Oleh: Juma Darmapoetra*


Drama politik kenaikan harga BBM berakhir lewat panggung rapat paripurna. Ending dari “skenario” kenaikan BBM adalah penundaan kenaikan harga BBM. Penundaan ini terkait opsi pasal 7 ayat 6a yang menyatakan bahwa harga BBM bisa dinaikkan kalau harga minyak mentah dunia mencapai 15% dalam rentang 6 bulan, disetujui oleh anggota fraksi yang terdiri dari F-PD, F-Golkar, F-PPP, F-PKB, dan F-PAN. Fraksi seperti PKS, PDI Perjuangan, Gerindra dan Hanura masih kukuh dengan pendiriannya menolak kenaikan BBM.

Pasal 7 ayat 6a memang menandakan harga BBM tidak naik, tetapi memberikan celah untuk pemerintah menaikkan harga BBM. Keputusan yang masih mengambang dalam menaikkan harga BBM menimbulkan tanya di publik; apakah ini kemenangan demonstran yang mewakili hati nurani rakyat kecil atau kemenangan politik elit yang mengatasnamakan rakyat kecil?
Guna menjawabnya, dibutuhkan pertimbangan geo-politik, kondisi sosial, ekonomi yang komprehensif di tengah problematika kebangsaan. Adanya nalar kritis dan multiperspektif diperlukan demi menemukan jawaban yang objektif dan tidak terjebak dalam klaim kebenaran tertentu yang mengarah pada penghakiman salah satu kelompok elit penguasa.

Isu kenaikan harga BBM memang telah memunculkan ketegangan yang melahirkan konflik kecil di tengah masyarakat berupa demonstrasi sporadis. Kenaikan harga BBM telah menimbulkan ketegangan dan kepanikan masyarakat. Masyarakat merespon isu kenaikan BBM dengan demo yang dilakukan secara sporadis di berbagai daerah indonesia.

Demonstrasi sebagai ekspresi kebebasan bersuara dan berpendapat sangat diperlukan di negara demokrasi seperti indonesia. Demonstrasi menandakan bahwa masyarakat masih hidup untuk menentukan nasibnya di tengah kegalauan politik nasional yang kian memanas. Masyarakat masih bersuara lantang di tengah hiruk-pikuk politik kongkalikong-transaksional.

Demonstrasi rakyat dan mahasiswa merupakan bentuk penentangan terhadap diskriminasi elit dan ketidakpekaan penguasa terhadap nasib rakyat. Demonstrasi dianggap sebagai jalan terbaik sebagai jalan menyuarakan aspirasi di tengah “tunarungu” dan “tuna netra” elit penguasa akan nasib rakyat. Mahasiwa dan buruh masih bersuara keras menentang sistem yang mendiskriminasi dan menyengsarakan rakyat. Walau keteguhan hati demonstran terkadang harus berakhir dengan aksi anarkisme dengan aparat kepolisian.

Hasil paripurna bisa mengakhiri gejolak massa yang selama ini berkembang di masyarakat luas mengingat harga BBM masih belum bisa dinaikkan. Walaupun masih terbuka celah bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Peta pertarungan politik adalah upaya “merebut rakyat” atas nama perjuangan hati nurani kaum miskin.

BBM tidak bisa dinaikkan, perjuangan demonstrasi telah menuai hasil? Mungkin ada kebanggaan tersendiri bagi para demonstran, ketika kenaikan harga BBM masih belum terjadi. Artinya, keteguhan hati dan prinsip perjuangan atas nama rakyat kecil telah dilakukan dan sedikit menemukan oase di tengah gurun penindasan terhadap rakyat.

Ini kemenangan politik, bukan kemenangan demonstran yang mewakili suara rakyat. Elit penguasa dengan lihai memaikan peran politiknya demi tujuan tertentu dalam jangka panjang. Kemenangan elit atas kuasa rakyat terlihat jelas dalam perang politik (battle of politic) dan perang kepentingan (battle of interest) yang ditampilkan dalam sidang paripurna. Politik atas nama kepentingan rakyat berkuasa atas demonstrasi yang murni mewakili hati rakyat.

Realitas politik kebangsaan akhir-akhir ini telah mencerminkan perang kepentingan dan perang politik dalam isu kenaikan harga BBM. Ervin Goffman, sosiolog Kanada mengibaratkan realitas ibarat panggung sandiwara, dimana disana memang dipamerkan serta disajikan kehidupan/realitas kita, dan memang itulah seluruh yang kita miliki. Goffman membedakan dua ruang penampilan yang penting untuk dibedakan, yaitu panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Manusia merupakan aktor hidup atas realitas yang dijalaninya setiap hari. Manusia selalu berupaya mengadaptasi atau menggabungkan karakter persoanal dan sosial lewat action dan “skenario”.

Dalam drama hidup yang diperankan, manusia selalu menampilkan realitas yang berbeda. Ibarat panggung teater, panggung depan selalu berbeda dengan panggung belakang. Panggung depan selalu menampilkan realitas parsial-sementara nan penuh skenario. Sementara panggung belakang adalah realitas yang subtansil. Goffman memandang panggung depan sebagai realitas semu dan penuh kepura-puraan sementara panggung belakang adalah keaslian, hakikat tanpa manipulasi.

Konteks dramaturgi politik kenaikan BBM, terlihat dalam rapat paripurna dan aksen yang ditampilkan partai politik atau elit penguasa. Elit penguasa melakonkan karakter lihai dan cerdas dalam memancing opini publik; menampilkan kesan komunikatif, terlihat sensitif sosial, tetapi realitas yang sebenarnya adalah menggerakkan opini publik, menyeret keberpihakan rakyat kecil demi tujuan jangka panjang.

Partai Golkar tampil menjadi design politik nasional di tengah ketegangan antara partai koalisi dan oposisi yang bersikukuh dengan prinsipnya masing-masing; menaikkan harga BBM dan tetap tidak naik. Di tengah ketegangan itu, partai Golkar menjadi katalisator yang memaksa seluruh partai yang terlibat koalisi menyetujui dan mengekori opsinya, yaitu pasal 7 ayat 6a.

Dalam rapat paripurna, partai Golkar menjadi ‘aktor’ yang berhasil meyakinkan koalisi sekaligus menutup celah koalisi memenangkan perang politik dan kepentingan (battle of politic and interest). Golkar menyikut partai oposisi sekaligus menemukan jalan aman di koalisi. Improvisasi politik dengan narasi dan setting ketegangan isu kenaikan harga BBM berhasil memesona publik sehingga terkesan Golkar prorakyat dan menentang kenaikan harga BBM.

Perang politik dan kepentingan dalam arena kenaikan harga BBM menjadi bahan renungan untuk menumbuhkan kritisisme sosial dan politik di tengah politik transaksional. Tidak cukup memberikan penilaian dan penjelasan sebatas apa yang terlihat, karena di balik panggung drama kenaikan BBM, ada investasi politik jangka panjang yang sedang di-design. Dramaturgi dan imagologi politik kenaikan harga BBM sangat rentan menipu dan menyesatkan rakyat berkat kelihaian aktor politik yang memainkan perannya dengan sangat sempurna. Dramaturgi politik kenaikan BBM hanyalah realitas nyata dari kemenangan politik yang mengatasnamakan rakyat, bukan kemenangan demonstrasi yang mewakili hati nurani rakyat.



*Penulis adalah aktivis PMII dan IKAAY. Tulisannya dimuat diberbagai media lokal maupun nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar