Belataran Jiwa Sepi
                                                                                                                          
Malam mereba tangis
Mendengungkang risih suara jangkrik bertasbih
Percikan-percikan tetes air wajah berlabuh nan lemah
Hasrat biang lala menghujam diam petang

Oh, jiwa-jiwa sepi yang rapuh
Ayunkanlah sebentuk rasa perih merajuk hati
Diam di masa-masa yang akan datang

Satu janji dengan sumpah birahi
Menjadikan suatu kutukan
Bisik gesit yang merayu mewahana
Menakut-nakuti janji sehidup semati.


Dengus nafas merayu hasrat
Menjanjikan jiwa kian beradu
Belataran kata kini terus berfatwa

Yogyakarta, 01 Oktober 2009


Waktuku Semakin Kusut Saja

Dari kata yang terus mengalir dari teriak bibir
Kutuangkan sedikit harap tentang kabarmu
Ku tahu kau sering hadir dalam mimpi
Berisyarat tubuh yang lupa pada asal usulmu
Semuanya mungkin telah berlalu
Jika terus berkaca dalam tidurku
Tapi kupendam tikaian-tikaian terus bertubi

Oh, betapa sirna lamanya kunantikan cahaya di pancarkan
Namun hari-hari tetap membakar tubuh lunglaiku
Memburu usus dan urat nadiku
Dimana kau simpan separuh nafas?
Dimana kau robek secuil nadi? Dan
Dimana kau remas untaian senyum?
Hingga sekarang ku terlentang tak berarah

Hari tertumpang waktu semakin kusut saja
Selembar demi selembar kertas putih berwajah mati
Semakin kukejar detak jantung mulai lelah
Melangkah demi selangkah mengucurkan rasa
Tapi kau tetap diam saja tak merasa

Yogyakarta, 08 Oktober 2009


*Penulis adalah pecinta sastra, bergiat di komonitas Terebung, tinggal di Jogja. Aktivis di berbagai organisasi, baik intra ataupun ekstra kampus UIN Sunan Kaljaga. Tulisannya dimuat diberbagai Media lokal maupun Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar