Sajak Misteri

Kerangka cinta yang tersulam harapan kosong
Membawa angin kesenyapan
Dalam jiwa yang kian gelisah
Aku terbuai dalam mimpi yang tak pernah nyata,
Aku berhayal dalam kisah yang tak pernah ada

Dari kata yang tak bisa terucap
Aku mengeja aksara-aksara itu
Pada sepucuk senja yang kini bersemayam
Di balik jendela
Membawa kata yang lama terlupakan
Bersama kemarau panjang,
Izinkan aku
menyiraminya dengan sajak-sajak misteri
Yang sering kau lupakan diwaktu malam

Aku bersama senja merintih melewati pesona
Menghirup udara dengan kata-kata
Mencicipi embun dengan suara
Bersama kata yang kau lupakan aku kedinginan.

20 desember 2010


Sajak Untuk Ayah

Ayah.
Harus dengan apa aku balas peluh yang kau cucurkan?
Apa mungkin hanya dengan aku berbakti padamu,
Tapi itu tak cukup, budimu laksana gunung
Yang tak mungkin aku mendakinya
Jasamu laksan samudera
Yang tak sanggup aku mengarunginya

Ayah.
Peluhmu menghilangkan dahagaku
Jerih payahmu membangkitkan semangatku
Ketekunanmu membangun jiwaku

Ayah.
Aku ingin membalas budimu tapi dengan apa?
Aku tak punyak apa-apa
Kecuali sebaris do’a yang kulantunkan disela jasamu.

Ayah.
Kau bekerja untuk aku,
Kau banting tulang untuk hidupku
Tapi aku tertawa tak bersamamu
Aku gembira tak di sampingmu,

Ayah.
Selama mulut mampu berucap
Selama jantung masih berdetak
Selama nadi masih berdenyut
Aku akan berbakti padamu
Hingga kelak kau tiada.

26 Desember 2010
                       
Sajak Rindu

Saat senja sore mulai menyipit mengukir warna pelangi
di tepian  rindu  yang berlayar di samudramu
menembus badai-badai
yang tersulam kabut ketidak pastian
membuka lembaran-lembaran baru,
aku mulai bertanya pada aksara rindu
yang terukir di pelangi itu
apa dia tak kesepian tanpa ejaan kasih sayang di sampingnya
beralaskan warna-warni
berselimut harapan dia puas dengan itu,
berulang aku mencari rasa dalam sunyi
tapi tak juga aku menemukannya
membuka dunia baru dari mata yang terpejam
menghayal mega yang tak pernah tersulam di senja sore,
Biarkan aku melukis wajahmu di senja itu
Biar tak ada mega yang membuat tabu kecantikanmu.
5 desember 2010

Sajak yang Terlupa

Saat sajak-sajak itu tak lagi ditulis
Di lembaran sejarah yang terukir di tepian takdir
Aku mulai tak yakin dengan kata-kata itu
Saat itu aku mulai berlari mencari warna dalam kelabu
Mencari senyum dalam tangis
Mencari arti dalam kata.

Aku yang terdampar di pantai hayal
Membangun layar dengan huruf-huruf keyakinan
Mencari alas dari dedaunan, yang jatuh di pelabuhan takdir
Mencuci dosa dengan air mata
Membasuh dusta dengan gelisah,
Arus khilaf itu yang sering membawaku kedalam palung nafsu
Tak sempat aku menebusnya dengan do’a.

26 Desember 2010

Sajak untuk Ibu

Ibu.
Aku yang tak tau balas budi
Menanti, mencari, berlari,
dan memburu kasih sayangmu
sedang kasih sayangmu
laksan udara yang aku hirup
laksana cahaya yang tak pernah redup
laksana air yang tak pernah berhenti mengalir

Ibu.
Kasih sayangmu menutupi salahku 
Air matamu membasuh dosaku
Do’amu membelai kalbuku 
Tangisanmu membuka jiwaku

Ibu.
Bukan tangis yang aku mau 
Bukan air mata yang aku cari
Bukan luka yang aku inginkan

Tapi ketidak berdayaanku membuat tangis
Kebodohanku memcucurkan air mata
Salahku membuat luka.

Ibu.
Aku berhutang padamu
Air susumu menjadi darah dagingku
Kasih sayangmu menjelma jiwaku

Ibu.
Tak ada kata yang bisa kuucap
Kecuali aku bangga jadi anakmu.

25 Desember 2010


*Penyair kelahiran Sumenep, 18 September 1991. Sekarang menjadi mahasiswa Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di kajian IKA AL-In’Am Yogyakarta, PMII, LPM Literasia dan Komunitas Kemanusiaan Yogyakarta. Tulisannya dimuat di berbagai Media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar