Judul Buku  : Garam, Aduan Sapi dan Kekerasan; Esai-Esai tentang Madura dan Kebudayaan Madura
Penulis         : Hubb De Jonge
Penerbit        : LKiS, Yogyakarta
Cetakan        : I, 2012
Tebal             : xiv + 314 halaman
Peresensi      : Juma Darmapoetra*

Membaca madura adalah membaca stereotipe. Madura digambarkan dengan nuansa humor dan kekerasannya. Rasa humor manusia madura, digambarkan lewat media, berupa komedi dengan memakai logat madura sebagai perlambangan kelucuan walau terkadang bernada naif, kelucuan naif. Citra keras madura telah melekat begitu kuat dalam lingkungan sosial masyarakat indonesia. Madura dicitrakan berwatak keras, cepat panas, urakan, penuh semangat dan terkesan tidak beretika. Pembakaran Masjid Syia’h di Pamekasan beberapa bulan kemaren, semakin menguatkan citra madura yang cepat panas dan mengedepankan asas kekerasan dan premanisme.
negatif manusia madura memang cukup mencengangkan. Suku yang menempati urutan ketiga terbesar di indonesia harus dipersepsikan sebagai sosok inferior di depan suku-suku lain di indonesia. Manusia madura yang terkenal dengan “kuliner sate”, digambarkan manusia naif dan penuh kenegatifan di hadapan suku lainnya.
Hubb De Jonge, peneliti yang banyak memotret kehidupan, adat, dan kebudayaan manusia madura hadir dengan penelitian terbarunya; “Garam, Kekerasan dan Aduan Sapi; Esai-esai tentang Madura dan Kebudayaan Madura”, berusaha memotret kebudayaan dan citra manusia yang madura yang mendapat stereotipe dari bangsa lainnya.
Hubb memulai penelitiannya dengan memotret perekonomian madura, yaitu petani garam yang secara nilai ekonomis bernilai rendah. Tanah tandus dan gersang, serta himpitan ekonomi menjadikan manusia madura berhadapan dengan realitas hidup yang dinamis menuntut perubahan-perubahan. Migrasi menjadi pilihan tak terhindarkan. Citra manusia madura yang urakan, keras, cepat panas dan mengedepankan kekerasan diakibatkan oleh himpitan ekonomi. Himpitan ekonomi inilah yang memancing manusia madura bertipikal sensitif dan rawan konflik, seperti carok. Kekerasan dalam bentuk carok inilah yang kemudian diterima struktur sosial sebagai budaya yang sah untuk menolong diri mereka sendiri.
Penciptaan stereotipe manusia madura telah berlangsung sejak zaman kolonial. Sebagian besar orang-orang Barat, mencitrakan manusia madura sebagai bangsa yang berperadaban rendah, tidak memiliki nilai seni tinggi, premanisme, cepat naik darah dan berperawatakan keras. Orang Barat mendeskripsikan bahwa anak remaja di Belanda yang diberikan celana, di Madura akan diwarisi senjata tajam berupa keris, tombak dan celurit.
Citra negatif dan stereotipe yang melekat inilah yang terus berkembang hingga dewasa ini. Tidak jarang, orang suku lain, merasa takut berhubungan dengan manusia madura, karena melihat dan mendengar manusia madura yang keras dan temperamental. Ketakutan demi ketakutan diciptakan untuk mendeskriminasi dan mengkambing hitamkan suatu kelompok agar mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan penuh kecurigaan.
Kekerasan manusia madura disimbolisasikan lewat tradisi kerapan sapi. Kekerasan simbolik telah tercipta bagi masyarakat madura. Kerapan sapi adan aduan sapi yang lebih merupakan hiburan, menjelma menjadi media kekerasan masyarakat. “Sapi” menjadi media memperoleh penghargaan dan status sosial sekaligus representasi pembelaan diri. Status sosial didapat ketika sapi menjadi pemenang dalam sebuah kontes atau aduan. Sang pemenang secara otomatis akan mendapatkan status sosial di lingkungan sosialnya, sehingga Orang Barat mendeskripsikan kecintaan manusia madura terhadap sapi sangatlah tinggi. Orang madura rela tidur bersama sapi, demi menjaga sapi dari marabahaya. Bahkan ada yang mengatakan, manusia madura lebih sayang pada sapi dari pada istrinya.
Sapi dalam kepercayaan Hindhu, memang menempati posisi terhormat dan disakralkan oleh pemeluknya. Umat Hindu mensimbolisasikan sapi sebagai hewan yang patut disembah dan puja. Sementara, bagi masyarakat madura, Sapi menjadi perlambangan watak dan karakter masyarakat madura yang keras. Stigmatisasi masyarakat madura bagi masyarakat luar terkait dengan cara bersikap dan komunikasinya.
Penelitian yang telah dilakukan sejak 1976 ini, Hubb akan membuka kembali cakrawala baru manusia madura. Hubb membuka khazanah kebudayaan manusia madura, bahwa tidak ada inferioritas dan superioritas dalam kebudayaan. Budaya madura, budaya jawa atau budaya lainnya memiliki nilai luhur, nilai filosofis  dan pijakan ideologis yang sama. Persoalan watak manusia madura yang keras dan sensitif konflik, hanyalah persoalan stigma dan stereotipe yang dilekatkan pada manusia madura.
Kekerasan tidak selamanya berakar pada budaya, tetapi lebih karena tekanan; baik tekanan ekonomi atau tekanan sosial. Carok sebagai bentuk kekerasan, bagi masyarakat madura lebih merupakan ekspresi melindungi diri, menjaga kehormatan diri dan keluarga. Kekerasan dalam masyarakat madura tidak secara terus menerus dilakukan setiap hari, namun ada momen yang membuat orang menjadi nekat dan berkonflik.
Aduan sapi atau kerapan sapi sebagai bentuk ekspresi seni telah berubah menjadi wahana kekerasan. Kekerasan dalam aduan sapi merupakan bentuk pembelaan diri dan menjaga kehormatan, yang menuntut mobilitas sosial yang bergerak keatas. Tidak bis dipungkiri, kerapan sapi merupakan media alternatif menaikkan harkat dan status sosial sebuah keluarga. Kemenangan dalam aduan sapi akan semakin membuat orang disegani dan dihormati. Sementara, sapi akan diperlakukan selaiknya manusia. Ada upaya humanisasi hewaniyah yang dilakukan manusia madura terhadapa hewan.  
Buku ini membuka cakrawala berpikir masyarakat indonesia untuk melihat manusia madura secara luas. Diskriminasi kebudayaan lewat penciptaan stereotipe hanya akan menimbulkan ketimpangan sosio-kultural; etnis satu lebih tinggi dari etnis lainnya. Dalam kebudayaan, semuanya setara; tidak ada superioritas dan inferioritas kebudayaan. Citra keras dan kebiadaban manusia madura adalah ciptaan yang perlu ada keterbukaan ditengah arus demokrasi dan perkembangan informasi.

*Penulis adalah aktivis PMII. Tulisannya dimuat diberbagai media baik lokal maupun Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar