Terisak
ketika laut setan menyeretku
maka lautan maut datang menghantamku
berbisik angin datang berlabuh di laut hayalku
meneteskan air putih di kujur tubuhku
aku berlayar di atas tubuhmu
mengayun-ayun badanku
aku takut tenggelam
terisak
tangis malaikat ini
didahampar nan dikolam iman
aku sebut lagi nama itu saat kau datang
pergi menjauh menyebrangi pikirpikir hitam di pintu
sang bunda angan dan sang bapak mimpi
bunuh diri karena melihatku berlayar di atas hamparan perutmu.

Tertimpa
kau bunuh hati ini dengan awal kaki bergutik
do’a mati di tengan peperangan hati dan nafsuku
jeloteh suara air di paspasan memejamkan mataku
suara nadi merinti menanti datangnya sang ilahi
namun iya telah mati
ya. mati saat ini
cobalah lihat bumi ini
cobalah lihat kasur kusut ini
saksi percumbuhan di malam pertama.

Jarijari Manis
aku lihat jari berdi di atas hamparan tangan
lalu ia merunduk dan menusuk lembut lentir di kedalaman laut embun
namun kenapa kau tak merasa sakit namun kau bilang
ini nikmat
terlihat bulu matamu menepi di kelopak bundaran mata
semakin dalam tusukkan itu
kau semakin merasakan nikmat mimpi
takkuasa lagi kau mengangkis ronarona hidup
aku mencoba mengambil pengaman malah kau bilang
tidak
teruskan saja kikis tubuh embun ini biarkan habis tertelan mesrah
dalam telapak kekosongan kau membiarkan pergi menjauh
dengan hayalmu yang datang.

Belajar di Layar
saat layar itu bersatu bersama mataku
seolah aku yang bersetubuh
namun ia layar mati
layar ini musuhku
kematian rasa ini korbanmu
kehilangan otak do’a di terima
persetubahan hasilnya
bekas bakaran di dada inilah sabdamu
aku tak percaya jika semua ini nyata
mimpi buruk aku lihat menari bersama selendang setan
di layar makam
tertimbun rapih dokumen faile di otakku
ketika aku melihatmu layar hitam menuntunku
sungguh anggur diriku
dimalam ini.

Sialah
sialah kau mencubitku
memberikan tanda kau mau
sialah kau tersenyum
memberikan kenikmatan surga
sialah kau tidur
baru aku mulai kau menutup mata
sialah kau minta elus
aku bertanya
sialah kau nutup mata
berarti inilah tempat singgah
sialah kau bertanya
aku jawab ia sudah keluar
kita tersungkur kakuh urat telah habis
tunggulah beberapa jam lagi.

*Penulis adalah alumni Al-in’am yang melanjutkan studinya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selain kuliah, ia aktifis PMII, LPM, IKAAY dan KIPeR (Kaum Intelek Peduli Rakyat).

2 komentar:

  1. untuk puisi kamu.
    1. silahkan kamu lebih rajin membaca karya puisi orang lain.
    2. metafor kamu kurang.
    3. tetap berkarya.
    4. tingkatkan kualitas karyamu dengan sering diskusi tentang puisi dengan orang yang dianggap lebih tahu dari kamu.

    BalasHapus
  2. Kita bedah saja setiap karya puisi yang hasilkan teman-tema. Seperti kebiasaan kita dulu yang sering membedah puisi di forum santai IKAAYO

    BalasHapus