Ruang Sunyi

aku bertanya
mengapa rumah ini sunyi
kerumunan gelap
kulihat perawan kunang berkata
aku sedang mencarimu
memicu langkah
dandan kafanmu

terasa tetap hampa tanpa sinar
walau secercah bayang
mengelupas

Matahari rindu
kelopak bunga layu
di tangan lembut
kesunyianmu

Aroma kau kasih
jadi semu
dan langkah jari

Kebisingan di ruang waktu
terkulai sengkarut lagu

Rumpun cerah
merayu tuhan
terimah seongkuk kata
karena nyawa singgah di ronggongan

hanya gelombang
di atas tumpukan masa
terjuntai sukma kealpaan

Memang susah
adakah “susah” tak terkata
di masa silam lahir
menampakkan lidah
untuk berkata
“aku sedang mencarimu”

Yogyakarta, 07/08

Baris Tanya

baris ini
terkumpul satu dalam diri

Di atas madura dan di bawah madura
betapa rindu, betapa luas
di sini, mengangkat tangan satu
menurunkan yang lain
kata kau anggap jahat
bisu-tidak bisu sama sekali

Aku sempat melihat sehelai rambut
dari jarak hitungan langkah
setelah tahu jalan masuk lalu berkata
adakah paham akan itu
sebuah salju tanpa warna
hanya melihat dari jauh
yang kau berikan
dari masa dan kata
apa yang sedang terjadi di sini

aku sadar semua itu
akar langkah
ilusi berbunga
dunia kebebebasan

Yogyakarta, 07-08   

Akar

Luka tumbuh
sengkarut masa
hilang bersama hujan

Kenangan pagi  
dibibir malam 
secarik awan beku
menghias rona samudera
dalam mata    

Seperti akar pohon?
isakmu dalam lubang kosong
memanggil jari unyi

Yogyakarta, 07-08

Sejenkal

kuraba matahari
sejenkal jari
pada waktu kosong

tanpa sadar
menggiring tempat kusam
tergapai malam
siang pun juga

Kita tinggal sensasi
pada detak semesta

Yogyakarta, 07/08

Secarik  

secarik pisau redup
tak mengerti
senyum dan kematian
                        jalan itu
rangkaian perih
kau tampakkan di antara
                        ketakmengertian
kau luka sendiri

tak meminta layu
semusim kemarau di matamu
merampas gersang samudera
                                    kesendirianku
sedikit banyak orang melukis
                                    cantikmu
dengan batu-batu baja
kecuali tak sanggup menanam arti
                        air mata dan kata
nanti
bila lapar akan kemolekan waktu
                        kebeningan pun
boleh menyentuh berkarya sendiri
                                    penggalan puisi
menuju jalan satu keabadian
                                               
                                                cinta?
Yogyakarta, 07-08

*Penyair kelahiran Sumenep. Aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI). Tinggal di Yogyakarta. Tulisannya telah dipublikasikan di media baik lokal maupun nasional dan dibukukuan dalam antologi bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar