Oleh: Syaiful Bahri*
Indonesia telah gagal mengola kedaulatan energi. Kebanyakan energi minyak dan gas yang ada di Indonesia itu sudah di kuasai oleh orang asing. Cengkraman asing begitu menghujam mengeksploitas kekayaan tambang, minyak bumi dan energi. Hasil tambang yang ada di Indonesia tidak usa memakai meliter tetapai dengan uang bisa menjajah hasil tambang yang ada di Indonesia. Negeri yang dulunya sebagai pengekspor minyak kini terjerembab menjadi Negara net-importer. Sumber cadangan minyak gas alam, panas atau geotermal, dan lainnya terancam mati di negerinya sendiri.
Ada beberapa parkara penting melihat kedaulatan energi yang kian hari kian pudar.  Pertama, meningkatkan kegiatan studi dan penelitian yang berkaitan dengan pelaksanaan identifikasi setiap jenis potensi sumber daya energi terbarukan secara lengkap di setiap wilayah.
Langkah ini bisa melalui upaya perumusan spesifikasi dasar dan standar rekayasa sistem konversi energinya yang sesuai dengan kondisi di Indonesia, pembuatan "prototype" yang sesuai dengan spesifikasi dasar dan standar rekayasanya, perbaikan kontinuitas penyediaan energi listrik, pengumpulan pendapat dan tanggapan masyarakat tentang pemanfaatan energi terbarukan terseb,
Kedua, menekan biaya investasi dengan menjajagi kemungkinan produksi massal sistem pembangkitannya, dan mengupayakan agar sebagian komponennya dapat diproduksi di dalam negeri. Sehingga, tidak semua komponen harus diimpor. Penurunan biaya investasi ini akan berdampak langsung terhadap biaya produksi. Langka ini bisa untuk meningkatkan hasil produksi yang ada di Indonesia, biar tidak mudah diimpor  ke negara tetangga yang ingen mengoasi indonesia.
Ketiga, memberi prioritas pembangunan pada daerah yang memiliki potensi sangat tinggi, baik teknis maupun sosio-ekonomisnya. Langka ini harus di terapak di berbagai daerah- daerah yang masi tertingal, agar tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh asing yang bisah mebodohi  masyarakat di daerah-daerah tertentu.
Keempat, memberikan subsidi silang guna meringankan beban finansial pada tahap pembangunan. Subsidi yang diberikan, dikembalikan oleh konsumen berupa rekening yang harus dibayarkan pada setiap periode waktu tertentu. Dana yang terkumpul dari rekening tersebut digunakan untuk mensubsidi pembangunan sistem pembangkit energi listrik di wilayah lain. Langkah ini bisa di mulai upaya perumuasan subsidi silang yang potensinya sangat tinggi bagi Indonesia,sebelum di kuasi oleh investasi asing yang perpengaruh dampak positif.

*Syaiful Bahri, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Bergiat di Ikatan Alumni Al-in’am Yogyakarta dan Aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar