Sajak-Sajak: Matroni el-Moezany*

Ruang Cinta I/

Air mata siapakah yang mengalir menimbun luka
hingga tiap kali aku menengada
terasa ada kegetiran pada matahari  
karena aku selalu menanam berkah pada langit
dari baju sejarah yang tak henti menulis derai
dengan dada yang memisau di layar bintang kejora
mengeluarkan kata yang tiap kali terlempar di siang pagi
dimana jarak antara waktu dan pucuk terus berlaju pada ketinggian malam
atau mengusung lagu dengan tangan terbuka dan amat selaksa
cinta yang aku manja begitu jauh berjalan

Keraguan para pencari terus membatu
di dua pintu
kematian yang masih mahal terus bersemayam dalam linang
walau hanya segurat kertas kotor yang amat aku dambakan

Yogya, 2007 

Ruang Cinta II/

Kau ingin melempar duka pada setiap luka
kalau luka masih terus bergerimis
tak ada lagi kesejukan di surau jurang itu
sebab kertas tak sanggup menulis bara sejarah yang lahir di rahim malam

Dedaunan tetap berdo’a di cakrawala
menanti getah kerinduan yang ada di atap rumah saljumu
melepaskan sang pujaan yang terdiam di jiwa
oleh suka dan kesumat cinta
lalu sipakah yang lari merajut senja di ujung cinta untuk rembulan masa lalu
melintasi musim yang terus berganti
melewati garis-garis tangan di pangkuanmu
sebelum kau sampai pada kesejukan
untuk memberimu kehausan di gelas para pencinta

Yogya, 2007






Ruang Cinta III/

Tuhan, engkau lihat bukan?
sebelah kata yang hinggap dalam perempuan elok itu
hangat cinta aku pakai tiap waktu
luas dunia mencipta yang agung oleh cinta juga bait-bait lagu
mungkin engkau melihat aku dalam kungkungan orang-orang itu
bergentayangan di sudut-sudut jiwa
mengusikku dalam fase-fase angin
yang hebat menyisir rambut di keelokan matamu

Lalu kemana tulisan di kertas yang aku tulis pada keputian dada
bukankah di sana pertemuan bisa didapat bersama puisi
tersimpan dengan lagu dan musik jiwa
atau serumpun salam telah melamarmu
bersama sunyi yang tak pernah pulang
melempar gundah
barangkali aku memang lintasan waktu
yang memaksa lahir di rahim dan jiwa-jiwa sepi
namun embun yang masih bertahan di ranting
menyimpan sehelai rasa sejuk yang belum tersampaikan padaku

Yogya, 2007
Ruang Cinta IV/

Bukankah aku sangat paham akan kematian
yang menanti di tanah pengubur

Seumpama tirai langit menghias tubuhku
aku tak lagi lari mengejar sumber sungai di hulu angin utara

Hidup bagai pelayaran di tengah samudera yang penuh haluan ombak
panas kubur yang berhias lampu-lampu surga
melukis tanah kelahiran yang aku rasakan dalam tubuh ini
lalu kehampaan tak terasa lagi di sungai waktu
mengalir langsung dari yang agung
linang demi linang hanya serumpun suara yang terkata pada
lembaran-lembaran masa

Yogya, 2007

*Penyair kelahiran Sumenep. Aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI). Tinggal di Yogyakarta. Tulisannya telah dipublikasikan di media baik lokal maupun nasional dan dibukukuan dalam antologi bersama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar