Oleh: Juma Darmapoetra*

Akhir-akhir ini, tidak ada isu yang paling seksi dan sensitif yang memikaht perhatian public, selain isu kenaikan harga BBM pada 1 April 2012. Isu kenaikan harga BBM menjadi bom waktu yang meladak di tengah masyarakat dan menimbulkan kepanikan dan ketakutan berlebihan dalam masyarakat. Kepanikan dan ketakuan yang ditimbulkan akibat isu kenaikan BBM terlihat dalam dua hal; penimbunan minyak dan aksi demonstrasi, baik mahasiswa atau masyarakat.
Kenaikan harga BBM telah menjadi bola salju yang menggelinding semakin besar. Efek domino dari kenaikan harga BBM memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap masyarakat. Ketakutan akan naiknya bahan sembako menjadi isu yang melingkupi kenaikan harga BBM. Tak ayal, kenaikan harga BBM, menimbulkan aksi demonstrasi yang begitu besar dari masyarakat dan mahasiswa.

Aksi demonstrasi mahasiswa menentang kenaikan harga BBM tidak jarang berakhir dengan anarkisme dan premanisme. Kekerasan dalam demonstrasi menjadi persoalan yang pelik, karena dilakukan oleh mahasiswa yang nota benenya dibekali kemampuan akademis, nalar kritis dan logika berpikir yang jernih. Demontrasi anarkis hanya akan menimbulkan stigma dan stereotipe bagi mahasiswa. Hal ini, akan menimbulkan persepsi, mahasiswa sebagai masyarakat akademis sudah tidak menjunjung tinggi asas kedamaian dan keteraturan.

Kekerasan dan anarkisme dalam demonstrasi memang bukan perbuatan yang menjunjung tinggi nilai humanisme, karena tidak sedikit masyarakat menjadi korban aksi massa demonstrasi. Kita lihat misalnya, ketika terjadi demonstrasi, aksi menutup jalan, pengrusakan traffict light, sarana umum bahkan penjarahan sarana prasarana umum. Contoh yang bisa kita jadikan sebagai bahan pertimbangan adalah demonstrasi yang terjadi di Makassar dan Jogja. Di Makassar, mahasiswa melakukan penjarahan SPBU, sabotase tabung gas dan pembakaran mobil. Sementara di Jogja, aksi massa mahasiswa telah mengakibatkan aktifitas jalan raya terganggu, pengrusakan trafict light, saling lempar batu dengan aparat hingga aksi saling pukul antara mahasiswa dan polisi.

Pertanyaannya, haruskah demonstrasi selalu berujung dengan kekerasan dan anarkisme? Demonstrasi memang bentuk ekspresi kebebasan berpendapat yang diatur dalam negara demokrasi, tetapi demonstrasi anarkis perlu dipertanyakan, terlebih dilakukan oleh mahasiswa yang menyandang titel ujung tombak perubahan bangsa. Mahasiswa yang selalu menjadi katalisator di tengah problematika kebangsaan.

Mahasiswa yang menyandang status sosial yang cukup prestius karena dibekali dengan kemampuan pengetahuan, nalar kritis dan logika berpikir yang lebih bijaksana, ternyata mampu bersikap layaknya preman yang mengedepankan asas premanisme dan kekerasan dalam setiap tindakan dan sikapnya.

Secara personal tulisan ini, bukan bermaksud menyudutkan aksi mahasiswa atau demonstrasi, tetapi kekerasan dan efek yang ditimbulkan dari anarkisme itulah yang menjadi perhatian publik. Masyarakat umum pun, begitu menyayangkan, aksi mahasiswa yang banyak merusak sarana dan prasarana umum milik masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri, aksi mahasiswa memang tidak berangkat dari ruang kosong tanpa tujuan. Mahasiswa melakukan aksi demonstrasi karena digerakkan oleh situasi sosial-politik bangsa yang carut marut. Mahasiswa tergerak oleh kebijakan pemerintah dan elit yang banyak mendiskriminasi kepentingan rakyat kecil. Aksi mahasiswa terjadi karena memperjuangkan nasib rakyat kecil yang tertindas oleh kesewenang-wenangan pemerintah.

Ada tujuan luhur. Ada nilai kemanusiaan yang dibawa mahasiswa. Tetapi kenapa nilai-nilai luhur yang diperjuangkan harus dicederai oleh aksi-aksi yang justru membuat masyarakat tidak menaruh perhatian kepada mahasiswa. Masyarakat justru mengecam kekerasan dan anarkisme yang ditimbulkan demonstrasi tersebut.

Nilai dan ideologi memperjuangkan hak rakyat kecil seharusnya tetap dijaga utuh seraya memberikan citra yang baik bagi publik. Memang tujuan luhur tersebut tidak akan hilang, tetapi rasa ilfill masyarakat akan aksi anarkisme itu akan menimbulkan citra buruk mahasiswa di depan publik. Begitu naifnya kemudian kalau masyarakat menstigma mahasiswa dengan preman atau masyarakat tak berpendidikan, hanya karena persoalan anarkisme demonstrasi yang secara subtansial memperjuangkan rakyat kecil.

Hilangnya kepercayaan publik terhadap aksi mahasiswa adalah ironi gerakan mahasiswa. Nilai dan ideologi proletarianisme menjadi boomerang yang membunuh eksistensi gerakan mahasiswa. Meminjam istilah Frans Magnis Suseno aksi mahasiswa harus mampu berfungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Melahirkan atau menimbulkan arti bagi masyarakat dibutuhkan sistem nilai, landasan berpikir, refleksi dan renungan mendalam perihal goe-politik nasioanal dan sensitifitas sosial yang tinggi.

Ketiadaan sensitifitas sosial dan ketidakpahaman kondisi geo-politik akan menjerumuskan mahasiwa dalam kubangan romantisme sejarah. Sejarah yang mendeskripsikan nilai luhur perjuangan terhadap bangsa di masa lalu, sementara realitas terkini, mahasiswa justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Melihat ironitas tersebut, mahasiswa perlu merekonstruksi format gerakannya, agar perjuangan kemanusiaan dan nilai proletarianisme yang diusung tak pernah pudar dalam masyarakat. Format gerakan aksi massa dibutuhkan demi terciptanya aksi massa yang sistemik dan massif antara masyarakat dan buruh bersatu di bawah komando mahasiswa sebagai katalisator perubahan.

Untuk menggerakkan massa, menurut Sartono Kartodirdjo dalam psikologi sosialnya, dibutuhkan ‘nilai baru’ yang mampu menjadi motivasi sebagai “bahan peledak” massa. Kenaikan harga BBM adalah sistem yang bisa berpotensi besar untuk digunakan memobilisasi rakyat. Penciptaan “kambing hitam” berupa menanamkan kebencian, akan sanagt urgen untuk memantik semangat membara perjuangan melawan rezim penguasa.

Mahasiswa-lah aktor individu atau kolompok yang akan menjadi motivator, agitator, inisiator, propagandis, katalisator dan organisator dalam memberangus ketidakadilan dan diskriminasi bagi rakyat kecil. Mahasiwa seharusnya tidak menimbulkan ketegangan di masyarakat dan menciptakan kebencian dengan aksi yang merusak sarana prasaran publik. Inilah yang sepertinya dilupakan dalam aksi mahasiwa menentang kenaikan harga BBM.





* bergiat di Literacy Institute Yogyakarta. Ia juga aktivis PMII dan IKAAY. Tulisannya dimuat diberbagai media lokan dan nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar