui-untuk tidak mengatakan ditinggalkan sama sekali.
Melakukan perubahan dan pembaharuan terhadap pesantren sangat sulit dan jauh berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam pada umumnya. Hal itu terjadi karena adanya pola kepemimpinan yang terpusat pada seorang figur kiai kharismatik, sebagai pemimpin dan sekaligus pemilik pesantren, terlepas hal tersebut apakah termasuk kekurangan atau kelebihan yang dimiliki oleh pesantren itu sendiri, sehingga disebut sebagai subkultur.[3]
Relasi sekolah dan pesantren ketika dilihat dari pespektif teori Barbour[4] tentang ralasi agama dan sains, pada awalnya sekolah dan pesantren berada pada posisi konflik dalam artian pesantren menjadi lembaga pendidikan tersendiri yang hanya mengkaji ilmu-ilmu agama Islam un-sich, sedangkan sekolah hanya mengkaji ilmu-ilmu sekuler yang oleh sebagian kalangan dianggap menodai otentisitas kajian keislaman oleh kalangan pesantren. Hal ini dapat dirasakan ketika masa-masa awal penjajahan di Indonesia. Tahap berikutnya hubungan antara pesantren dan sekolah mulai agak membaik, yaitu naik satu tingkat kepada posisi independen, akan tetapi masih cenderungan mengarah pada konflik tersebut di atas, dimana pesantren sudah welcome dengan sekolah, dengan bukti dibukanya sekolah-sekolah di lingkungan pesantren-terutama di kalangan NU dan Muhammadiyah, akan tetapi keduanya memiliki entitas yang berbeda-beda. Pesantren di satu sisi asyik dengan dunianya sendiri, sementara pada sisi yang lain sekolah bekerja dalam wilayahnya sendiri juga sesuai dengan program keilmuan yang dikaji di sekolah.
Dengan masuknya sekolah di pesantren, tampaknya pesantren belum mampu meletakkan sistem sekolah tersebut di bawah penetrasi nilai-nilai genuine yang selama ini dianutnya.  Dengan kata lain pesantren belum dapat  melakukan integrasi antar disiplin keilmuan, ilmu agama dan skuler secara utuh dan interdependensi.[5] Meskipun itu semua diajarkan di pesantren, sehingga akibatnya adalah tidak dapat menghasilkan siswa yang betul-betul memiliki pemahaman yang benar-benar baru (al-qira’ah al-muntijah), dan mencerahkan umat.
Seiring dengan perkembangan pradaban yang sudah maju, maka perubahan begitu tampak terjadi dalam pola relasi pesantren dengan sekolah, pada titik ini pesantren sudah mengambil bentuk dialog. Terutama pada masa era orde baru, dimana sekolah yang mengkaji ilmu-ilmu sekuler sebagai bekal kehidupan didunia menyongsong fajar modern yang ditandai dengan iptek, juga sudah dimasukkah ilmu-ilmu dasar keagamaan seperti yang diajarkan di pesantren. Akan tetapi tensi dan intensitasnya yang tertuang dalam kurikulum masih memiliki penekanan yang berbeda-beda. Akan tetapi pola dialog yang terjadi dalam relasi pesantren dan sekolah, pada waktu tertentu sering mengarah pada independensi yang berlebihan, dan terkadang dialog tersebut hanya menjadi isapan jempol belaka, mengawang jauh di atas panggang api.
Sekolah mengalami perkembangan secara progresif. Pada tahun 1970-an masih banyak orang yang memandang sinis terhadap sekolah, kini sikap mereka berbalik arah dengan menyebut sekolah sebagai sekolah plus lebih-lebih yang ada di lingkungan pesantren. Disamping memberikan pelajaran umum (science) juga menanamkan ajaran keagamaan yang tidak terbatas pada ranah kognitif, tetapi juga masuk pada tataran etika, moral dan tingkah laku (akhlak).[6]
Sekolah pada saat ini telah mencapai puncak perkembangannya, dengan segala kelebihan dan kekurangnnya, sekolah tidak dapat dipungkiri telah memberikan konstribusi yang besar dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Dari paparan tersebut di atas, terlepas dari realitas sosio-politik yang mengitarinya terhadap perkembangan sekolah, sekolah sebagai bentuk modernisasi dari lembaga pendidikan pesantren telah memiliki akar historis yang mengakar cukup dalam di masyarakat Indonesia dalam tradisi pengembangan ilmu. Meskipun demikian, eksistensinya masih berkisar pada paradigma penyebaran ilmu pengetahuan-untuk tidak mengatakan dakwah-semata. Ketika kondisinya demikian maka sekolah tidak lebih dari sekedar majlis ta’lim yang hanya berpijak pada kacamata doktriner, belum beranjak pada tingkatan pemikiran yang lebih kritis-ilmiah.
Dalam konteks kemodernan, kita harus menjadikan pesantren cum sekolah sebagai center pengembangan keislaman dan keilmuan, tentunya harus segera keluar dari kubangan paradigma dakwah seperti yang berjalan selama ini. Akan tetapi lembaga pesantren yang terintegrasi atau terpadu dengan sekolah ini harus beranjak menjadi laboratorium dimana transmisi ilmu pengetahuan didalamnya harus selalu di up date dikritik dan dikaji secara terbuka (open ended bukan closed ended) untuk menghindari adanya expired knowledge yang sangat berbahaya terhadap kemanusiaan dan pradaban secara umum. Ditambah dengan tradisi pesantren yang tidak diragukan lagi dalam pembentukan karakter dan penanaman spiritualitas dan etika atau akhlak.
Melihat realistas historis munculnya pesantren yang mampu berdialog dengan sekolah, begitu juga sabaliknya, dan juga berdialektika dengan pradaban keilmuan yang diwarisi oleh pradaban barat, tentunya memberikan injeksi intlektualitas dan spiritualitas kepada kita agar mengambil nilai historis yang untuk memulai keberanjakan sekolah cum pesantren dari paradigma dakwah yang doktriner-eksklusif kearah paradigma akademik-inklusif yang berlandaskan etika tauhidik. Sehingga output yang diharapkan adalah peserta didik atau murid yang berwawasan semesta atau rahmatan lil’alamin.

C.  Memadu Pesantren dan Sekolah
Kalau kita teluri secara historis eksistensi pesantren, maka akan kita temukan kenyataan yang tidak terbantahkan bahwa pesantren lahir pada zamannya yang tepat. Pada saat itu pesantren sangat fungsional dalam menjawab tantangan zaman, misalnya dalam menghadapi kolonialisme, baik dari segi politik maupun social budaya. Peroblemya kemudian adalah akankah pesantren masa kini dan masa yang akan datang akan memainkan peran dan fungsi yang sama seperti halnya apa yang dicapai oleh pesantren-pesantren seperti yang dahulu? Ataukan pesantren saat ini berada dipersimpangan jalan yang masih bingung menentukan arah ayunan langkahnya? Yaitu antara mempertahankan fungsi dan peranannya yang telah lama diemban selama ini, ataukah harus menempuh jalan menyesuaikan diri dengan keadaan modern. Pilihan pada jalan yang terakhir tentunya mengharuskan pesantren untuk ikut serta sepenuhnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern, termasuk didalamnya adalah pengembangan teknologi, yang menjadi ciri utama dari abad ini.
Sebagai pusat pengkajian ilmu-ilmu keislaman pada masanya, pesantren pada awalnya sangat kebal dan tertutup dengan pengaruh-pengaruh dari dunia luar, bahkan pesanatren mempunyai tradisi, budaya dan ideologi tersendiri, yang kemudian di kenal dengan sebutan “subkultur” budaya nusantara. Dalam hal ini pesantren dalam melihat dirinya terbagi dalam tiga kelompok,  pertama, kelompok pesantren yang tidak menyadari dirinya, apakah ia memberikan konstribusi baik atau tidak bagi kehidupan masyarakat. Kedua, kelompok fanatik, yang karena kefanatikannya menjadikan penilaian mereka sangat subjektif. Mereka beranggapan bahawa pesantren dengan segala aspeknya adalah pasti positif dan mutlak harus dipertahankan. Ketiga, kelompok yang mempunyai perasaaan rendah diri, kelompok ini menumbuhkan sikap pesimis dan kurang percaya diri dalalm mengejar ketertinggalan, dan menganggap bahwa pesantren tidak perlu lagi dipertahankan. Keempat, kelmopok yang menyadari dirinya baik dari sgei positif maupun negatif, sehingga mereka mampu melihat mana yang harus diteruskan dan mana yang harus ditinggalkan. Mereka melakukan introspeksi secara positif, sehingga meereka memiliki kemampuan untuk beradaptasi secara positif pada perkembangan zaman dan masyarakat.
Keberadaan sistem pesantren dan sekolah merupakan patner yang ideal bagi institusi pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan yang ada di daerah sebagai basis bagi pelaksanaan transformasi sosial melalui penyediaan sumber daya manusia yang qualified dan berakhlakul karimah. Terlebih lagi, proses transformasi sosial di era otonomi mensyaratkan daerah lebih peka menggali potensi lokal dan kebutuhan masyarakatnya sehingga kemampuan yang ada dalam masyarakat dapat dioptimalkan, dengan semangat keilmuan yang integral. Untuk dapat memainkan peran edukatifnya dalam penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas mensyaratkan pesantren dan sekolah harus bersinergi dalam meningkatkan mutu sekaligus memperbaruhi model pendidikannya. Sebab, model pendidikan pesantren yang mendasarkan diri pada sistem konvensional atau klasik tidak akan banyak cukup membantu dalam penyediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi integratif baik dalam penguasaan pengetahuan agama dan etika, pengetahuan umum dan kecakapan teknologis, tanpa disandingkan dengan sekolah secara holistik dan komprehensif serta profesional.
Meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi masih sedang kuat berada dalam kekuatan dan genggaman tangan orang-orang barat, namun efeknya begitu kuat dan keras dirasakan kehidupan umat manusia. Hal itu dapat menyeret seluruh umat manusia, termasuk bangsa Indonesia kedalam persoalan bagaimana menempatkan kembali ilmu pengetahuan dan teknologi dalam daerah pengawasan nilai agama dan moral serta etika. Karena secara ringkas semua cabang ilmu pengetahuan pada mulanya berpangkal pada ilmu agama, hal ini dapat kita lihat  pada lembaga-lembaga ilmiah di Barat, yaitu universitas-universitas, sebagian besar bersemai dari akar lembaga-lembaga keagamaan. Namun dalam perkembangannya terjadi difrensiasi, ilmu pengetahuan ini bersikap independen dan sedikit otonom dari teologi, dan menmpuh jalannya sendiri, sehingga tidak lagi berada dalam control agama.
Stigma yang ada saat ini terhadap pesantren dikatakan bahwa pesantren tidak mampu mengemban tugas keilmuan, mungkin hal ini dapat diterima meskipun dengan perasaan berat hati. Akan tetapi yang sangat tidak mengenakkan dan memilukan ketika pesantren dikatakan telah kehilangan keampuhannya dalam menuanaikan tugas moralnya. Sebab yang tampak dan berjalan selama ini pesantren adalah sebagai sumber nilai, ajaran agama yang ditekuni, pesantren adalah sebagai garda depan yang berfungsi menjaga dan mengembangkan moral. Disadari atau tidak, selama ini amanat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sepenuhnya diserahkan kepada “sekolah” disamping itu sekolah masih terjebak dalam tiga persoalan besar, yaitu 1) masalah pendekatan, 2) masalah substansi, dan 3) masalah metode. Sehingga sekolah dan madrasah hanya lebih menekankan terhadap kemampuan kognitif para siswa, dengan serta menggadaikan kecerdasan afektif dan moral kegamaaan.
Masalahnya kemudian adalah pertama, bagaimana pesantren dan sekolah menyuguhkan pesan moral yang diembannya kepada masyarakat, sehingga tetap relevan dan tetap menarik. Tanpa relevansi dan daya tarik inilah pesanren dan sekolah akan kehilangan keampuhan dan efektifitasnya sehingga tidak dapat diharapkan oleh masyarakat. Kedua adalah bagaimana pesantren dan sekolah dapat menguasai ilmu pengetahuan yang ada di tangan orang lain (Barat). Karena kemungkinannya akan lebih fatal ketika pesantren hanya memilih peran moral saja, dan tertutup untuk usaha pengembangan keilmuan dan teknologi yang selama ini menjadi kajian otonom di sekolah. Maka yang akan terjadi adalah makin lemahnya peran pesantren untuk hidup di tengah kehidupan modern abad ini. Bahkan kemudian eksistensi mereka akan tidak diakui bahkan lenyap ditelan pradaban.
Dengan komitmen lillahi ta’ala (semata ikhlas karena Allah) dan disertai semangat untuk menjaga keagungan hukum-hukum Allah (li i’lai kalimatillah) yang dimiliki oleh para kiai yang berperan sebagai pengasuh pesantren dalam mengembangkan intlektualitas, spiritualitas, moralitas dan kemandirian para santri, pesantren mendapatkan pengakuan dan dukungan yang kuat dari masyakat. Bahkan pesantren mampu memberikan jalan keluar setiap problematika sosial  yang  terjadi di masyarakat. Bahkan pesantren telah sukses mengabdikan dirinya membentuk manusia yang “baik” meskipun tidak “cerdas”, dengan modal keluasan ilmu keagamaan, kedalaman spiritualitas, dan keluhuran akhlak yang dimiliki oleh kiai, kemudian menjadi panutan atau teladan (uswah) oleh para santrinya.
Melihat diskripsi di atas, maka kemungkinan ideal yang dapat dilakukan pesantren dan sekolah adalah dengan mengambil posisi sebagai pengembang amanat ganda (double mission), yaitu amanat keagamaan atau moral yang saat ini trend dengan sebutan “karakter”, dan yang kedua adalah amanat pengembangan ilmu pengetahuan. Dua amanat ini harus segera dilakukan secara serentak, proporsional dan profesional sehingga tercapai keseimbangan yang diharapkan dalam kehidupan.
Modal utama yang mendesak untuk merealisasikan dua peran ganda yang ada di pundak pesantren dan sekolah adalah:
1.    Pengguanaan waktu, dana, dan sumber daya serta sarana dan prasarana secara efektif dan efisien serta sebaik-baiknya. Bahkan harus  dilakukan dua kali lebih efektif daripada yang berjalan dan yang ada sat ini.
2.    Mengidentifikasi atau streamlining apa yang dibutuhkan sebagai pengetahuan. Mungkin hal ini tidak terkait dengan materi atau isi, akan tetapi lebih pada penggunaan metode atau cara penyampaian dalam pengajaran atau proses pendidikan. Termasuk mengintensifkan hal-hal yang bersifat pembentukan karakter dan watak dari penciptaas suasana penanaman nilai-nilai kegamaan.
3.    Pemilihan ilmu yang tepat tentang ilmu pengetahuan dan paling dekat dengan jangkauan penguasaan para santri atau siswa. Sehingga dapat terdeteksi sedini mungkin setelah diketahui kemudian para stakeholders tinggal menyesuaikan dengan ruang dan waktu yang ada di masyarakat.  
4.    Memilih pola social network  dalam mengembangkan sistem pendidikannya, baik di internal pesantren dan sekolah maupun dengan masyarakat secara umum serta dunia luar. Sehingga mampu menekan sifat kompetisi tidak sehat yang dimiliki oleh sekolah, yang selama ini hanya mampu mencetak siswa individualis dan tidak peduli dengan sesama.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa pesantren memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan nasional. Apalagi dilihat secara historis, pesantren memiliki pengalaman yang luar biasa dalam membina dan mengembangkan masyarakat. Bahkan, pesantren mampu meningkatkan perannya secara mandiri dengan menggali potensi yang dimiliki masyarakat di sekelilingnya.
Pembangunan manusia, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau masyarakat semata-mata, tetapi menjadi tanggung jawab semua komponen, termasuk dunia pesantren. Pesantren yang telah memiliki nilai historis dalam membina dan mengembangkan masyarakat dalam sejarahnya yang cukup panjang,[7] kualitasnya harus terus didorong dan dikembangkan. Proses pembangunan manusia yang dilakukan pesantren tidak bisa dipisahkan dari proses pembangunan manusia yang tengah diupayakan pemerintah. Eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berorientasi pada penanaman ilmu agama dan moral memang tidak dapat duragukan, bahkan pesantren dapat dikatakan sebagai lembaga yang sukses menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual bagi para santrinya, sehingga yang terkesan dipermukaan adalah hanya transfer of value.
Proses pengembangan dunia pesantren yang selain menjadi tanggung jawab internal pesantren, juga harus didukung oleh perhatian yang serius dari proses pembangunan pemerintah. Meningkatkan dan mengembangkan peran serta pesantren dalam proses pembangunan merupakan langkah strategis dalam membangun masyarakat, daerah, bangsa, dan negara. Terlebih, dalam kondisi yang tengah mengalami krisis dan abrasi akhlak yang saat ini popular disebut karakter. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral, harus menjadi pelopor sekaligus inspirator pembangkit moral bangsa. Sehingga, pembangunan tidak menjadi hampa melainkan lebih bernilai dan bermakna.
Pesantren pada umumnya bersifat mandiri, tidak tergantung kepada pemerintah atau kekuasaan yang ada. Karena sifat mandirinya itu, pesantren bisa memegang teguh kemurniannya sebagai lembaga pendidikan Islam. Karena itu, pesantren tidak mudah disusupi oleh ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan pondok pesantren yang merupakan bagian dari Sistem Pendidikan Nasional memiliki 3 unsur utama yaitu: pertama,  Kyai sebagai pendidik sekaligus pemilik pondok dan para santri; kedua,  Kurikulum pondok pesantren, dan ketiga, Sarana peribadatan dan pendidikan, sebgai pusat pengembangan dan aplikasi keilmuan yang dikaji didalamnya, seperti masjid, rumah kyai, dan pondok, serta sebagian sekolah dan bengkel-bengkel kerja keterampilan (vokasional).[8]  Kegiatannya terangkum dalam “Tri Dharma Pesantren” yaitu: pertama, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT; kedua,  pengembangan keilmuan yang bermanfaat; dan ketiga,  pengabdian kepada agama, masyarakat, dan Negara.
Berangkat dari kenyataan ini, jelas bahwa memadukan antara pesantren dan sekolah di masa yang akan datang merupakan sebuah keniscayaan dan dituntut segera berbenah, menata diri dalam mengahadapi persaingan globalisasi pendidikan dan krisis akhlak. Tapi perubahan dan pembenahan yang dimaksud tidak hanya sebatas secara kelembagaan, yaitu pesantren mendirikan sekolah dan juga sebaliknya sekolah menyediakan asrama seperti lazimnya pesantren. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu membangun sebuah krangka epestimologi keilmuan yang integratif yang terangkum dalam sebuah kurikulum yang komprehensif, sehingga out put dari lembaga tersebut mampu menjadi ulama yang intlek-profesional dan disisi yang lain juga menjadi intlektual ulama yang profesional pula, sehingga ia siap menghadapi tantangan global.
Maka, idealnya pendidikan nasional ke depan harus bisa mengimbangi tuntutan zaman dengan memadukan pesantren dan nilai-nilai serta kajian-kajian yang ada didalamnya dengan sistem sekolah. Keterpaduan pesantren dan sekolah adalah bagaimana tradisi kitab kuning dikaji dalam konteks modern sesuai dengan sudut pandang ilmu-ilmu sosial, alam, dan humaniora yang didapatkan disekolah, dengan demikian anak didik tidak bersikap ekslusif, begitu juga ilmu-ilmu sekuler harus diberi injeksi nilai-nilai keagamaan yang tertuang dalam tradisi kitab kuning.[9]
Mempertahankan pendidikan Pesantren khususnya kitab kuning dari SD sampai SMA misalnya, sebagai kegiatan belajar wajib santri dan mengimbanginya dengan pengajian tambahan, yang ada di sekolah seperti sains, computer, bahasa inggris, skill lainnya untuk mendapatkan Ijazah formalnya, sebagai bekal untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Atau dengan menjalin kerjasama dengan sekolah lain. Jika hal ini terjadi atau lembaga-lembaga lain yang memiliki perhatian pada pengembangan keilmuan dan keislaman, dengan pola demikian akan lahirlah anak didik, guru, ulama dan fuqaha yang mumpuni, dengan karakter akhlak yang luhur.
Saat ini, ada dua fenomena menarik dalam dunia pendidikan di Indonesia yakni; munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah), penyelenggaraan sekolah bermutu yang sering disebut dengan boarding school. Nama lain dari istilah boarding school adalah sekolah berasrama. Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama dua puluh empat jam anak didik dan dideril berada di bawah bimbingan dan pengawasan para guru pembimbing. Akan tetapi sistem boarding school ini masih terjebak dalam jurang dikotomi yang lebih menekankan terhadap kemampuan kognitif ilmu-ilmu sekuler, penanaman tradisi keilmuan klasik dan moral tidak sekuat dengan apa yang dilakukan oleh pesantren.
Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan teknologi secara intensif. Selama di lingkungan pesantren  mereka ditempa untuk menerapkan ajaran agama atau nilai-nilai etika, tak lupa mengekspresikan rasa seni dan ketrampilan hidup di hari libur. Hari-hari mereka adalah hari-hari berinteraksi dengan teman sebaya dan para guru. Rutinitas kegiatan dari pagi hari hingga malam sampai ketemu pagi lagi, mereka menghadapi makhluk hidup yang sama, orang yang sama, lingkungan yang sama, dinamika dan romantika yang seperti itu pula. Dalam khazanah pendidikan kita, sekolah berpesantren adalah model pendidikan yang cukup tua.
Pondok pesantren adalah termasuk pendidikan khas Indonesia yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat serta telah teruji kemandiriannya sejak berdirinya sampai sekarang. Pada awal berdirinya, bentuk pesantren sangat sederhana, kegiatannya masih diselenggarakan di rumah-rumah kiai dan di dalam surau atau masjid dengan beberapa orang santri yang kemudian di bangun asrama-asrama yang kemudian dikenal dengan istilah pondok sabagai tempat tinggalnya. Pesantren paling tidak mempunyai tiga peran utama, yaitu sebagai lembaga penddidikan, lembaga dakwah, dan sebagai pengembangan masyarakat.
Dalam perkembangannya pesantren menjadi sebagai lembaga sosial yang memberikan warna khas bagi perkembangan masyarakat disekitarnya. Perananpun menjadi agen perubahan dan pembaharuan (agen of change)  sekalipun demikian adanya apapun yang dilakukan pesantren tetap saja berpijak pada khittah berdirinya, yaitu tafaqquh fi al-din.
Dalam tradisi pesantren, kitab kuning merupakan ciri dan identitas yang tidak bisa dilepaskan. Sebagai lembaga kajian dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman (al-‘ulum al-syar’iyyah), kitab kuning adalah bagian yang inheren. Bahkan Martin Van Brunessen menegaskan, kehadiran pesantren malah hendak mentransmisikan Islam tradisional sebagiamana terdapat dalam kitab-kitab kuning.[10]
Sebagai konsekuensi logis dari adanya dinamika pembaharuan yang ada dipesantren[11], sampai saat ini pesantren memiliki beberapa jenis pendidikan yaitu, pesantren, madrasah, sekolah dan perguruan tinggi. Dengan masuknya pendidikan sistem madrasah, sekolah dan perguruan tinggi ke pesantren, yang dilengkapi dengan perpustakaan dan teknologi informasi, didalamnya tidak hanya terdapat koleksi kitab-kitab kuning, akan tetapi juga kitab-kitab putih baik yang berbahasa Arab, Inggris dan bahasa Indonesia bahkan dalam bentuk softwer atau CD (al-ilm fi al-shudur, al-ilm fi al-sutur, al-‘ilm fi CD room), semuanya dapat dengan mudah diakses dan dikonsumsi oleh santri. Maka dialektika antara berbagai disiplin keilmuan baik yang termasuk dalam rumpun al-ulum al-syar’iyyah  dan al-‘ulum ghair al-syar’iyyah merupakan sebuah keniscayaan.[12] Hal ini didasari oleh masuknya ilmu-ilmu kealaman, ilmu hitung, sosial dalam kurikulum sekolah. Sehingga bekal keilmuan siswa yang tinggal dipesantren sudah relatif maju dan mengalami lompatan yang luar biasa, sehingga terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang secara diametral pasti menimbulkan bias-bias baik eksternal maupun internal yang menuntut adanya solusi pemecahannya, terutama di era multikural saat ini.
Kondisi yang demikian adanya bukan berarti menggadaikan metode pembelajaran yang telah dipakai sebelumnya dan bahkan telah menjadi ciri khas pesantren, seperti sorogan dan bandongan, akan tetapi dialektika antara al-kutub al-shafra’, dengan al-kutub al-baidla[13] menemukan titik labuhnya secara lebih leluasa dalam suasana belajar halaqah dan musyawarah dikalangan para santri. Karena dalam forum ini santri di beri keleluasaan-untuk tidak mengatakan kebebasan- dalam mengemukankan pendapat dan bahkan melakukan analisa kritis terhadap teks kitab kuning, dengan menggunakan analisis sosio-historis kritis.
Letupan-letupan intlektual di lingkungan pesantren tidak sulit  kita temukan. Bahkan kajian-kajian terhadap kitab-kitab putih, seperti karya Moh. Arkoun, Muhammad Abed Al-Jabiri, Muhammad Syahrur, Hassan Hanafi secara diam-diam telah akrab menjadi bahan diskusi para santri. Disamping kitab-kitab putih yang berbahas Inggris bagi santri saat ini bukan sesuatu yang tabu dan haram untuk dibaca, seperti karya Khalid Abou el-Fadl, Fazlur Rahman dan kajian ilmu-ilmu sekuler dan lain-lain, bahkan wacana semiotika dan hermeneutika sudah tidak asing lagi di lingkungan santri saat ini.
Pergeseran literatur keagamaan dari kitab kuning (al-kutub al-shafra’) ke kitab putih (al-kutub al-baidla), seperti tersebut di atas, merupakan realitas objektif, yang  mau tidak mau harus diterima oleh pesantren, saebagai sebuah warisan tradisi keilmuan. Pergeseran tersebut tidak lain adalah akibat dari faktor internal dan eksternal pesantren yang tidak dapat dibendung.[14] Kenyataan ini menjadi problematika tersendiri bagi pesantren yang eksklusif yang ingin mempertahankan unsur-unsur tradisional Islam dalam pemilihan literatur pesantren. Apa pun usaha pesantren untuk tetap menggunakan literatur kitab kuning, ia akan terbentur dengan perkembangan internal dan ekternal. Dalam kondisinya apa pun kitab kuning tetap harus dikontekstualisasikan, karena kitab kuning sudah akrab dan bahkan menjadi darah daging bagi masyarakat Indonesia, melihat pentingnya kontektualisasi tersebut maka sesuatu yang harus segera dilakukan adalah dengan dengan melakukan dialog antara dua warisan tradisi keilmuan tersebut, dengan cara pengembangan pembelajaran dan kritik-metodologis dengan paradigma lintas ilmu[15].
Akibat adanya hubungan dialektis antara dua warisan tradisi intlektual tersebut di atas, maka paradigma santri juga berubah, yang semula hanya berkutat pada kiadah “al-muhafadhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (mempertahankan tradisi lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik), justru beranjak pada “wa al-ijadu bi al-jadid al-ashlah” (memproduksi hal-hal yang baru yang lebih baik pula), yang berupa karya-karya akademik dari berbagai corak dan disiplin keilmuan yang berbeda. Dengan prubahan paradigma yang seperti inilah maka eksistensi pesantren tetap mampu merespon secara positif terhadap relitas global yang mengitarinya dengan tidak lari dari khitthah pesantren sebagai pijakannya.
Jika tradisi keilmuan pesantren di Indonesia sekarang ini mampu melihat secara kritis bangunan keislaman klasik yang qabilun li al-taghyir  (menerima perubahan) dan qabilun li al-niqas (menerima terhadap kritik) maka dunia pesantren melihat dengan mudah bahwa bentuk piramida keilmuan Islam klasik tampak kurang nuansa pemikiran sejarah dan kurang pendekatan sosialnya. Tradisi kritis ini tentunya bermula dari pengaruh pemikiran filosofis-kritis terhadap segala bentuk pemikiran manusia, termasuk di dalamnya adalah gugusan pemikiran keagamaan. Tradisi kritis filosofis melihat khazanah intelektual Islam dan pemikiran Islam yang ada di pesantren pada umumnya tidak lain dan tidak bukan adalah suatu produk sejarah yang tidak ma’shum.[16]
Tradisi pemikiran Islam kritis analitis filosofis hanya dapat berkembang dalam pesantren jika literatur al-kutub al-shafra’ dapat bergumul dan bersentuhan langsung secara dialektis serta berdialog dengan literatur al-kutub al-baidha’  karena dalam buku-buku putih itu termuat hal-hal yang belum terurai secara akademik dalam al-kutub al-shafra’. Kajian dan pendekatan sosial-historis dan filosofis akan memperkaya khazanah intelektual pesantren karena al-Qur’an sangat kaya dengan berbagai nuansa pendekatan selain pendekatan normatif seperti yang mengkristal dalam al-kutub al-shafra’.
Pesantren bukanlah museum purba tempat dimana benda-benda unik dan kuno disimpan dan dilestarikan juga bukan penjara dimana tindakan dan pikiran dikontrol, dipasung dan dikendalikan habis-habisan. Akan tetapi pesantren adalah laboratorium tempat segala jenis aliran pemikiran dikaji dan uji ulang, didalamnya tidak ada lagi yang perlu ditabukan apalagi disakralkan[17]. Pesantren bukanlah lembaga yang ekslusif, yang tidak peka terhadap perubahan yang terjadi di luar dirinya. Inklusifitas pesantren terletak pada kuatnya sumber inspirasi dan ilmu keislaman yang diambil dari kitab kuning yang tidak hanya diterima secara taken for granted.
Secara tradisional jejaknya dapat kita selami dalam dinamika kehidupan pesantren, pendidikan gereja, bahkan di bangsal-bangsal tentara. Pendidikan pondok pesantren telah banyak melahirkan tokoh pemikir besar dan mengukir sejarah kehidupan umat manusia. Kehadiran pesantren yang terpadu dengan sekolah adalah suatu keniscayaan zaman kini.[18] Keberadaannya adalah suatu konsekuensi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat yang dinamis.
  1. Lingkungan sosial kita kini telah banyak berubah terutama di kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidak lagi tinggal dalam suasana masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempat tinggal dengan keluarga besar satu klan atau marga telah lama bergeser kearah masyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal ini berimbas pada pola perilaku masyarakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai-nilai multikulturalisme yang berbeda pula. Oleh karena itu sebagian besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggap bahwa lingkungan sosial seperti itu sudah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual dan moralitas anak.
  2. Keadaan ekonomi masyarakat yang semakin meningkat mendorong pemenuhan kebutuhan di atas kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Bagi kalangan mengengah atas yang baru muncul akibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga mendapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi pada tingginya penghasilan mereka. Hal ini mendorong niat dan tekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak melebihi pendidikan yang telah diterima orang tuanya.
  3. Cara pandang religiusitas. Masyarakat telah, sedang, dan akan terus berubah. Kecenderungan terbaru masyarakat sedang bergerak kearah yang semakin religius. Indikatornya adalah semakin diminati dan semaraknya kajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Modernitas membawa implikasi negatif dengan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan ruhani dan jasmani.[19] Untuk itu masyarakat tidak ingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. Intinya, ada keinginan untuk melahirkan generasi yang lebih religius atau memiliki nilai-nilai hidup yang baik mendorong orang tua mencarikan sistem pendidikan alternatif.
Dari ketiga faktor di atas, sistem pendidikan yang mampu memadukan pesantren dan sekolah seakan menemukan titik labuh dan pangsa pasarnya. Apa pun upaya yang dilakukan oleh para ahli dalam melakukan integrasi keilmuan dapat dipastikan akan mengalami kendala yang cukup berarti, selama dikotomi antara dua varian lambaga pendidikan Islam yaitu pesantren dan sekolah dibiarkan menganga cukup lebar. Hal ini sama halnya dengan Marxisme yang menjadi senjata ideologis kaum proletar melawan borjuasi, ilmu integralistik adalah senjata intlektual orang beriman melawan materialism, sekularisme, hedonisme, utilitarianisme dan pragmatisme.[20] Begitu juga sistem pendidikan terpadu antara pesantren dan sekolah adalah sebagai jalan alternatif yang paling dekat untuk menutup jurang dikotomik pendidikan nasional yang selama ini masih terjadi disparitas yang lebar.
Dari segi sosial, sistem pesantren yang terpadu dengan sekolah tidak mengisolasi anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk, akan tetapi lebih bersifat inklusif dengan membuka interaksi dengan lingkungan sekitar. Di lingkungan sekolah dan pesantren dikonstruksi suatu lingkungan sosial yang relatif  heterogen, baik secara ekonomi maupun sosial yakni diantara teman sebaya dan para guru pembimbing dan kiai sebagai pengasuh dan tokoh sentral. Heterogenitas ini bertujuan yakni mengasah kreatifikas anak dalam bergaul dengan sesama dalam  menuntut ilmu sebagai sarana mengejar cita-cita sebagai insan kamil.
Dari segi ekonomi, pesantren yang terpadu dengan sekolah memberikan layanan yang paripurna yang tidak menuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu anak didik akan benar-benar terlayani dengan baik melalui berbagai layanan dan fasilitas dengan semangat pengabdian yang diberikan oleh para stakeholders pesantren. Keterbukaan pesantren dengan sekolah atau kesiapan sekolah terhadap pesantren merupakan pola yang tepat untuk menghadapi modernisasi dengan paradigma keilmuan yang integral.[21]
Dari segi semangat religiusitas, pesantren yang terpadu dengan sekolah menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan ruhani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara iman dan amal soleh yang terpancar dalam bentuk akhlak antar sesama. Bagaimanapun lembaga pendidikan sangat membutuhkan kekuatan kultural dan moral, dan kekuatan kultural dan moral tersebut hanya dimiliki oleh pesantren. Oleh karena itu sekolah harus dilengkapi dengan pesantren untuk mengembangkan kecintaan terhadap ilmunya, melalui pembiasaan dan keteladanan. Pesantren yang terpadu dengan sekolah merupakan hal sangat penting untuk membiasakan para siswa dalam megembangkan nilai-nilai intlektual, spiritual dan akhlak. Karena sangat tidak mungkin belajar ilmu dan etika  sekedar melalui membaca buku diperpustakaan, dan penelitian di laboratorium. Kegiatan ini harus disempurnakan dengan kegiatan-kegiatan nyata melalui pesantren yang dilengkapi dengan masjid atau mushalla sebagai pusat spiritualitas dan miniatur jantung pradaban.[22]
Nampaknya, konsep terpadu pesantren dan sekolah menjadi alternatif pilihan sebagai model pengembangan pesantren yang akan datang, baik secara kelembagaan maupun keilmuan. Pemerintah diharapkan semakin serius dalam mendukung dan mengembangkan konsep pendidikan seperti ini. Sehingga, pesantren menjadi lembaga pendidikan yang maju dan bersaing dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berbasis pada nilai-nilai spiritual yang handal. Pola yang seperti tersebut di atas akan menutup dualisme lembaga pendidikan dalam bingkai pendidikan nasional.[23]
Prinsip pesantren adalah al muhafadzah ‘ala al qadim al shalih, wa al akhdzu bi al jadid al ashlah, yaitu tetap memegang tradisi yang positif, dan mengimbangi dengan mengambil hal-hal baru yang lebih positif. Persoalan-persoalan yang berpautan dengan civic values akan bisa dibenahi melalui prinsip-prinsip yang dipegang pesantren selama ini dan tentunya dengan perombakan yang efektif, berdaya guna, serta mampu memberikan kesejajaran sebagai umat manusia (al musawah bain al nas).
Pesantren di masa yang akan datang dituntut berbenah, menata diri dalam mengahadapi persaingan bisnis pendidikan seperti yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan modern lainnya. Tapi perubahan dan pembenahan yang dimaksud hanya sebatas menejemen dan bukan coraknya apalagi berganti baju dari salafiyah ke mu’ashir (modern), karena hal itu hanya akan menghancurkan nilai-nilai positif Pesantren seperti yang terjadi sekarang ini, lulusannya tidak bisa mengaji dan baca kitab kuning sebagai corenya pesantren. Maka, idealnya pesantren ke depan harus bisa mengimbangi tuntutan zaman dengan mempertahankan tradisi dan nilai-nilai kepesantrenan ditambah lagi dengan sekolah sebagai wadah pengasahan intlektualitas.
Nampaknya, konsep terpadu pesantren dan sekolah sebagai telah dijelaskan di atas dapat menjadi alternatif pilihan dan dapat dijadikan sebagai model pengembangan pendidikan nasional yang akan datang. Pemerintah diharapkan semakin serius dalam mendukung dan mengembangkan konsep pendidikan seperti ini. Sehingga, sistem pesantren cum sekolah menjadi lembaga pendidikan yang maju dan bersaing dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berbasis pada nilai-nilai etik-spiritual yang handal.
Pesantren yang  terpadu dengan sekolah atau sebaliknya memberikan kesempatan kepada para siswanya untuk menambah kekurangan ilmu agama dan umumnya di pesantren melalui bimbingan kiai atau pengelola pesantren atau guru, selain belajar di sekolah. Dengan tinggal di pesantren, siswa dapat memperoleh bimbingan dan kesempatan memperaktekkan dan menjalankan nilai-nilai dan ajaran agama secara intensif.[24]
Keberadaan sistem pesantren merupakan patner yang ideal bagi institusi pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan yang ada di daerah sebagai basis bagi pelaksanaan transformasi sosial melalui penyediaan sumber daya manusia yang qualified dan berakhlakul karimah. Terlebih lagi, proses transformasi sosial di era otonomi mensyaratkan daerah lebih peka menggali potensi lokal dan kebutuhan masyarakatnya sehingga kemampuan yang ada dalam masyarakat dapat dioptimalkan, dengan semangat keilmuan yang integral. Untuk dapat memainkan peran edukatifnya dalam penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas mensyaratkan pesantren dan sekolah harus bersinergi dalam meningkatkan mutu sekaligus memperbaruhi model pendidikannya. Sebab, model pendidikan pesantren yang mendasarkan diri pada sistem konvensional atau klasik tidak akan banyak cukup membantu dalam penyediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi integratif baik dalam penguasaan pengetahuan agama dan etika, pengetahuan umum dan kecakapan teknologis, tanpa disandingkan dengan sekolah secara holistik dan komprehensif.

 D.   Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, kaitannya dengan pemaduan pesantren dan sekolah dapat diambil beberapa kesimpulan akhir sebagai berikut;
1.    Bahwa sistem terpadu pesantren dan sekolah adalah merupakan pilar utama untuk menjembatani bahkan menutup jurang dikotomi pendidikan, dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional.
2.    Pemaduan pesantren dan sekolah adalah ebrio bagi paradigma pengembangan pendidikan Islam integrasi dan interkoneksi, sebagaiman dilakukan oleh perguruan tinggi Islam.
3.    Pesantren yang terpadu dengan sekolah adalah satu-satunya jalan untuk membentuk insan kamil dan juga dapat menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan anak didik yang mengalami penyakit akut krisis karakter atau ahklak, sebagai produk pola pendidikan skuler dengan cacat bawaan modernitas yang dimiliknya.

*Mahasiswa Program Doktor Kependidikan Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua Sekolah Tinggi Islam Nasy’atul Muta’allimin

Daftar Pustaka
A. Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, Bandung: Mizan, 1998.
A. Syafi’i Ma’arif dkk, Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.
Abd. A’la, Pembaruan Pesantren, Yogyakarta; LKiS, 2006.
Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi Esai-Esai  Pesantren, Yogyakarta: LKiS, 2007.
Ali Asyraf, Horison Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdus, 1996.
Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas Dan Kompleksitas Global, Jakarta: IRD Press, 2004.
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru, Jakarta: Logos, 1999.
Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembarahuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2005.
HE. Badri dan Munawiroh, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah, Jakarta: Puslitbang Lektur Kegamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2007.
Ian Barbour, 2000, When Science Meets Relegion: Enemies, Strangers, or Partuers?, terj. E.R. Muhammad, 2002, Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, Bandung :Mizan, 2006.
Jajat Burhanudin dan Dina Afriani, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2006.
Karel A. Steenbrink, Pesantren Sekolah Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3S.
Kusmana dan JM.Muslimin, Paradigma Baru Pendidikan Restrospeksi dan Proyeksi Modenisasi Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: IISEP bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Direktorat Jendral pendidikan Tinggi Islam Depag RI, 2008.
M. Amin Abdullah dkk, Integrasi Sains-Islam Mempertemukan Epistemologi Islam dan Sains, Yogyakarta: Suka Press & Pilar Media, 2004.
M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Martin Van Brunessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Bandung: MIZAN, 1995.
Nanat Fattah & Hendrianto Attan (editor), Strategi Pendidikan Upaya Memahami Wahyu dan Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Nanat Fattah & Hendrianto Attan (editor), Strategi Pendidikan Upaya Memahami Wahyu dan Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta: Paramadina, 1997.
Sutrisno, Pembaharuan dan Pengembangan Pendidikan Islam Membentuk Insan Kamil yang Sukses adan Berkualitas,Yogyakarta:Fadilatama, 2010.
Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3S, 1982.




[1] Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 3.
[2] Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3S), hlm. 21  
[3] Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi Esai-Esai  Pesantren, (Yogyakarta: LKiS, 2007), hlm. 1-11
[4] Ian Barbour, Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, terj. E.R. Muhammad, (Bandung: Mizan, 2006), hlm. 44.  
[5]  Abd. A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta; LKiS, 2006), hlm. 21
[6] Sutrisno, Pembaharuan dan Pengembangan Pendidikan Islam Membentuk Insan Kamil yang Sukses dan Berkualitas, (Yogyakarta:Fadilatama, 2010), hlm.58.
[7] Sutrisno, Pembaharuan dan Pengembangan Pendidikan Islam Membentuk Insan Kamil yang Sukses dan Berkualitas, (Yogyakarta:Fadilatama, 2010), hlm.57.
[8] Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, (Jakarta: LP3S, 1982), hlm. 44.
[9] Jajat Burhanudin dan Dina Afriani, Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006), hlm.121.
[10] Martin Van Brunessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: MIZAN, 1995), hlm. 17
[11] Dalam bahasa Steenbrink adalah menolak sambil mengikuti atau menolak dan mencontoh, lihat Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan…….., hlm. 62-69.
[12] Ida Farida & Anis Masruri, Konstribusi UIN Terhadap Peningkatan Mutu Madrasah; Perpustakaan sebagai Pusat sumber Belajar. Dalam Kusmana dan JM.muslimin, Paradigma Baru Pendidikan Restrospeksi dan Proyeksi Modenisasi Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: IISEP bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Direktorat Jendral pendidikan Tinggi Islam Depag RI, 2008), hlm. 286-291.
[13] Istilah kitab kuning (al-kutub al-sahfra’) disini adalah kitab-kitab yang ditulis di atas kertas yang berwarna kuning atau putih dengan menggunakan bahasa arab baik yang masih gundul maupun yang telah bersyakal atau harakat, dimana fokus kajian berkisar pada masalah fiqh, kalam, tafsir, hadits, lughah, tarikh  dan tasawuf yang sudah biasa dipakai di pesantren. Sedangkan kitab putih (al-kutub al-baidla’) adalah kitab-kitab atau buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa  Arab, Inggris, Indonesia yang isinya ilmu-ilmu sosial-humaniora (sejarah, filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi, semiotika, hermeniutika dan lain-lain).
[14] HE. Badri dan Munawiroh, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah, (Jakarta: Puslitbang Lektur Kegamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2007), hlm. 164-167.
[15] Amin Haedari Dkk, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas Dan Kompleksitas Global, (Jakarta: IRD Press, 2004), hlm. 149-150.
[16] M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 41
[17] Abd. A’la, Pembaruan Pesantren, (Jogjakrta: LKis, 2006), hlm.vii-ix
[18] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembarahuan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 51.
[19] Ali Asyraf, Horison Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdus, 1996), hlm. 78.
[20] Kuntowijoyo, Epistemologi dan Paradigma Ilmu-ilmu Humaniora dalam Perspektif Pemikiran Islam, dalam M. Amin Abdullah dkk, Integrasi Sains-Islam Mempertemukan Epistemologi Islam dan Sains, (Yogyakarta: Suka Press & Pilar Media, 2004), hlm. 80.
[21] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milinium Baru, (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 108
[22] Nanat Fattah & Hendrianto Attan (editor), Strategi Pendidikan Upaya Memahami Wahyu dan Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm72-73
[23] M. Rusli Karim, Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial dan Budaya, dalam A. Syafi’i Ma’arif dkk, Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hlm. 132.
[24] A. Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, (Bandung: Mizan, 1998),  hlm.30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar