Oleh: Syaiful Amri*
Peningkatan kuantitas jumlah dan aset bank syari’ah kini sudah mencuat dan melambung tinggi, tidak hanya berkembang di Indonesia bahkan menyebar luas di Negara-negara yang notabene non-muslim seperti eropa. Dalam meng-upgrade di perbankan syari’ah tidak hanya ahli di bidang perbankan, akan tetapi ahli di bidang syari’ah, akutansi dan bahkan ahli terhadap ekonomi. Tanpa diiringi dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Insani (SDI) syari’ah, hanya akan bersifat fatamorgana dan artifisial. Sejumlah praktisi perbankan syari’ah didominasi mantan praktisi perbankan konvensional yang hijrah kepada bank syari’ah atau  berasal dari alumni perguruan tinggi umum yang ber-backround non-syari’ah. SDI syari’ah yang memiliki kompetensi dan kualifikasi masih langka, baik di level menengah maupun di level puncak.
Secara universal perbankan syari’ah masih memakai tenaga kerja karbitan, ber-basic non syari’ah, memakai praktisi dari bank konvensional yang berkecimpung didalamnya. Hematnya, bukan dibidangnya. Di samping itu dimungkinkan karena sistem perbankan syari’ah khusunya di Indonesia relatif masih baru, juga masih terbatasnya lembaga akademik dan pelatihan di bidang perbankan syari’ah. Para praktisi bank syari’ah tidak hanya fokus mengejar target untuk memuaskan shareholder, akan tetapi juga harus mampu dan mempunyai komitmen yang diiringi penerapan nilai-nilai syar’i. Padahal, idealnya upaya ini untuk mewujudkan sistem dan prinsip perbankan syari’ah dengan mempunyai SDI yang  proporsional atau menguasai dan memiliki jiwa syari’ah sejati dan perbankan syari’ah.
Jika kita lihat di berbagai Islamic Bank Indonesia masih ada para praktisi banker syari’ah yang tidak tepat mengucapkan kata-kata istilah di bank syari’ah, seperti mudharabah, murabahah dan lain sebagainya, dan hal ini sangat lucu sekali kita dengar, walaupun hal ini sangat sepeleh dan tidak ada hubungan secara financial dan efek kualitas kinerja mereka. Demikian juga, Sangat fatal akibatnya kalau semata-mata hanya mengandalkan Customer Service, teller atau pegawai internal yang basis pengetahuan agamanya kurang, takutnya ketika mereka salah memberikan info atau penjelasan mengenai bak syari’ah yang jelas-jelas berbasis islami, yang jelek adalah nama bank syari’ahnya secara keseluruhan.
Mengapa sampai saat ini banyak perbankan syari’ah tidak berani secara langsung dalam merekrut karyawan dari lulusan yang berbasic syari’ah (UIN,IAIN,STAIN), menurut asumsi meraka, membekali training kesyari’ahan kepada karyawan yang lulusan perguruan tinggi umum lebih mudah dari pada membekali training ekonomi keuangan dan perbankan kepada pegawai lulusan perguruan tinggi Islam yang nota bene sudah paham syari’ah. Maka jika benar demikian, nanatinya lulusan dari pertungguan tinggi islam akan merasakan kesulitan masuk di dunia perbankan.
Anggapan yang sedemikian rupa tidak benar adanya. Mayoritas Perguruan tinggi islam saat ini tidak hanya mencetak akademisi yang paham syari’ah saja, serta mencetak para calon praktisi bank syari’ah yang benar-benar siap terjun di lapangan. Mereka juga dibekali pengetahuan secara esensial mengenai perbankan syari’ah. Faktanya, mayoritas perguruan tinggi islam juga menambah kurikulum mengenai teknis perbankan syari’ah. Mengadakan training  dan praktik langsung ke lembaga-lemabaga keungan syari’ah juga kerap dilakukan. Dan beberapa perguruan di dalamya memiliki organisasai keuangan syari’ah atau ekonomi syari’ah.
Beberapa problem juga masih menjadi duri. Pentingnya membumikan bank syari’ah atau ekonomi syari’ah untuk masyarakat pada umumnya dirasa masih sangat minim. Realitasnya, masyarakat untuk menginvestasikan dananya ke lembaga-lembaga keuangan syari’ah masih menjadi pengetahuan dini. keberhasilan pengembangan perbankan syari’ah bukan hanya ditentukan oleh keberhasilan pertumbuhan yang good qulity atau keberhasilan penyebarluasan informasi, penyusunan atau penyempurnaan perangkat ketentuan hukum, sehingga bank syari’ah bisa berjalan sesuai prinsip syari’ah dan dapat  dimanfaatkan masyarakat luas sebagai bagian dari sistem keuangan syari’ah murni bukan intervensi.
Penanaman pemahaman baru untuk masyarakat dirasa perlu, konsep yang ditawarkan perbankan syari’ah itu sama saja seperti perbankan konvensional, dan masih memiliki persepsi bahwa bank syari’ah dan bank konvensional hanya beda istilah dan akad, sedangkan prakteknya kurang lebih sama saja. Kadang-kadang hal ini tidak hanya datang dari masyarakat, bahkan dari praktisi yang melayani setiap kebutuhan masyarakat saja masih belum bisa memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai perbankan syari’ah, ditambah lagi dengan ilmu yang mereka miliki sangat minim sekali.
Khawatir, pesatnya kuantitas perbankan syari’ah saat ini bukan karena pelayanan yang gampang dan lebih murah kepada nasabah, tetapi karena moyoritas masyaraktnya beragama islam. Para tokoh agama terutama pada masyarakat pedesaan masih menjadi panutan utama bagi mereka, sehingga jiwa religius masih tertanam, operasionalisasi yang memakai patokan bunga dihindari dan memilih yang lebih halal menurut mereka, lebih memakai bank syari’ah di bandingkan bank konvensional.

*Penulis adalah mahasiswa Mua’malat Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktifis PMII, Group Musik Al-Jami’ah, IKAAY, Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan, LPM Advokasi dan Komunitas Kemanusiaan Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar