Serunai Lagumu Di Ujung Senja
            ;Do’a untuk sahabatku yang setia dengan kertas kusam dan pena bertinta getah
Disana…
Kau sedang duduk berdandan berling mata dari biola yang kau maenkan
Sekejap kau terseduh menggelengkan kepalamu
Lalu kau mengangguk dan akhirnya kaupun terus mendendangkan syairsyairmu
Kau sedang melawan waktu
Menceritakan sunyi pada jarak dan terik senja
Entah apaapa
Di sudut keningmu aku melihat ada garis yang lurus
Lurus seperti jari telunjukmu yang kotor
Seperti berabad lamanya tidak kau bersihkan
Namun dendang lagumu nyaris membuatmu sempurna di mata senja pada hari itu
Tataplah dengan lekang
Dengan sorot yang tajam
Raba  di hadapanmu ada siapa
Bukan burungburung yang sedang diburu

Bukan buaya ganas yang menguasai rawa dan ditakuti
Bukan juga malaikat yang turun di antara selasela antara malam pagi dan fajar
Seperti yang kau lagukan pada saat aku belum lahir
Maka
Teruslah kau cari siapa yang ada di hadapanmu itu
Dengan dawai dan gesekan biolamu kau kan dapatkan kerinduan lewat garis lurus di sudut keningmu itu

Yogyakarta, 2011

Kau Yang Membayarnya

Seperti kata yang kau hujamkan pada hatimu yang lusuh
Terlantarkan kearifan dalam gantung bajubaju di kamarmu
Sesekali kau masukkan kata ke dalam saku celanamu

Sebulan kemudian kau bingung mencarinya
Tak lagi kau temukan

Kau mulai menghujamkan kata yang baru
Dari pikiranmu yang kau sayat dengan batang bambu yang tumbuh di tengah hutan
Kau berbaring kesakitan

Waktu telah memaksamu untuk pergi ke kota
Dengan terpaksa kau harus memakai celanamu yang bau anyir dan berbulanbulan kau terlantarkan

Kau kembali meraba saku celanamu
Ada benda terlipat tipis
Tipis seperti lembarlembar alismu yang kau pajang
Itulah kata yang selama ini kau cari
Kau menangis
Berdiam

Dan kau hentikan langkahmu
Kau pun tak jadi pergi

Yogyakarta, 2011

Semenjak Aku Datang
            ;pada f.R.a
           
Entah mengapa
Kau justru abaikan wasiat pikiranmu sendiri
Aku temukan kau sudah membisu dengan melewati loronglorong kecil
Sengajakah kau tak ingin menyapaku
Walau dengan memecutkan ikat pinggangmu yang dulu ku hadiahkan padamu
Dan tak sengaja
Aku kembali melihatmu bertingkah aneh
Kau  sedang mandi lumpur
Menggosok gigimu dengan tanah liat
Kaupun tersenyum girang
Dan kau hadapkan mukamu ke lumpur itu
Entah terlihat atau tidak wajahmu di sana
Sepertinya kau masih girang dan terus menggulingkan tubuhmu
Bangaubangau mulai singgah di dahandahan rapuh
Seakan menyuruhmu pergi
Aku terus melihatmu
Dan menggelengkan kepalaku sendiri
Masihkah kau mengenaliku yang pernah menghadiahkan ikat pinggang padamu

Yogyakarta, 2011

Sembahyanglah Kawan      
Terik menterik Matahari
Memulangkan kau dari
Sawah
Jalanan
Dan kuburan
Sujudlah  di sini
Sebelum purnama kembali menjadi bintang di siang hari.

Yogyakarta, 2011

*Penulis adalah aktivis PMII, IKA Al-in’am Yogykarta, Literasia dan Dema UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tulisannya dimuat dibeberapa media dan menjadi juara I di berbagai lomba cipta puisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar