Oleh: Marsus Banjarbarat
(Koran Merapi, Minggu, 17 Maret 2012)

Atrawi duduk meringkuk di halaman rumah. Wajahnya mengerut menyimpan beban berat yang sedang ia pikul. Sesekali ia tatap batang pohon kelapa yang sudah berumur puluhan tahun namun belum berbuah. Lalu, seketika itu tampak wajah Rahem, anak lelaki Atrawi yang sedang merantau di kampung seberang. Atrawi semakin bimbang dan semrawut saat memerhatikan satu pohon kelapa yang semakin hari bertambah layu. Bahkan tampak terlihat ada beberapa helai janurnya yang jatuh bergelantungan satu persatu. Ia menjadi semakin khawatir, kalau anaknya akan bernasib buruk dalam hidupnya.
Hingga saat ini, Atrawi ingat betul saat Rahem baru menginjak umur tujuh tahun. Sebelum ia dibawa ke dukun untuk disunat. Rahem digendong dengan membawa tunas kelapa ke pekarangan rumahnya. Untuk kemudian ia tanam tunas kelapa tersebut. Maka, dengan begitu, entah hidupnya kelak akan menuai keberuntungan atau kebahagiaan? Atau nasib naas akan Rahem alami bila pohon kelapa itu tak kunjung berbuah. Bahkan layu dan mengering jatuh satu persatu ke tanah?
Kekhawatiran itu nyaris setiap waktu menyapa Atrawi. Di waktu senggang, atau pada waktu siang sehabis ia pulang dari ladang. Atrawi tak bisa menyangkal, ketika melihat batang pohon kelapa yang mulai mengering dan beberapa pelepahnya juga mulai kerontang. Kepercayaannya semakin menipis meski anak lelakinya sudah hampir dua tahun merantau di kampung sebrang—akan menuai keberuntungan atau mendapat kebahagiaan. Baik bagi dirinya maupun untuk keluarganya di rumah kelak.
Rahem pergi merantau ke suatu daerah yang jauh dari tempat tinggalnya yang kering dan gersang. Dia bermukim di salah satu daerah penuh keramaian. Setelah Rahem hafal khuruf hijaiyah yang diajari Ke Tahir, guru ngajinya. Atau setelah ia khatam kitab Sullam yang diajari di langgarnya. Kemudian ia pergi meninggalkan keluarganya. Mencari kebahagiaan untuk kedua orang tuanya yang sudah hampir tutup usia.
Jika mau mengurai bagaimana Atrawi memiliki kekhawatiran sangat mendalam akan anaknya. Lihatlah bagaimana Atrawi setiap pagi bergegas ke pekarangan. Menjinjing seember air. Menuangkannya pada pohon kelapa agar supaya tidak layu dan mengering. Sesekali waktu ia juga taburkan pupuk kotoran sapi pada batang pohon kelapa supaya tumbuh subur. Dan hal ini ternyata, bukan hanya Atrawi yang merasakan hati dan jiwanya getir. Tetapi Maslea, istrinya, setiap malam juga sering melantunkan ayat-ayat suci. Mendoakan Rahem yang sedang pergi merantau.

***

Sorot matanya menyalang tajam. Menatap kembali pohon kelapa. Janurnya mulai menguning. Kadang kala jatuh berguguran. Dan ketika itu dalam benak Atrawi tergambar masa depan anaknya yang buruk. Yang sedang merantau di kampung seberang.
“Tujuh tahun silam.” ucap Atrawi lirih.
“Kenapa tujuh tahun silam, Kak?” tanya Maslea, yang sedang duduk melipat beberapa pakaian usai mengankat jemuran di beranda rumahnya.
Sore menjelang malam itu, wajah Atrawi mengerut sesekali menggeleng-geleng kepala melihat pohon kelapa yang dibelai angin.
“Lihat pohon kelapa itu! Tujuh tahun silam sebelum Rahem merantau, pohon kelapa itu sempat berbuah. Bahkan ada beberapa buahnya yang sudah hampir kupetik. Tetapi selang beberapa tahun saat Rahem pergi merantau, pohon kelapa itu hari demi hari mulai layu dan mengering. Beberapa helai janurnya sering kali jatuh berguguran. Dan, hingga saat ini pun belum pernah aku petik buahnya.”
“Bagaimana nasib Rahem, Kak?”
“Kita berdoa saja!”
Maslea mulai bergegas membawa beberapa lipatan pakaiaan yang sudah dilempit rapi. Lalu menaruhnya di sebuah lemari yang terbuat dari kayu jati. Selang beberapa menit dari akhir percakapan tadi. Maslea cepat-cepat bergegas mendekati jamban dibelakang rumahnya. Meratakan air wudlu’ ke mukanya. Dan tak seberapa lama setelah Maslea naik ke atas langgar di sebelah barat rumahnya. Ia kenakan sebuah mukena. Atrawi kemudian cepat-cepat melangkah mengambil wudlu’. Lalu bergegas ke langgar, dimana sang istri menunggunya.

***

Di beranda rumahnya, Atrawi duduk sekedar menghilangkan rasa letih setelah dia baru datang membantu Ke Tahir, tentangganya sekaligus sebagai guru ngaji Rahem yang sedang membangun rumah. Semilir angin yang berhambus saat itu membawanya pada sepasang mata sempat terpejam. Menikmati suasana sejuk. Tetapi, saat angin menggoyangkan daun pepohonan disekitar rumanya, terdengar gemeretak daun-daun kering berjatuhan. Atrawi terkejut! Ia segera bangkit dari duduknya. Melogok pada salah satu pohon kelapa di pekarangan. Lalu ia cepat-cepat-cepat menghampirinya. Ia meraung-raung setelah melihat sehelai janur jatuh ke tanah. Tertunduk dengan wajah semraut. Kemudian mengambil sisa air dalam ember dan menyiramnya kembali. Anakku..., desisnya lirih.
“Wi” panggil Ke Tahir dari belakang tiba-tiba memecahkan suasana.
Selang sesaat mereka melangkah beriringan menujuku langgar.
“Aku butuh bantuanmu, Wi,” lanjutnya.
“Apa?”
“Osok rumahku kurang. Kamu bisa membantunya? Itu pohon kelapamu kan sudah tua. Lagi pula tidak berbuah,” kata Ke Tahir sambil melihat pohon kelapa dipekarangan rumahnya.
Atrawi diam bimbang. Ia tak menjawab. Lamunannya menjalar kembali melihat pohon kelapa itu.
“Bagaimana, Wi? Kalau boleh akan aku tebang besok pagi,”
“O, ya, saya bicarakan dulu kepada Maslea,”
“Ya, aku tunggu, Wi!”

***
Butiran cahaya rebah di teras rumahnya. Bayang-bayang pohon kelapa memanjang. Janurnya berhenti melambai. Anak-anak di depan rumah Mastawi beriringan melangkah terbirit-birit sambil mendekap al-Qur’an menju musolla. Ada yang melangkah gesah. Ada pula yang sampai berlari-larian. Bahkan sesekali ada yang menangis saat berebutan mainan. Begitulah setiap hari yang sering Atrawi lihat waktu senja. Lalu petang datang di jalan setapak. Sebelum akhirnya malam mencekam menyelimuti rumahnya.
Duh, kenapa semua ini bisa terjadi? keluhnya teringat pada Rahem, saat ia melihat anak-anak lewat di depan rumahnya. Dua puluh tahun yang silam. Ya, dua puluh tahun yang silam Rahem juga seperti mereka. Setiap senja mulai rebah. Lalu malam tiba. Rahem pamit bergegas menuju musolla. Di sana ia belajar mengeja khuruf perkhuruf, kata perkata, disusun menjadi sebuah kalimat oleh Ke Tahir.
Duh, apa yang akan diperbuat kalau Ke Tahir benar-benar menagih janji untuk menebang pohon kelapa besok pagi? Keluhnya lagi.
Ia merasa bimbang. Sorot matanya menyalang tajam. Sebelum ia membicarakan perihal ini kepada istrinya. Apa yang akan ia pilih sebagai jawaban kepada Ke Tahir bila ia benar-benar datang menagih janji esok pagi? Jangan sampai salah memberi keputusan, agar supaya tidak berakibat fatal!
Setelah Maslea turun dari langgar. Atrawi berdiri tegap menunggunya dibepan pintu dapur. Sambil ditemani sebatang rokoh, dan sesekali menyeduh secangkir kopi hangat. Ia Memulai bercakap tentang pekerjaannya di sawah atau di ladang; padi yang ia tanam, jagung yang sudah menguning, hingga pada perbincangan tentang pohon kelapa yang akan ditebang oleh Ke Tahir.
“Rahem, Kak?”
“Iya. Tapi Ke Tahir juga guru Rahem,”
“Bagaimana dengan Rahem, kalau pohon kelapa itu ditebang?”
Hening. Atrawi diam bergeming. Dari pekarangan rumahnya terdengar beberapa suara hewan malam. Meramaikan kesunyian yang semakin mencekam. Sekali-kali seperti ada suara dedaun siwalan berjatuhan. Tak lama disusul dengan gemeretak pelepah pohon kelapa yang ratak. Janurnya berjatuhan.
Atrawi melempar pandangannya ke pepohonan. Sesekali membuang puntung rokok ke pekarangan. Kemudian menyeruput sisa kopi yang sudah dingin. Lalu melangkah pelan keluar dari pintu rumahnya.
“Ke Tahir, Kak!” panggil Maslea.
Usai terdengar suara salam. Atrawi membalikkan badan, yang rencananya mau ke rumah Ke Tahir. Membatalkan niatnya untuk memberikan pohon kelapa. Buru-buru ia telah sampai di rumahnya.
“Bagaimana ini, Kak?”
“Entahlah, kutemui dulu dia,” Atrawi bergegas menuju langgar.
Malam yang lirih. Suasana semakin mencekam. Sebercak cahaya dari lampu taplok yang menggantung di dinding rebah di beranda rumahnya. Kelap-kelip kunang-kunang tak lagi membuat suasana malam yang pekat menjadi terang. Reranting daun pohon-pohon enggan berayun. Dengan hidmat semuanya terdiam merasakan getir hati Atrawi yang sedang melangkah menemui Ke Tahir.
Mereka duduk berhadap-hadapan. Dari jendela rumahnya yang sedikit terbuka, diam-diam Maslea mengintip mendengarkan perbincangan suaminya. Duh, bagaimana semua ini bisa terjadi? Lenguhnya pelan. Sesekali retina matanya tajam melongok menatap  bayang-bayang pohon kelapa yang memanjang di beranda rumahnya.
“Bagaimana pekerjaanmu di sawah, Wi?” ujuar Ke Tahir memulai perbincangan.
“Kapan rencana memanin jagungnya yang sudah menguning?” lanjutnya.
“Dalam minggu ini,” jawab Atrawi. Wajahnya mengerut.
Lalu Ke Tahir merogoh kantong bajunya mengeluarkan beberapa lembar uang. Ditaruhnya persis di tengah-tengah antara tempat duduk Atrawi dan Ke Tahir. Setelah tak seberapa lama dari jedah perbincangannya, di sela-sela kegelisahan Atrawi. Ke Tahir meraih kembali lembaran-lembaran uang yang tercecer itu.
“Bagaimana, Wi? Sudah kamu bicarakan pada istrimu?” kata Ke Tahir sambil meletakkan beberapa lembar uang itu persis di hadapan Atrawi.
Hening. Atrawi dilanda berbagai kegetiran. Sepasang matanya menyalang tajam. Melirik ke pekarangan. Di beranda rumahnya, diam-diam Maslea berdiri rapuh memerhatikan pohon kelapa, yang janurnya mulai berguguran.

Yogyakarta, Desember 2011-Januari 2012

*Penulis adalah mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam di  Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pimred Majalah Maddana Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Aktifis PMII, IKAAY dan Diskusi Lesehan Sastra Pesantren Yogyakarta. Tulisannya dimuat di berbagai Media lokal dan nasional dan terkumpul dalam beberapa antologi bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar